Cinta Seleb Sekolah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 August 2015

“Kenapa kamu gak percaya sama aku? Aku sama Dewi itu nggak ada hubungan spesial Cha!!”

Kata-kata Ravi semalam masih terpikirkan olehku. Aku nggak percaya dia jalan sama Dewi. Kapten tim cheers sekolah. Kurang apa aku? Yang selama 2 tahun pacaran sama Ravi. Yang udah sisain waktu buat hangout sama Ravi, yang rela nggak ngerjain PR demi Ravi, yang udah berusaha nggak cemburu lihat Ravi deket sama seleb sekolah lainnya kayak anak cheers, anak dance de-el-el. Bayangin! Semua aku lakuin demi Ravi! Aku sayang sama Ravi. Tapi perlakuannya semalem udah keterlaluan banget!

Aku Anita Chacha. Aku adalah seorang gadis berusia 17 tahun. Aku sekolah di salah satu SMA di daerah Bandung. Pacarku, Ravi Muhammad adalah seorang kapten tim basket di sekolahku. Kita udah pacaran sejak kelas 3 SMP. Sejak SMP kita selalu satu sekolah. Tapi, sayangnya nggak pernah satu kelas.

Hari ini, aku sama Ravi ada janjian. Jadi, sepulang sekolah aku langsung gandeng Ravi ke cafe dekat sekolah. Sampai di sana, Ravi ngasih aku sebuah kotak yang aku nggak tahu isinya. Ternyata setelah aku buka, isinya adalah bros berbentuk kupu-kupu berwarna ungu dan kalung berliontin kupu-kupu warna ungu. Padahal hari ini bukan ulang tahunku.
“Rav, ini apa?” Tanyaku.
“Halaahh.. Gak apa-apa. Terima aja.. Kamu nggak mau? Sini buat aku aja..” Canda Ravi.
“Mau dong. Makasih ya, Rav..” Ucapku sambil mencoba memasang kalungnya di leherku.

Sepulang dari cafe itu, aku diantar Ravi sampai rumah. Sesampainya aku di rumah, ternyata papa udah pulang kerja. Aduuhhh! Mati aku ketauan dianter Ravi. Ternyata dugaanku salah. Papa sedang tidur jadi nggak tahu kalau aku udah pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah Chika. Saat di perjalanan menuju rumah Chika, aku melihat Ravi ada di taman. Sebelum aku sempat menghampiri Ravi, Chika sudah ada di sebelahku. Ku urungkan niatanku itu.

Akhirnya aku dan Chika masuk ke Taman lalu memesan Bakso langganan kami. Setelah pesanan datang kami langsung makan. Saat makan kami sudah habis, kami berjalan-jalan keliling taman sambil bercerita. “Chik! kamu tahu nggak tadi ada Ravi?” Tanyaku.
“Nggak sih. Aku malah lihat Hendri.” Balas Chika. Oh iya aku lupa! Hendri adalah mantanku. Jadi tidaklah penting mengetahui Hendri ada di sini. “Hendri? Ngapain dia di sini?” Batinku dalam hati. Karena aku tau rumah Hendri berada jauh dari taman ini.

Malamnya, aku kembali pergi ke Taman. Tapi kali ini, aku tidak pergi sendirian. Aku pergi bersama Chika, Karin, Pamela, Luna, Hendri dan juga Ravi. (Note: gak ada yang ngajak Hendri. Tapi dia dateng sendiri.) Akhirnya kami menuju pujasera Taman lalu memesan makanan. Di sela-sela kegiatan makan, Ravi izin pergi ke toilet karena sakit perut. Akhirnya Hendri mengikuti Ravi. Karena aku dan anak cewek lainnya belum selesai makan, kita memutuskan untuk menyelesaikan makan lalu mencari Hendri dan Ravi.

Luna sudah selesai membayar. Lalu kita pergi mencari Ravi dan Hendri. Saat kami sampai di depan bianglala, Hendri menarik tanganku dan meninggalkan Chika serta yang lainnya. Hendri menunjukkan beberapa foto. Dan ternyata, foto itu adalah foto Ravi dan Dewi sedang bergandengan tangan. Aku sangat tidak mempercayai itu karena aku tahu, Ravi sayang sama aku. Jadi, kuputuskan untuk mengabaikan Hendri dan membuang foto itu ke tong sampah di dekatku.

Sebelum aku sempat kembali ke Chika dan yang lainnya, Hendri mencengkeram erat pergelangan tangaku. “Cha!! Kamu harus percaya aku! Aku pengen kamu bahagia! Bukan diduakan kayak gini!” cegah Hendri. “Kamu tahu apa soal hubunganku sama Ravi?” Balasku.
“Kalau kamu nggak percaya, ayo ikut aku!” ajak Hendri.
Aku pun menuruti permintaannya. Kami berjalan ke arah Selatan. Tempat di mana banyak orang pacaran. Hendri menunjuk sepasang pemuda yang sedang duduk mesra di bawah pohon. Dan itu memang Ravi.

Aku langsung berlari ke arah Ravi dan Dewi. Spontan aku menampar Ravi lalu menampar Dewi juga. “Tega!! Ternyata, cowok yang selama ini jadi pacar aku, mendua kayak gini!” Ucapku kesal.
“A.. A.. Aku ngg… Nggak bermaksud Cha!” Ucap Ravi terbata-bata.
“Ya udah kalau gitu mendingan kita putus aja ya Vi!!” Ucapku menahan tangis.
Aku langsung berlari meninggalkan Ravi yang berusaha mengejarku tapi tak bisa karena Dewi menahannya.

Aku meninggalkan Taman tanpa sepengetahuan teman-temanku. Aku pulang ke rumah dengan jalan kaki. Tak peduli seberapa jauhnya jarak Taman-Rumahku. Yang penting saat ini, aku nggak mau ketemu sama si bangs*t Ravi. tapi aku berhutang budi pada Hendri yang sudah melepaskanku dari permainan Ravi.

Keesokan paginya, aku merasa sangat pusing. Aku tidak sanggup meninggalkan tempat tidurku. Akhirnya aku putuskan untuk tidak sekolah dulu. Sorenya, Karin, Chika dan Hendri datang ke rumahku dengan membawa sekeranjang buah-buahan. Mereka datang di saat aku sedang menangisi kejadian semalam. Karin dan Chika segera memelukku. Sedangkan Hendri mengusap kepalaku secara ragu-ragu.

Setelah kejadian malam itu, Hendri sering mendatangiku sambil membawa bunga dan cokelat. Hendri jadi pengisi hari-hariku lagi. Tapi, aku memutuskan untuk tidak menjalin hubungan spesial dengan siapapun.

Cerpen Karangan: Nadhira Putri
Facebook: Dhira Putri
Cewek berumur 13 tahun, arek suroboyo. Kata orang sih aku baik dan ramah. Masih duduk di kelas 7 SMP. Aku emang nggak jago ngarang tapi aku suka ngarang. Ngirim cerpen kesini, itu masih latihan. Hobi berenang, mengarang, membaca buku dan olahraga.

Cerpen Cinta Seleb Sekolah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Skate Love

Oleh:
Aku suka suara itu. Menenangkan rasanya. Aku suka saat benda kecil berbentuk lingkaran itu bergesekan dengan aspal. Melintas dengan lihai di antara padatnya ibu Kota. Aku suka saat papan

Kaichou, I Love You

Oleh:
“Kayla! Bangun.. kamu mau terlambat sekolahnya. Mama udah bilang dari dulu kan, kalau habis shalat shubuh jangan tidur. Let’s wake up..” Sebuah suara khas mama menggelegar di telinga Kayla.

Berpetualang Dan Menjaga Alam

Oleh:
Pagi yang cerah menyapaku saat terbangun dari tidurku, teringat saat aku ingin traveling dan menjelajah kota tempat kelahiranku ini, “Gaaaaasss Bagaaass!!” ayahku memanggil dari luar kamar entah apa yang

Kesetiaan Separuh Jalan

Oleh:
Hari itu ketika ia dilahirkan dari rahim seorang wanita paruh baya, tangisan darinya mengundang haru kedua orang tuanya. Ketika itu juga disaat ia belum melihat dunia yang baru saja

Keringat Darah

Oleh:
Remuk. Kurasa kata itulah yang pantas untuk melukiskan keadaanku saat ini. Hanya rasa nyeri yang menambatkan diri di seluruh tubuhku. Tulangku bagai dihunjam ribuan jarum, persendianku bagai kehilangan fungsinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *