Bunga Berguguran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 12 April 2015

Jakarta, 22 April 2013
Aku MelangkahkanKakiku dengan Cepat. hari ini Jadwalnya bertemu dengan dosen pembimbing skripsi. Seharusnya proposal ini sudah jadi dan diajukan seminggu yang lalu. Tapi aku terlalu santai. Sebulan terakhir aku terlalu banyak main karena ayah, baru membelikan aku mobil. Jalan jalan adalah hobi baruku sekarang.

“Dina” Mita teman seangkatan memanggil mu,
“mau bimbingan?” Tanya mita
Aku pun mengangguk..
“Aku duluan ya. pak Morgan akan mengajaar jam 11 nanti. Aku harus cepat cepat” pamit ku.
Mita mengangguk “Good Luck, Ya”

Aku membalikkan badannya dan bergegas berjalan ke tangga. Aku tidak melihat seseorang sedang menuruni anak tangga dengan cepat.

Brak!!!
Aku Terjengkal ke belakang. Pria yang menabrakku Juga Terjungkal. Bahkan kepalanya sampai membentur tembok. Map yang Kubawa pun Isinya Bertaburan.

Mita berlari menghampiri Ku. “Kamu gak apa-apa, Dina?”
Aku Meringis. “Kalau jalan Hati-hati dong. Pake Mata!” Bentakku pada Pria Itu.
Mita langsung mencubit lenganku “Dina” Katanya tertahan
“Maaf Pak Bisma. Teman saya sedang terburu-buru.”
“Lain kali Hati-hati!” Kata pria itu kemudian berlalu.
“Pak?” Memandang Mita Penuh Tanya meminta penjelasan.
“Dia Dosen Baru Non. Belum mengajar. Baru menjadi Asisten. Lulusan Terbaik tahun kemarin. Dia mulai masuk waktu Kamu KKN kemarin.”
Pipi ku Memerah. Aku tidak tau jika laki-laki yang bertabrakan dengan ku adalah Dosen ku.

“Awasss!!!”
Brak!!!!
Aku Tergagap. Aku Merasa sakit yang amat sangat Pada kakiku. Ternyata sebuah Laptop yang dibawa seseorang menimpa kaki ku. Saat itu Aku sedang Menunggu giliran sidang proposal.
“Kamu nggak apa-apa?” Tanya orang yang tak sengaja Menjatuhkan Laptop Itu.
Aku pun Mendongak. Mataku Berair menahan sakit. aku terkejut melihat orang itu.
Dia adalah Laki-laki yang bertabrakan denganku di tangga Tempo hari.
“Duduk dulu. kita liat apa ada yang luka.”
“Jelas ada yang luka. Kamu fikir kakiku dari beton apa?!” Bentak ku

“Dina Maulia!!!”
Itu berarti giliran siding telah tiba. Aku pun segera Menghapus air mata ku. Aku bangkit dengan tertatih. Tapi ya Tuhan. Kakiku sangat susah digerakkan. aku pun terjatuh, dan dengan sigap dia menolong ku. Tapi aku menepisnya dengan galak.

Satu jam kemudian aku keluar dari ruang dengan Nafas lega. proposal ku diAcc
“Sudah selesai sidangnya?” Tanya seseorang Ternyata Bisma
“Mau Apa lagi?” tanya ku galak.
“Bener gak butuh bantuan? Tidak perlu ke rumah sakit?” Tanya bisma
Aku pun melengos pergi.
“Dasar keras Kepala” Gumam Bisma
Aku pun berbalik badan, “kamu…” kataku tertahan, karena tiba tiba merasakan nyeri yang amat sangat di kakiku. Aaawww…
“Mana yang sakit? Ayo, kuantar ke rumah sakit.” Kata bisma kali ini nada bicaranya lembut.
Aku pun tidak punya alasan tuk menolak. aku mengangguk dengan malu malu.

Sejak hari itu Aku punya supir pribadi. Siapa lagi kalau bukan Bisma. Hasil foto rontogen yang dilakukan sore itu, memperlihatkan ada retakan ringan di tulang kaki ku. Kaki ku harus digips. Otomatis aku tidak dapat menyetir sendiri, mobilku. Untuk menebus rasa bersalah Bisma rela menjadi supirku, sampai kakiku sembuh.

Aku dan bisma sedang makan Es krim setelah pulang dari rumah sakit.
“Bis, bener mau jadi supir ku sementara? Serius? Nggak ganggu? Nggak ada yang marah apa?” Tanya ku
Bisma Menggeleng. “Hanya untuk urusan ke kampus. Tapi tidak untuk ke Mal. Itu tidak termasuk program kebaikan hati ku.”
Aku Mendelik. “Kebaikan Hati? Hei apa aku gak salah denger? aku tidak pernah meminta kebaikan hati mu kau yang menawarkannya sendiri.”
Bisma Tertawa. “Kumat lagi deh judesnya. Iya iya aku minta maaf. pasti sakit sekali ya, kejatuhan laptop?”
Aku mendengus kesal “Udah tau, Nanya.”
“Kamu semester berapa?” Tanya Bisma
“Semester 7” Jawab ku sambil menyendok Es krim..
“Mengapa mau Jadi dosen? Kenapa tidak jadi pengacara atau Notaris saja?”
“Pengacara dan notaris sudah banyak. tapi tenaga pengajar di Indonesia masih kurang. Lagi pula kalau menjadi dosen kesempatan meraih beasiswa S-2 Lebih banyak. Kamu sendiri setelah lulus nanti mau bekerja di mana?”
“Mau mencoba melamar ke organisasi Internasional. Konsenterasiku disini kan Hukum Internasional” Jawab ku

Sejak itu aku menjadi dekat. Tapi hanya sebagai Sahabat karena ada peraturan Universitas yang melanggar hubungan Dosen dan Mahasiswinya. Bisma sangat membantuku saat menyusun Tugas akhir, dia sering meminjamkan bukunya untukku. Ketika kakiku sudah sembuh dan aku sudah bisa menyetir lagi, hubungan kami masih tetap akrab.

Siang di bulan Sptember yang panas dan berangin. Akhirnya aku dapat diwisuda tepat waktu. Meraih Peredikat Cumlaude lagi.

“kak Dina!” Panggil seseorang saat aku keluar dari auditorium bersama orangtua ku.
“ada apa Leo?” Tanya kupada adikku
“Ponsel kakak hilang,. Tadi ada sms masuk berkali-kali. Juga missed call. Tapi aku gak berani membuka. Waktu aku jalan kesini ponsel itu gak ada di saku ku. Mungkin Jatuh.”
“Apa?!!”
“Dina Ponsel kamu itu sudah jelek. nanti biar papa ganti yang baru sebagai hadiah kelulusan mu.” Kata papaku
“Tapi kan banyak nomor penting di ponsel itu Pa” Bantah ku.
“sudahlah Dina” Kata mama ku
Aku hendak membantah tapi tidak jadi. Aku juga tidak mau merusak suasana gembira hari ini. tadi memang aku menitipkan ponsel pada adik ku yang menunggu di ruang auditorium karena di dalam tidak diperkenankan membawa ponsel.

Aku menatap bintang bintang di langit dari balik jendela kamarku yang terbuka lebar. aku termenung. Andai saja bintang-bintang itu tau apa yang dirasakan aku saat ini Kerinduan. Ya, Kerinduan yang mendalam pada seseorang. Bisma. Entah mengapa nama itu mengusik ku setelah sekian lama terlupakan. Tapi kejadian kemarin itu membuat ku mengingat bahwa di suatu masa dalam hidupku aku pernah mempunyai teman namanya bisma, Bahkan sempat menaruh hati.

Aku kini bekerja sebagai Creative director di sebuah biro periklanan besar.
Sejak lulus kuliah, Aku tidak pernah kontak lagi dengan bisma. Nomor Ponsel Bisma pun ikut hilang bersama ponsel ku di Hari Wisuda. setelah lulus, Aku masih sering ke kampus untuk mengurus Administrasi. Tapi Aku tidak pernah melihat bisma lagi. Laki-laki itu hilang seperti ditelan bumi.

Aku merasa semilir angin menerpa wajah ku, Air Mata ku menetes. Bisma, bisik hatiku mangapa tiba-tiba aku merindukanmu? Bagai mana kabarmu sekarang?

Aku sedang berjalan jalan sepulangkantor petang itu saat ada orang yang tak sengaja menabrak ku.
“Hei!! kalau jalan pakai mata dong!” bentak ku
“Maaf, mbak, Saya buru-buru, saya hampir terlambat ke bandara, Pesawat sayaberangkat malam ini.” Kata orang itu penuh penyesalan. Diulurkan tangannya untuk membantu ku berdiri.

Aku mendongak, Aku pun terkejut, Aku segera mengenali sosok di depanku itu, Yah, benar. Tak salah lagi orang itu pun terkejut melihat ku.
“Dina?!!”
“Bisma?” Tanya ku juga. Aku tidak menyangka orang yang menabrak ku barusan adalah orang yang beberapa hari ini Aku rindukan.
“Bisma kamu buru-buru? hendak ke mana?” Tanya ku
“ke Bandung,” jawab bisma. “Sayang sekali aku harus mengejar pesawat. Kalau tidak kita bisa mengobrol dulu, Begini saja, berikan nomor ponsel mu, nanti aku hubungi setelah sampai disana” kata bisma
Bisma menatapku lekat. “Senang sekali bisa melihatmu kembali. kamu tidak hanya berubah, bahkan makin Cantik”
Pipi ku pun memerah, “Ah biasa aja”.
Aku pun tersenyum. Diulurkan tangan ku untuk menjabat tangan bisma.
“Hati-hati ya, kutunggu telfon mu, Aku juga senang biasa bertemu denganmu,”
Tiba-tiba Bisma memeluk ku dengan Erat. Aku terdiam, Pelukan itu Seakan ada pesan tersembunyi.
“Dulu aku sangat ingin melakukan ini. Tapi tak pernah kesampaian” Kata bisma.
Setelah itu kami berpisah lagi. Aku merasa seperti mimpi.

Malam ini tepat seminggu sejak pertemuanku dengan bisma, Aku memasukkan Cetakan surat yasin yang ada foto Bisma di dalam tas ku. Air mata ku tidak jua menetes walau aku ingin menagis.

Sekarang aku berada di bandung dalam rangka menghadiri tujuh hari meninggalnya pria bermata teduh itu. Aku mengetahui Musibah itu dari tv dan langsung ke bandung setelah melihat nama bisma salah satu korban kecelakaan pesawat yang meniggal. Ibu bisma Langsung histeris saat melihat ku.

“Ya, Allah! Ternyata kamu benar-benar ada, Kamu yang namanya Dina?” Tanya Ibu Bisma disela isak tangis.
Aku Sungguh-sungguh tidak mengerti. Aku baru mengerti saat wanita ini memberikan Sepucuk surat kepada ku.
“Itu surat yang ditulis Bisma Lima tahun yang lalu.”

“Dina.. selamat atas Wisudanya. Bila kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di Indonesia. Aku sudah berada di Belanda Untuk melanjutkan S2. Akhirnya aku mendapakan beasiswa. Kemarin aku menunggu di kafe tempat kita makan es krim dulu. Ada yang ingin akau katakan sebelum aku pergi. Tapi ponselmu tidak bisa dihubungi.

Aku Mencintaimu. Hanya itu yang ingin kukatakan. aku berani mengatakan ini karana kita bukan lagi Dosen dan Mahasiswi. Jadi aku tidak perlu menutupi perasaanku lagi. Aku Mencintaimu Dina. Sangat-sangat mencintaimu…”

Hanya sanggup sampai di situ surat itu aku baca. Membaca surat itu membuat aku merasa ikut terkubur Bersama Bisma. Mungkin yang menelpon dan mengirim sms saat aku wisuda dulu adalah Bisma. Tapi aku tidak pernah mengetahui karena ponselku hilang.

Aku menatap Pohon di depan rumah bisma, Angin meniup hawa harum ke seluruh penjuru rumah. Menggugurkan segerombolan bunga dan jatuh ke tanah.

Kehidupan memang penuh dengan misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang telah digariskan oleh tuhan. Aku hanya bisa berdoa agar bisma diberi tempat di sisi-Nya. Setidaknya, di sisa hidup Bisma telah terpenuhi. Bertemu dan memeluk ku dengan erat.

Aku juga mencintaimu, Bisma. Apakah kau dengar itu, Bisik hati ku. Mata ku menerawang Angin berhembus kembali. Dan Bunga pun berguguran lagi…

Cerpen Karangan: Diana Kasih
Facebook: Diana D’story

Cerpen Bunga Berguguran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tempat Penuh Cinta

Oleh:
Malam ini tak berbeda dengan malam-malam kemarin. Aku masih sama berada di tempat ini untuk menunggumu. Kamu yang sekarang pergi tak pernah pulang, lupa dengan kekasihmu yang setia menunggumu

One Day

Oleh:
18 APRIL 2013 karena aku jauh, aku memberikan perhatian kepadamu lewat setiap kata kataku. ya, walaupun kadang tidak terdengar seperti perhatian. Kamu bosan atau ada orang lain yang menarik

Tuhan, Jadikan Dia Jodohku

Oleh:
Ia berbaring dan terpaku menatap langit-langit kamarnya sambil sesekali melirik layar handphonenya. Ia masih tak percaya ia telah diputuskan oleh pacar yang dicintainya selama satu tahun ini. Alunan musik

Dua Detik Terakhir

Oleh:
Ahad 16 maret 2013.. Hp ku berbunyi aneh dari dalam kamar.. Tiritt.. Tiritt.. Tiritt.. Itu nada apa ya..? Nada sms bukan, nada alarm bukan, nada telpon juga bukan.. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *