Bukan Milikku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 11 November 2017

“Hai”
Raya membalik tubuhnya menghadap orang yang baru saja menyapnya. Senyuman manis terukir di wajah gadis manis itu saat tahu siapa yang berdiri di belakangnya
“Nata” Raya langsung memeluk tubuh jangkung pria yang dicintainya.
“Udah lama nunggu?” tanya Nata lembut sambil mengusap punggung gadis yang sedang dipeluknya. Raya menggeleng sambil melepaskan pelukan Nata.
“Belum lama, 38 menit tepatnya” Nata tertawa mendengar jawaban dari gadis manis di hadapannya.
“Jawabanmu selalu akurat seperti biasa” Nata menggandeng tangan kekasihnya dan berkata pelan
“Kita mau makan apa?”
“Apa saja, aku nurut kamu aja” Raya menyambut riang pertanyaan kekasihnya.

Mereka berjalan pelan menuju kedai mie terdekat, udara saat itu cukup dingin sangat mendukung untuk makan mie ayam yang hangat. Nata memesan 2 porsi mie ayam bakso kesukaan Raya dan 2 gelas jeruk hangat. Raya dengan manis duduk menunggu pesanannya datang.

“Ya?”
“Em?” jawab Raya sambil meneguk jeruk hangatnya
“Apa kamu gak marah sama aku?” Nata menatap mata kekasihnya. Jika ia ingat-ingat sudah dua bulan Nata tidak menemuinya. Raya tersenyum dan menggeleng. Melihat respon yang begitu tenang dari Raya Nata merasa canggung dan menghembuskan nafas panjang.
“Aku minta maaf.” Nata berkata pelan. Lama tak ada jawaban, keduanya sama-sama menunggu kalimat yang akan keluar berikutnya.
“Aku benar-benar minta maaf sayang. Aku terlalu sibuk, kamu tau kan pekerjaanku begitu banyak dan …” kalimat Nata tergantung oleh gerak tangan Raya yang menempel pada bibir Nata.
“Aku tau, setidaknya aku tau kamu sibuk bekerja.” Kata Raya mantap.
Nata hanya tersenyum, bersyukur kekasihnya mau mengerti keadaannya. Tapi Nata tidak tau, sebuah goresan semakin lama bisa menjadi luka yang cukup dalam.

Hari itu mereka lewati bersama, menghabiskan waktu di sebuah taman dekat sungai sambil mengobrol ringan. Tak sekali pun Raya menyinggung pekerjaan Nata, sampai akhirnya telepon genggam Nata berdering. Nata melirik nama di layar ponselnya dan wajahnya langsung membeku. Raya tidak menyadari perubahan di wajah Nata. Nata melepaskan pelukannya dari Raya.
“Sayang aku angkat telepon dulu ya, aku tinggal sebentar gak apa kan?” Nata berusaha menjelaskan situasinya pada Raya dan di balas anggukan ringan dari Raya. Cukup lama Nata menerima telepon yang entah dari siapa. Ketika Raya hendak mendekati Nata, Nata segera mengakhiri panggilan teleponnya.

“Dari siapa?” tanya Raya setelah Nata kembali duduk disampingnya.
“Rekan bisnis, oh iya sayang kita pulang sekarang ya?”
“Sekarang? Kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu janji mau nemenin aku sampai malam?” wajah Raya mulai suram. Nata menghelus lembut kepala Raya.
“Iya sayang, aku juga maunya lama sama kamu. Tapi barusan aku dapat telepon katanya ada masalah di kantor”
“Kalau gitu aku ikut ya? Boleh kan?” wajah Nata langsung pucat mendengar permintaan Raya.
“Sejak kapan kamu punya sifat menyebalkan seperti ini Raya? Dan sejak kapan kamu mulai mencampuri pekerjaanku?” Nata berkata dingin. Mata Raya mulai berkaca-kaca mendengar kalimat keras dari Nata. Tanpa menunggu jawaban dari Raya Nata bangkit dan meninggalkan Raya sendiri.

Selalu bigini. Fikir Raya. Ingatannya kembali pada dua bulan lalu ketika terakhir mereka bertemu. Waktu itu sama seperti hari ini, mereka bertemu setelah sekian lama Nata menghilang. Tapi kebahagiaan Raya terpecah karena telepon yang kata Nata adalah telepon dari kantornya. Persis seperti hari ini, Nata meninggalkan Raya tanpa mempedulikan perasaannya. Air mata Raya mulai mengalir pelan, ia masih ingat saat pertama pertemuaannya dengan Nata. Nata adalah pria yang pernah menolong Raya dari maut. Raya jatuh cinta pada Nata tanpa mempedulikan siapa Nata. Sikap Nata yang lembut selalu menjadi kebahagiaan terbesar bagi Raya. Entah berapa lama Raya duduk dan menangis pilu hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang.

Raya berjalan gontai di jalanan yang ramai. Ia ingin minta maaf pada kekasihnya karena telah bersikap kekanakan. Raya merogoh dasar tas tangan yang dibawanya, dan menarik sebuah kartu nama dari dalam. Senyum manis kembali menghiasi wajah gadis cantik itu. Ia sudah membulatkan tekad akan minta maaf pada Nata, dengan perasaan ringan Raya berjalan menuju alamat di kartu nama yang digenggamnya.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh Raya sampai di sebuah rumah dengan gaya modern. Temboknya berwarna putih cream dengan gerbang berwarna hitam. Raya memasuki gerbang yang memang sudah dalam keadaan terbuka. Dari dalam rumah itu terdengar suara seorang wanita yang sedang menyinyakan lagu untuk anak yang digendongnya. Perasaan Raya mulai tidak enak, sepertinya ia tau situasi macam apa yang akan ia hadapi. Tapi Raya tidak mau mengambil kesimpulan sendiri ia akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

“Permisi” kata Raya di depan pintu kayu yang setengah terbuka. Wanita cantik yang sedari tadi sibuk bersenandung itu itu langsung mendongak dan mendekati Raya.
“Iya ada yang bisa saya bantu?” wanita itu tersenyum sangat ramah pada Raya
“Ah iya apa benar ini kediaman Bapak Nata?” tanya Raya ragu-ragu
“Ah iya benar mbak, mbak ini siapa ya?” senyum ramah masih menghiasi wajah wanita itu. Sedangkan wajah Raya semakin pucat.
“Boleh saya bertemu dengan Bapak Nata? Saya rekan kerjanya” kata Raya berusaha terlihat ramah. Wanita itu mengangguk mengerti dan membukakan pintu untuk Raya.
“Ayo masuk dulu mbak” wanita itu mempersilakan Raya masuk.
“Silakan mbak maaf ya berantakan, ah iya tunggu sebentar ya suami saya masih mandi, biar saya panggilakan dulu.” Kalimat wanita itu seakan menjadi petir di siang hari bagi Raya.
“Suami?” guman Raya. Namun wanita itu sudah mengilang untuk memanggil suaminya.

Tak berselang lama seorang laki-laki keluar dari ruang tengah. Rambutnya masih basah dan tercium aroma sabun dari arah kedatangannya, wajah pria itu langsung kaku saat melihat siapa yang tengah menunggunya.
“Hai” sapa Raya kaku. Belum sempat Nata membalas sapaan Raya istri Nata sudah keluar membawakan teh untuk Raya.
“Ah Pa, kamu udah keluar, mau aku buatin kopi juga?” tanya wanita itu tanpa menyadari wajah kaku suaminya.
“Tidak, bisa kamu masuk dulu Ma?” tanya Nata lembut pada istrinya saat ia mulai bisa menguasai emosinya. Sang istri yang bingung hanya menggangguk dan masuk ke dalam ruang tengah. Nata masih berdiri terpaku menatap Raya yang juga berdiri dengan kaku.

Sekian detik berlalu dan Raya berkata lirih “Aku, aku pulang dulu. Terima kasih atas tehnya” Raya langsung bergegas pergi yang diikuti teriakan dari Nata
“Tunggu Raya” Nata bergegas keluar rumah menyusul Raya. Sedangkan di dalam rumah wanita cantik yang disebut istri Nata menangis dalam diam.

Raya berlari sekencang-kecangnya. Jadi ini penyebabnya, penyebab Nata selalu menghilang dan tidak bisa dihubungi. Raya berlari sambil menangis membuat nafasnya tersengal dan Raya terjatuh. Nata berhasil menyusul Raya dan memeluk gadis itu. Dengan sisa-sisa tenaganya Raya menepis pelukan Nata.
“Jangan sentuh aku” kata Raya dingin
“Aku bisa jelaskan semuanya Raya” Nata mulai bercerita.

Ternyata wanita cantik yang dipanggil istri oleh Nata adalah sepupu Nata yang hamil diluar nikah. 6 bulan lalu tepat ketika Nata menyelamatkan Raya yang hendak bunuh diri, saat itu sebenarnya Nata sedang merenungkan sebuah masalah yang sangat berat untuknya. Saat itu ia tau bahwa sepupu yang sangat ia sayangi tengah hamil dan kekasih sepupunya pergi entah ke mana. Demi menjaga nama baik keluarga, paman Nata meminta Nata untuk menikahi putrinya. Namun ditengah kegalauan yang melanda hidupnya Nata malah bertemu Raya gadis rapuh yang tengah ingin bunuh diri. Tapi gadis rapuh itulah yang membuat Nata jatuh cinta untuk pertama kalinya. Tapi mau apa lagi? Pernikahan nata harus dilaksanakan karena umur kandungan sepupunya sudah mencapai 7 bulan. Dan selama itu pula Nata menyembunyikan kenyataan pahit ini.

“Aku selalu mencintai kamu Raya, hanya kamu. Tapi aku harus memenuhi janjiku untuk menyelamatkan nama baik keluarga, bahkan sampai hari ini aku tidak pernah menyentuh Siska, karena yang ada di fikiranku hanya kamu”
Raya hanya bisa menangis mendengar cerita Nata. Inilah cinta. Penuh dengan liku dan hal-hal tak terduga. Cinta Nata tidak bisa menyelamatkan perasaan Raya yang rapuh.

Malam itu setelah Nata mengantar Raya pulang Nata memutuskan untuk menginap di rumah Raya. Namun esok paginya sesuatu yang lebih menyedihkan telah terjadi.

“Raya, ayo bangun” kata Nata lembut ke kamar kekasihnya. Semalaman Nata memilih untuk tidur di ruang tamu karena tidak mau menggangu Raya. Tapi apa yang didapatkan Nata, mayat Raya lergantung kaku di plafon kamarnya. Mata Nata nanar menatap sosok yang yang ia cintai telah tergantung kaku tak bernyawa.

Saat pemakaman Raya Nata berkata lembut di samping nisan kekasihnya
“Andai aku tau akan jadi begini mungkin aku tidak akan pernah mencintaimu. Aku lebih ikhlas jika kau meninggalkanku bersama pria lain, daripada kau meninggalkan dunia ini dengan cara seperti ini”
“Pa, kamu salah Pa. Mungkin jalan yang dipilih mbak Raya itu salah, tapi ia telah membuktikan cintanya hanya padamu Pa. Sehingga dia lebih memilih mengakhiri hidupnya daripada membagi cintanya.” kata Siska di tengah isak tangisnya. Nata hanya diam memandang makam kekasih tercintanya.

Cinta adalah misteri kehidupan yang tak seorang pun bisa memahaminya. Cinta adalah kebahagiaan sekaligus penderitaan. Cinta adalah perwujudan tawa dan tangis. Dan cinta tak selalu menjadi milik mereka yang menginginkannya.

Cerpen Karangan: Ni Putu Diah Aprilia Rianti
Facebook: Diah Aprilia Rianti

Cerpen Bukan Milikku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Cinta Yang Tiada Akhir

Oleh:
Kau tercipta untukku, namun kau bukan milikku. Terpesona aku memandangmu, saat pertama kali aku mengenalmu. Andai kau bisa membaca pikiranku, betapa ruang jiwaku penuh bayanganmu menghiasi hari-hariku. Senyum dan

Cukupkah Kata Maafku ini?

Oleh:
“karena kamu yang aku tunggu..” kata itu menjadi kata yang paling berkesan yang pernah aku dengar. Bisa dibayangkan bagaimana tersanjungnya hati seorang cewek kalau dapet pujian seperti itu dari

Bintang

Oleh:
Malam itu, ketika malam mulai datang ditemani dinginnya bayu yang menyapa, termenunglah sesosok gadis bernama BINTANG. Dilihatnya seorang foto lelaki tampan yang terlihat indah di sebuah bingkai berwarna hitam

Takdir Ku

Oleh:
“Dear Diary. Ini memang pahit dan sulit untuk aku jalani. Namun, aku harus bisa untuk menelannya dan menjalaninya. Ini adalah ujian untukku.. agar aku mengerti betapa sulitnya mencari sekeping

Tinggal Kenangan

Oleh:
Malam Minggu kali ini terasa sangat menyebalkan bagiku, betapa tidak? Aku yang sudah menunggu berhari-hari ingin sekali melepaskan rindu olehnya, kini telah sirna. Tadinya, Aku sempat gembira, karena selama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *