Cinta Tak Direstui

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 19 October 2015

“Bila ada pertemuan di dunia ini maka akan ada perpisahan di sampingnya, bila ada kebahagiaan di dunia ini maka akan ada kesedihan di sampingnya.” Aku masih tetap dengan tangisku, setelah akhirnya Ibu menyuruhku untuk makan malam. Tanpa ku sadari, sudah seharian ini yang ku lakukan hanyalah menangis, menangis dan menangis. Ucapan Ibu tadi malam, masih tetap dan selalu terngiang di telingaku. Ucapan itu terus menusuk jantungku. Sakit rasanya.

“Fi, aku cinta kamu. Kamu mau gak, jadi cewek aku?” tanya Kak Firman, Sepupuku.
“Gimana ya kak?” ucapku menggantungkan jawaban.
“Aku terima apapun jawaban kamu.” Katanya dengan sabar, namun penuh harap.
“Sebenarnya, aku juga cinta sama kakak. Tapi, kita ini kan masih sepupu kak?”
“Loh, emangnya apa salahnya kalau sepupu? Yang penting kan, kita saling mencintai.”
Aku hanya terdiam. Aku berpikir keras untuk itu. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya menjadi cowokku. Tapi aku memintanya untuk merahasiakan hubungan kita ini dari siapa pun. Alias Backstreet dan tak lupa aku menceritakannya pada sahabatku.

Seneng deh rasanya, hari-hari yang biasa ku jalani sendiri, tapi sekarang telah berbeda. Kini, akan selalu ada seseorang yang selalu memberiku semangat, menanyakan aktivitasku, memperhatikanku dan ocehan-ocehan lainnya yang ia tujukan untuk menujukkan perhatiannya padaku. Kini, usia jadian kita memasuki Lima bulan. Tak ada masalah di antara hubungan ini. Namun, setiap hari aku selalu dihantui rasa takut. Perasaan takut jikalau pada akhirnya orangtuaku tahu tentang hubungan tersembunyi ini. Aku gak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.

Hampir setiap hari setelah kita jadian, Kak Firman menemuiku di rumah hanya untuk sekedar bertemu atau apalah itu. Padahal di via sms kita gak pernah absen tiap harinya. Emang gitu, kalau lagi terkena virus cinta. Pengen ketemu terus sama si do’i.
“Yang, jalan yuk!” Ajak Kak Firman lewat telepon.
“Gimana ya kak?”
“iya deh, ya… Plissss.” pintanya, membuatku tak bisa menolaknya.
Tak lama kemudian, ia sudah datang untuk menjemputku. Tanpa menunggu waktu lama, aku pun minta izin terlebih dulu pada Ibuku.
“Tapi ingat, jangan malam-malam ya!” pinta Ayah pada kami.
“Iya yah.” Jawabku singkat.
“Hati-hati di jalan.” Pesan Ibu.

Dengan bergantian, kami menyalami tangan Ibu dan Ayah di rumah. Tanpa perasaan curiga sedikit pun di antara keduanya mengizinkanku pergi bersama Kakak tercinta. Perlahan, kami meninggalkan rumah itu, semakin lama semakin tak terlihat lagi rumah yang menjadi naunganku setiap harinya itu.
“Ayok masuk!” Ajaknya ke sebuah rumah bercat Biru muda itu.
“Kenapa Kakak ajak aku ke sini, katanya kita mau makan?” tanyaku heran.
“Iya. Kita mampir ke rumahku dulu ya. Soalnya Mama pengen ketemu sama kamu katanya.”

Tak ada pilihan lain. Aku hanya menurut dengan terus mengekor di belakangnya. Dengan perasaan takut, malu dan gelisah bercampur menjadi satu. Aku mengikutinya masuk ke rumah itu.
“Kak, aku takut.” Kataku menghentikan langkah.
“Kamu percaya sama aku. Mamaku orangnya baik kok.” jawabnya menenangkanku dengan menggenggam tanganku.

Semakin aku memasuki rumah itu, aku semakin mempererat pegangan tanganku pada kak Firman. Jantungku sepertinya mau copot saja waktu itu, ketika sebuah suara menyapaku di ruang tengah itu.
“Fifi…” ujarnya mengetahui namaku. Perlahan aku menoleh ke arah suara.
“Iya Tante.” Jawabku pelan.
“Kamu sudah besar ya sekarang?”
Aku hanya tersenyum mencoba menanggapi.
“Ayo duduk! Tante senang kamu bisa main ke sini.” Ujar Tante itu disertai senyum. “Firman banyak cerita tentang kamu.” lanjutnya.

Aku semakin dibuat gugup olehnya. Ini pertama kalinya aku dikenalkan pada orangtua cowokku. Yang awalnya aku hanya memberi jawaban sekedarnya saja, tapi sekarang perbincangan kami semakin meluas. Ternyata, Mama kak Firman sangat baik dan ramah. Perbincangan kami berakhir setelah kami menghabiskan makan siang yang disediakan oleh Mama kak Firman. Senang rasanya bisa berkenalan dengan beliau. Aku berpamitan pulang dengan diantar kak Firman. Kami tambah akrab saja. Tak jarang kak Firman membawaku ke rumahnya. Aku pun senang bisa diterima di keluarga kak Firman dengan baik. Apa sikap Ibu dan Ayahku akan sama seperti sikap orangtua kak Firman yang merestui hubungan kami?

Lebaran kali ini tampak berbeda dari tahun sebelumnya. Di tahun ini, aku tidak sendiri. Ada seseorang yang selalu menemaniku berpuasa. Walaupun tempat kami berbeda, namun setiap waktu sahur dan buka puasa tiba, kami selalu berkomunikasi layaknya sedang berada dalam tempat yang sama. Pagi itu, seluruh umat islam di dunia merayakannya dengan melaksanakan shalat ‘id. Tak terkecuali aku dan sahabat-sahabatku.

“Bray, nanti kita jadi kan, silaturrahminya?” tanya Angel sahabatku.
“Jadi dong.” Jawab Fafa sambil melipat sajadahnya.
“Sorry ya bray, kayaknya aku gak bisa ikut deh.” Jawabku kemudian.
“Loh kenapa emangnya Fi?” tanya Oliev penasaran.
“Aku mau silaturrahmi ke rumahnya kak Firman soalnya.” Jawabku terus terang. Mereka menatapku terkejut.
“Iya deh ngerti, yang lagi pacaran.” Ledek Keke.

“Apaan sih kalian. Aku cuma gak enak aja kalau sampe nolak ajakannya.”
“Emangnya, kamu gak takut dimarahin sama orangtuanya kak Firmanmu itu?”
“Eh iya, aku belum cerita sama kalian ya, kalau orangtuanya kak Firman itu udah ngerestuin hubunganku dan kak Firman”
“Fifi…” serentak mereka geram. Karena kita semua udah berjanji kalau di antara kita gak ada yang ditutup-tutupin. Apapun itu, kita selalu cerita. Terpenting dan terutama soal Cinta.
“Ssssttt…” aku meletakkan jari telunjukku di bibir. “Jangan rame di depan masjid.” Lanjutku.
“Lagian kamu sih, gak cerita sama kita.” Jawab Angel sedikit kesal.
“Ya sorry, abisnya aku malu yang mau cerita sama kalian.”
“Kita kan sahabat. Kenapa kamu harus malu sama sahabat kamu sendiri.”
Akhirnya, aku menceritakan semuanya pada mereka. Mereka juga ikut bahagia mendengar ceritaku.

Sepulang dari masjid, aku dan Ibu pergi ke rumah kak Firman seperti biasanya kami lakukan setiap tahunnya. Namun, kali ini aku sedikit takut. Aku takut kalau nanti Ibu kak Firman memberitahu Ibuku tentang hubunganku dengan kak Firman. Setiap detik aku lalui dengan gelisah di hatiku. Namun, gelisah itu pergi bersama ketika Ibu berpamitan untuk pulang.
“Dek, ada yang mau aku omongin sama kamu.” ujarnya ketika ia menelpon ku. Kita jarang bertemu, karena aku takut nanti ketahuan sama Ibuku.
“Mo ngomongin apa sih kak? Mau nembak aku lagi?” ujarku bercanda.
“Dek, aku serius.” Katanya. Sepertinya dia memang sedang serius kali ini. Aku semakin penasaran dengan apa yang akan dia bicarakan.
“Ibu dan Ayahku mau ke rumahmu.”

“Terus? Bukannya orangtua Kakak emang ke sini ya kalau lagi lebaran.”
“Bukan itu maksudku dek. Orangtuaku ke sana bukan untuk silaturrahmi lebaran.”
“Terus untuk apa?” tanyaku semakin penasaran.
“Aku mau melamar kamu.” jawabnya dengan sedikit gugup.
Aku terdiam. Tak mengeluarkan satu pun kata setelah mendengar berita mengejutkan itu.

“Dek…kamu gak apa-apa kan?” tanyanya membuatku kembali memikirkan kata-katanya yang tadi diucapkannya.
“Kakak bercanda kan?” tanyaku memastikan.
“Emang, Kakak lagi terlihat bercanda ya?”
“Gak sih. Tapi, aku masih gak percaya aja.”
“Kapan sih Kakak pernah bohong sama kamu?”
Aku mengingat-ingat lagi. Semenjak aku kenal dengannya, mana pernah dia bohong sama aku. Tapi apa ucapannya yang tadi itu serius?

“Tapi aku kan masih sekolah kak?”
“Kita kan cuma tunangan aja dek. Aku janji gak akan ganggu sekolahmu. Aku cuma mau kita terikat, biar gak ada yang macem-macem sama kamu.”
“Ah, Kakak ada-ada aja.”
“Terus, gimana dek?”
“kalau aku sih iya-iya aja. Tapi gimana sama Ibu dan Ayah?”
“Kamu tenang aja. Apapun yang terjadi, aku akan tetap sayang kamu.”
“Aku juga kak.”

Malam itu Ibu menghampiriku di kamar yang sedang asyik ngobrol dengan Kakak. Karena ada Ibu, spontan ku matikan hp-ku. Lalu Ibu duduk di depanku dengan wajah serius tanpa sedikit pun senyum. Perasaanku tidak enak sekarang.
“Punya siapa Hp itu?” tanya Ibu menatap hp yang sedang ku pegang.
“Punya temen. Kenapa bu?”
“Temen siapa?” tanyanya lagi membuatku semakin terpojok.
“Punya Firman?” pertanyaan itu membuatku terkejut. “Kenapa tidak jawab?” lanjutnya.

Namun aku hanya terdiam seribu bahasa.
“Kenapa kamu harus punya hubungan dengan saudara kamu sendiri?”
“Ibu…” Aku tak kuasa melanjutkan kata-kataku.
“Firman itu masih sepupu kamu Fi.”
“Apa salah kalau Fifi suka sama sepupu fifi bu?” ucapan itu terlontar begitu saja.
“Ibu tidak suka hubunganmu dengan Firman. Secepatnya kamu harus mengakhirinya.” Ujar Ibu dengan nada tinggi.

“Tapi bu, orangtua kak Firman udah tahu dan beliau merestuinya.”
“Tapi tidak dengan Ibu Fi. Sudah cukup kamu membuat Ibu malu dengan kamu berpacaran. Ibu akan melupakan semuanya, asalkan kamu segera mengakhiri hubunganmu dengan dia!” tegas Ibu.
“Salah kak Firman apa sih sama Ibu?”
“Dia tidak salah. Hanya Ibu tidak suka kamu punya hubungan dengan dia. Pokoknya Ibu tidak mau dengar lagi kamu masih berhubungan dengan dia. Kalau sampai Ayahmu tahu tentang masalah ini, dia pasti akan memarahi kamu.”

Bendungan air mata itu pun tak tertahan lagi bersama saat Ibu ke luar dari kamarku dengan kemarahannya. Ibu sangat marah. Tidak pernah ku lihat Ibu semarah tadi. Ini semua memang salahku. Perkataan Ibu tadi seperti sebuah tamparan buatku. Air mataku tak bisa berhenti setiap aku mengingat kata-kata Ibu tadi. Semakin deras air mata itu membanjiri kedua pipiku. Dan tiba-tiba, dering hp-ku membuat konsentrasiku tertuju pada layar hp yang tertera nama Firman.

“Hallo…” suara di seberang tampak ceria.
“Hallo kak.” Jawabku terisak.
“Kamu kenapa dek, kok kayak abis nangis?” tanyanya penasaran.
“Kak, Ibu udah tahu tentang hubungan kita.” Jelasku perlahan.
“Bagus dong.”

“Ibu gak setuju dengan hubungan kita.”
“Kenapa emangnya?”
“Karena kita masih sepupu katanya.”
“Kenapa sih, cuma karena kita masih saudara sepupu aja, Ibu kamu udah gak merestui?”
“Ibu nyuruh aku buat secepatnya mutusin Kakak. Ibu sangat marah…” lirihku. Aku semakin tidak kuat meneruskan kata-kataku.
“Terus, adek sekarang mau mutusin Kakak?”
Aku tak menjawabnya. Aku bingung. Aku tidak ingin Ibu marah dan sedih, tapi aku juga tidak ingin mutusin kak Firman, karena aku sangat sayang padanya. Keadaan ini membuatku dilema.

Sekolah masih tampak sepi, hanya ada beberapa orang yang datang, salah satunya aku. Aku memutuskan berangkat pagi, karena aku mau cepet-cepet ketemu sama sahabatku untuk menceritakan semua yang terjadi padaku.
“Kamu kenapa Fi?” tanya salah satu sahabatku, Oliev. Melihatku yang tampak sangat lemah ditambah mataku yang sembap. Tangisku pun pecah. Aku menceritakan semua yang terjadi.

Mereka menenangkanku dengan kata-kata bijaknya. Aku masih terus dengan tangisanku mengingat kata-kata Ibuku.
“Aku tahu, ini sangat sulit untuk kamu. Di satu sisi, kamu sayang Ibu kamu. tapi di sisi lain, kamu juga sayang kak Firman.” Ujar Fafa.
“Kamu turuti hati kecil kamu. Karena kata hati itu tidak pernah salah.”
“Makasih ya temen-temen.”
Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka. Aku tidak tahu, jika aku tidak punya mereka. Mungkin aku tidak akan bisa setegar dan sekuat ini untuk menghadapi permasalahanku ini.

Waktu pun berlalu.

“Hallo dek.” Sapa kak Firman.
“Aku mau kita putus!” ucapku dengan perasaan yang dipaksakan.
“Kenapa sih, karena Ibu kamu gak merestui kita?”
“Maaf kak. Aku hanya ingin berbakti pada orangtuaku. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita. Cinta ini memang tidak pantas untuk kita bina.”
“Aku gak mau. aku gak mau putus sama kamu. aku sayang kamu.”
Tangisanku pun pecah mendengar kata-katanya. Aku harus putus dengannya, karena aku tidak mau Ibu sedih lagi.

“Aku bisa ngelupain Kakak, dan aku yakin Kakak juga bisa ngelupain aku.” Ujarku walaupun hatiku menjerit mengatakan kalau aku masih sangat mencintainya.
“Tapi…”
“Kak. Kakak percaya kan sama jodoh. Benar tuh kata Afgan kalau jodoh pasti bertemu.” Ujarku meyakinkan kak Firman. Awalnya, kak Firman tetap tidak menyetujui keputusanku, namun pada akhirnya ia menyetujui walaupun dengan terpaksa.

Perlahan, aku mulai menerima semua ini. Aku memang masih sangat mencintainya, namun cinta sejati itu tidak akan membuat orang di sekitar kita sedih karena cinta yang kita miliki. Dan aku tahu kalau cinta itu tidak harus memiliki. Dan Cinta sejati adalah bagian terindah dalam hidupku yang tak akan pernah hilang hingga napasku berakhir di dunia ini.

The End

Cerpen Karangan: Alief Dealova
Facebook: Alief Dealova
Cerpen ini ku persembahkan untuk sahabatku “Devalosa”
Aku hanyalah seorang gadis sederhana yang ingin mengapresiasikan hobi menulisku dengan cerpen yang sederhana pula. Semoga cerpen ini dapat menginspirasi bagi pembaca.

Cerpen Cinta Tak Direstui merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Seharusnya

Oleh:
“Pacaran yuk ” Kata itu selalu terngiang di telinga gue dan bikin gue mematung untuk sepersekian detik dan membuat otak gue berpikir terlalu keras. Matahari terlalu setia untuk menampakkan

Pertemuan Terakhir

Oleh:
Kukuruyuk… suara ayam jago yang gagah membangunkan aku pagi ini, sungguh hari yang dingin tidak biasanya mendung, padahal aku harus mengambil tiket ke jogja hari ini, semoga tidak hujan

Terbang

Oleh:
Ibarat kepingan logam yang bertebaran lalu terbang dibawa angin, dan orang bertanya “Angin sekuat apa bisa membawa pergi kepingan logam?” mana aku tahu? Aku sudah mulai tak peduli. Aku

Impossible

Oleh:
Namaku Deva Adithya Alvano biasa di panggil Ndev. Aku anak perempuan. mungkin jika orang belum tahu wajahku, mereka mengira aku ini anak laki-laki. Mungkin karena namaku yang mirip sekali

Senja Penanti Hujan

Oleh:
Sore sudah berganti senja. sisa hujan yang turun mulai rintik di sela langit jogja. saya masih celingukan di antara ruas jalan mencari sisa angkutan umum untuk mengantar saya pulang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *