Cinta Yang Tertinggal (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 22 January 2018

Alur cerita yang mungkin tak diinginkan. Ketika takdir berkata lain bahwa mereka tidak bisa bersama. Rangkaian mimpi mereka hilang seketika saat sang waktu berkata bahwa mereka harus berpisah.

Irene duduk di sebuah bangku panjang yang ada di sekolahnya. Dia tak menyadari bahwa Dimas duduk di sampingnya.

“hei Irene, kenapa kau tidak sadar kalau aku di sini?” Tanya Dimas dengan cemberut.
“maaf Dimas, kau kan tau sendiri aku sedang fokus baca buku” jawab Irene sambil menoleh ke arah Dimas.
“ya sudahlah aku tak mau mengganggumu. Aku pergi dulu ya” pamit Dimas akhirnya.
“iya”

Setelah kepergian Dimas pun, Irene tetap melanjutkan membaca bukunya karena setelah jam istirahat akan diadakannya ulangan harian.
5 menit kemudian bel tanda istirahat berakhir berbunyi, Irene dengan tergesa-gesa masuk ke kelasnya.

2 jam sudah Irene mengerjakan ulangannya dan gurunya pun akhirnya keluar.
“huft lega akhirnya” ucap Irene kepada Keke sahabatnya.
“ya sudah ayo ke kantin, ini kan sudah waktunya istirahat kedua” ajak Keke langsung berdiri dari tempat duduknya.
“ayo” jawab Irene dan menggandeng tangan Keke.

Sesampainya di kantin…
“rame banget ya, kita duduk dimana ini?” tanya Irene kepada Keke sambil mencari-cari bangku yang kosong.
“ya sudah kita duduk di sana saja ya” jawab Keke sambil menunjuk ke arah salah satu bangku kosong.
“tapi kan, di sana ada Dimas aku tidak mau” rajuk Irene.

“sudahlah kenapa kalau ada Dimas, kan kita tambah seru nanti” sahut Keke meyakinkan.
“pokoknya tidak mau kalau ada si Dimas” ucap Irene dengan keras kepala.
“oh aku tau, kenapa sih kamu itu tidak bilang saja jujur kepada dia kalau kamu memang suka sama dia” jawab Keke menaikturunkan alisnya.
“tidak. Siapa juga yang suka sama dia sudah jangan ngarang cerita ya” sahut Irene.

“sudahlah kamu itu jangan ditutupin mendingan jujur saja sama dia, daripada nanti dia sudah sama yang lain kamu nyesel lho nanti” nasihat Keke.
“huft (menghela nafas) sudah ayo duduk di sana, kamu kebanyakan ceramah nanti kita tidak jadi makan” putus Irene akhirnya.
Akhirnya mereka berduapun menghampiri bangku kosong yang tepat berada di depan bangku Dimas.

“hai boleh kita gabung di sini?” tanya Keke tanpa basa basi.
“iya boleh silahkan” jawab Dimas dengan senyuman manisnya.
“terima kasih” ucap Keke langsung duduk dan menyeret Irene agar segera duduk.

“mau pesan apa Ren? Aku pesankan sekalian” tanya Keke kepada Irene.
“disamain saja sama kamu” jawab Irene.
“oke” jawab Keke langsung berjalan memesan makanan.

“ehem”
“kenapa kamu? batuk?” tanya Irene to the point.
“hah tidak kok, kamu kok diam saja kan kamu tau sendiri kalau aku tidak suka keheningan” jawab Dimas panjang lebar.
“oh gitu”

“eh Ren, kamu kenapa setiap kali bicara sama aku kamu itu cuek, tapi kalau kamu bicara sama orang lain bawaannya kamu itu rame banget” tanya Dimas menyelidik.
“bukan urusan kamu” jawab Irene sarkatis.
“oh aku tau, jangan-jangan kamu diam-diam suka sama aku terus sikap cuek kamu itu buat nutupin rasa kamu itu, iya kan jujur saja sama aku” balas Dimas tanpa mengalihkan tatapannya kepada Irene.
“huh Dimas kok bisa tau sih, aduh jantungku jadi deg-deg’an kan jadinya” ucap Irene dalam hati

“hei kok malah melamun, jadi beneran ya kalau kamu itu suka sama aku? (Sambil menunjukkan senyunan khasnya) ya sudah lah, aku juga mau jujur kalau aku juga suka sama kamu. Mulai sekarang kita taken ya, bagaimana?” jelas Dimas dengan wajah sumringahnya.
“hei hei kenapa ini mukanya yang satu tegang satunya sunringah. Ada apa sebenarnya?” tanya Keke membawa pesanannya yang datang tiba-tiba.
“ah tidak ada, ya sudah aku mau ke kelas dulu. Bye” pamit Dimas akhirnya.

Setelah kepergian Dimas ke kelasnya, akhirnya Keke pun bertanya-tanya kepada Irene. “Ren, kenapa memangnya? Kok muka kamu kelihatan tegang begitu pas tadi aku datang?” tanya Keke penuh menyelidik.
“sudahlah lupakan tidak ada apa-apa kok, ayo makan” jawab Irene.
“cerita lah sama aku, kok main rahasia-rahasiaan begini sama aku” ucap Keke cemberut.
“haha iya iya nanti aku cerita sekarang kita makan saja aku lapar”

Selesainya makan, mereka segera masuk kelas karena sebentar lagi akan berlangsung jam mata pelajaran selanjutnya.

Sepulang sekolah, sesampainya di parkiran sekolah Irene melihat Dinas yang baru keluar dari kelasnya. Tetapi anehnya Dinas sama sekali tidak menyapanya seperti biasa.
“ayo pulang, malah melamun di sini. Hari ini aku jadi langsung main ke rumahmu ya” kata Keke yang sedang menaiki motornya.
“iya sudah nanti kita beli makanan ringan dulu” jawab Irene.
“oke”

Sesampainya di rumah Irene tampak sepi, dikarenakan kedua orangtuanya yang sibuk bekerja belum pulang.
Mereka berdua langsung menuju ke balkon kamar Irene.

“emm.. Ke, aku boleh tanya?”
“iya mau tanya apa memangnya?” sahut Keke yang sedang memakan kue.
“kamu tau kan tadi waktu di kantin Dimas bilang kalau dia suka sama aku, terus dia itu langsung nembak aku tapi keburu kamunya datang tadi” jelas Irene.
“sumpah? Terus bagaimana? Ya maaf tadi kan aku juga tidak tau kalau kalian sedang ada perbincangan yang serius” jawab Keke merasa bersalah.

“sudahlah Ke, tidak apa-apa kok siapa tau tadi Dimas hanya bercanda kan” ucap Irene dengan tenang.
“tapi aku mau tanya, sebenarnya bagaimana perasaan kamu kepada Dimas? Jujur saja sama aku Ren, biar hati kamu nerasa lega”
“jujur ya Ke, aku itu memang suka sama Dimas tapi aku tidak yakin dia kan banyak banget teman cewek yang dekat sama dia, apalagi kalau cinta aku bertepuk sebelah tangan. Makanya aku mencoba tidak peduli kalau lagi berhadapan sama dia” jelas Irene.

“jangan begitu, sebaiknya kalian berdua bicara dari hati ke hati nanti kan akan kelihatan bagaimana sebenarnya, perjuangkan rasa kamu itu jangan terus-terusan dipendam seperti itu. Nanti kalau dia sudah sama yang lain kamu nyesel lho”
“iya kapan-kapan aku usahakan ya. Terima kasih atas masukannya”
“iya sama-sama itulah guna sahabat” jawab Keke mengacungkan jempol.

Keesokan harinya.
Hari ini, Irene berniat akan menemui Dimas setelah latihan volly nya. Irene menunggu di depan ruang ganti olahraga.

“Irene, kamu kok di sini?” tanya Dimas yang baru keluar dari ruang ganti.
“eh iya, aku ada perlu sama kamu.” jawab Irene.
“kebetulan banget tadinya aku mau cari kamu aku juga mau ngomong sesuatu hal sama kamu. Ya sudah kita ke taman belakang saja ya” ucap Dimas.
“iya” jawab Irene berjalan dibelakang Dimas.

Sesampainya di taman belakang mereka duduk di bangku panjang di depan hamparan rerumputan.

“kamu tadi katanya ada sesuatu hal penting. Memangnya ada apa?” tanya Dimas to the point.
“em kamu saja dulu yang ngomong” jawab Irene.
“ladies first” ucap Dimas dengan kekehan khasnya.
“sebenarnya.. em.. itu ..”

“ya sudah aku saja yang ngomong dulu, kamu kok tiba-tiba jadi tidak bisa ngomong begitu hahaha” jawab Dimas sambil tertawa.
“begini.. sebenarnya aku mau ngomong kalau aku itu suka sama kamu Ren, sebenarnya sudah lama tapi aku takut kalau cinta aku itu bertepuk sebelah tangan” jelas Dimas
“(memegang tangan Irene) bagaimana? Kamu mau menjadi seseorang yang berarti dalam hidupku dan seseorang yang akan selalu menjadi alasanku bisa tersenyum bahagia di dunia ini?”

“ka kamu serius?” tanya Irene.
“iya aku serius, aku tidak pernah bermain-main dalam hal seperti ini, apalagi menyangkut hati”

“bagaimana ya, emm..” ucap Irene masih ragu-ragu.
“ya sudah kalau kamu memang masih ragu sama aku, kamu boleh kok jawabnya tidak sekarang” jelas Dimas dengan wajah yang masih tersenyum.
“jangan! Eh.. maksud aku iya aku mau, aku bakalan berusaha menjadi seseorang yang akan selalu setia menemanimu dalam keadaan apapun” jawab Irene dengan mantap.

“terima kasih ya. Oh iya kamu tadikan juga mau bilang sesuatu sama aku. Memangnya mau bilang apa?”
“eh tidak aku cuma mau bilang kalau …”
“kalau apa?” tanya Dimas menyelidik.
“kalau aku sayang sama kamu” bisik Irene di telinga Dimas.

“oh gitu ya sekarang sudah berani bilang sayang sama aku hahaha”
“sudah ayo balik ke kelas sebentar lagi masuk” ajak Irene.
“mengalihkan pembicaraan! Ya sudah ayo” Dimas bangkit dari duduknya lalu menggandeng tangan Irene dengan sayang.

Kabar Dimas dan Irene menjalin hubungan pun sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah.
Mereka berdua menjadi pasangan yang sangat serasi. Setiap ada waktu kosong mereka habiskan untuk belajar bersama di taman belakang sekolah. Iya taman itu menjadi saksi cinta mereka berdua.
Hingga pada suatu ketika ada satu hal yang merubah keadaan mereka.

“uhuk.. uhuk”
“Dim, kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Irene khawatir.
“tidak Ren, aku tidak sakit kok mungkin hanya kedinginan saja” jawab Dimas dengan tenang.

“ya sudah kita masuk ke kelas saja ya, di luar juga hujan jadi udaranya dingin” ajak Irene lalu menggandeng tangan Dimas.
“ya sudah ayo”
Mereka berdua pun akhirnya masuk ke kelas.

Hari ini, penampilan Dimas memang sedikit berbeda daripada biasanya dan Irene merasakan itu. Dimas terlihat sangat pucat seperti sedang sakit tapi dia tidak mau jujur kepada Irene.

Sepulang sekolah, sesampainya di rumah Dimas merasakan sakit di badannya. Dia pun pingsan ketika hendak menuju ke kamar mandi.

“astaghfirullah Dimas sayang, kamu kenapa nak?” jerit mama Dimas dengan cemas.
“Papa, tolong pa, ini Dimas ayo ke rumah sakit pa.” tangis mama Dimas.
“Mama tenang ya, Papa siapin mobil dulu” ucap Papa Dimas .

Sesampainya di rumah sakit…
“Ya Allah tolong sembuhkan anak hamba. Hamba mohon..” ujar mama Dimas dengan tangisan yang masih menghiasi wajahnya.
“Mama tenang dulu ma, kita tunggu dokternya keluar dulu ya” ucap papa Dimas menenangkan.

Beberapa menit setelahnya, dokterpun keluar dari ruang rawat Dimas dan menghampiri kedua orangtua Dimas.
“maaf pak bu apa kalian orangtua dari Dimas?” tanya dokter.
“iya dok, bagaimana keadaan anak kami?” tanya papa Dimas.
“mari ikut ke ruangan saya” ajak sang dokter.

Sesampainya di ruangannya, dokter itupun segera menjelaskan kepada kedua orangtua Dimas.
“sebelumnya maaf pak bu, apakah Dimas sudah lama mengidap penyakit?” tanya dokter.
“tidak dok, memangnya anak kami mengidap penyakit apa?”
“maaf pak bu, begini Dimas sekarang sedang mengidap penyakit kanker stadium 4, seandainya ini belum terlambat mungkin bisa kami tangani dengan cara kemoterapi. Tapi maaf ini sudah terlambat” jelas dokter.

“apa dok? Tidak mungkin. Itu semua bohong kan dok?” tangis mama Dimas pun pecah.
“maaf bu tapi ini sudah terbukti dengan pemeriksaan.”
“Pa, Dimas pa..”
“Mama sabar ya, kita hadapi bersama kita harus yakin kalau Dimas bakalan sembuh!” jelas papa Dimas.

“ya sudah terima kasih dok, saya permisi” pamit papa Dimas.
“iya pak, silahkan”

Ruang Rawat Dimas..
“Dimas sayang bangun nak..”
“Mana Dimas yang sering jahil sama Mama, mana Dimas yang suka main catur bareng Papa. Ayo bangun nak.” ujar mama Dimas yang masih menangis.
“ayo bangun nak”

“Pa.. Papa tangan Dimas gerak Pa, tolong panggil dokter Pa, cepat!”
“iya Ma, Mama tenang dulu”

Cerpen Karangan: Fariza Al Fauziah
Facebook: Fariza Al Fauziah

Nama: Fariza Al Fauziah
Sekolah: SMA N 1 Ngadirojo
Ig: @fariza.al.eff
Pacitan – Jawa Timur

Cerpen Cinta Yang Tertinggal (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mr. Noodle Cintaku

Oleh:
“Selamat pagi princess snow white” sapa Awan, pacarku. “Selamat pagi juga prince noodle” balasku semanis biasanya. Itu merupakan panggilan sayang dari kami. Aku yang sangat menyukai tokoh kartun putri

Kau dan Keajaiban Kecilmu

Oleh:
Matahari sudah mulai menampakan wajahnya di jagat raya, pukul 05.00 alarm jamku pun berbunyi sehingga membangunkan tidurku yang nyenyak. Hari ini adalah hari yang sangat kunantikan karena hari ini

Jadikan Aku Penggantinya

Oleh:
Jadikan Aku Penggantinya Cinta… Cinta itu indah… Cinta itu Anugerah… Cinta itu apa adanya… Dan cinta itu sebuah pengorbanan… Jatuh cinta, itulah yang tengah dirasakan oleh cowok bernama lengkap

Maafkan Aku Nanda

Oleh:
“Gua gak butuh penjelasan lo, Nda! Gua tahu lo udah menduakan gua dengan sahabat gua sendiri kan!” Ujarku ketus saat Nanda memberiku penjelasan. “Maaf za, Nisa itu sepupuku. Jadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *