Cinta Tapi Beda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 8 March 2016

Entah mengapa bayangan akan sosok lelaki yang beberapa waktu lalu tidak sengaja ku temui itu, kini terus terbayang di benakku. Sosok lelaki dengan perawakan tinggi besar, putih, serta tatapan matanya yang tajam namun mampu membuat duniaku berhenti pada saat itu juga. Siang itu aku tengah terburu-buru menuju halte bus. Karena jam kuliah sebentar lagi akan dimulai, aku pun sedikit tergesa-gesa untuk mempercepat langkah kakiku. Namun rupanya hal tersebut membuatku tidak memperhatikan jalanan dengan baik sehingga membuatku hampir saja terjatuh, namun untung saja ku rasakan ada sebuah tangan yang dengan berhasil menyangga tubuhku sehingga aku tidak jatuh sampai ke aspal. Seketika aku buru-buru bangun dan kembali menyeimbangkan tubuhku.

“Lain kali hati-hati ya,” suara itu.. terdengar begitu santun dan perhatian.

Astagfirullah… Apa yang sudah aku pikirkan. Bukankah sudah sejak tiga tahun lalu aku memutuskan untuk tidak memiliki perasaan berlebihan pada lelaki mana pun sampai aku lulus kuliah nanti. Namun kali ini mengapa aku malah merobohkan pertahanan yang sudah aku bangun selama ini dengan sekali melihat wajah lelaki tersebut. Kuat… kuat… batinku saat itu. Sepertinya sore ini hujan akan turun, terlihat begitu jelas awan hitam sudah menggelayut di atas sana, untung saja aku selalu siap sedia membawa payung. Tak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Sudah hampir setengah jam hujan tak kunjung reda, aku pun memutuskan untuk menerobos derasnya hujan. Saat di sebuah persimpangan jalan, aku melihat lelaki itu lagi. Ia tengah meneduh dengan baju basah kuyup dan juga terlihat sangat kedinginan.

Ingin hatiku menolongnya namun aku tidak mengenalnya, dan apakah mungkin dia masih mengingatku. Tapi aku sungguh tidak tega melihatnya berdiri kedinginan begitu, aku pun memutuskan untuk menghampirinya. “Kamu mau pulang denganku?” tawarku padanya ketika sampai di sebuah warung yang sudah tutup itu, tempat di mana ia berteduh.
“Maaf apakah kita pernah bertemu?” tanyanya sopan.
“Ya! Beberapa hari yang lalu kamu menolongku, dan aku tidak sempat mengucapkan terima kasih padamu, dan sekarang aku ingin membalas kebaikanmu. Apakah kamu ingin pulang bersamaku?” tawarku sekali lagi.

“Oh iya aku ingat, sama-sama. Tidak perlu, aku bawa kendaraan kok. Cuma.. lagi mogok aja, jadinya aku neduh dulu di sini,”
“Tapi kamu kedinginan, oh ini pakai saja jaketku,” Aku pun melepaskan jaketku dan memberikannya padanya, namun ia malah menolak. Sepertinya hujan sudah mulai reda, aku pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat tersebut, niat hati yang semula ingin membantunya pun malah berbanding terbalik.
“Kalau begitu aku permisi pulang duluan ya,” ucapku, seraya pergi meninggalkannya.

Wanita cantik, dengan balutan gamis dan kerudung yang menjulur panjang itu datang menghampiriku, setelah sekian lama aku menunggunya semenjak kejadian itu. Namun semenjak hari itu aku tidak pernah melihatnya datang lagi ke halte bus tersebut. Semakin hari aku mengingatnya semakin ingin aku bertemu dengannya, dan ternyata Tuhan menjawab doaku, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di sebuah warung yang sudah ditinggal pemiliknya. Bodohnya aku tidak sempat menanyakan alamat rumah atau namanya malah diam terpaku melihat parasnya yang sangat anggun itu. Bagaikan bidadari yang dengan indah menampakkan kecantikan luar dalamnya. Semoga aku dapat bertemu dengannya di lain kesempatan.

Sebuah lantunan ayat suci Al-Qur’an sedang aku perdengarkan, sesekali aku ikut membaca ayat-ayat yang indah itu. Masya Allah, sejuk sekali rasanya. Sehingga membuatku tertidur dengan sangat nyenyaknya. Hari ini sepertinya aku tidak memiliki jadwal kuliah, aku pun memutuskan untuk pergi jalan-jalan mencari udara segar setelah itu pergi ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buku dan novel. Lagi-lagi aku bertemu dengan lelaki tersebut tepat di depan halte bus yang biasa aku tumpangi, bukankah lelaki tersebut mempunyai sebuah kendaraan? Lantas untuk apa sekarang ia ada di halte bus ini? Ah.. Mungkin rumahnya tidak jauh dari sini. Aku tidak mempedulikan lelaki tersebut, namun ia malah menarik tanganku, tapi dengan cepat aku menarik tanganku dari genggamannya.

“Apa-apaan ini!” omelku padanya.
“Maaf, tapi aku ingin berbicara sebentar denganmu,” ucapnya sedikit menjaga jarak denganku.
“Ada perlu apa?” ucapku sembari duduk.
“Sudah lama kita bertemu, namun kita belum kenal satu sama lain. Kalau saya boleh tahu nama kamu siapa?” tanyanya. “Apa sangat penting bagimu, untuk tahu siapa namaku?”
“Ya.. sangat karena aku mulai menyukaimu saat pertama kita bertemu,”
DEG… Apa dia bilang? ‘’menyukaiku saat pertama kali bertemu?’ Apakah aku tidak salah dengar? Lelaki yang baru beberapa hari bertemu denganku, dengan mudahnya mengucapkan kalimat seperti itu? “Sepertinya ini sudah kelewat batas, maaf aku harus pergi,” aku pun bangun dan pergi meninggalkan dia seorang diri.

Terlalu cepatkah aku mengucapkan kata-kata itu? Hari-hari berlalu, aku semakin tidak dapat membendung perasaanku ini pada sesosok wanita yang sangat jarang aku jumpai itu, wanita yang mampu mengalihkan duniaku. Walaupun aku baru menyadari bahwa aku dengannya ternyata satu kampus namun berbeda fakultas. Ku coba untuk bertanya pada teman-temanku yang mungkin mengenalnya, namun hampir semua tidak mengenalnya. Siang itu aku melihatnya bersama dengan seorang teman wanitanya yang berpakaian yang tak jauh berbeda dengannya, aku mencoba mengikuti mereka sampai pada akhirnya mereka berpisah di ujung jalan menuju perpustakaan. Aku pun mencoba untuk bertanya kepada temannya, dengan segera aku menghampiri temannya tersebut.

“Tunggu!” teriakku pada wanita itu ketika ia akan menaiki sebuah tangga.
Perempuan itu menoleh dan bertanya, “Apakah kamu memanggil saya?”
“Ya, aku ingin bertanya. Siapa nama wanita waktu yang tadi bersamamu?” dengan napas yang sedikit terengah-engah.
“Maksud kamu Aisyah?” tanyanya. Jadi nama perempuan itu.. Aisyah? Nama yang cantik sesuai dengan parasnya yang juga sangat cantik.

Aku pun mencoba menjelaskan semuanya pada Sarah teman dekat Aisyah.
“Sebaiknya kamu harus benar-benar meyakinkan perasaanmu itu, apakah itu perasaan sesaat atau bukan? Aisyah adalah sosok wanita yang cukup disegani oleh lelaki di kampus ini, tidak jarang pula banyak yang mencoba mengajaknya ta’aruf namun ia menolaknya karena dia masih ingin fokus dengan kuliahnya yang sebentar lagi akan selesai dan..,” Kalimat terakhir Sarah menggantung begitu saja. “Dan apa?” tanyaku penasaran.
“Tidak.. yang terakhir tidak perlu aku ceritakan. Itu adalah masa kelamnya, dan yang paling penting jika kamu benar-benar jatuh cinta padanya, jangan pernah coba-coba untuk mengajaknya ‘pacaran,'”
“Tapi… aku bukan seorang muslim,” ucapku dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Kalau begitu.. sepertinya kamu harus mengikhlaskan dia,”

Lelaki itu, kini entah di mana ia saat ini, aku sudah mendengar semua ceritanya dari Sarah sahabatku yang menuntunku sampai sejauh ini. Semenjak hari wisudaku ia tidak pernah terlihat kembali, hanya sekilas wajahnya terlihat dari sekian banyaknya orang di gedung siang itu. Ada sedikit perasaan kehilangan saat aku mengetahui bahwa ia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pasca sarjananya itu. Tanpa ada kata perpisahan atau salam terakhir, lelaki itu pergi membawa cintanya terbang.

Maafkan aku tidak mengucapkan salam perpisahan kepadamu, hanya saja aku semakin takut jika rasa ini tumbuh dengan suburnya sehingga aku tidak bisa membunuh perasaanku ini padamu. Aku berharap kelak kita akan bertemu dengan status yang sama, semoga aku mendapatkan hidayahku di sana. Dio.

The End

Cerpen Karangan: Eno Aisah
Facebook: Eno Aisah
Assalamualaikum wr.wb kenalin nama aku Eno askot Bogor insya Allah sebentar lagi lulus SMK. Aku baru pertama ngirim cerpen ke cerpenmu.com semoga cerpen pertama aku lulus moderasi.

Cerpen Cinta Tapi Beda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Pergi

Oleh:
Eci adalah Gadis remaja yang berusia 15 tahun. Eci adalah gadis yang lucu, imut dan juga cantik. dia juga wanita terfavorit di sekolahnya, siapa sih yang gak kenal sama

Mengapa Kamu Memilih Dia

Oleh:
Meski malam gelap gulita Angel tetap saja menangis Angel belum bisa melupakan pria yang benar-benar dia cintai. Malam berganti pagi ayam telah berkokok Angel tersentak bangun mendengar suara yang

Karena Kita (Part 2)

Oleh:
Hatiku yang hancur! Ketika cinta kita bergetar di hatiku! Sekarang, ketika kita telah usai, kau hancurkan hati itu! Ketika anda menghancurkan hati yang mencintai anda. Itu s-s-s-s-sakit sekali! Bagaimana

Akhir Kisahku (Part 2)

Oleh:
Dear Diary… Hari ini mungkin adalah hari paling spesial untukku, setelah beberapa minggu kami akrab, entah ada angin dari mana, Iqbaale tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku… dan entah kenapa aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *