Cerita Yang Tidak Dimulai (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 9 May 2016

Tidak pernah terlalu takut, tidak juga terlalu berani. Karena cinta terlalu besar sehingga tidak ada yang perlu ditakuti. Tapi restu terlalu jauh untuk diraih sehingga aku tidak berani bermimpi.

Pertentangan tidak hanya berasal dari Ibuku saja ternyata, Bos. Keluargamu tampak sama kerasnya menentang keberadaanku di sampingmu. Aku secara tidak sengaja mendengar pembicaraan keponakanmu dengan keluargamu yang lain. Kakak-kakak, adik, dan iparmu berbondong-bondong datang ke kota ini saat mendengarmu pingsan pasti karena sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Dan wajar saja kalau mereka makin khawatir ketika melihat gadis yang tidak mereka kenal berada di ruang rawatmu.

“Siapa perempuan itu?” Aku yang baru kembali dari kantin langsung menghentikan langkahku tepat sebelum berbelok ke koridor ruang rawatmu. Keluargamu tampak berkumpul di depan ruang rawatmu dengan keponakanmu berada di pusat interogasi.
“Dia mantan anak buahnya Pakde, Ma,” aku mendengar keponakanmu menjawab.
“Mantan anak buah? Menyuapi mantan bosnya?”
“Si Pakde kan masih lemas, Ma, masih pusing dan belum bisa makan sendiri. Harusnya aku yang menjaga Pakde, tapi minggu ini aku ujian, jadi cuma bisa jaga Pakde malam hari.”

“Kamu sama sekali nggak curiga sama perempuan itu?” ku lihat kakak iparmu yang gantian menginterogasi keponakanmu.
“Curiga apa, Bukde? Curiga dia bakal jadi istrinya Pakde?”
“Tuh kan! Saya bilang juga apa. Perempuan itu mencurigakan. Gadis semuda itu mendekati Pakdemu, nggak mungkin karena benar-benar cinta sama Pakdemu. Dia pasti cewek matre. Cuma ingin warisan Pakdemu. Kita harusnya berhati-hati.” Finally, the truth. Begitulah yang selalu disangkakan orang tentangku terhadapmu. Aku tidak peduli. Aku hanya berharap kamu mengenalku lebih baik daripada mereka.

Tidak pernah mengharapkan “happily ever after”. Asalkan cerita kita tidak berakhir, itu lebih dari cukup. Sayangnya, bahkan mengharapkan pilihan terakhir itu pun, aku tak berhak. Aku tidak tinggi-tinggi bermimpi bisa menaklukan hatimu. Aku cuma ingin terus berada di sampingmu, sebagai apa pun aku di matamu. Aku cuma ingin keberadaanku menjadi salah satu alasanmu berbahagia. Tapi untuk keinginan sesederhana itu pun, aku tidak berhak. Ibu berkeras menjodohkanku dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang, menurut beliau, setara, dan seimbang denganku. Lelaki yang hanya 3 tahun lebih tua dariku. Aku juga tidak pernah bermimpi tinggi-tinggi kau akan mempertahankanku. Aku cuma berharap kau tidak melepasku. Sayangnya, permintaan sederhana seperti itu pun tidak bisa kau kabulkan.

“Kelihatannya dia laki-laki baik dan pintar. Fisiknya sih sepertinya tipe idaman kamu tuh. Ibumu nggak mungkin memilihkan yang buruk buatmu kan? Selamat ya,” katamu sambil tersenyum, ketika aku menceritakan tentang pria pilihan ibuku. Well yeah, secara fisik lelaki itu memang mirip dengan dirimu. Lalu kenapa? Dia tetap bukan dirimu. Selama ini hidupku sudah berat dengan terus-menerus berpura-pura tidak mencintaimu dan hanya menyayangimu sebagai ayah. Tapi sepertinya hidupku sekarang akan jadi lebih berat. Aku harus berpura-pura tidak mencintaimu sambil berpura-pura mencintai orang lain. Aku tidak akan kuat menjalani keduanya. Sepertinya aku harus memutuskan salah satunya. Tapi selagi tetap bersamamu, aku tidak akan sanggup berpura-pura tidak mencintaimu.

Dear Boss, Sekarang hatiku sudah tidak berbentuk lagi. Aku tahu kau sudah mendengarnya tadi. Dan memang begitulah tujuanku. Membuatmu melihat acting-ku.
“Kalian pikir gue benar-benar cinta sama Si Bapak?” aku menekan gemetar suaraku.
“Jadi selama ini lo cuma memanfaatkan dia? Karena kekayaannya?”
Tepat seperti itulah aku ingin mereka menduga dariku. Begitu jugalah aku berharap apa yang kau pikirkan tentangku.
“Apa ada alasan yang lebih masuk akal lagi?” jawabku getir.

Perasaan yang selama ini aku pendam terhadapmu memang tidak masuk akal, Pak. Karenanyalah aku harus terus berpura-pura. Betapa banyak orang yang berpura-pura tulus padamu. Tapi karena ketulusanku tidak lazim, aku justru terpaksa berpura-pura palsu. If you know what I mean. Ini adalah acting terakhirku. Setelah ini kau akan membenciku. Lalu kita tidak akan saling bertemu. Lalu kita akan selesai. Aku tidak perlu berpura-pura lagi. Aku tidak perlu lagi berpura-pura tidak mencintaimu. Aku hanya akan berpura-pura mencintai orang lain. Sepertinya itu akan lebih mudah.

Apa yang telah ku perbuat?
Menghancurkan semuanya
Satu khilaf berbisik, dua hati terpecah
Adakah jalan pulang untukku
Aku yang bodoh melepasmu
Hal terbaik yang pernah ada di hidupku
Kini aku tak tahu bagaimana cara melangkah tanpamu
Terhempas tak membekas, bisu dan air mata
“Maaf” tidak berguna, rapuhku tanpa arah
(Melangkah Tanpamu, Fiersa Besari)

Kadang mereka yang bisa mencinta dengan merdeka lupa bersyukur. Kami yang mencinta di dalam batasan-batasan, terbiasa mensyukuri setiap kesempatan dan kebahagiaan, sekecil apa pun. Itu adalah rahmat tak ternilai.

“Hai pipi bakpao, Ini pertama kalinya saya menulis surat. Saya menulisnya dengan kado ulang tahun yang saya berikan untukmu dua tahun lalu. Saya menulisnya, lalu menyimpannya di tempat yang sama dengan surat-surat cinta yang selama ini kamu tulis untuk saya, yang tidak pernah kamu kirimkan pada saya. Nasib surat ini pun akan sama. Surat ini tidak akan pernah sampai padamu. Meski begitu, meski kamu tidak akan pernah membaca surat ini, saya tetap ingin bercerita, seperti selama ini kamu bercerita. Saya tidak tahu harus mulai bercerita dari mana. Mungkin lebih baik saya mulai dengan permintaan maaf.”

“Maaf karena selama ini saya tidak pernah benar-benar percaya padamu. Bukan saya tidak mau percaya. Saya hanya terlalu takut untuk percaya. Saya tidak pernah siap menerima ketulusanmu, karena menurut saya semuanya tidak masuk akal. Bagi saya, lebih masuk akal saat mendengar bahwa kamu hanya memanfaatkan saya. Itu mengapa saya marah padamu. Maaf karena saya tidak pernah benar-benar mengenalmu dengan baik. Pipi bakpao, Akhirnya saya tidak bisa lagi menolak mempercayai ketulusanmu saat saya membuka mata di rumah sakit dan orang yang pertama kali saya lihat adalah kamu.”

“Kamu di sini?” Waktu itu saya bertanya begitu karena tidak percaya, apa yang kamu lakukan di samping tempat tidur saya dengan sebutir air mata yang buru-buru kau hapus saat mata kita bertemu?
“Saya selalu di sini,” katamu.
“Saya pikir kamu pergi.”

“Saya pikir kamu seharusnya marah pada saya karena saya menjauhimu sejak kamu menolak perjodohan yang saya rencanakan untukmu. Saya ingin kamu tahu, saya menjauhimu bukan karena marah padamu. Saat membaca balasan pesan WhatsApp-mu, saya langsung menyadari bahwa kalau saya tidak segera menjauhi kamu, saya hanya akan lebih menyakiti kamu. Bersama saya, mungkin kamu akan terus berharap, padahal saya tidak berani menjanjikan apa-apa. Bersama saya, justru hanya akan mendatangkan prasangka-prasangka orang terhadapmu yang akan menyakitimu. Tapi meski saya sudah menjauhimu, kenapa kamu tidak juga pergi meninggalkan saya? Harusnya kamu abaikan saja saya yang sudah meninggalkanmu ini.”

“Saya nggak pernah pergi. Bapak yang nggak pernah melihat saya.”

“Sekarang ketika kamu benar-benar pergi, saya baru bisa melihatmu dengan lebih jelas. Saya bahkan bisa melihat kita. Tidak pernah sejelas ini. Tidak pernah sejelas ini saya melihat ironi tentang kita. Pipi bakpao, Saya minta maaf. Bukan hanya karena saya tidak pernah berani mempercayaimu. Saya minta maaf karena saya tidak pernah bisa mengabulkan permintaan sederhanamu, bahkan untuk terakhir kalinya. Saya menyesalinya sekarang. Saya tidak menyangka bahwa korban penodongan dan penusukan yang tidak sengaja saya saksikan itu adalah kamu. Awalnya saya hanya penasaran melihat orang-orang berkumpul di tempat parkir mall.”

“Tapi saat saya berhasil menyibak kerumunan itu dan melihatmu terbaring dengan darah yang terus mengalir dari sisi perutmu, saya merasa separuh jiwa saya melayang. Melihatmu terbaring berlumuran darah, harusnya saya tidak lagi memikirkan pendapat orang. Tapi saat itu saya terintimidasi oleh tatapan-tatapan orang yang berkerumun di sekitar kita. Saya memang bodoh, hanya bisa bersimpuh di samping tubuhmu yang terkapar, lalu melepasmu tanpa berusaha melakukan apa-apa. Orang bilang, salah satu kesedihan terbesar di dunia ini adalah melihat yang muda pergi mendahului yang tua. Kenapa harus kamu yang pergi meninggalkan saya lebih dahulu?”

“Pipi bakpao, Saya menulis surat ini, di ponsel ini, sambil teringat perkataan salah seorang saksi kasus penodongan yang menimpamu. ‘Sebenarnya mbak itu sudah menyerahkan dompet dan tasnya ke penodong itu, Pak. Tapi waktu penodong itu meminta ponselnya, Mbak itu menolak. Kalau saja Mbak itu nggak berkeras mempertahankan ponselnya dan nggak berteriak minta tolong, penodong itu nggak akan menusuk Mbak itu.’ Kamu bodoh sekali, pipi bakpao, kenapa demi ponsel ini kamu membahayakan nyawamu? Tapi sekarang, saat saya menemukan surat-suratmu ini tersimpan di dalamnya, saya mengerti kenapa kamu melakukan hal bodoh itu. Dan membaca surat-suratmu ini, saya kini makin menyesal karena tidak bisa mengabulkan permintaan terakhirmu.”

“Di luar hujan ya, Pak?” bisikmu waktu itu dengan suara lelah, nyaris tidak terdengar karena teredam oleh suara kerumunan orang, terbaring berlumuran darah, “Saya kedinginan. Bisa tolong … peluk saya, Pak?”

Tapi saya tidak mengabulkannya. Saya terlalu takut dengan tatapan menghakimi dari kerumunan orang-orang itu jika melihat laki-laki seusia saya memeluk gadis seusiamu. Bodohnya saya. Saya selalu takut prasangka orang lain akan menyakitimu, padahal mungkin yang paling menyakitimu adalah ketakutan saya sendiri. Maafkan saya. Saya tidak akan pernah bisa melupakan bayangan terakhirmu. Kamu menatap saya dengan sedih karena saya tidak mau mengabulkan keinginanmu, dua butir air mata mengaliri kedua pipimu. Tapi kamu tersenyum ketika mengembalikkan ponsel yang berlumuran darah ini kepadaku, kado ulang tahun yang ku berikan padamu dua tahun lalu. Lalu kamu pergi.
Lalu kamu pergi. Dalam sunyi. Menyesal dan tercekat, saya memanggil-manggil namamu. Tidak lagi peduli pada kerumunan orang. Tapi kamu tidak kembali. Tidak pernah kembali. Apa kamu terlalu marah pada saya? Sekarang saya cuma bisa memeluk bayanganmu. Cuma itu yang berani saya lakukan.”

“Pipi bakpao, Betapa lucunya kita kan? Sudah berapa lama kita menjadi bagian hidup bagi satu sama lain. Tapi kenapa cerita kita ini tidak pernah benar-benar ada? Lalu sekarang, bagaimana saya bisa menyelesaikannya kalau cerita kita tidak pernah benar-benar dimulai? Pipi bakpao, ini adalah surat pertama saya. Juga surat terakhir saya. Saya tidak akan menulis lagi. Ponsel ini, dan semua surat cinta kita yang ada di dalamnya, akan saya hancurkan segera setelah saya selesai menulis ini. Setelah ini saya tidak perlu lagi berpura-pura tidak mencintaimu. Saya hanya perlu berpura-pura hidup bahagia tanpamu. Rasanya itu lebih mudah.”

“Lima puluh tahun saya hidup tanpa kamu. Dan saya baik-baik saja. Baru lima tahun ini kamu memasuki hidup saya. Kalau sekarang kamu pergi, seharusnya saya akan tetap baik-baik saja kan? Seharusnya.”

Cerpen Karangan: Nia Putri
Blog: niechan-no-sensei.blogspot.nl
Pelajar. Pecinta aksara. Pecandu kata.

Cerpen Cerita Yang Tidak Dimulai (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diam

Oleh:
Pria itu bernama Radit. Pria yang mengagumkan, elok, tidak kasar, tetapi terkadang menyebalkan. Aku sendiri belum lama ini telah dekat dengannya. Fayza yang mungkin masih pacarnya begitu memiliki sifat

Surat Kecil

Oleh:
Aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu kita belum saling mengenal. Seiring berjalannya waktu kamu mengetahui namaku. Kadang-kadang jika tidak

Tentang Kita

Oleh:
Hey! Pagi ini aku akan masuk ke sekolah baruku. Aku Akan memasuki SMA, aku baru saja lulus SMP, dan aku pun melanjutkan sekolahku ke salah satu SMA Favorit. Namaku

Mata Teduh

Oleh:
Senyum simpul merekah saat ku lihat mata teduh itu. Perasaan apakah ini, sungguh aneh terasa. Seolah rasa bahagia merengkuhku saat ku lihat mata teduh itu. Entah mengapa aku menyukai

β€œHai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

9 responses to “Cerita Yang Tidak Dimulai (Part 2)”

  1. sindy alifa says:

    wow,ceritanya keren ka..salut

  2. Sevira says:

    Keren mbak ceritanya, meski agak risih dg tema nya, soalnya kadang suka kebayang aku di posisi si gadis, rasanya kayak gmna suka sma pria yg berasa kayak ayah sndri..
    Tapi ceritanya sukses bikin saya nyesek sampe ngeluarin air mata..
    Kereeen mbakk!!!

  3. sobi says:

    Hiks … hiks … hiks … Huaaa …. TAT
    Numpang nangis mbak ….

  4. Liliana Yuki says:

    Cerita keren banget mba, sumpah , bikin terharu.

  5. Hani says:

    Mbak , bawang merahnya banyak banget ya ? Salut deh πŸ™‚

  6. Nur Lailatul Faizah says:

    Ceritanya bgs mb..bikin terharu. Sukses trus ya mb nia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *