Cinta Di Ujung Senjata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 14 February 2016

Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya, dengan amat perlahan menurutkan perintah alam ghaib, ia berangsur turun perlahan-lahan hingga gelap panca cahaya yang semula terang menerangi bumi, merah-merah jingga mulai terlihat di ujung perbukitan sana, itu suatu tanda yang menandakan bahwa malam akan segera tiba dan sore hari akan segera berlalu. Hari telah kembali pagi, sinar mentari mulai menerangi bumi. Cihui berjalan-jalan pagi di hari minggu seraya melepaskan beban pikiran yang sudah menumpuk, tanpa sengaja matanya berkeliaran bebas dia melihat seorang gadis, berambut pirang, matanya kebiruan, berkulit salju dan bodinya bagaikan biola Spanyol, Cihui yang melihat dari kejauhan langsung terpikat dengan kemolekan gadis itu, hatinya bersorak ria seakan ada harapan yang segera datang.

“Hai cantik, mau ke mana pagi-pagi?” Tanya Zahrul seraya menggigit kukunya.
“Oya ini mau lari-lari pagi aja, kalau bang sendiri mau ke mana?” Jawab gadis itu sedikit cuek.
“Sama juga, aku mau jalan-jalan pagi aja sambil mencari udara pagi. Oya boleh kenal siapa namanya?”
“Tentu bisa dong. Eum, nama aku Cut Rizka, aku anak Pak Raden,” Gumam Cut Rizka.
“Boleh nggak?” tanya Cihui.
“Boleh apa?” Jawab Cut Rizka dengan penuh penasaran.
“Boleh tidak kalau saya minta pin BBM Cut Rizka?” gumam Cihui dengan sedikit berharap.
“Untuk apa nomor aku, eum, boleh aku kasih tapi janji jangan berikan kepada orang lain. Tolong dicatat ya bang,” ujar Cut Rizka.
“Iya terima kasih dek, kamu baik sekali, wajahmu segar meski sedikit berjerawat.” papar Cihui merayu.

Jam dinding menunjukkan angka 7:00 WIB. Pagi datang membangunkan Cihui dari mimpinya, tangannya meraba-raba meraih smartphone, sejenak dia menelepon Cut Rizka sebelum berangkat ke kantor dinas di Kuta Alam, wajah gadis ayu itu melekat kental dalam khayal Cihui, manakala ia melihat smarphone-nya itu ia selalu membuka kembali foto-foto gadis yang telah membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Sore berlalu dengan cepat, gerimis turun membungkus kota saat lampu dinyalakan satu-persatu, ingatan Cihui hanya tertuju pada Cut Rizka anaknya Pak Raden itu.

“Kamu jangan lupa salat ya, berdoa sama Tuhan agar engkau selalu dalam rahmatnya,” kata Cihui lewat telepon.
“Iya, abang kenapa perhatian sekali sama Cut,” ketus Cut Rizka dengan riang.
“Sebenarnya aku suka sama kamu, walaupun aku hanya seorang polisi, aku seolah menemukan sosok yang sangat menginspirasiku.” jawab Cihui.

Pukul sepuluh malam, langit gelap kembali menumpahkan hujan. Lebih deras daripada sebelumnya, suasana sejuk semakin terasa menggigil bagi cihui, ia sudah begitu tertarik dengan Cut Rizka, ke mana pun Cihui pergi, dia tidak pernah lupa untuk menghubungi Cut Rizka. Sinar mentari telah masuk melalui celah-celah jendela rumah Cihui tanda kehidupan dimulai, dia segera terbangun menghentakkan kaki menuju kamar mandi mengambil wuzuk menunaikan salat subuh walau sudah agak sedikit terlambat. Manakala ia selesai menunaikan perintah ilahi, seolah sudah menjadi rutinitas baginya untuk menelepon Cut Rizka, gadis itu telah membuatnya seperti dunia hanya untuk mereka berdua.

“Sudah makan dek? Jangan lupa mandi, nanti kamu jatuh sakit,” cihui memberi perhatian.
“Iya, abang juga jangan lupa makan, biar nanti kuat selalu.”
“Kamu baik sekali, seandainya kamu selalu seperti ini alangkah indahnya dunia.”
“Oya, ada yang mau aku bilang sama kamu tapi aku malu.”
“Tidak usah malu, lagian ini nggak ada orang lain yang dengar.”
“Sebenarnya aku suka sama kamu, tapi aku tidak berani mengatakannya, maukah kamu menjadi pacarku?”
“Aku tidak mau,” jawab Cut Rizka dengan nada tegas.

Cihui dengan perasaan malu menutup sesi pembicaraan itu, suasana hatinya kacau balau. Perempuan berkulit salju itu menolak mentah-mentah cintanya. Cihui saat berkumpul sama kawan-kawan biasa terlihat aktif, namun kali ini ia hanya tertunduk lesu di sudut ruangan kedai kopi, dia hanya menguap-nguap seraya melepaskan gumpalan asap rok*k yang begitu mengepul. Hatinya yang kering kerontang seakan tanpa penyejuk, Cut Rizka benar-benar menghilang dari peredarannya tidak pernah memberi kabar, matanya Cihui bengkak, sudut pipinya sering basah setelah peristiwa penolakan oleh gadis yang begitu disukainya.

Langit mendung enggan menurunkan hujan, tiupan angin sejuk menghantarkan tetes-tetes embun pagi, Cihui menelepon Cut Rizka Sambil berharap benih-benih tamaram cinta timbul dalam hati gadis itu. “Apa kabar, kamu sudah sombong sekali,” katanya Cihui dengan jantung berdegup kencang.
“Mana ada sombong, kamu yang tidak pernah lagi menelepon Cut.”
“Maaf, bukan aku sombong, tapi aku sibuk dengan tugas kantor, hari ini ada tiga kasus kriminal yang harus kami tangani.”
“Oh, begitu?”

“Kamu ini bagai misteri dalam hidup aku, kamu telah memberikan harapan palsu kepadaku.”
“Maafkan aku Cihui.”
“Oya, kamu benar tidak mau menerima cintaku untuk kali kedua ini?”
“Tidak Cihui, aku tidak mau.”
“Terus apa alasanmu sehingga menolak cintaku, aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk menjadi pangeran bagi kamu.”
“Maaf ya Cihui? Sebenarnya aku tidak mau menolak cinta kamu.”

Saat itu Cihui merasa seperti ada kelinci yang melompat-lompat dalam hatinya, hatinya bersorak bahagia karena dia menerima cintanya, wajah yang penuh tanda tanya sudah terlihat begitu cerah, tampak senyum menghiasi bibir manisnya. Dalam pikiran Cihui hanya terlukis sosok gadis cantik jelita itu. Kehidupan Cihui bagai disihir mantera, hati dan pikirannya sepenuhnya tertuju sama Cut Rizka pacar barunya itu, sosok pujaan hati barunya telah memberi energi baru baginya. Seakan tidak ingin terpisah oleh waktu, Cihui senantiasa mencoba terhubung dengan Cut Rizka setelah selesai salat lima waktu.

Hembusan angin sore menerpa Wajah Cihui saat memasuki wilayah kota Sigli, ia memacu kendaraan dengan kencang menuju rumah Cut Rizka untuk melamar sosok gadis yang telah membuatnya mabuk kepayang itu. Dia berjalan menuju sebuah rumah bertingkat di samping mesjid berwarna putih dan itu rumah gadis itu. Rasanya seperti pintu surga telah dibuka sedikit agar Cihui bisa mengintip keindahan di dalamnya, dalam perjalanan pulang, senyum lebar terus terlihat dari sosok Cihui yang biasa kesehariannya tidak pernah tersenyum. Hatinya berbunga-bunga, Cut Rizka berhasil menyulap hidupnya. Kasih tulus membuat hidup Cihui sedikit berbeda dari hari-hari biasa, senyum tetap menghiasi bibirnya yang biasa terlihat sangar, rautnya seakan memberi seribu aura segar tersendiri baginya.

Bahana ketawa Cihui saat melihat pesan-pesan lucu dari pacarnya memecah suasana bising di tengah malam, Cihui sebagai anggota polisi bertugas di Kuta Alam, tepat setelah dua bulan melamar sosok gadis berambut pirang itu, dia mengikuti perintah wajib untuk memburu bos bandar s*bu-s*bu di pelosok desa yang terisolir di salah satu kawasan Banda Aceh. Saat mentari menyapa. Kabar tersiar bahwa Cihui telah gugur dalam membela negara, timah panas gembong nark*ba yang merusak jutaan ummat telah menembus dinding jantungnya, betapa terkejutnya Cut Rizka ketika berita itu sampai di telinganya, Cihui telah berikrar sehidup semati untuk membina roda kehidupan berumah tangga dengan Cut Rizka.

Handphone yang ada di tangan gadis itu sedang menerima telepon dari atasan Cihui, seketika terpelanting jatuh bak buah yang terlepas dari tangkainya, air matanya berhamburan ke luar membasahi sudut-sudut pipinya, awan pun menangis mendengar berita duka itu, tidak lama kemudian ia jatuh terkulai mencium keramik rumahnya. Mama dan papanya berteriak histeris seakan tidak percaya dengan kenyataan itu.

Cerpen Karangan: Teuku Mukhlis
Blog: sekolahhamzahfansuri.blogspot.com

Cerpen Cinta Di Ujung Senjata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Semanis Cupcakes

Oleh:
Minggu pagi sekitar jam sembilan, pesawat telepon di Sweet Cake Shop berdering. Operator menjawab panggilan itu dengan ramah dan sopan. Seorang wanita paruh baya bernama Martha menanyakan pesanan kue

Puisi Terakhir

Oleh:
Suatu hari di waktu senja terlihat seorang anak laki-laki berjalan gontai menuju arah pulang, begitu sepi sore itu tak ada kendaraan yang melintas hanya angan dan hayalan temani dia

Merindunya

Oleh:
Rahma adalah seorang remaja cewek yang ceria, dia selalu berusaha buat nutupin semua masalahnya di depan orang-orang di sekitarnya dan memendam sendiri masalahnya. Rahma adalah seorang siswi kelas 7

Aku Akan Menjaga Mata Ini

Oleh:
Pagi yang cerah matahari bersinar menerangi kota jakarta yang padat dengan berbagai kendaraan salah satunya adalah Bryant dan Callysta mereka adalah sepasang kekasih yang bersekolah di SMA yang sama,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *