Cara Kita Berpisah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 29 November 2013

Awal mula bertemu
Awal mula baikan
Awal mula komitmen
Awal mula kehilangan
Awal mula melepaskan
Akhirnya meninggalkanmu sendirian

“apa kau akan datang” tanyamu padaku
“tentu aku akan datang, kau kan yang mengundangku” jawabku.
Dan kita masih duduk di bangku tunggu pasien itu.
“kau, mau menculikku ya? Kata mu samar sambil menyeruput minuman teh kotak itu.
“tidak lah, bagaimana mungkin aku akan menculikmu. Aku seorang perempuan mana bisa menculikmu. Tapi aku akan mengikutimu kemana pun kamu pergi.” Jawabku.
“hah…” kau menoleh memandangku
Aku tertawa kecil “Tentu saja aku mengikutimu, yang kukenal di acara itu kan Cuma kamu.” Kata ku sambil tertawa mengodamu.
“kau tak kan melepaskan ku, kan” kata mu sambil setengah bertanya.
“aku tidak memegangmu, Cuma mengikuti mu kok” ucapku lagi.
“mungkin aku akan berlari dan memegangmu erat dan tidak akan melepaskanmu jika kau datang” ucapmu padaku penuh keyakinan sambil meminta pengertianku.
“Kemungkinan adalah sesuatu yang tidak pasti. Namun kemungkinan yang seperti itu akan menyakiti banyak orang” jawab ku.
Dan kita sama-sama terdiam. Hanyut dalam pikiran kita masing-masing. Sama-sama mencari jalan keluar. Kuharap bukan jalan keluar yang melukai.

Acara pun berakhir.
Pagi ini aku berjalan di lorong rumah sakit, aku hendak pergi ke ruangan biasanya aku bekerja. Mataku masih kukucek-kucek, dan mencoba membukanya lebar-lebar. Lelah, benar-benar lelah tubuh ku. 15 menit adalah waktu yang berlalu terlalu singkat untuk memejamkan mataku, walaupun setengah kupaksa dalam tidurku pun aku masih memikirkanmu. Aku baru tersadar bahwa aku harus mencarimu.

Tuhan punya maksud terbaik, mengajar anak yang dikasihi dan juga pengajaran Tuhan itu yang terbaik. Tak pernah sedikitpun aku ingin kehilangan dirimu, namun kau bukan milikku lagi. Jadi hanya ingin melihatmu saja, menyapamu dengan biasa, ribut-ribut kecil kita, candaan serius kita dan tentang kejujuran hati kita akhir-akhir ini. Yang tidak bisa mengubah keadaan, karena mungkin aku atau kamu yang tidak berubah. Aku ingat bahwa kau berkata ‘aku masuk kerja langsung hari ini’ meskipun peristiwa besar dalam hidupmu terjadi semalam. Ah, aku mengkhayal lagi, apa kemarin akan berubah saat aku datang? Apakah kau lebih memilihku daripada dia? Pikiran yang buruk ini segera kuenyahkan dengan mengeleng-gelengkan kepalaku.
“tidak mungkin” kataku lrih pada diri sendiri.
Dalam hati aku berkata “Jauhkan itu dari padaku, aku tak ingin ada hal-hal buruk lagi karena aku”. Ketika aku memejamkan mataku sambil terus mengeleng-gelengkan kepalaku. Aku segera membuka mata ku. Dan aku telah berdiri di lorong dimana kita biasanya bertemu. Di tengah hiruk pikuk lorong itu, aku merasa semua bergerak lambat, suara-suara menjadi lirih, meskipun aku sempat melihat seorang ibu yang menangisi anaknya, perawat-perawat yang bekerja cepat namun terlihat lambat bagiku. Dan kau berdiri di antara banyak orang itu. Kau memandangku dengan tajam. Tatapan mata itu sungguh menyiksa ku, seolah bisa keluar menangkapku dan menengelamkan kan aku di sebuah tempat tanpa dasar.
Hanya sekejap, dan kau membuang muka ketempat pasienmu.
Dan hiruk pikuk manusia terdengar ramai dan menusuk di telingga ku dan menembus hatiku. Tatapan mata itu menyakitkanku.

Aku berjalan menghampiri mu lalu dengan keberanianku aku mengucapkan
“maaf ya, kemarin aku tidak datang”
Kata ku lirih mendekat padamu yang masih terlihat sibuk itu. Aku menunggumu mengatakan sesuatu. Karena tidak ada jawaban dari mu. Aku meneruskan perkataan ku.
“gimana acaranya ramai kan tadi malam?”
Dan kau masih tidak menjawabku atau menoleh padaku. Kau masih sibuk dengan pekerjaan mu.
“apa kau bawa makanan untuk ku, pasti masih ada sisa juga kan kemarin untukku” kata ku lagi tidak peduli kau menjawabku apa tidak. Dan tiba-tiba kau menoleh pada ku.
“aku tidak memaafkan mu, bisakah kau pergi sekarang dari hadapan ku” kata mu sambil menatap ku dengan serius dan seperti amarah yang tertahan.

Aku sadar, saat itu aku perlahan mulai menjauh dari tempatmu berada. Ketika aku menoleh ke belakang aku hanya melihat punggungmu. Yang pernah kupeluk, dan samar masih tersisa air mataku di punggungmu yang mulai kering kena pendingin ruangan. Aku berjalan ke tempat dimana aku bekerja, ya aku akan bekerja. Waktu ku akan habis dengan itu. Dan sesekali aku akan melihat mu, mengandeng nya kemana pun kau pergi dan melangkah.

Cerpen Karangan: Erni Anika Sari
Facebook: Euni_ke27[-at-]yahoo.com
Tulisan pertama.

Cerpen Cara Kita Berpisah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Your Eyes

Oleh:
Pagi ini adalah pagi yang sangat cerah. Tapi aku masih dalam balutan selimut tebalku yang berwarna ungu ini. “Noya.. cepetan bangun, bukannya hari ini hari kelulusan kamu” teriak mama

Oto Dan Yivo

Oleh:
Gerombolan semut-semut hitam tengah mengangkut bangkai lalat ke dalam sarangnya. Oto si semut jantan yang terkenal gigih pun bersama kawan sekoloninya sedang bersemangat menapaki tangkai demi tangkai pohon. “Hei

Senyap Untukmu

Oleh:
Kriiinggg… Kriiinggg… Gubrak! Aku melempar jam berisik itu sekuat tenagaku. Sungguh aku masih ingin terlelap, menghabiskan sisa mimpi semalam. Tapi belum saja genap lima menit aku tenggelam lagi, suara

Saat Terakhir

Oleh:
Duar. Kilat menyambar. Dahyat. Memekakkan telinga. Langit malam meruntuhkan air. Ya! Buncahan hujan deras menghantam bumi. Teramat sangat malah. Membuat jalanan banjir. Angin malam berkesiur kencang. Dingin membeku. Awan

Cinta Yang Terlarang

Oleh:
Yogi tak menyadari ketika roh kekasihnya Dara yang baru saja meninggal karena sakit jantungnya masuk ke dalam jasad Dido, korban tabrak lari kemarin sore. Tidak masuk akal memang tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *