Bunga Terakhir (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 14 December 2019

Siang ini setelah pelajaran aku segera keluar kelas dan mencari Alsa, ternyata dia belum keluar kelas, akupun kekantin dulu untuk membelikannya minum, dan menunggunya di depan kelasnya. Setelah dia dia keluar kamipun segera pergi untuk makan siang.

“Sayang, maaf yaa kamu nunggu lama.”
“Enggak kok sayang, yaudah kita mau makan dimana?”
“Terserah kamu aja deh,”

Siang itu kami berdua makan dan aku mengajaknya ke toko bunga, aku membelikan bunga mawar putih,
“Sayang, kamu kok pucet sih? Kamu sakit ya?” tanyaku khawatir.
“Hahh, masa sih sayang? Aku nggak papa kok,”
“Nggak papa gimana? Muka kamu pucet banget sayang, aku anter ke rumah sakit ya”
“Sayang apaan sih? Aku nggak papa kok,”
“Kamu bener nggak papa? Kalo gitu aku anter kamu pulang ya?”
“Nggak usah sayang aku bisa pulang sendiri kok, kamu pulang aja ya.”
“Sayang kamu jangan gitu donk, aku khawatir sama kamu,”
“Sayang percaya deh, aku bisa pulang sendiri kok.”
“Kamu yakin nggak mau aku anter?”
“Iya sayangku bawel, udah yaa. Sekarang kita pulang masing-masing. Oke?”
“Iya tapi kalo kamu kenapa=napa kabarin aku yaa?”
“Iya sayangku, ntar aku kabarin lagi yaa, yaudah aku naik ojek aja biar cepet sampek, Daa sayangg”
“Iyaa sayang, kamu hati-hati yaa”
“Iya kamu juga sayangku. Daaa” jawabnya sambil naik ojek.

Sebenernya aku khawatir dia kenapa-napa tapi dia selalu menolak untuk aku antar pulang. Tapi dia selalu bisa kupercaya, saat sampai di rumah dia selalu mengabariku tentang keadaannya, dia bilang hanya terlalu lelah dan akupun tak ingin mengganggu istirahatnya.

Keesokan harinya, dia tidak menghubungiku dan tidak juga masuk kuliah, aku menanyakan pada temannya, tapi hasilnya nihil, aku mencoba menelponnya tapi tidak diangkat. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Betapa kagetnya aku saat aku tahu dari pembatunya bahwa Alsa dari semalam dibawa ke RS. Tanpa basa-basi lagi aku menyusulnya ke RS.

Sampai di RS aku menanyakan pada resepsionis yang sedang berjaga, dan aku segera mencari ruangan yang ditunjukkan dokter. Saat aku melihatnya diinfus aku tak kuasa menahan kesedihannku, tapi aku tidak bisa mengganggunya karena dia sedang tidur, aku hanya menggantikan Orangtuanya untuk menjaganya. Orangtuanyapun mengizinkan. Aku duduk di samping tempat tidurnya, dan menggenggam tangannya. Saat dia bangun, dia tersenyum melihatku

“Sayang maaf yaa, udah buat kamu khawatir, maaf nggak sempet ngabarin kamu, soalnya mendadak banget”
“Udah sayang, nggak papa kok, kamu gimana keadaannnya?”
“Udah baikan kok, kemarin sih pusing banget, terus aku langsung pingsan”
“terus kata dokter kamu sakit apa?”
“Aku kecapekan aja kok sayang, palingan juga 2 hari udah boleh pulang, biar kondisiku stabil dulu.”
“Ohh, yaudah sayang istirahat dulu aja yaa. Oh iya, sayang mau makan buah nggak?, aku kupasin yaa”
“Iya deh boleh, makasihh yaa sayang, kamu baik bangett Deh.”
“sama-sama sayangku. Oh iya sayang maaf ya besok aku kesini pas pulang kuliah, jadi agak siang, nggak papa kan?”
“Iya sayang, nggak papa kok. Lagian aku udah nggak papa kok sayang, kamu fokus dulu sama kuliah kamu yaaa”
“makasih sayang, kamu emang baik banget deh”.

Sampai malam aku menunggunya di RS, tapi aku harus pulang karena besok harus kuliah, akupun berpamitan padanya, sebenarnya aku tidak ingin pulang, tapi keadaan memaksaku untuk meninggalkannya. Akhirnya akupun pulang dan berjanji padanya untuk kembali saat pulang kuliah besok, diapun tidak keberatan.

Hari ini aku tidak konsen dengan kuliahku, aku ingin segera bertemu Alsa, setelah pulang kuliah, akupun bergegas ke RS dan tak lupa membeli bunga kesukaannya. Seperti biasanya aku mengobrol banyak hal dengannya, sebenarnya aku juga ingin mengajaknya keluar ruangan namun dokter belum mengizinkan, akupun tak memaksakan, ini juga untuk kebaikan Alsa.

Hari ini hari ke-3 Alsa di rumah sakit, dan aku selalu meluangkan waktuku untuk bertemu dengannya meski hanya sebentar, ya, seperti biasanya aku selalu membawakan bunga dan buah kesukaanya, meski aku tidak bisa selalu menjaganya setidaknya aku ingin membuatnya tersenyum, karena aku tidak merasa bosan dengan senyum manis itu.

“Sayang, maaf ya aku banyak salah sama kamu, kamu cepet sembuh ya sayangku”
“Emang sayang punya salah apa sih? Sayang tuh nggak salah apa-apa kok” jawabnya tersenyum, aku melihatnya menahan air mata.
“Sayang, kamu nggak usah gini sama aku, aku jadi merasa bersalah banget sama kamu.”
“Maksudnya sayang apa sih?”
“Sayang jamu nggak usah pura-pura nggak tahu deh, kamu tahu kan kalo sebenernya aku pernah selingkuhin kamu.”
“Yaa kalo tahu terus kenapa sayang?”
“Sayang? Kamu nggak marah sama aku? Kamu nggak benci sama aku?”
“Hahaha, sayang apaan sih? Ya enggalah, justru aku yang minta maaf sama kamu sayang, maaf ya belum bisa jadi yang kamu mau, maaf belum bisa buat kamu bahagia. Kalo Kamu selingkuh itu yang salah aku, karena aku masih banyak kekurangan dan mungkin selingkuhan kamu punya apa yang nggak aku punya,”
“Ya ampuunn Sayang, kamu itu udah sempurna buat aku, aku beruntung punya kamu, maafin aku yaa sayang, aku sayang kammu.”
“sayang bisa aja deh, iyaaa, aku juga sayang kamu”
“Ehh sayang, aku bawain bunga looh, nih”
“Waaahh, bagus banget, makasih yaa sayangku kamu emang paling ngerti aku”
“Sama-sama sayang”

“Sayang aku boleh minta sesuatu nggak?”
“Boleh banget sayang, mau minta apa? Bilang aja”
“Emm, Besuk jangan bawain bunga putih lagi ya, aku bosen, aku pengen yang merah, boleh?”
“Pasti sayang, besuk aku bawain yang merah ya,”
“Makasihh sayangkuu. Kamu baik deh”
‘Kebaikan aku ini nggak bisa nyaingin kebaikan kamu ke aku sayang, maafin aku yang udah pernah buat kamu kecewa, aku janji nggak akan ulangin lagi.’ kataku dalam hati.

Hari ke-4 Alsa di RS, seperti yang dia minta, aku akan membawakannya mawar merah, tapi saat aku akan menuju RS, tiba-tiba Dea menghampiriku dan memintaku mengantarnya pulang, aku sudah menolaknya dan tidak bisa, Tapi dia memaksa bahkan menangis. Ahirnya akupun mengantarnya pulang dengan setengah hati, aku menyesal karena waktuku untuk bertemu Alsa terpotong 1 jam untuk mengantar Dea, setelah aku mengantar Dea, aku segera ke RS, tapi aku bingung karena Mama Papa Alsa menangis di depan kamar Alsa,

“Om, Tante Kenapa?”
“Rehan, Alsa, Alsa…” jawab Tante Nia terbata-bata
“Alsa kenapa Tante?”
“Alsa tadi pagi Koma, dia nggak sadarkan diri, sekarang masuk ICU”
“Ya ampun tante? Alsa?” aku setengah tak percaya mendengar semua ini, aku tak kuasa menahan air mataku, tapi aku mencoba kuat dan berdoa untuk Alsa. Tapi sepertinya semua sia-sia saat dokter yang menangani Alsa keluar dari ruang ICU dengan wajah muram.

“Dok, Gimana anak saya” Tanya Om Andre, Papah Alsa
“Maaf pak, kami sudah melalukan yang terbaik, Tapi Tuhanlah yang menentukan semuanya.”
“Maksud dokter?” tanyaku Segera
“Kami tidak bisa menyelamatkan Alsa, Sekali lagi maaf”
“Ngga mungkin Dokk, nggak! Aku nggak percaya, Alsa masih bisa bisa bertahan Dok,” Kataku berteriak. Tapi Om Andre dan Tante Nia mencoba menenangkanku,
“Om, Tante. Alsa sakit apaa?” tanyaku menangis.
“Maaf nak Rehan, sebenernya Alsa dovonis kanker darah sejak 2 tahun lalu,”

Kamipun segera masuk ruang ICU dan melihat Alsa yang sudah nggak bernafas lagi,
“Alsa, bangunn sayang, aku bawa Bunga buat kamu, aku bawain pesenan kamu, kamu harus bangun” Aku memeluk Alsa sambil menangis, tapi sepertinya itu sia-sia, aku mencoba menerima semua ini dan kini aku kehilangan Malaikat Kecilku, aku belum sempat mengajaknya jalan-jalan seperti janjiku padanya, aku belum bisa membuatnya Bahagia, dan kini dia pergi untuk selamanya, Aku sangat menyayanginya tapi pasti Tuhan jauh lebih menyayanginya.

Sore itu juga Alsa dimakamkan, aku mengantarnya sampai orang-orang pulang, aku meletakkan Bunga Mawar merah untuknya, Bunga terakhir yang dia minta,
“Sayang, kamu yang tenang ya disana, pasti sekarang Tuhan memelukmu, pasti kamu sekarang tersenyum karna kamu nggak perlu lagi ngerasain sakit, maafin aku yang udah nambah sakit kamu, aku pulang dulu ya sayang. Aku sayang kamu” Kataku sambil mengusap Nisannya, kemudian aku bergegas pulang.

3 Minggu Alsa Pergi, dan hari ini aku akan ke makamnya untuk mendoakannya, tak lupa aku membawa bunga Mawar Putih untuknya, Karena hari ini tepat tanggal jadianku dengan Alsa,
“Hai sayang, happy anniversary 2 tahun 3 bulan yaa, Aku bawain bunga buat kamu, Aku janji akan selalu nengok kamu dan bawain bunga buat kamu, meskipun sekarang aku nggak bisa lihat kamu lagi, tapi kamu nggak akan perah terganti, karena nggak akan ada yang bisa gantiin kamu, Selamat tidur sayangku” Kataku meletakkan bunga di atas makamnya, dan aku segera pulang.

3 tahun kemudian,
“Sayang, Aku bawain bunga lagi, Aku ada kabar gembira buat kamu, Aku sekarang udah lulus, sekarang aku udah Sarjana Hukum, kamu pasti banggakan sama aku? Ohh iya sayang Happy Anniversary ke 5 tahun 5 Bulan yaaa. Tapi maaf sayang, aku harus ngelanjutin hidupku, aku sayang kamu, tapi sekarang aku nggak bisa milikin kamu lagi, jadi mau kenalin seseorang ke kamu, namanya mirip sama kamu sayang, Sarah Kharani Salsabila. Aku mau serius sama dia, aku menemukan sosok kamu dalam diri dia, meskipun kamu nggak akan pernah terganti. Aku nggak akan ngelupain kamu Sayang. Udah dulu yaa, aku harus pergi. Aku janji aku bakalan kesini lagi”

Cerpen Karangan: Nawang Sari Indah
Blog / Facebook: Nawang Indah Sabhardyan
Mahasiswa semester awal salah satu Sekolah Tinggi di Yogyakarta. Hobi menulis untuk mengisi waktu luang dan mencoba mendapati peruntungan lewat menulis.

Cerpen Bunga Terakhir (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seandainya

Oleh:
Hujan masih terus mengguyur, air di jalanan sudah mulai naik, namun Icha masih terus menunggu. Taman ini menjadi saksi bisu penantian Icha. Hari telah senja, hampir tiga jam sudah

Piala Untukmu

Oleh:
Hari yang cerah, cukup melelahkan. Keringat membuat hampir seluruh tubuhku basah. Handphone berbunyi tanda ada panggilan masuk, panggilan itu dari seseorang yang sangat aku tunggu-tunggu dari tadi pagi, aku

PHP Pertama

Oleh:
“Ayo put, ayo buruan ada anak baru disini!” “Tunggu kenapa nad, anak baru doang sih bukan artis”. Perkenalkan namaku Puri Nur Hidayah, panggil saja aku Puput. Nah, yang aku

The First Sun

Oleh:
Matahari baru saja menampakan dirinya di ufuk timur. Namun, seseorang yang selalu mengaguminya telah ada sejak tadi. Ia adalah seorang gadis remaja berparas cantik dan polos. Flora namanya, ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bunga Terakhir (Part 2)”

  1. Dinbel says:

    bahasa nya switsss sekali. namun sayang konflik nya kurang greget & alur cerita nya terlalu singkat. jadi seperti nya kalo ada prt nya kurang cocok sebaiknya di jadikan 1 prt saja / kalo mau ada prt nya konflik nya agak di munculik & alur nya di uraikan lagi yaaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *