Cinta Hanya Sesaat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 20 June 2016

Pagi itu, Aku berjalan sendirian menuju sekolah. Matahari bersinar memancarkan sinar yang begitu cerah ke bumi. Menyilaukan mataku hingga tak dapat kutatap sempurna. Terlintas dalam pikiranku “Seandainya ada orang yang melindungiku dari silaunya matahari itu, bakal terbang sampai mana perasaanku?”

Namaku Dila Larasati, biasa dipanggil Dila. Aku bersekolah di SMA favorit di Tangerang. Lumayan betah lah. Dila!!! Ya!!! Anak tomboy, tapi manja. Masih ada ya anak kaya gini. Eitssss … tapi orangnya asyik lo, dan yang paling lucu itu, saat aku lagi benar-benar patah hati gitu. Mukanya berubah dratis gimana gitu lah. Itu sih kata teman-teman aku yang super duper kocaknya.

Saat jam istirahat aku pergi ke kantin, dan disitu aku bertemu temanku yang bernama Ryan.
“Dila!” Sapa Ryan kepadaku.
“Eh, Ada Ryan.” Jawab aku sambil ngajak bercanda.
Ryan lagi jalan sama temannya yang bernama Ardi, dengan tidak sengaja aku mendengar bisikan Ardi kepada Ryan,
“Itu siapa, Yan?”
“Ciee tanya-tanya naksir ya. Namanya Dila?” Jawab Ryan agak keras meledek.
“Hssss … Jangan keras-keras malah! Nanti aku minta nomernya ya” pinta Ardi.
“Dil, kenalin ini temenku namanya Ardi”
Jantungku semakin berdebar kencang saat dikenalin sama ini laki-laki. Dia telah memikat hatiku. Membuatku gugup dalam berbicra. Tuhan aku merasakan ada cinta. Aku benar-benar jatuh cinta.
“Hai Ardi. Namaku Dila.” Dengan salah tingkah aku menjawabnya.

Dari pulang sekolah sampai di rumah, pikiranku masih buat laki-laki itu, aku belum bisa mengalihkan pikiranku. Inilah aku yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Segala pikiran tertuju pada orang yang sedang aku cintai. Tapi aku juga berpikir akan akibat dari jatuh cinta, “Aku takut patah hati.”

Klunting.. klunting..
‘Sms dari siapa ya?’ pikirku
“Hay Dila. Lagi ngapain kamu? Ini aku Ardi.”
Ternyata Ardi yang sms.
“Oo Ardi. Nggak lagi nyantai aja nih.”

Semakin lama aku dan Ardi semakin dekat dan sering bertemu lalu ngobrol bareng. Dan kita pun menyimpan perasaan yang sama dan saat itu juga kita merasa bahwa perasaan itu tak layak lagi untuk dipendam lama-lama. Akhirnya kita saling mengungkapkan perasaan kita masing-masing. Tapi kita berkomitmen laki-laki duluan yng berbicara dan tiba Ardi mengungkapkan semuanya,
“Dila, sejak pertama aku bertemu denganmu, aku merasa nyaman, apalagi saat aku berada di sampingmu, membuatku semakin nyaman dengan keadaan ini. Aku ingin kita punya ikatan yang lebih dari teman. Perasaanmu bagaimana?” Ungkap Ardi tentang perasaannya.
“Sungguh aku punya perasaan yang sama denganmu, Ardi. Aku juga menyayangimu sejak saat itu. Aku juga ingin kita punya ikatan lebih dari teman.” Jawabku.
“Jadi, kamu mau jadi pacarku?” Tanya Ardi sekali lagi.
Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum pada Ardi.

Pada tanggal 25 September itu kita mulai pacaran. Melewati hari bersama, bercanda, tertawa bersama. Namun semua itu hanyalah sesaat. Kebahagiaan ini hanyalah sebatas mimpi sesaat. Aku kehilangan kabar tentang Ardi selama sekitar 2 minggu, membuatku harus menikmati hari yang pahit. Tiba di ujung kesedihan yang membuatku putus asa, seolah-olah kehilangan keinginan untuk jatuh cinta lagi. Aku mencoba menelepon Ardi tapi tak ada yang menjawab teleponku, lalu aku mencoba sms,
“Ardi, kamu kemana aja? Aku kangen.”
Selama beberapa jam aku menunggu balasan dari Ardi, akhirnya ada yang membalas, “Aku nggak kemana-mana Dila. Besok istirahat kita ketemu di taman sekolah ya. Aku mau ngomong penting.”

Teeeet … teeeeeeeet …
Bel waktu istirahat sudah bunyi. Aku langsung jalan ke taman sekolah, Ardi sudah menungguku.
“Ardi, aku kangen sama kamu, kamu nggak pernah kasih kabar selama ini.” Tanyaku dengan nada agak emosi.
“Maaf ya Dila. Sekarang saatnya aku mau ngomong penting sama kamu. Aku mau hubungan kita sampai disini saja ya. Aku jatuh cinta sama orang lain. Terimakasih buat semuanya. Aku pergi dulu.”
Jadi, ini maksud dari semuanya. Aku kira kamu laki-laki yang setia. Ternyata kamu tidak seperti apa yang terlintas di pikiranku selama ini. Sungguh sangat menyakitkan yang kamu katakan padaku. apa kau tak memikirkanku? Sekarang aku tahu, kamu memang laki-laki yang nggak punya perasaan. Tinggalkanlah aku saja dan jangan datang lagi untuk mengukir luka di hatiku. Tapi aku akan mengingatmu, sebagai orang yang pernah melukaiku. Haruskah aku membencimu, tapi aku menyayangimu. Rasanya aku belum siap kehilanganmu, Ardi. Mengertilah!!!

Pada hari itu tanggal 13 Januari kita putus. Apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Aku patah hati. Sampai aku lelah. Tapi aku masih tetap sabar menunggu dengan batas satu bulan mendatang. Tapi penantianku itu tak berarti apa-apa baginya. Aku mencintai orang yang salah. Aku dicintai oleh orang yang salah. Aku menyesal atas semua ini, dan aku nggak akan bermain cinta lagi.

Cerpen Karangan: Wafirotul Laila
Facebook: WaFirotuL Laila

Cerpen Cinta Hanya Sesaat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jurang dari Keterpaksaanku

Oleh:
Perlahan aku mencoba masuk ke sebuah tempat yang sangat ramai. di mana tempat tersebut dihiasi aneka macam bunga yang indah. ku baca setiap deretan papan bunga yang ada di

Hurt

Oleh:
Awalnya kita teman sepermainan. Selalu merangkai impian masa depan. Matanya sipit senyumnya manis dia jago inggris! Sementara aku… jago matematika! itu pun kata nya. Sepuluh tahun lengkap rasanya sekian

Satu Tahun Kepergianmu

Oleh:
Sudah satu tahun berlalu aku ditinggalkan cinta, kesedihan masih menyelimuti kepergiannya, masih tergambar jelas wajahnya, dan setiap malam aku selalu menangisinya. Setiap hari aku kunjungi pemakamannya lalu ku kecup

Kasih Tak Sampai

Oleh:
“Cinta adalah sahabat, kasih sayang dalam persahabatan sama halnya dengan kekasih. Jika kekasih bisa jadi sahabat maka cinta akan lebih mengesankan, tapi jika hanya mampu jadi teman tidak akan

November Akhir Penantianku

Oleh:
Akhir November 2015, aku berhenti mengharapkannya dan mencintainya. Setelah 5 tahun aku mempertahankan perasaan ini padanya, dan berharap ada kesempatan untuk kembali karena kesalahanku di waktu itu. Hari demi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *