Cinta Pertama Rangga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 September 2019

Melamun sambil menatap Hp. Itu merupakan kegiatan baruku akhir-akhir ini. Nando dan Evan, kedua temanku itu sampai bosan menegurku. Tapi memang beginilah sekarang. Seseorang yang baru beberapa minggu aku kenal, sangat menyita perhatianku. Alya namanya. Aku mengenalnya dari Facebook, dan meminta nomor teleponnya.
Namun setiap aku memintanya untuk bertemu, ia selalu sibuk. Semua alasan mungkin telah ia utarakan padaku. Penasaran, itu sudah pasti. Namun aku hanya bisa menunggunya.

“Bengong lagi, kan!” tegur Evan sambil menepuk pundakku.
“Udah deh, Ga.. Alya itu cuma nipu kamu doang. Kalau ternyata dia ABG tua gimana? Kamu gak khawatir, apa?” sambung Evan lagi.
Sebenarnya aku sudah sering berpikir seperti yang Evan utarakan tadi. Tapi pikiranku itu langsung aku tepis saat nyamannya berkomunikasi dengan Alya via Hp. Nando juga tak kalah cerewetnya kalau sedang menasehatiku.

“Kalau dia kucing garong cewek, atau keong racun, atau bahkan tikus jadi jadian, kan aku juga ikut rugi. Masak temanku pacaran dengan hewan??!” candanya ditengah ceramah singkat.
“Gimana yaa.. aku ngerasa nyaman aja kalau sms-an sama Alya. Apa itu salah?” tanyaku yang dibalas gelengan takjub Nando.
“Rangga, Rangga.. kamu kan belum kenal dia, belum pernah liat dia, lagi! Tapi rasanya dalam kata-katamu, seakan akan kamu suka dia. Apa iya?” tanya Nando yang membuatku bungkam.
Apa katanya? Aku suka dia? Aku suka Alya? Mungkinkah? Setelah beberapa saat aku bungkam, aku terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulutku.
“Sepertinya begitu.”

Dari mimik wajah, Nando dan Evan sama terkejutnya denganku. Oke, aku akui aku memang suka dengan Alya. Dan salah satu yang membuatku bengong menatap handphone adalah karena aku ‘kembali’ meminta Alya untuk bertemu denganku.
“Aku gak nyangka ternyata Rangga beneran suka dengan Alya, teman sms-annya. Padahal …” Nando tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena lebih dulu aku potong.
“Dia mau bertemu denganku!! Alya mau bertemu denganku!!” ujarku dengan semangat ’45, tanpa memedulikan wajah bete Nando.

-ALYA
10.57 >< 28-05-2013 Baik. Di taman Jaran pukul 3pm Aku mengenakan pakaian merah-hitam. Be on time. Dengan cepat, aku membalas pesan singkat Alya. -Sent Aku akan mengenakan pakain yang sama. Aku pasti datang, on time(: Setelah kukirim pesan balasan itu, aku pamit pada kedua sahabatku itu. Untuk pulang, tentunya. Aku tidak sabar menunggu pukul 3 sore nanti! Hari Minggu seperti ini, taman Jaran sangat padat dipenuhi pengunjung yang ingin berkeliling taman dengan menunggangi kuda, atau biasa disebut jaran. Tapi tidak sedikit juga orang datang bersama kekasihnya hanya sekedar menikmati asrinya taman Jaran. Dan disinilah aku. Di bangku sudut taman, yang tepat berada di bawah pohon payung. Pohon payung bukan berarti pohon dengan buah payung, melainkan pohon dengan daun-daunya yang lebat dan bersatu sehingga menyerupai payung. Aku biasa menyebutnya pohon payung, kebiasaanku sewaktu kecil. Berada di taman ini memang selalu mengingatkanku tentang kenangan masa kecil. Aku menepuk dahiku. Seakan lupa dengan tujuanku datang ke taman ini. Aku bangkit berdiri dan mulai mencari. Mencari sosok perempuan berambut panjang sebahu yang digerai, yang memakai pakaian merah dan hitam. Persis seperti yang kukenakan. Dan sosok yang aku cari itu, sekarang ada di depanku. Membelakangiku. Ragu, aku menegurnya.. sampai ia sekarang berhadapan denganku! Aku mengajaknya duduk di bangku di bawah pohon payung. Kami mulai bercerita satu sama lain. Walau pada awalnya ada rasa canggung diantara kami untuk memulai percakapan, pada akhirnya kami bisa bercerita layaknya sahabat (sahabat? Aku ingin meminta lebih!). Tadinya aku sedikit minder. Karena wanita di depanku ini bagaikan seorang bidadari. Mata bulat warna cokelat itu, sangat indah dipadukan dengan hidung mungil dan mancung dan bibir yang melengkung indah tanpa polesan lipstik. Kulitnyapun putih bersih (bahkan aku sempat membayangkan meluncur dari kulitnya), seperti selalu dirawat tiap menitnya. Hanya saja, wajahnya terlihat sedikit pucat (apa karena dia terlalu putih? Entahlah). Perawakannya sangat berbeda denganku. Alya adalah sosok wanita yang sangat lemah lembut. Walau kata temanku (Nando dan Evan) aku termasuk cowok cakep, tapi aku kurang percaya diri jika behadapan dengan perempuan. Maka dari itu aku masih menjomblo sampai kelas 2 SMA sekarang. Kemudian aku mengajaknya berjalan mengitari taman yang masih saja ramai. Aku juga memintanya berpose dengan seekor kuda hitam yang terlihat gagah. Awalnya aku menyuruhnya menaiki kuda itu, namun dia menggeleng cepat dan membuatku tertawa dengan ekspresi lucunya. Saat kembali ke bangku di bawah pohon payung, aku berniat mengatakan bahwa aku menyukainya. Bahwa aku sangat menanti-nanti saat-saat bersamanya. “Alya, aku...” suaraku terbata-bata. Teryata sangat sulit mengungkapkan perasaan. Dan aku mencobanya lagi. “aku.. aku suka sama kamu, Alya!” bingo! Aku sudah mengatakannya. Sekarang aku hanya perlu menunggu jawaban darinya. Alya tersenyum dan berkata, “aku...” Kalimatnya terhenti dengn sendirinya. Aku melihatnya memegang dada, seakan seperti kesulitan bernapas, kemudian... pingsan! --- Tiupan angin musim kemarau menerpa rambutku yang sudah agak gondrong. Dengan diam, aku menatap batu nisan di hadapanku. Nando dan Evan di sampingku. Seperti biasa, menghiburku. Tuhan, secepat inikah Kau ambil orang yang aku sayang? Alya, cinta petamaku. Kenapa harus dia? Aku hanya berharap, berdo’a, dan meyakini, bahwa Tuhan tau apa apa yang terbaik untukku. Ucapku dalam diam. Aku melihat foto Alya yang tersenyum lebar sambil berpose ala koboi di samping kuda hitam yang nampak gagah. Kemudian aku memasukkannya lagi ke dalam dompet. Sehari bersamanya sudah membuatku sangat bahagia. Sedih, saat tau bahwa saat-saat bahagia itu tidak akan datang lagi. Aku berdiri dan berjalan menjauh dari makam, diikuti Nando dan Evan. Alya, kamu akan selalu ada di hatiku, karena aku mencintaimu. Andai aku tau alasanmu tidak ingin bertemu denganku, aku akan datang dan menyemangatimu dalam melawan penyakit itu. Andai aku tau.. TAMAT Cerpen Karangan: Diajeng Blog: diajengdr.blogspot.com Cewek cerewet yang suka Dora!

Cerpen Cinta Pertama Rangga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja di Ufuk Barat

Oleh:
Dinda duduk termenung di salah satu bangku alun-alun kota. Melihat sorak sorai kehidupan di dalamnya. Anak-anak kecil berlari saling mengejar. Muda-mudi bersitatap penuh kasmaran. Sedangkan para lansia asyik menikmati

Tak Berujung

Oleh:
“Sore menjelang petang! Saya Weni, hadir kembali untuk Anda di tembang tembang lawas penghantar minum teh di senja hari… silakan buat yang mau request tembang lawas yang bisa membuka

Kosong

Oleh:
Aku kembali lagi hari ini, nikita. Di sudut kamar kecilku, kupandangi jarum jam di dinding itu. perlahan kuputar jarum kecil itu melawan takdirnya kebeberapa ribu jam yang lalu, dan

Takdir (Part 2)

Oleh:
“Hai Kalila! Selamat pagi.” Sapa Kania saat Kalila memasuki kelasnya. Ada seseorang di samping Kania, menggandeng erat tangan Kania. Dia adalah kekasih Kania, Rendy Prasetya Wiratama. Dua hari yang

Kesetiaan Hujan (Part 2)

Oleh:
“Maafkan aku Rain.” kata Rama sambil membungkam mulut dan hidungnya dengan telapak tangan kanannya. Matanya terasa perih menahan air mata yang hampir jatuh membasahi wajahnya, walau begitu menangis juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *