Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 21 March 2016

Dreng, dreng, dreng, bunyi alarm yang membangunkanku dari tidur lelapku. Aku pun segera mandi kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Pagi hari yang cerah membuatku semangat ke sekolah.

“Hai Nada,” Sapa teman-temanku.
“Hai,” jawabku singkat menuju ke kelas.
Aku pun segera menyimpan tasku. Teng, teng, teng bunyi bel jam pelajar pertama. Aku pun segera duduk di kelas sambil menunggu Pak Doni. “Oh iya Nad katanya ada anak baru loh yang mau masuk ke kelas kita,” Kata Yani memulai pembicaraan, Yani adalah sahabatku.
“Anak baru? Siapa?” Kataku sedikit heran.
“Iya, kata orang sih namanya Reno,” Jawab Yani.

“Pagi anak-anak, kalian akan kedatangan teman baru. Kenalkan namamu!” kata Pak Doni sambil menyuruh anak baru itu memperkenalkan diri.
“Hai teman-teman kenalkan namaku Reno, senang bertemu kalian.” Kata anak itu memperkenalkan diri.
“Reno kamu boleh duduk! “Pinta Pak Doni.
Reno pun segera duduk. Tapi dia duduk tepat di sebelahku.
“Hai nama kamu siapa?” kata Reno mengajakku bicara.
“Nada,” Jawabku dengan jutek.
“Jutek amat sih,” Kata Reno yang sangat menjengkelkan.
“Sok kenal banget sih loh, bisa diem nggak,” jawabku marah.

Jam pulang pun tiba, aku dan Yani segera bergegas pulang. Tiba-tiba Reno menarik tanganku dan aku nggak tahu apa sebabnya. “Nada, tunggu sebentar ada yang mau aku omongin,” Kata Reno sambil menarik tanganku.
“Kenapa?” jawabku membalikkan badan.
“Aku mau ajak kamu ke tempat latihan basketku, aku dengar-dengar kamu jago banget main basket,” Kata Reno mengajakku.
“Kayaknya aku nggak bisa deh, nanti aku usahain,” Jawabku agak bingung.
“Nanti aku jemput yah?” Kata Reno.
“Jangan, jangan, Ibuku nanti marah bawa anak laki-laki ke rumah, kita ketemu di taman dekat rumahku aja.” Jawabku dengan khawatir.

“Ibu kamu galak yah sama aja kayak kamu,” Kata Reno meledek.
“Iih apa-apaan sih Ren?” Kataku sembari memukul Reno. Saat aku berada di taman aku tak melihat siapa siapa, aku pun tak melihat Reno. Aku segera duduk di kursi taman sambil menunggu Reno datang. Tak beberapa lama kemudian Reno datang dengan membawa motor scoopynya. Aku dan Reno segera pergi ke tempat latihan main basket.
“Ternyata kamu mainya seru yah,” Kataku setelah bermain basket.
“Iya kamu juga mainnya lincah banget,” Kata Reno memujiku.

Hari-hari kami lalui bersama, kini Reno menjadi sahabatku. Hampir setiap hari aku dan Reno selalu main bersama. Sampai pada suatu hari Reno mengajakku berjalan-jalan.
“Nada..” Kata Reno memanggilku dari arah kejauhan.
“Hai Ren, maaf yah aku terlambat soalnya Ibu tadi menyuruhku,” Jawabku segera menemui Reno.
“Iya nggak apa-apa kok,” Kata Reno dengan santainya.
Setelah kami dari jalan-jalan kami singgah di taman dekat rumahku.

“Nada ada yang mau aku omongin,” Kata Reno memulai pembicaraan.
“Apa?” Jawabku singkat.
“A-a-aku suka sama kamu Nad, kamu mau nggak jadi pacar aku?” kata Reno sangat gugup sambil memegang tanganku.
“Ya ampun aku harus bagaimana?” Kataku dalam hati dengan sangat cemas.
“I-iya a aku mau kok,” Kataku dengan sedikit gugup.
“Makasih ya Nad, aku sayang banget sama kamu.” kata Reno memelukku dengan sangat erat.
“Iya aku juga sayang sama kamu.” Jawabku membalas pelukan Reno.

Hari ini kami resmi jadian tapi mengapa hatiku sangat cemas. Satu minggu telah berlalu. Hari-hariku penuh warna dan keceriaan bersama Reno, Reno hadir dalam hidupku dan memberiku kebahagiaan. Aku sangat sayang pada Reno namun takdir berkata lain. Hari kamis di sekolah, dua minggu setelah aku dan Reno jadian.
“Nada…” Kata teman-temanku memanggilku dengan suara yang sangat keras.
“Hei kalian, ada apa? “Jawabku dari panggilan mereka.
“Ada yang perlu kita bicarain,” Kata Ria sahabatku. Ya Yani, Ria, Dea, dan Nita adalah sahabatku yang sangat aku sayangi.
“Apaan?” tanyaku dengan heran.
“Kamu tahu kan kita semua sudah sepakat kalau kita nggak akan pacaran jika teman kita ada yang nggak setuju.” Kata Dea sangat marah.

“Aku pikir kalian semua sudah setuju, emangnya siapa yang nggak setuju?” jawabku sedikit mengelak.
“Kamu apa-apaan sih Nad, kamu itu sahabat kita masa gitu aja nggak tahu sih, Yani tuh suka sama Reno, bisanya yah kamu pacaran sama Reno di atas penderitaan sahabatmu sendiri. Tega loh Nad,” Kata Dea dan Ria membentakku. Aku sangat kaget mendengar kata-kata Dea bahwa sahabatku sendiri mencintai kekasihku.
“Apa?” Kataku dengan sangat kaget.
“Ya Allah aku harus bagaimana apa aku harus meninggalkan kasihku demi sahabatku atau membuat sahabatku menderita diatas kebahagiaanku,” Kataku dalam hati.
“Nada keputusan ada di tanganmu, kau memilih pacarmu atau sahabatmu dan mengingkari janjimu sendiri”Kata Nita dengan tegas.

Aku sangat bingung harus memilih siapa. Di satu sisi aku sangat mencintai Reno, di sisi lain Yani adalah sahabatku dari kecil dan aku tidak ingin kehilangan sahabatku yang lainnya. Setelah berpikir panjang aku pun menemukan jawabannya. Mau tidak mau aku harus putuskan Reno walaupun aku sangat sayang padanya karena aku tidak akan mengingkari janjiku sendiri dan meninggalkan sahabatku.

Hari ini aku mengajak Reno untuk bertemu di taman dekat rumahku.
“Reno kamu udah lama nunggu yah?” kataku yang baru saja sampai di taman.
“Nggak kok sayang, aku juga baru sampai,” Jawab Reno sambil mengusap kepalaku.
“Reno aku boleh ngomong sesuatu nggak?” kataku sedikit gugup.
“Masa nggak boleh sih sayang, ngomong aja kali,” Jawab Reno.
“A-a aku m-mau putus,” Kataku dengan sangat gugup.
“Apa.. Kamu mau putus?” kata Reno sangat kaget.

“Iya maafin aku Ren.” Jawabku menitikkan air mata.
“Apa aku punya salah sama kamu?” kata Reno memegang tanganku.
“Enggak kamu nggak salah, aku yang salah,” Jawabku sembari menangis.
“Lalu kenapa kamu menangis?” Kata Reno.
“Aku menangis karena aku sayang sama kamu tapi aku harus tinggalkan kamu karena janji yang telah ku ucap dulu. Asal kamu tahu Yani tuh suka sama kamu dan aku harus memilih kamu atau sahabatku,” Kataku menjelaskan semuanya pada Reno.

“Apa! Yani suka sama aku?” kata Reno sedikit kaget.
“Iya, maafin aku yah,” Kataku meminta maaf pada Reno.
“Iya tapi kamu harus tahu kamu adalah cinta pertamaku sampai kapan pun itu, I love you.” Kata Reno yang baru pertama kali mengucapkan kata itu padaku.
“I love you too.” Jawabku.

Hari ini hari dimana aku dan Reno berpisah untuk selamanya. Aku pun segera pergi dari tempat itu dengan berlinangan air mata. Ku langkahkan kakiku dengan penuh rasa sakit di hatiku. Sakit yang teramat dalam ku rasakan saat aku berpisah darinya. Terus ku langkahkan kakiku perlahan demi perlahan satu demi satu tanpa tak tau arah ku rasakan semua sakit di hatiku. Tiba-tiba braaak, ada sebuah mobil yang melintas di hadapanku seakan akan mobil itu menabrakku tadi, ku lihat diriku aku tak terluka sedikit pun. Ku lihat di sekelilingku, namun apa yang terjadi aku melihat Reno yang sudah tak berdaya baring di sampingku dengan berlumuran darah.

“Reno.. Bangun Reno bangun!” Kataku sembari memangku kepala Reno.
Aku pun tak dapat menahan air mata yang ingin mengalir di pipiku.
“Reno…. Ayo bangun Reno bangun!” Kataku yang terus menangis tanpa henti.
“Nada…” Kata Reno terbangun dari pingsannya.

“Reno, kamu udah bangun maafin aku Ren gara-gara aku kamu jadi celaka,” Kataku meminta maaf pada Reno sambil mengusap kepalanya. “Nada aku sayang banget sama kamu, aku ingin kita selalu bersama tapi takdir berkata lain aku harus pergi. Nada kamu harus tahu kamu adalah cinta pertama dan terakhirku, pertama dan terakhir.” Kata Reno dengan jelas sembari tersenyum.
“Reno kamu jangan ngomong kayak gitu. Aku juga sayang sama kamu, sayang banget. Aku ingin kita bersama selamanya, jangan tinggalkan aku. Aku janji aku nggak akan gantiin kamu di hatiku karena kamu adalah cinta pertama dan terakhirku, pertama dan terakhir,” Kataku sembari menangis dengan begitu derasnya.

“Kamu janji?” kata Reno menjulurkan jari kelingkingnya.
“Iya aku janji,” Jawabku sembari menyilangkan jari kelingkingku dan jari kelingking Reno.
Reno tersenyum bahagia begitu pula denganku isak tangis disertai senyum kebahagiaan. Saat itu juga Reno menghembuskan napas terakhirnya. Inna illahi wainna illahi rojiun. Selamat tinggal Reno kekasihku I love you.

The End

Cerpen Karangan: Adhelina Dayana
Facebook: Adhellee Ghoby
Nama: Adhelina Dayana
TTL: Soppeng, 07 Agustus 2003
Agama: Islam

Cerpen Cinta Pertama Dan Terakhirku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Cinta Yang Tak Akan Bersama

Oleh:
Akkkkrhhh, nampaknya dramatis kisah cinta pemuda pemudi pelosok tanah air, dengan warna yang berbeda-beda. Satu waktu dalam masa yang bahagia, satu waktu lagi sedang terluka, lain lagi tentang kerinduan.

Ternyata Kau Bukan Purnamaku

Oleh:
Paragraf hari yang selalu membahas kisahku yang menuntun ke arah luas taman surga, sekarang hanya menjadi potongan kalimat kecil begitu mungil mengganyam seluruh jejaknya. Senyum Listiani hanya menjadi luka

Sepenggal Kisah Dalam Rinai Hujan

Oleh:
Saat kereta api meninggalkan dengungannya, saat asap kendaraan menyatu dengan udara malam, saat rembulan mengalami hal sama yang dialami dua insan yang tengah berlalu di sepanjang jalan ini. Sepanjang

Raisa

Oleh:
Sekitar satu tahun yang lalu, Raisa mulai merasakan jatuh cinta. Awalnya, Raisa tak mengerti apa itu cinta. Ketika Raisa mulai mengerti apa itu, di saat itu juga Raisa mulai

Dear Diary About Someone I Loved

Oleh:
Sebelumnya aku tidak mempunyai hobi menulis, aku hanya ingin saja. Menulis sejarah tentang diriku sendiri. Hahaha… aku memang bukan siapa-siapa. But, apa salahnya mengoreksi diri sendiri? No is not,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *