Cinta Aldi untuk Nana (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 1 April 2022

Akan tetapi, kebahagiaan itu ternyata hanya semu semata, seperti angin sepoi yang melintas di tengah teriknya matahari.

Aldi menelepon Ayahnya dengan panik, tetapi tidak ada jawaban di ujung sana. Nana juga menghilang, teleponnya mati. Dengan segera, Aldi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi ke rumah Ayahnya di kota sebelah. Dia tidak lagi menghiraukan lalu lintas siang hari yang sedang padat-padatnya. Ya, Ayah pasti sudah menemukan Nana. Jadi, sebelum semuanya terlambat, dia harus secepatnya menghilang bersama Nana. “Nana, kumohon … tunggu aku.”

Bahkan, dalam mimpi sekalipun, Nana tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa dia harus bertemu dengan Ayah Aldi dalam situasi seperti ini.

“Nona, seperti yang telah Nona ketahui, Aldi memegang tanggung jawab yang besar sebagai penerus keluarga. Nona adalah seseorang yang pandai, pasti bisa memahami kata-kata saya. Aldi tidak bisa meninggalkan Anda, jadi saya mohon, Nona yang terlebih dahulu meninggalkannya. Dulu, Nona pernah meninggalkannya sekali, jadi kali ini saya mohon Nona bisa meninggalkannya sekali lagi.”
Suara Nana tercekat di tenggorokan. Dia tidak tahu harus menjawab apa kepada Ayah Aldi.

“Saya tahu, Aldi tidak bisa hidup tanpa Nona. Jadi, saya mohon, Nona dapat meninggalkan Aldi selamanya. Saya tahu, orangtua dan keluarga besar Nona selama ini kekurangan, mereka banyak memiliki hutang dimana-mana,” tambah Ayah Aldi.
Nana seketika tercekat, “Jadi, maksud Bapak, saya harus menghilang selamanya?”
Ayah Aldi mengangguk. “Nona adalah orang yang cerdas, pasti langsung tahu apa yang saya maksudkan. Jadi, tidak ada salahnya, jika mengorbankan hidup Nona untuk kebahagiaan keluarga besar Nona, bukan? Saya berjanji akan menanggung kesejahteraan keluarga Nona. Apakah uang Rp 30 Milyar cukup?”
Ternyata dirinya hanya bernilai beberapa puluh milyar saja.

“Lalu, bagaimana dengan anak saya?”
“Ya, saya akan merawatnya hingga dia tidak akan kekurangan kasih saya apapun. Dia akan mendapatkan semua hal yang terbaik.”
“Lalu, bagaimana jika saya tidak setuju?”
“Nona pasti sudah mengetahui semua konsekuensinya.”
Jantung Nana berdebar kencang tak berirama.

“Jadi, sebenarnya saya tidak memiliki pilihan apapun?” tanya Nana.
Hening. Ayah Aldi tidak menjawab. Sekilas, Nana memandang gelas di hadapannya dengan tatapan nanar.

“Nona sebenarnya sudah mengetahui hubungan ini berbahaya. Anak Nona sementara ini dititipkan pada teman dekat Nona, bukan? Dan, bahkan keluarga Nona menganggap Nona sudah menghilang. Nona salah jika menganggap saya tidak mengetahui segalanya,” tambah Ayah Aldi.
Nana benar-benar terdiam lemas sekarang. Walaupun dia sudah berusaha mati-matian untuk tetap tenang, tetapi jantungnya masih saja berdebar tidak karuan, Bahkan, ternyata dia tidak bisa menyembunyikan rahasia apapun. Sekarang, hidupnya bukan lagi miliknya.

Nana mengambil gelas di hadapannya dengan tangan gemetar. Ayah Aldi tampak tersenyum puas. Tanpa bisa dicegah, air matanya tidak berhenti mengalir. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bahkan, dia tidak bisa memilih takdir hidupnya sendiri. Apakah salah jika dia mencintai Aldi? Apakah salah jika selalu ingin bersama dengan orang yang dicintai?
“Aldi, ternyata batas di antara kita terlalu tinggi. Aku tidak sanggup melewatinya. Jadi, aku hanya bisa berharap kamu bahagia selamanya,” kata Nana dalam hati, “Selamat tinggal.”
Nana memejamkan mata dan menenggaknya.

Buliran air mata jatuh tak berurutan di pipinya. Tiba-tiba saja dia merasakan udara di sekelilingnya menghilang. Dengan terengah-engah, dia mulai merasakan sakit perut dan mual yang tidak tertahankan, keringat dingin, jantungnya berdebar begitu kencang. Kemudian, semuanya menjadi gelap.

Ketika sampai di rumah Ayahnya, Aldi berlari sekencang yang dia bisa dan menemukan Nana yang sudah tidak sadarkan diri.
“Apa yang Ayah lakukan kepada Nana?” Aldi setengah berteriak kepada Ayahnya .
“Ayah hanya menjalanan kewajiban yang menjadi tanggung jawab seorang Ayah,” jawab Ayahnya tenang.

Aldi tidak peduli lagi dengan kata-kata Ayahnya. Dia harus segera membawa Nana ke rumah sakit terdekat. Sekali lagi, dipacunya mobil sekencang yang dia bisa. Tidak dipedulikannya lagi klakson mobil yang protes di belakangnya. Dia tahu, dia berpacu dengan waktu, sepersekian detik bisa menjadi waktu yang berharga untuk menyelamatkan hidup Nana.

Nafas Nana semakin lama semakin tipis. Aldi menggenggam tangan Nana. Dingin sekali. “Na, kumohon … kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Na,” suara Aldi bergetar. Ketakutan, rasa khawatir, semuanya berkecamuk menjadi satu tanpa dapat dicegah.

Aldi menunggu di depan ruang IGD dengan linglung. “Nana saat ini seharunya sudah mendapatkan penanganan terbaik, dan semuanya pasti akan baik-baik saja,” dia sedang berusaha meyakinkan dirinya. “Ya, semuanya pasti akan baik-baik saja.”

Dia sudah berkali-kali melihat arlojinya, waktu terasa berjalan lambat sekali. Dan, ketika dokter yang menangani Nana akhirnya keluar, dengan antusias, dengan penuh harap, Aldi segera berlari menghampiri.
“Bagaimana, Dok?”
“Maaf, Pak.”
Tubuh Aldi membeku. Hanya dua kata dari dokter itu sudah seperti vonis hukuman mati untuknya. Walapun dia berusaha untuk tetap tegar, tetapi hatinya sungguh tidak sanggup menampung kenyataan yang menyesakkan ini. Harapan yang tadi masih membuncah di hatinya lenyap tak berbekas. Nana yang selama ini membuatnya hidup …, kini sudah tiada. Lalu, untuk apa dia masih ada di dunia ini? Ternyata, Nana tidak bersedia menunggunya, lalu apakah dia yang harus menyusulnya sekarang? Kehilangan ini terlalu berat, dan dia sudah tidak sanggup lagi melangkah.

“Na, apakah bagi kita, kebahagiaan itu hanya fatamorgana?”

“Sudah dengar belum kalau Pak Aldi meninggal?,” tanya seorang ibu, sambil memilah-milah sayur yang akan dibelinya.
“Iya, kemarin sore, kan? Kasihan ya, padahal masih muda, ganteng, pengusaha sukses, tetapi mobilnya kecelakaan hingga jatuh ke jurang,” kata ibu yang lain menimpali.
“Iya, anak tunggal juga. Kasihan orangtuanya. Memang ya, tidak ada yang tahu panjangnya umur seseorang.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Tiara Citra Septiana

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 1 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Cinta Aldi untuk Nana (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teman Masa Kecil (Part 1)

Oleh:
Banyak orang bilang bahwa menjadi orang kaya itu enak. Tapi tidak denganku, siswi SMA kelas 3 yang sebentar lagi akan lulus. Aku, Nadiya, seorang perempuan anak tunggal dari kedua

Suratku Untukmu

Oleh:
Hai apa kabar? Lama kita tak bersua melalui FB ataupun sms. Selama ini hanyalah itu yang dapat menghubungkan kita berdua. Aku tak pernah mencoba untuk menelponmu karena suaraku pasti

Nauraku Maafkanlah

Oleh:
Nora, dialah anak saudagar terkaya di kota ini, beruntung sekali pria yang dapat meminangnya, karena pasti kekayaan ayahnya akan diwariskan padanya, tapi harapan itu begitu jauh bagi Jimi, seorang

Janji Setia

Oleh:
“Melati aku ingin ngomong sesuatu sama kamu” ucap Bima dengan kedua matanya memandangi bening indah mata kekasihnya itu. “kamu mau ngomong apa sih sayang?” jawab Melati sembari membalas tatapan

My First And Last Love

Oleh:
Langit malam ini begitu gelap, menutupi bintang-bintang yang biasa ku sapa. Tetes demi tetes air hujan turun membasahi malam ini, menimbulkan sebuah melodi menyayat hati. Aku menengadah menghadap langit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *