Bukan Luth

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Gema azan memenuhi udara. Lantunan ayat suci menepis garangnya matahari senja yang kini terseret ke ufuk Barat. Berganti senyum redup sang rembulan. Usai menunaikan salat magrib. Aku membaca ayat demi ayat Al-Qur’an. Tak terasa air mata ini menetes. Merasakan nikmat yang Allah berikan padaku.

Selama ini, aku terlalu disibukkan mengejar cinta manusia. Cinta yang tidak selalu pasti. Cinta yang hanya memberikan harapan-harapan palsu. Terkadang diri ini merasa lemah karena menuruti nafsu yang tiada pernah lelah. Aku merenung. Mencoba memutar ingatan pada masa lalu. Betapa dosa-dosa yang pernah aku perbuat menghantui setiap tidurku. Diri ini bingung harus melangkahkan kaki ke mana. Ketika semuanya sudah terjadi.

Apa ini skenario-Mu? Dan aku adalah lakon utamanya. Lalu, mengapa harus aku yang menjalani semua ini? Penyesalan demi penyesalan aku rasakan. Ingin aku berlari sejauh-jauhnya. Sampai nafas ini berhenti. Sampai kaki ini tak sanggup berlari kembali. Sampai tubuh ini rapuh.

Aku ingin seperti manusia yang sempurna sesuai dengan apa yang Kau ciptakan. Aku tidak ingin menjadi manusia berbeda yang durjana. Membuat takdir sendiri tentang kehidupanku. Kini, aku sendiri. ayah, ibu, semua keluarga tak sudi menerima kehadiranku. Pintu rumah sudah tertutup. Karena aku sudah berbeda. Dari mulai bentuk tubuh, wajah, rambut, hidung bahkan semua yang ada di dalam diriku. Aku menjadi seorang wanita yang cantik. Rambutku hitam panjang. Hidungku mancung. Mataku seperti mata Cinderella selalu berbinar. Lelaki mana yang tidak tertarik melihatku. Semua khayalan waktu remaja dulu, kini menjadi kenyataan. Aku menjadi seorang wanita meskipun tak sempurna. Lelaki tidak ada yang tahu siapa sebenarnya diriku. Aku menjelma dari seorang pria menjadi wanita cantik nan menarik.
Aku bangga karena bisa menarik setiap mata lelaki yang memandangiku. Kadang aku menjadi rebutan. Mereka selalu merayu untuk menjadi kekasihku. Aku jual mahal. Karena aku tahu siapa sebenarnya diriku? Aku tidak ingin mengecewakan mereka.

Sudah lima tahun aku menjalani hidup sebagai seorang wanita. Karena ini adalah mimpiku. Wanita ibarat sebuah kaca yang berdebu. Lembut tutur katanya halus perangainya itulah yang tertanam di dalam jiwaku saat ini.
Kehidupanku normal selayaknya wanita. Aku juga mengenakan sebuah hijab. Aku menjalani semua ini tanpa beban sedikitpun. Sahabat-sahabatku selalu ada setiap saat. Selayaknya wanita pada umumnya aku juga memiliki naluri untuk dicintai seorang lelaki. Sebenarnya ada beberapa lelaki yang menyukaiku. Tapi, aku acuhkan mereka karena tidak sesuai dengan kriteriaku. Lelaki yang sholeh dan gagah itulah cinta sejati yang aku cari.

Waktu begitu cepat berlalu aku belum juga menemukan cinta sejatiku. Penampilan aku rubah menjadi seorang muslimah. Aku mulai aktif di kegiatan keislaman. Kajian khusus kaum hawa aku ikuti. Jiwa ini semakin kuat untuk menjadi seorang wanita seutuhnya. Ketika duduk di serambi masjid sambil membaca sebuah mushaf al-Qur’an di sampingku ada seorang lelaki yang gagah, sopan, dan senyum ramah padaku. Pertemuan ini tidak hanya sekali saja. Hampir setiap waktu selalu berpapasan dengannya. Rasa penasaran pada lelaki gagah itu menghinggapi diriku. Aku mencoba mencari tahu tentang kehidupannya. Ternyata dia seorang aktivis. Agar bisa dekat aku selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dia ikuti. Akhirnya, kami pun berkenalan.

“Namaku Ray…” dia memperkenalkan diri padaku.
Aku masih gugup untuk memandang wajahnya. Kutundukkan wajah ini sambil membalas sapanya.
“Fatimah…” tanpa basa basi apapun, aku langsung pergi dari hadapannya. Rasa takut masih saja bersemayam di dalam tubuh ini. Aku selalu mengatakan pada diriku aku adalah wanita.
“Hey tunggu! Mau ke mana….”
Seutas senyum aku layangkan padanya. Sambil kutundukkan wajah ini. Angin pun membawaku pergi darinya.

Sejenak aku tercenung seorang diri di Masjid Al-Mukmin. Menyendiri dalam kesunyian merenungi akan diri ini. Apa jadinya ketika aku jatuh cinta. Desir angin bergerisik menerpa jilbabku.
“Aku takut…” Jiwaku semakin bergejolak menghadapi ini semua. Akan sampai kapan aku bisa menjaga rahasia ini? tidak ingin melukai orang yang mencintaiku.
“Aku memang harus siap. Tak ada jalan lain selain mengatakan sesungguhnya tentang siapa sejatinya diriku,” tutur Fatimah lirih.

Sore ini Ray ingin datang padaku. Tapi, Aku belum siap dengan semua ini. Apa yang akan terjadi nantinya ketika Ray tahu siapa aku sebenarnya. Pasti dia akan pergi meninggalkanku bahkan tak sudi lagi memandang wajah yang cantik penuh kepalsuan ini. Beribu cara aku cari agar Ray tidak jadi datang sore ini. Cakrawala tak lagi biru. Warna jingga kemerahan mendominasi langit yang semakin sendu. Air mata ini masih saja menetes. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Dunia seakan bisu tak ingin berbagi denganku. Apa ini karma dari-Mu Tuhan?

Jiwa ini butuh ketenangan. Aku langkahkan kaki menuju tempat suci-Mu. Berkerumun bersama Ibu-ibu pengajian. Seorang ustadz memberikan sebuah tausyiah tentang pengtingnya arti sebuah kesabaran. Di sela-sela itu ada seorang Ibu yang bertanya tentang fenomena LGBT (L*sbi, G*y, Bis*ksual dan Trangender) aku termasuk yang ada di dalamnya. Kuatkan diri ini ya Allah. Mencoba menahan air mata. Berusaha selalu tersenyum mendengar penjelasan dari Ustadz.
“Islam mengajarkan bahwa manusia itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dalam sejarah Islam, h*moseksualitas telah ada pada masa kaum Nabi Luth. Kisah penyimpangan seksual nabi Luth sudah jelas tertulis dalam Alquran surah al-A’raaf: 80-84;
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seseorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?’ sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, kalian ini adalah kaum yang melampui batas.”
Kaum Nabi Luth menjawab, “usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri. Kemudian, Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya, kecuali istrinya. Karena, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan kami turunkan kepada mereka hujan (batu, maka perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdoa itu.”

Sudah jelas bukan bahwa perbuatan LGBT itu jelas-jelas dilarang dan itu merusak moral bangsa. Demikian penjelasan dari Ustadz Kholis. Wajah ini hanya tertunduk. Air mata semakin deras mengalir. Seorang ibu melihat dengan penuh rasa iba. Apakah dia tahu kalau aku transgender?. Tak tahan dengan semua ini. Aku hanya bisa pasrah. Tak tahu harus berbuat apa. Ingin berteriak dan mengatakan adakah keadilan untukku Tuhan!

Siapa yang menginginkan hidup di antara dua pilihan. Ketika garis Tuhan membawa ke jalan yang seperti ini. Pihak mana yang patut dipersalahkan. Aku lagi-lagi memberontak. Ayah dan Ibu bahkan saudara-saudaraku tak sudi menerimaku. Aku menjalani semua ini dengan kesendirian dan kesabaran. Bukannya melawan sebuah takdir tapi, takdirlah yang menuntunku seperti ini. Ketika lahir dulu, aku seorang lelaki normal. Setelah remaja kenapa naluri ini begitu kuat mengatakan bahwa jiwaku adalah seorang wanita. Aku sudah berusaha semampuku agar tidak menyalahi takdir. Akhirnya, keputusan yang terberat dalam sebuah hidup yang membawa diri ini menjadi seorang wanita. Aku juga tidak ingin melukai siapapun. Hitam putih hidup ini bukanlah aku yang mewarnai. Aku yakin Tuhan pun juga ikut campur dalam mewarnai kehidupanku.

Apakah selamanya aku terjebak dalam sebuah kebingungan?. Apakah agama hanya untuk orang-orang dilahirkan normal saja? Sementara segelintir orang-orang terlahir dalam keadaan berbeda seperti ini dibuang dan ditelantarkan? Seolah-olah aku tidak patut untuk hidup dan layak di singkirkan. Rasa menyesal atas langkah yang aku ambil.

Langit menghitam oleh mendung. Dalam suasana kelabu, seketika wajahku kembali terbesit. Wajah kesepian dan lelah, sarat beban. Penyesalan mendalam itulah yang pada akhirnya singgah di benakku. Mengambil sebuah sikap yang begitu berat untuk diungkapkan kepada Ray.

“Fatimah ijinkan aku untuk meminangmu…” suara tegas Ray untuk menujukan keseriusannya. Bahwa dia benar-benar mencintaiku.
Wajahku hanya tertunduk. Penuh duka dan beban mengganjal di dalam diriku. Ingin rasanya mengakhiri dongeng-dongeng cinta yang tak pasti ini. Bibirku begitu berat untuk berucap. Apakah cinta mengenal perbedaan? Sulit bagiku untuk menghadapi semua ini.
Dengan berat hati terucap kata “Maafkan aku Ray, belum bisa menerima pinanganmu. Kita beda…” dada ini terasa sesak. Tanpa seucap kata lagi aku langsung pergi dari hadapan Ray.

Aku salah Tuhan telah mengubah jalan hidup yang Kau berikan padaku. Tapi, aku tak sanggup hidup dalam kurungan seperti ini. Maaf, bukan bermaksud menyalahi kodrat. Aku hanya menjalani sebuah skenario dalam sandiwara kehidupan. Tuhan, Izinkan aku kembali kepangkuan-Mu. Lahirkanlah aku kembali selayaknya seperti apa yang Kau gariskan. Lelaki sesungguhnya. karena aku bukanlah kaum Luth.

Cerpen Karangan: Agus Yulianto
Blog: yuligusyulianto.blogspot.com
Agus Yulianto
Aktivis Literasi di Pakagula Sastra Karanganyar Jawa Tengah

Cerpen Bukan Luth merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang

Oleh:
Hizul membanting badannya pada rumput hijau di bawah temaram lampu alun-alun. Tangannya dilipat di bawah kepala, dijadikan bantal. Kaki kanannya ditumpangkan di kaki kiri yang ditekuk. “hmmm…” Dia menghirup

Kita

Oleh:
Aku menyambangi kembali makam itu, berharap dapat menggali kembali setiap kenangan yang terkubur di sana, dan menyimpan semuanya dalam ruang kosong di hatiku. Sekali lagi kutatap nisan itu, yang

Mix Group

Oleh:
Penonton bertepuk tangan menyaksikan penampilan 7 personil ini. Bahkan ada yang berteriak-teriak memanggil nama mereka. Inilah MIX grup dengan 7 personil. 4 cowok dan 3 cewek. “Terima kasih semua”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *