Cinta Pertamaku Telah Tiada

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 July 2016

Hembusan lirih angin ini semakin mengingatkanku tentang kasih sayang Ibu yang kini telah sirna. Dekapan hangat Ibu kini telah menjadi kenangan. Petuah-petuah Ibu kini telah tiada. Ibu bagai boneka terindah di dunia. Aku sangat menyayanginya. Seminggu lalu, Ibu meningglkanku karena penyakit jantung yang dideritanya. Ibu adalah sosok yang tegar menjalani hidup. Hampir setiap hari, Ibu adalah bola yang dipermainkan Ayah, ditendang kesana kemari, ditampar hingga wajah Ibuku tak seperti wajah normal, pipi lebam, mata berkantung, hampir setiap hari menjadi hiasan wajah Ibuku.

Penyakit jantung yang dideritanya mungkin juga karena kelakuan Ayah yang sangat tak wajar. Suasana ribut adalah pemandangan hari-hariku. Sebagai anak, aku hanya bisa terdiam dan menangis. Aku masih kecil, aku juga tak bisa melerai pertengkaran Ayah dan Ibu. Tak kusadari, aku melinangkan air mata yang telah membasahi pipi dan buku diaryku. Diary adalah teman curhatku setelah kepergian Ibu. Hidup ini serasa tak berarti jika tanpa Ibu. Ibuku adalah sandaran terindah dalam hidupku. Bahu Ibuku telah kubasahi dengan air mataku. Sungguh Ibuku yang terindah.

Setelah sekitar 2 minggu aku libur sekolah, kini saatnya aku mulai menginjakkan kaki di sekolah tercinta, dan kini saatnya menghapus luka hati yang menyisakan duka. Aku selalu mengingat pesan Ibu “Selalu semangat dan lupakan masalah dan segera bangkit dari keterpurukanmu, Nak..” Pesan itu semakin membuatku tegar. Dan aku menghapus linangan air mata di pipiku karena kembali teringat wajah cantik Ibu. Waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi dan secepatnya aku berangkat ke sekolah.

Sesampai di sekolah, terlintas di telingaku ada seseorang yang memanggilku, yang tak lain adalah Vera, sahabatku. “Resa.. tunggu aku!!” Sapa Vera sambil mengejarku. “Iya-iya, aku tunggu kok.. Jangan lari nanti capek loo.” Sautku kepadanya. Wajah cantiknya semakin terlihat dekat, dan dia langsung memeluk erat tubuhku, mungkin dia kangen karena sekitar 2 minggu tak bertemu. “Aku ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Ibumu.. Maaf sekali aku nggak bisa datang ke rumahmu, karena aku lagi di rumah nenek, di Bandung dan baru pulang sore kemarin. Sabar ya Saa..” Ujar Vera sambi menangis, karena Ibuku juga telah menganggap Vera anak sendiri, jadi dia sangat terpukul atas kepergian Ibuku. “Iyaa Ver.. nggak papa kok, maafin semua kesalahan Ibuku yaa..”

Sesampai di kelas, aku dan Vera saling mencurahkan isi hati yang terpendam selama liburan, karena aku hanya komunikasi lewat SMS dan nggak leluasa curhat. Hari pertama mulai sekolah mungkin hari yang penuh dengan cerita. Hingga akhirnya aku nggak bisa konsen, karena sibuk dengan curhatnya. Bel berbunyi tanda istirahat datang, aku dan Vera menuju kantin sekolah. Saat berjalan menuju kantin, tiba-tiba ada suara cowok memanggilku, yaitu kak Angga kelas IX yang sangat digemari cewek-cewek di sekolahan karena kepandaian dan ketampanannya.

Aku hanya menoleh ke sumber suara tersebut. Dan ternyata kak Angga minta nomor handphoneku. “Buat apa kak?” tanyaku penasaran. “Udah.. nanti liat aja.. boleh yaa? sini tulis, cepet!!” Ujarnya sambil menyodorkan pena dan secuwil kertas.. 085 855 868 8xx.. ku tulis pada kertas itu. Lalu, aku dan Vera melanjutkan perjalanan ke kantin untuk segera memesan makanan, karena karbohidat tadi pagi udah habis buat energi curhat-curhatan, hehe.. “Ciee Resa sama kak Angga” Kata Vera yang mengagetkanku dan membuatku tersedak.. “Apaan sih? Biasa aja kelleus.. Mungkin dia mau tanya pelajaran yang sudah terlupa. Dia kan kelas IX, yaa maklum kalo udah lupa pelajaran kelas VIII.” Jawabku sambil menyantap bakso yang baru saja aku pesan. “Iya deh, aku percaya, nanti aja dilihat, kalo udah di SMS jangan lupa kabarin sahabat tersayang yaa.. hehe.”

Saat pulang sekolah, sesampai di rumah langsung kubuka hp imut warna hitamku, dan ternyata ada sms, yah sayang ternyata hanya SMS dari operator. “Mana SMS kak Angga? Katanya mau SMS. Ahh mungkin dia lagi bimbel, bentar lagi kan UN.” Ujarku dalam hati. Setelah sholat Asyar, tiba-tiba nada SMS ku berbunyi, secepatnya aku membuka dengan penasaran, aku kaget saat membacanya. “Hai Resa cantik, aku kak Angga.” Aku langsung membalas SMS kak Angga dengan semangat. Entah kenapa aku deg-degan sekali, sebelumnya tak pernah kurasakan seperti ini.

Tak terasa, conversationku dengan kak Angga lebih dari 100 SMS. Entah apa saja yang telah kubicarakan dengannya. Belajarku malam ini tak bisa konsen seperti biasanya, karena terganggu sama HP. Mulutku berkali-kali menguap, dan aku langsung berbaring di tempat tidur. Alarmku berbunyi tepat pukul 04.00 pagi, aku langsung wudhu dan sholat Subuh bersama Ayah. Setelah selesai memanjatkan doa. Aku langsung melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan layaknya ibu-ibu. Mencuci piring, memasak, menyapu kulakukan setiap hari, agar aku bisa sedikit membantu pekerjaan Ayah. Setelah semua pekerjaan selesai, Ayah sarapan pagi bersamaku. Seperti biasa, aku langsung bersalaman dengan Ayah. Ayah ke kantor, aku ke sekolah.

Sesampai di gerbang sekolah, aku berjalan dan rupanya di sampingku ada kak Angga yang ternyata mengikutiku. “Ehh kak Angga.” Sapaku “Iya dek.. kok sendiri?mana Vera? Biasanya kan kalau ada Resa pasti ada Vera. Kaya sepasang sepatu gitu.. hehe” Ujar kak Angga sedikit ngelawak. “Vera mungkin belum datang kak.. Dia kan nyampenya di sekolah kalo udah bel masuk bunyi, dia rajin banget.. hehe.” Jawabku sambil tersenyum. “Aku udah nyampe kelas nih kak, udah yaa.. disambung nanti.” Ucapku saat mulai membuka pintu kelas. “Iya adek sayang.. Daachh.” Jawab kak Angga sambil melambaikan tangan.

Di tengah jam KBM, aku dan Vera meminta izin kepada guru pelajaran untuk ke luar ke kamar mandi. Kamar mandi tersebut berada di samping kelas kak Angga. Ternyata kak Angga ada di luar kelas. Kak Angga tersenyum padaku. “Ciee kak Angga senyum tuhh.. Balas senyum dong..” Ujar Vera sambil terus berjalan. “Enggak ahh malu.” Jawabku.. “Kok salting? suka yaa?” Olokan Vera padaku. “Ihh apaan sih? Aku nggak pernah jatuh cinta, aku kan juga nggak tahu gimana rasanya jatuh hati.” Balasku sambil terus menggelengkan kepala. “Haa.. mungkin dia cinta pertamamu? haha..” Olok Vera. “Udah-udah”.

Hari ini aku janjian sama Vera mau beli buku bareng, dan kita mau pulang bareng. Tiba-tiba ada tangan yang menutup mataku, aku langsung teriak ketakutan, kukira itu penjahat. Dan ternyata itu tangan kak Angga. Dia berjalan di sampingku. Tiba-tiba dia berkata “i love you..” “Ihh apaan sih kak? Jangan gombal dehh.. Aku nggak suka digombalin, takut diPHP.” Ujarku. “Gombal? Aku nggak suka nggombal dek.. Aku juga nggak ada niat PHPin kamu.. Aku ngomong gitu karena aku udah lama memendam cinta ke kamu.. Hemm, mau nggak jadi pacarku?” Kata kak Angga penuh serius. Aku tersentak kaget. “Haa..pacar?” “Iya dek.. mau nggak?” Jawab kak Angga. Vera yang ada di sampingku, langsung membisikkan sesuatu di telingaku. “Udah terima aja Res.. Lagian kelihatannya kamu juga suka. Kak Angga juga baik. Kamu sama kak Angga cocok plus top dehh..”.
“Hemm gimana yaa? Sebenarnya sih aku juga udah lama cinta sama kakak.. Tapi apakah aku pantas buat kakak?” Ujarku. “Dik.. cinta itu nggak di liat dari cocok atau enggak.. Tapi berasal dari komitmen dan kenyamanan kita.. gimana? diterima nggak ni?” Tanya kak Angga. “Hemm.. iya dehh kak, aku terima.” Jawabku dengan sedikit malu. “Ciee ada yang jadian nihh? Habis jadian ada yang nraktir makanan nggak ni? haha..” Ujar Vera ngarep. “Haduhh ini yang dipikir makanan aja.. bukannya ngasih selamat.” Jawabku. “Iya-iya Vera.. besok aku traktir di kantin, makan sepuasnya dehh.. hehe” Jawab kak Angga melegakan hati Vera. “Iya.. selamat ya buat kalian berdua.. Semoga langgeng sampai ajal menjemput kalian berdua.” Doa Vera. “Amiinn.. makasih yaa.”

Tak terasa, perjalanan sudah sampai di rumah Vera. Vera berpamitan kepadaku dan kak Angga. Aku dan kak Angga bercakap dan lempar-lemparan gombalan sampai tiba di rumahku. “Ayo kak mampir ke rumahku dulu. Sekalian minum apaa gitu, biar lelahnya terobati. “Ajakku sambil mengulur tangan kak Angga. “Iya Resa.. memandang wajahmu saja lelahku sudah hilang kok.” Gombal kak Angga. “Ahh gombal lagi.. udah ya kak aku masuk rumah dulu.. Assalamu’alaikum.” Pamitku pada kak Angga. “Iya sayang.. Wa’alaikum salam.” Jawab kak Angga sambil berjalan meninggalkanku. Aku pun masuk rumah dengan hati berbunga-bunga. Tak lupa aku langsung mengungkapkan perasaanku ke sahabat diaryku.

18-01-2010
My first love
Kurasa hidup ini tambah sempurna dengan kehadirannya. Perasaan cinta yang lama kupendam ternyata bisa terungkap saat ini. Angga Feriansyah itulah nama cinta pertamaku. Hidup ini serasa indah akan kasih sayangnya
Tuhan.. berikan kelanggengan hubungan ini sampai ajal menjemput kami berdua.. Aminn
My Sweet Moment

Tak selang beberapa menit, nada SMS ku berbunyi, kukira kak Anggalah yang mengirim pesan padaku. Namun salah, ternyata temanku yang juga tetangga kak Angga membawa kabar bahwa “Kak Angga meninggal dunia karena kecelakaan sepulang sekolah.” Hpku terlepas dari tangan dan air mataku seketika itu pecah. Aku langsung menuju rumah kak Angga. Kujumpai kak Angga yang telah terbujur kaku dan berlumuran darah di teras rumah kak Angga. Air mataku bercucuran deras. Di sampingku juga ada Vera “Cinta pertamaku telah tiada, Vera..” Ucapku sambil memeluk Vera.
Aku langsung memeluk kak Angga, seragam putihku berlumuran darah, aku membisikkan sesuatu pada kak Angga. “Meski kini kakak telah tiada, namun cintaku tetap melekat di hati kakak.. Jiwa ragaku selalu bersamamu kakak.. I LOVE YOU..” Bisikku pada kak Angga sambil mencium keningnya. “Mengapa Tuhan secepat ini mengambil orang yang kusayang.. kak Anggaaaaaaa.” Teriakku sambil memegang tangan kak Angga.

END

Cerpen Karangan: Mega Nur Zulinda
Facebook: Mega Nur Zulinda

Cerpen Cinta Pertamaku Telah Tiada merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pria Di Tepi Angke

Oleh:
Lembayung menjuntai, menyapa bumi Batavia. Di tepi sungai itu dua anak manusia memadu janji. Kata indah yang terucap dari lubuk hati insan yang tulus. “Wisena, aku ingin engkau tetap

I’m Lucky

Oleh:
Aku mengendarai sepeda motor kesayanganku dengan kecepatan penuh. Bagai kendaraan tempur bertenanga turbo, aku melaju membelah jalanan kota kelahiranku ini. Aku memasuki pelataran parkir yang sudah penuh dengan motor

Mencintaimu Dalam Diam

Oleh:
“Maaa! Mamaaa! Adiiiik! Huuufft, sunyi lagi deh nih rumah,” ucap Rara, kesal. Ia lalu melangkah ke kamar, mengganti seragam sekolah, lalu segera meluncur ke dapur. ‘Bawalah pergi cintaku, ajak

Kau Cantik Hari Ini (Part 2)

Oleh:
Beberapa minggu setelah ayahnya sembuh, sebuah permintaan berat diberikan oleh ayah Burhan kepadanya, yaitu menikahi Maria, menurut ayahnya Maria akan menjadi seorang istri yang sempurna, terlebih karena saat ini

Our Friendship (Part 3)

Oleh:
Bel istirahat pun tiba. Diva dan Rieta berjalan menuju kantin. Alvin lagi berlatih basket dengan teman temannya sedang Rey lagi dipanggil sama Mrs. Mira ke ruangannya. Sesampainya di kantin,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Cinta Pertamaku Telah Tiada”

  1. ushmawatu says:

    Ya allah cerpennya bikin baper banget ceritanya jga bgus bgt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *