Cinta Di Atas Bencana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

06 Desember 2016
17.00
Padang, Sumatera Barat, Indonesia
Hana duduk di atas kursi kayu. Kursi itu sudah lama dibuat oleh Abi Hana di halaman rumah. Tanaman pohon kertas yang menjulang ke atas dan melingkar di atasnya, menambahkan suasana indah di halaman Hana.

Hana menarik napas dengan berat. Dia terus mengayun kakinya ke depan dan ke belakang. Sesekali dia juga melihat ke gerbang seolah-olah sedang menunggu seseorang. Tak berapa lama, mobil sedan berwarna silver berhenti tepat di depan rumahnya. Hana sontak tersenyum bahagia, tapi setelah itu dia memasang wajah cemberut ketika seorang pria tampan mendekat ke arahnya.

“Assalamualaikum..” seru pria itu bernama Fadli.
“walaikumsalam…” balas Hana dengan datar.
“tuh kan cemberut lagi”
Hana tidak peduli. Dia tetap memasang wajah masamnya. “Uda pulang deh” serunya lagi sembari membalikkan badannya.
“eh tunggu Uda” ucap Hana dengan cepat.
Fadli membalikkan badannya dan menatap Hana. Dia tersenyum pada Hana. “kamu nggak ikhlas ya Uda pergi?” kata Fadli. Hana hanya tertunduk. Dia sedang menahan gejolak air matanya. Hana merasa gelisah dengan keberangkatan Fadli kali ini ke Aceh. Hanya 10 hari. Tapi baginya 100 tahun. Mungkin akan terasa selamanya.
“Uda janji kok bahkalan pulang ke sini lagi” kata Fadli dengan suara yang lebih lembut.
Hana mendonga dan menatap Pria itu.
“janji?” ucap Hana kemudian.
“InsyaAllah” balas Fadli.
Hana tersenyum tampak lega. “nah gitu dong. Oh ya, abi sama umi di rumah kan?”
Hana hanya mengangguk. Fadli tersenyum, kemudian masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan orangtua Hana.

07 Desember 2016
15.00
Padang, Sumatera barat, Indonesia.
“umi…” seru Hana sembari memeluk Uminya dari belakang. Umi sontak terkejut dan menoleh ke Hana.
“ada apa sayang? Kenapa?” ucap umi dengan lembut.
“Uda Fadli beneran balikkan ke sini?”
“Insyaallah, Nak. Ya udah.. umi mau ke depan temeni abi minum teh. Kamu mau ikut?”
Hana hanya menggelengkan kepalanya. Dia memilih pergi ke kamar dan mengecek ponselnya. Siapa tahu Fadli akan menghubunginya. Sudah sehari setelah keberangkatannya ke aceh, Fadli tidak pernah menghubungi Hana.
Hana merebahkan tubuhnya di atas sofa dan menghidupkan tv. Sewaktu dinyalakan, pertama kali yang tayang di Tv adalah berita duka dari aceh. Sontak Hana langsung mencermati berita tersebut.

“abii… umi… abi… umii…” teriaknya kemudian. Mendengar suara itu, orangtua Hana langsung menemuinya. Dan terkejut setelah melihat keadaan Hana menangis histeris. Abi dan umi memandang dan menyimak isi berita. Mereka tahu sekarang penyebab Hana menangis sampai seperti itu.
“abi??” gumam Umi dengan nada khawatir. Abi langsung menelepon orangtua Fadli.
“Innalilahiwainnailahiroziun” seru abi kemudian. Hana dan Umi saling memandang kemudian terduduk lemas. Umi langsung memeluk Hana dengan erat.
“ayo kita ke aceh, abi! Sekarang!” ucap Hana dengan cepat. Umi juga menangguk setuju.
“ya udah kita kesana tapi kamu yang tenang nak” gumam Abi.

Hana dan orangtuanya bergegas pergi ke bandara dan berangkat sore itu juga ke aceh. Hati Hana terguncang melihat kejadian yang menimpa warga Pidie Jaya. Terkhusus pada fadli. Padahal sebentar lagi dia dan Fadli akan segera menikah.

07 desember 2016
17.00
Pidie Jaya, Aceh, Indonesia
Hana dan orangtuanya pergi ke salah satu posko kejadian. Hana memandang ngeri korban luka-luka di sana. Matanya terus mencari Fadli. Tapi tidak ketemu. Hana berlari ke alamat yang Fadli berikan sebelum dia pergi. Sampai di tempat Hana dan orangtuanya bertemu dengan orangtua Fadli. Mereka juga menangis histeris melihat keadaan rumah yang sudah roboh dan berantahkan.
“nggak mungkin…” teriak Hana. Tiba-tiba.. BRAAKK!!! Hana jatuh pingsan. Abi dan Umi sontak terkejut dan langsung membawa Hana ke posko terdekat. Umi terus menangis meratapi anak semata wayangnya. Begitupun dengan abi yang tidak tega melihat calon menantunya pergi tanpa diketahui kematiannya.

“Uda?” gumam Hana.
Pria itu mendekat ke Hana. Dia terus memandang hana dengan waktu yang cukup lama. Hana melihatnya dengan tatapan tidak percaya “Uda masih hidup” ucap Hana kemudian. Yah.. pria itu adalah fadli. Fadli tersenyum.
“Assalamualikum dek Hana..” ucap Fadli.
“walaikumsalam Uda. Hana nggak mimpi kan Uda? Uda beneran masih hidup? Alhamdulillah Uda. Hana nggak bisa ngebayangi kalau Uda pergi selamanya”
“kamu nggak boleh gitu ah. Ikhlaskan Uda. Insyaallah Uda akan tenang nanti, dek. jaga diri kamu baik-baik ya dek dan juga abi sama umi. uda pergi ya dek… Assalamualaikum”
Pria itu pergi ditelan bayangan. Entah berasal dari bayangan itu, tapi yang pasti pria itu menghilang begitu saja.
“udaaa!!!!” teriak Hana histeris.

“udaaa!!!” teriak Hana saat tersadar dari pingsannya.
“alhamdulillah kamu sudah sadar, nak” gumam Umi.
“umi.. umi… tadi Hana ketemu sama Uda. Tapi kenapa dia hilang umi.. dia masih hidup kan umi??” ucap Hana histeris.
Umi hanya diam sembari memandang tim SAR yang sedang mengotong kantong jenazah. Hana menoleh pandangan uminya. “apa itu jasad Uda, Umi?”
Umi menganguk dan langsung memeluk Hana. Hana kemudian menangis histeris dalam pelukkan Uminya. Dia tidak menyangka Fadli akan pergi secara tiba-tiba. Seharusnya dia melarang Fadli untuk pergi ke Aceh. Tapi entah kenapa dia justru membiarkan Fadli pergi walaupun dia tidak ikhlas.

08 Desember 2016
Pidie jaya, Aceh, Indonesia
Jasad Fadli sudah teridentifikasi dan bisa dimakamkan. Orangtua Fadli sepakat untuk memakamkan jasad Fadli di pemakaman umum Aceh. Hana menaburkan bunga mawar di atas makam Fadli lalu berdoa untuk Fadli. Dia berharap calon suaminya itu akan tenang dan ditempatkan yang sebaik-baiknya di sana.
Semoga Allah menempatkan mu di sisiNya…
selesai

Uda = sapaan hormat untuk kakak laki-laki (bahasa padang)
Umi = ibu
Abi = ayah

Cerpen Karangan: Sanniucha Putri
Facebook: Sanniucha Putri

Cerpen Cinta Di Atas Bencana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tidit…Tidit… (Part 1)

Oleh:
“Tidit… tidit..” Bunyi ponsel Luna terdengar menggema di udara. Ponsel itu ia letakkan di atas sebuah meja belajar di kamarnya. Ponselnya beberapa kali berdering mengeluarkan nada yang sama. Namun,

Tentang Pangeran Biola, Yoshi

Oleh:
Pertunjukan musik yang merupakan konser perdana Fai Chen Ho, laki-laki keturunan Kanada-Jepang itu telah berakhir. Orang-orang lebih mengenalnya Ryu, karena itulah nama panggungnya. Aku menunggunya di balik stage, untuk

Pendekar Cantik

Oleh:
Ujian hidup yang selalu menerpa harus ku jalani apa adanya dengan penuh semangat. Walau kedua orang tuaku telah tiada, aku harus semangat untuk hidup. Namun aku punya seorang nenek

Sang Sutera Pupus

Oleh:
Seorang gadis mungil sedang duduk di ayunan yang diam, di telinganya tersemat earphone putih. Di kejauhan terlihat seorang lelaki berseragam mendekati taman kecil di tengah lapangan, ia menenteng gitar

Kaca Cinta

Oleh:
“Fel, salah melulu dari tadi!,” bentak Bram saat Felly salah memetik senar gitarnya untuk kunci G. “Maaf, Bram gue nggak sengaja,” jawab Felly cemas setelah ia teringkat dari bentakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *