Carnation

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 26 September 2016

Mentari pagi menyinari wajahku. Terasa hangat. Desiran ombak mengenai pergelangan kakiku yang telanjang. Air jernih itu terasa segar. Setiap tetesnya membawa kesejukan tersendiri.

Angin perlahan meniup rambut ikalku. Aku tersenyum saat rambutku bergerak. Angin kembali menerpa tubuhku. Desiran lembutnya itu menerpa wajahku dengan halus. Gaun hijau muda selutut yang kukenakan juga tertiup.

Suasana pantai masih sepi saat ini. Tentu saja, aku tidak perlu heran dengan hal itu. Sekarang masih jam setengah tujuh pagi dan suasana dengan dingin-dinginnya. Hanya orang gila macam aku yang nekat datang kesini jauh-jauh, sendiri dan hanya bengong disini. Hari ini juga bukan hari ibur, jadi bisa terhitung dengan jari orang-orang yang datang sendiri.

Angin kembali bertiup mengenai rambut ikalku. Panjangnya sudah hampir mencapai paha. Sengaja tak kupotong. Dia menyukai rambut panjangku.

Tak terasa sudah lima tahun lamanya ya, sejak terakhir kali aku diajak ke pantai ini.

Hei, kau sudah lima kali kau mengingkari janjimu. Dahulu, bukankah kau sendiri yang mengatakan akan selalu kesini setiap tanggal sekarang? Aku menunggumu.

Aku terduduk di atas pasir pantai yang lembut. Aromanya.. masih sama seperti saat pertama kali kita kesini. Kau bilang, kau sangat menyukai aroma pantai kan? Aku juga. aku juga sangat menyukainya.

Kenapa? kenapa harus menghilang tiba-tiba? Aku gusar, aku menantimu. Aku gelisah. Ada orang yang menungguku disana, kau tahu. Namun aku membiarkannya menunggu, selagi kau belum juga datang.

Angin kembali meniup rambut ikalku hingga rambutku bergerak-gerak nakal. Aku kembali tersenyum menatap rambutku. Terakhir kali kita disini, bukankah kau masih mengelusnya lembut? Mencium aromanya, mengatakan bahwa kau sangat menyukai rambutku ini. apalagi saat sedang terurai. Begitu katamu.

Oh ya, kau juga bilang kalau kau sengat menyukai gaun yang sedang kupakai sekarang. Aku selalu memakainya kala anniversary kita, hari ini. Kau menyukai warna hijau muda gaunku, katamu.

Katakan aku aneh, karena sudah sekitar delapan tahun tidak mengganti merk shampoku, meski merk itu sudah tidak terkenal dan harganya mahal sekarang, aku masih memakainya. Katakan aku bodoh, karena sekarang, koleksi barang-barangku hampir semua berwarna hijau muda, seperti barang kesukaanmu dulu.

Hari sudah terik. Aku bangkit dari tempatku duduk, memutuskan untuk kembali lagi sore nanti. Kau bilang, aku harus menjaga kulitku agar tetap lembab dan harum.

Aku memutuskan untuk pergi ke rumah makan kecil yang terletak di dekat pohon kelapa itu. Pohon kelapa yang masih sama seperti lima tahun lalu. Kau tahu? Pelayan di restoran ini masih saja sama seperti dulu, sepasang kakek dan nenek. Wajah mereka tambah keriput, tapi, seperti katamu dulu, mereka terlihat bahagia. Meski rumah makan ini sepi, tapi rasanya tetap terbaik. Harum bumbunya kuat. Air kelapanya juga sangat segar dan memiliki takaran manis yang pas.

Setelah makan, aku pergi mengunjungi tempat yang dahulu sering kita kunjugi. Toko souvenir. Aku membeli gelang berhiaskan manik-manik daun berwarna hijau muda. Setelah itu pergi ke pantai lagi, nongkrong di bawah pohon sambil memperhatikan orang-orang yang bermain di pantai.

Dahulu, kita mengobrol di bawah pohon ini atau ikut bermain seperti mereka. Namun kini, aku hanya diam membisu. mengingat kenangan kita. Tersenyum sendu dan bertanya-tanya; apakah semuanya akan terulang kembali?

Seorang anak kecil menghampiriku. Ia cantik. Usianya sekitar lima atau enam tahun, ia mengenakan gaun bermotif floral. Rambutnya panjang berponi.

“Kakak cantik!” ujarnya sambil tersenyum berseri, kemudian berlari. Aku mengernyitkan dahi, lalu tersenyum mengamati tingkah anak itu.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Saat melewati rumah makan tempatku makan tadi, nenek-nenek disana berteriak dan menghampiriku tertatih-tatih. “Nak!”

Aku segera menghampiri nenek tersebut dan membungkuk, menyamai tinggiku dengan nenek tersebut. “Kenapa?”

“Ada yang ingin nenek beri tahu. Duduklah disini.” ujarnya sambil menarik kursi untukku. Aku mengangguk dan duduk.

Anak kecil yang tadi menghampiriku lagi, kini bersama teman-temannya yang juga lucu. Teman-temannya membawakan sekeranjang bunga.

Anak kecil itu memintaku duduk di tanah, yang langsung kuturuti tanpa bertanya apapun. Lalu, ia dan teman-temannya asyik mengotak-atik rambutku. Terakhir, aku dapat merasakan kelopak bunga di telingaku.

“Selesai!” ujar anak-anak itu berbarengan. Setelah itu, anak kecil yang menghampiriku pertama mengalungkan rangkaian bunga yang sangat cantik di leherku.

Mataku berkaca-kaca saat salah satu anak memberikan cermin. Cantik sekali.. mereka menata rambutku dengan indah. Dikepang biasa, tetapi mereka menyelipkan bunga-bunga di rambutku. Aku menjadi pusat perhatian sekarang.

Nenek tadi lalu menghampiriku. “Maaf ya, nak.. sebenarnya sudah bertahun-tahun yang lalu aa yang menitipkan ini ke nenek. Tapi nenek baru ingat sekarang, apa tidak terlambat?” ujar nenek itu sambil menyodorkan sesuatu padaku.

Itu adalah sebuah kertas. Kata nenek itu, kertas terseut diberikan oleh seorang pria yang pernah kesini bersamaku. Nenek itu selalu mengingat kami, katanya kami adalah satu-satunya pasangan yang pernah ke rumah makan ini. Entah kebetulan atau apa.

Aku membuka kertas itu perlahan. Kertasnya sudah kusam.. wajarlah, sudah beberapa tahun yang lalu. Di ujung kertas itu aku melihat nama. Namaku. Bunga Mutiara. Lalu, mataku beralih pada isi kertas itu. Seebuah gambar.. ini pasti gambarannya. Aku tahu persis makna gambar ini. Dua buah bunga anyelir yang cantik, namun memiliki arti menyakitkan.

‘Aku tak bisa bersamamu.’

Meski tak tertulis, itulah arti gambar dua bunga indah nan cantik berwara putih dan merah muda. Aku tertegun. Tak bisa percaya. Sebelum ia menghilang, ia mengatakan bahwa ia akan selalu mengingatku. Aku bahkan mengingat harum cologne di kemejanya saat memelukku.

“Bunga,” sebuah suara berat menyadarkanku. Itu bukanlah suaranya, aku tahu.

Aku tak berbalik. masih membeku di tempat. Suara itu memanggilku lagi. Lebih dekat, ia menghampiriku.

“Dia.. jahat!” Aku menggigit bibirku. Perlahan air mataku meleleh. Aku terisak. Ingin menjerit, tidak memercayai orang yang kucintai melakukan ini. Mengapa ia malah membuatku menunggu? Bodoh! Bodoh!

Lelaki itu menggandeng tanganku, menuntunku ke pesisir pantai. Evan. Ia tak pernah bosan mengejarku, bahkan saat aku menangisi lelaki lain pun, ia masih menghiburku seperti ini.

“Jangan menangis, Bunga.” ujarnya lembut. Ia mengusap ubun-ubun kepalaku. Menghirupnya dengan tenang, kemudian membenamkan wajahku di dadanya yang bidang. Kemeja biru mudanya basah oleh air mataku. “Kau cantik. Rambutmu bagus.” Ia mengusap rambutku. Tangisku semakin manjadi.

Beberapa orang memperhatikan kami. Aku maupun Evan tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar kami. Evan melepaskan dekapannya perlahan. “Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu, Nga. Kamu pasti sedih sekarang.”

Aku hanya diam.

“Nga, aku ingin bertanya sekali lagi. Aku mohon, kali ini jawablah.” Evan mundur selangkah. “Aku tak bisa menunda lagi. Will you marry me, Bunga Mutiara? You make my life complete. Biarkan pantai ini jadi saksi.” ujarnya serius.

Aku membisu. Mengapa ia melamarku di tempat kenangan itu tersimpan rapat? Aku tidak memiliki rasa pada Evan..

“Tapi aku belum bisa pindah dari masa laluku, Van..” jawabku bimbang.

“Aku akan membantumu, Nga. Aku akan membuatmu jatuh cinta. Aku akan menjadi obat penawar sakitmu, Nga. May I?”

Perlahan tapi pasti, aku mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah kotak cincin yang mungkin lupa dikeluarkannya tadi.

Seminggu setelah pernikahan…
Jujur, aku bahagia sekarang. Meski masih belum bisa melupakan pria masa laluku. Evan bersikap sangat manis padaku. Atasanku itu senang dengan statusnya sebagai suamiku.

Aku sedang sibuk memasakkan masakan untuk Evan sekarang. Ayam panggang. Sama seperti kesukaan dia. Aku berusaha menepis rasa yang masih tersimpan untuk seseorang di masa lalu, seseorang yang pernah menyakiti hatiku. Sepertinya aku sudah mulai mencintai Evan.

Telepon genggamku berbunyi. Aku segera mengelap tanganku ke celemek untuk mengangkat telepon dari nomor tak dikenal itu.
“Halo?”
“Bunga?”
Aku termangu. Membeku. Tak mampu membalas lagi. Jantungku berdegup tak karuan. Aku kenal betul suara itu. Mana mungkin aku prnah melupakannya? Pemilik suara itu sudah bersemayam di hatiku delapan tahun lamanya.
“Halo? Masih ingat aku? Ini Raka, Nga.” ujarnya. Tak perlu ia beritahu, aku sudah tahu! Bodoh!
“Nga, aku tahu kamu pasti shock. Dua tahun lalu, aku ke pantai, aku liat kamu, Nga. Kamu udah liat gambar aku? Bunga anyelir merah muda dan putih kesukaan kamu.. bunga putih itu melambangkan kamu yang manis, dan yang merah muda melambangkan bahwa aku nggak akan pernah melupakanmu.” ia menghela nafas sejenak.
“Nga, maaf kalau aku niggalin kamu terlalu tiba-tiba. Kini aku udah sukses, Nga. Aku udah punya perusahaan sendiri. Kamu pasti senang liat aku sekarang. Pasti bahagia.” jelasnya dengan nada bangga dan ceria. Namun kubalas dengan isakan pelan.
“Kamu kenapa, Nga? Kamu benci aku? Sekarang rumahmu dimana? Aku tau, kamu pasti shock banget ya..” Ia terkekeh. Isakanku semakin keras. Runtuh semua pertahanan yang telah kubangun! Aku bahkan tidak mengingat Evan sekarang. “Nga, temanku yang desainer itu, bikin gaun pernikahan yang cantik banget. Pasti bakal cantik kalau kamu yang pakai.” cerocosnya. Dadanya pasti sedang kembang-kempis sekarang. Tuhan.. aku tak sanggup. Terlambat, Raka.. terlambat!
“Menikahlah denganku, Bunga Mutiara.”

Cerpen Karangan: Rossa Maharani
Facebook: Rossa Maharani Kayo

Cerpen Carnation merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salahkah Aku Mencintaimu

Oleh:
“Jika kau akan pergi, mengapa kau datang jika aku mencintaimu apakah itu salahku?” 2 tahun aku menjalin hubungan dengan Rama, aku sangat mempercayainya walaupun aku tahu dia bermain api

Aku Mencintaimu

Oleh:
Andi tidak begitu memperhatikanku. Aku sedang menulis surat cinta untuknya. Andi terlihat lelah, karena usai bermain basket dengan teman-temannya. Angin baru, angin 17 tahun, Andi terlihat tampan kala itu.

Tidak Berani Mengungkap Kenyataan

Oleh:
Aku dan Harry sudah bersahabat selama setengah tahun. Sejak pertama kali aku ketemu dia, aku merasa hari-hariku terasa lebih ringan. Aku masih ingat waktu itu adalah hari pertamanya sebagai

Hingga Akhir Waktu

Oleh:
Mata sayu gadis itu memandang lurus ke depan menatap burung-burung kecil yang beterbangan menghiasi langit sore di kota jakarta, “hari yang indah” gumam gadis itu dengan diiringi sebuah senyuman

Rindu

Oleh:
Seperti mawar segar yang kugenggam, meski perih rintih aku suka sekali, Bodoh? bukan, karena cintaku melebihi rasa sakit ini. Aku mencoba berjalan di antara terjalnya kegamangan, telah kulalui sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *