Cinta Dalam Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 2 March 2016

“Laksana mentari yang menyinari bumi ini, cahayanya yang mampu memberikan semangat kehidupanku. Matanya yang selalu membuatku tak sanggup untuk melihat lebih dalam lagi dan senyumannya membuatku terpaku saat aku berdiri di hadapannya, seorang bidadari manis yang membuat hidupku berwarna lagi.” Pikirannya tidak henti-hentinya berkecamuk saat melihat seorang gadis yang sebaya dengannya. Dengan seragam putih abu-abunya dan tas punggung yang selalu ia bawa membuat Ricky menaruh hati padanya.

Ya, mulai saat itu perasaannya menjadi tak karuan. Dia selalu merasakan berjuta-juta kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya. Dia sendiri tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi padanya. Semenjak gadis itu selalu berpapasan dengannya, ia akan berubah bagaikan es yang telah dibekukan. Tidak bisa bergerak hanya matanya yang tak hentinya melihat ke arah gadis itu. Keceriaannya, selalu membuat kesejukan di antara teman-temannya. Wajahnya yang sangat manis membuat Ricky tidak bosannya untuk melihat gadis itu. Pekerjaan yang selama ini membuat ia lelah, mendadak menjadi semangat saat mengerjakannya. Semua demi menemui gadis itu, seorang gadis yang mampu membuat hidupnya kembali seperti dulu.

“Kau sudah membersihkan ini kan?” Kata seorang wanita paruh baya kepadanya. Wanita itu adalah pemilik tempat cuci motor tempatnya bekerja. Ia mengangguk kepada wanita itu.
“Bagus, setelah ini kau bisa pulang ini upahmu.” Ricky menundukkan kepalanya tanda kalau ia mengucapkan terima kasih kepada wanita itu.
“Ini bukan waktunya untuk bersantai.” Pikirnya.

Ia kembali ke pekerjaan selanjutnya. Hanya dengan cara ini dia bertahan hidup. Kecelakaan yang ia alami setahun yang lalu telah merenggut kehidupannya. Merenggut mimpinya dan mengambil cintanya. Semua yang ia miliki sudah tidak ada di dunia ini, yang tersisa hanya ia seorang dan tubuhnya ini. Andai saja ia waktu itu mati bersamanya, mungkin Ricky akan terhindar dari penderitaan ini. Tidak seperti sekarang hanya terbalut dengan ribuan cacian, makian. dan penderitaan.

Matahari masih berada di atas kepalanya, tangan kanannya membawa beberapa tumpukan Koran. Ini waktunya Untuk dia berjualan Koran dan mengumpulkan uang lagi. Dengan segala keterbasan yang ia miliki, ia berjualan Koran itu. Terkadang orang-orang dengan senang hati untuk membeli Koran darinya. Dan ada pula dengan cueknya meninggalkan Ricky begitu saja. Hingga akhirnya ia terdiam terpaku, saat melihat gadis itu. Seorang gadis yang mampu membuatnya tersenyum. Ya, walaupun itu hanya senyuman sekilas yang tidak diketahui olehnya.
“Berapa Koran ini?” Gadis itu bertanya padanya. Ricky terdiam, entah karena ia merasa terpaku karena kecantikan gadis itu, atau ia memang tidak bisa mengeluarkan kata-kata kepada gadis yang ia sukai. Tidak, Ricky mengeluarkan sebuah buku kecil yang ada di dalam sakunya. Dan mulai menulis. Gadis itu heran saat melihat tingkah laku Ricky.

“Apakah ia tidak bisa bicara.” Pikir gadis itu. Gadis itu langsung saja memberikan uang lima ribu rupiah, harga yang sesuai ia tulis pada kertas itu dan gadis itu tersenyum pada Ricky. Seakan dunia berubah menjadi berwarna saat senyuman itu untuknya. Matanya menunjukkan sebuah ketulusan. Seorang gadis yang memiliki hati yang baik. Dengan sejuta kelembutan yang ada di dalam dirinya. Langit sudah mulai gelap saat Ricky berhasil menjual semua Koran. Ricky berjalan menelurusi kota yang semakin ramai dengan gemerlap lampu-lampu jalan. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah gubuk kecil. Di tempat itulah ia tinggal. Menghabiskan waktunya dalam kesendirian.

Gubuk ini senantiasa menemaninya. Ibarat saksi dari hidupnya, kegetiran hidup menjadi kunci bagi gubuk yang sekarang ia tinggali. Di balik itu semua Ricky bisa merasakan kalau dirinya bisa kembali seperti dulu lagi, asalkan ia memiliki seorang teman yang bisa menerima keadaan dirinya sekarang ini. Menerima semua kekurangan yang ia miliki, dan dengan tulus ia berteman dengannya. Tidak perlu banyak, cukup satu orang saja yang nantinya bisa memahami dirinya. Kesendirian yang selama ini ia alami membuat ia mengerti kalau hidup ini tidaklah mudah. Terkadang kita harus mendaki, dan terkadang kita harus jatuh ke lembah yang paling dalam. Tapi, ia selalu percaya akan ada matahari setelah badai, dan akan ada pelangi setelah hujan. Jadi hidup ini harus ia jalani sesulit apa pun itu, ia harus bergerak maju. Sekali pun ia harus merangkak Ricky harus tetap terus maju. Demi harapannya dan demi impiannya.

“Kau ini tuli atau bagaimana sih?! Aku menanyakan harga Koran ini berapa?!” Kata seorang pria paruh baya kepada Ricky. Ricky masih terdiam dan suara terbata-bata mencoba berbicara pada pria itu. Tapi pria itu langsung pergi tidak menghiraukan Ricky yang sedang mencoba menulis di buku, untuk menjelaskan kepada pria itu. Ketika Ricky hendak menunjukkan tulisan itu kepada pria paruh baya tadi, seorang gadis telah berdiri di hadapannya dan tersenyum manis pada Ricky. “Hai, Kita bertemu lagi.” Kata gadis itu sambil tersenyum. Senyumannya membuat Ricky terpaku. Ia tidak bisa berkata apa-apa ketika gadis yang ia sukai berada tepat di hadapannya lagi. Ricky hanya bisa membalas senyuman gadis itu.

“Aku ingin membeli koranmu lagi, oh iya namaku Rika, siapa namamu?” Ricky menuliskan namanya di buku dan memperlihatkannya pada Rika.
“Namamu Ricky ya? Wah nama kita hampir sama ya?” Kata Rika sambil tertawa. Tawanya yang ceria membuat Ricky kembali tersenyum.
“Bisakah kita berteman?” Tanyanya pada Ricky. Ricky hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan senang. Akhirnya ada seseorang yang dengan tulus mau berteman dengannya. Walaupun kekurangan yang ia miliki Rika dengan senang hati bisa menerima Ricky apa adanya.

Mentari berada tepat di atasnya ketika ia berdiri tepat di depan gerbang sebuah sekolah, sesekali ia melihat ke dalam untuk memastikan bila seseorang yang ia tunggu datang menghampirinya. Tangan kirinya terlihat merangkul beberapa koran, topi yang ia pakai menambah kesan kalau ia ada seorang pedagang koran yang hendak berjualan di sekolah itu. Padahal ia sedang menunggu seseorang yang sangat spesial di hidupnya. “Kau sudah lama menungguku?” Tanya Rika pada Ricky yang sedari tadi telah menunggunya. Ricky hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

Hari ini Rika berjanji untuk membantu Ricky menjual koran-korannya. Hal inilah yang ingin sekali Rika lakukan selama hidupnya, membantu seseorang yang memiliki kekurangan seperti Ricky. Apalagi ia telah mampu merubah dirinya yang dulunya sangat cuek dengan lingkungan sekitar menjadi seseorang yang lebih peduli, apalagi Ricky adalah seseorang yang baik dan bekerja keras dengan kemampuan yang ia miliki. Tepat ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah Rika dan Ricky mulai menjajakkan koran mereka. Walaupun hari itu matahari bersinar sangat teriknya, tetapi mereka dengan semangat berjualan koran. Tidak peduli bagaimana orang-orang akan membeli atau tidak koran yang mereka jual. Setidaknya Rika tahu, seperti ini sulitnya ketika mencari uang.

Cahaya jingga yang telah datang di langit biru dan mentari yang siap untuk kembali singgasana, sepasang insan yang tampak lelah duduk di bangku taman yang tidak jauh dari keramaian pusat kota. Rika telah berhasil membantu Ricky menjual korannya. Koran mereka telah berhasil terjual habis. “Rasanya aku iri padamu bisa hidup seperti ini dan tidak ada yang melarangmu. Terkadang aku sangat lelah hidup tanpa ibu, dan Ayah jarang sekali pulang ke rumah. Beliau hanya sibuk dengan pekerjaannya. Aku sangat merindukan Ibuku.” Kata Rika.

Suaranya hampir menangis saat mengatakan itu. Tapi, jauh di dalam hati Ricky ia sangat ingin menjadi seperti Rika. Yang kapan saja bisa tidur di kasur yang empuk, bisa bersekolah dan bermain bersama teman-temannya. Ricky sangat ingin seperti dia, yang kapan saja bisa berbicara dan dengan mudahnya bisa memprotes seseorang bila orang itu salah. Tidak bagi Ricky. Kekurangannya selalu dipandang sebelah mata terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Kesalahan yang bukan disebabkan olehnya, selalu dialamatkan padanya. Cacian, makian sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Ricky. Ia hanya bisa menangis dalam diam, marah dalam diam dan tertawa dalam diam. Baginya hidupnya adalah kesunyian yang akan terus menyelimutinya sampai kapan pun.

Ricky menyentuh lembut bibir Rika dan mencoba membentuk garis lengkung di bibirnya. Ia menyuruh Rika untuk tersenyum, karena baginya senyumannya bisa membuat dunia ini bersinar kembali. Rika dengan riangnya membalas senyuman Ricky tersebut. Dalam hati Ricky, ia berharap waktu berhenti saat ini. Menikmati setiap senyumnya membuat dunianya kembali utuh. Sesuatu yang selama ini hilang, telah ia temukan kembali dalam Rika. Rika adalah permata yang telah hilang dalam dirinya. Dan kini ia telah menemukannya kembali.

“Di sini rupanya Kau!” Kata seorang laki-laki yang tiba-tiba datang menarik tangan Rika. Nyaris terjatuh Rika berusaha menarik tangannya dari laki-laki itu.
“Kita sudah tidak ada hubangan lagi, buat apa kau mencariku? Dan berhentilah menarikku secara kasar seperti tadi!” Bentak Rika dengan marah.
“Ayahmu, menyuruhku membawamu pulang. Ia sangat khawatir denganmu dan tidak ada gunanya kau berteman dengan seseorang yang bisu seperti dia.”
“Ayah mengkhawatirkanku? Sejak kapan?! Bahkan ia tidak pernah bertanya siapa saja temanku, hanya kau adalah anak dari teman dari Ayahku, kau memperlakukanku sesuka hatimu seperti ini?!”

“Pokoknya kau harus ikut denganku!” Kata laki-laki itu dengan menarik paksa lengan Rika. Tangannya kemudian terlepas dari laki-laki itu. Dengan tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya, Rika berlari menjauhinya. Ke mana pun ia tidak peduli, ia harus pergi jauh dari tempat ini. dia harus terus berlari ke mana pun ia akan berlari. Sampai akhirnya ia tidak mendengar sebuah klakson mobil yang berusaha menghentikannya. Tapi, semua terlambat Rika sudah jatuh tersungkur dengan darah mengalir dari tubuhnya.

Ricky yang dari tadi mengejar Rika melihat apa yang terjadi padanya. Tanpa berpikir panjang ia menghampirinya dan berusaha untuk membangunkannya. Tapi, suaranya tidak ke luar hanya air mata yang sekarang ke luar dari kedua matanya. Ricky menggendong Rika dan kembali berlari mencari Rumah Sakit terdekat. Sesampainya di sana dengan susah payah ia berusaha membujuk dokter untuk menyelamatkan Rika. “Ini tidak boleh terjadi lagi.” pikirnya. Kejadian yang hampir sama, ia tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya. Kali ini ia akan melakukan apa pun untuk membuat Rika sadar dan tersenyum kembali. “Dia membutuhkan donor darah yang sama dengannya. Pasien ini telah banyak sekali kehilangan darahnya.” Kata dokter kepada Ricky.

Ricky menuliskan sesuatu dalam buku yang biasa ia bawa dan memperlihatkan kepada dokter itu. Dokter tampak terkejut, tapi ia kemudian mengangguk mengerti. Dan Ricky mulai tersenyum. Cahaya itu perlahan mendekat dan mulai menyilaukan penglihatannya, sedikit buram tapi Rika bisa melihat jelas Ricky berbaring di sampingnya dengan wajah tersenyum. Kepalanya sedikit sakit ketika ia berusaha bangun dari tempat tidur Rumah Sakit. Ada sebuah cacatan kecil yang berada tepat di samping Ricky. Rika mengambilnya dan mulai membaca.

“Dokter ambil saja semua darahku, aku ingin ia selamat aku ingin ia tersenyum kembali dan kembali ceria seperti dulu. Aku tidak peduli jika nyawaku harus hilang karenanya, tapi biarkan dia hidup dan ambil semua darahku untuknya.” Ia mulai menangis saat membaca isi surat dan mengelus pipi Ricky yang kini terasa sangat dingin.

Cerpen Karangan: Deva Diana
Facebook: Deva Diana

Cerpen Cinta Dalam Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Allow

Oleh:
Terkadang cinta itu membuat kita nyaman… Namun bila mencintai seseorang, dan rasa itu dipendam sakit rasanya… Dan pada akhirnya diri ini harus merelakan rasa cinta itu pergi… Sebelumnya perkenalkan

Tak Mau Lagi

Oleh:
Sakit… sakit dan sakit!!! Perih hati tergores sembilu tajam. Mati rasa ini. Ku ingin tenggelamkan segala cerita cinta dengannya di Samudera Pasifik. Ku banting hati dan segala janji manisnya

Kehadiranmu

Oleh:
Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja sosok seorang wanita hadir di bunga tidurnya. Datang berjalan perlahan dari kejauhan kemudian mengucap salam, “Hai, apa kabar? Lama ya kita

Salahkah Aku Mencintaimu

Oleh:
“Jika kau akan pergi, mengapa kau datang jika aku mencintaimu apakah itu salahku?” 2 tahun aku menjalin hubungan dengan Rama, aku sangat mempercayainya walaupun aku tahu dia bermain api

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cinta Dalam Diam”

  1. Cerpennya bener bener nyentuh mba, saya suka banget. Salam kenal dari Bekasi, ditunggu lagi karya lainnya 🙂

  2. Rini Liana Sari says:

    bagus cerpenya,ditunggu karya yang lainya ya mba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *