Bukankah Kita Ada Untuk Saling Memiliki?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 September 2017

Cinta itu indah, bukan?
Jika tidak buat apa kita ada di sini? Rela basah-basahan menembus hujan, masuk ke dalam restoran kelas menengah hanya untuk menyantap nasi goreng kambing kesukaan kita, tertawa bersama, namun pada akhirnya kita tak menemukan jawaban yang sama?

Kita sadar, ikatan kita pernah begitu kuat. Hujan adalah saksinya. Saat kita bertemu di tengah taman kota, menendang-nendang genangan air, dan tubuh kita tertubruk dan jatuh bersama ke pelukan bumi. Klise? Iya! Tapi persetan dengan kata orang. Aku tak bisa melupakan momen itu.

Saat gemuruh petir mencari-cari kita di luar jendela karena bermain dengan hujan, tubuhmu selalu ada untuk tempatku meringkuk ketakutan. Kau paling tahu, aku takut petir. Dan kini, setelah lima tahun kita bergandengan tangan, kau bilang kita tidak lagi menujukan muara yang sama?

“Aku rasa, waktu kita sudah rantas, Ami.”

Baju kita masih basah, pelayan restoran yang sudah serasa teman dekat sendiri mempersilakan kita menggunakan meja di sudut restoran, dekat pintu kaca. Tapi kenangan kita takkan kubiarkan kering. Kenangan adalah hal paling berharga yang pernah kumiliki.

“Kau harus merelakan realita bahwa kita tak mungkin bersama,” ucapmu singkat. Kau seakan tak kuasa mengatakannya. Wajahmu seakan menahan air mata berjatuhan, menggenggamku erat tapi kurasakan lembut menjalar ke sekujur tubuhku.

Tidak, tidak harus berakhir seperti ini. Ke mana perginya kenanganan kita? Selain hujan, kita punya kenangan yang indah! Coba kau tengok luka di jari telunjuk kananmu, luka irisan ketika aku mengajarkanmu cara memasak. Saat jari telunjukmu teriris pisau ketika memotong sepotong wortel. Kau mengaduh, berusaha mencari obat merah, dan aku hanya bisa tersenyum diam-diam menatap tingkah lakumu. Kita sama-sama belajar menjadi dewasa di usia yang tak lagi remaja.

Aku cinta kau dan segala kesederhanaan yang ada. Kau pun mengatakan hal yang sama, ketika mengecup keningku dan membelai lembut rambut kemerahanku. Lalu ke mana semua kenangan itu pergi? Untuk apa aku selalu tersenyum saat ini, Alv. Untuk apa?

“Kita punya kehidupan yang dihadapi, Am. Kita harus belajar menerima realita. Lima tahun bukan waktu yang sebentar.”

Jalan Padjajaran mulai sepi ketika arloji menunjukkan pukul 8 malam. Lalu lalang jalan di kota hujan ini mulai sunyi. Entah karena hujan atau karena jauh di relung hati, aku berterik lirih. Menghampa kepada langit agar jangan berhenti menangis. Aku ingin menyamarkan hujan di langit-langit perasaan dengan hujan yang tumpah dari langit kehidupan ini.

“Alvin. Bukankah kita ada untuk saling memiliki?”

Sendu, kehilangan, tergurat begitu jelas di wajahmu. Aku tahu, jauh di kedalaman bola matamu, kau tak mau kehilanganku. Terlalu indah. Terlalu bohong jika kita tercipta untuk tidak saling memiliki. Buat apa Tuhan menciptakan pertemuan dan hadir di antara kita di tengah hujan jika bukan untuk bahagia yang kita inginkan? Pertemuan itu sama saja artinya kita memulai perlayaran dan muara yang kita tuju adalah kebahagiaan.

Apakah kau benar-benar tak bahagia bersamaku?

“Ami, tolong. Jangan buat aku berbicara lebih daripada ini. Aku … tidak bahagia denganmu,”
Apa?
“Kau bohong, Alv. Aku tahu kau bohong …,” ucapku getir. Berusaha tersenyum, tertawa, sementara air mata mulai tampak di pelupuk mata, yang ada hanyalah getir terdengar parau suaraku. “Kau bohong, kan, Alv? Ini pasti kau sedang latihan teater ya? Iya, kan?”
Kau mengenggam tanganku. Aku tahu dia berbohong. “Ami … aku benar-benar tidak bahagia bersamamu.”
“KAU BOHONG!” teriakku.

Semua mata memandang ke arah kita. Masa bodoh dengan mereka. Kenangan ini masih terpatri kuat di dadaku, Alv. Tak semudah kau mencerabutnya dan kemudian menancapkan kebohongan begitu saja. Apa yang kau sembunyikan Alv, apa?
Sial, mengapa harus sesakit ini? Setelah dulu kehilangan kedua orangtua dan tak punya sesiapa lagi, kupikir hidupku berakhir. Namun segalanya berubah ketika aku bertemu denganmu. Pelan, pelan, kau mengisi kekosonganku. Kau membuatku utuh, Alvin. Dan sekarang kau tega membuat diriku menjadi separuh lagi? Tenggelam dalam pekat gelap?
Dan wajahmu terlihat berusaha menahan derai air mata. Ayo, Alvin. Kita sama-sama lepaskan kesedihan. Aku tahu, hatimu pasti sedang berkecamuk. Lidahmu berbohong tapi ikatan perasaan kita tidak. Aku mengenggam jemarimu. Kau tak kuasa menolaknya. Dan akhirnya: air mata tumpah dari pelupuk mata kita, meriak di pipi, dan membasahi hati.

“Alvin … bukankah kita ada untuk saling memiliki?”
Aku menanyaimu sekali lagi, menyelusup ke dalam kesedihan, kemudian ke dalam perasaanmu, ingin memastikan yang kita butuhkan hanyalah kejujuran. Dan akhirnya, kau pun berbicara.

“Ami … aku ingin kamu tahu, jika aku …,”
“Aku tahu apa, Alv?” tanyaku lirih.
“Jika aku … sebenarnya kakakmu.”
Dan kemudian Alvin tak lagi bisa membendung kesedihannya. Alvin adalah saudaraku? Bagaimana bisa?

“Ini juga bohong, kan?” tanyaku getir.
“Sudah tujuh tahun aku berusaha mencari orangtuaku yang sebenarnya. Ibu asuhku tak pernah mau memberitahukannya, sampai-sampai di suatu sore di usiaku yang kedua puluh satu dia kelepasan bicara dan mengatakan jika ibuku ada di kota ini. Ke sinilah aku pergi, kemudian bertemu denganmu. Bersamamu, aku merasa sangat bahagia, Ami. Merasa begitu dekat. Sampai, sampai, suatu hari hatiku berkata untuk kembali mencari Ibu. Dan itulah hebatnya takdir yang mempermainkan hidupku. Sebulan lalu, akhirnya aku mendapatkan informasi tentang ibuku, dan … dan …,”
“Dan dia memiliki nama keluarga yang sama denganku?” Aku mencoba melanjutkan.
“Aku terus berpikir jika itu kemustahilan, tapi ternyata tak bisa. Aku bahkan tak kuasa menanyakannya langsung padamu.”
Kau mengangguk.

Di luar sana hujan semakin deras. Kedua piring hidangan sudah mendingin, seperti diam yang hadir menemani kita meresapi derai hujan yang jatuh tiada henti. Untuk sesaat, aku kehilangan rasa untuk bermain hujan lagi. Untuk sesaat, aku ingin saja membenci pada takdir. Untuk sesaat, aku merasa tidak menjadi separuh. Seluruh diriku tercerabut dari kehidupan, menghilang entah ke mana.
Bukankah kita ada untuk saling memiliki, Alv?

Cerpen Karangan: Ariqy Raihan
Facebook: facebook.com/ariqyraihan

Cerpen Bukankah Kita Ada Untuk Saling Memiliki? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Pacarku Seorang Malaikat

Oleh:
Malam ini cukup sunyi bagi intan, seorang gadis cantik yang sedang duduk di pinggiran kolam, hanya suara jangkrik yang terdengar merasuk ke dalam telinganya, ia hanya berfikir apa yang

N (End)

Oleh:
Dear diary.. Hay Ry, masih ingat aku? semoga kamu gak lupa yah. Kamu tau Ry, hingga saat ini aku masih sayang sama kamu, jujur aku gak bisa berpaling ke

Aku, Kau dan Dia (Part 2)

Oleh:
Dan akhirnya fhyan tidak lagi ingin menghubungi rico karena ia tahu rico telah bahagia dengan orang lain. Dan satu tahun berlalu fhyan bertemu dengan rezi anak dari teman orang

Kasih Sayangku Kasih Sayang Tuhan

Oleh:
Semilir angin sejuk berhembus, membawa terbang helaian rambutku yang tak terikat, mata ini masih memandang jalan raya melaui jendela kaca rumah sakit di lantai lima. Mengapa aku ada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bukankah Kita Ada Untuk Saling Memiliki?”

  1. Zahrasuci says:

    Nicee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *