Cinta Yang Tertinggal (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 22 January 2018

Akhirnya dokter pun sampai di ruangan Dimas.
“maaf bu, biar saya cek dulu keadaan Dimas”.
“iya dok”.

“keadaan Dimas sudah membaik, tolong jaga pola makan dan istirahat Dimas”
“iya dok terima kasih” ucap Papa Dimas ketika dokter selesai memeriksa Dimas.

“Dimas kamu sudah bangun kamu nak” ucap mama Dimas.
“Mama Papa.. maafin Dimas sebelumnya Dimas tidak bilang sama kalian.” Ujar Dimas ketika dia sudah sepenuhnya tersadar.
“kenapa nak, seandainya kita tahu tentang penyakit kamu kita pasti bisa melakukan kemoterapi agar kamu bisa sembuh nak” jelas papa Dimas.
“Dimas tidak mau merepotkan Mama sama Papa, mungkin ini sudah takdir Tuhan bahwa Dimas akan secepatnya kembali ke hadapan-Nya”

“jangan begitu Dimas, kita bersama-sama berdo’a kita berusaha mencari rumah sakit terbaik agar kamu bisa sembuh sayang” jelas mama Dimas.
“iya besok Papa akan urus surat pindah rumah sakit kamu. Kita akan berobat ke Singapura”
“tapi Pa, aku tidak mau ke Singapura aku mau tetap di sini saja di Indonesia” jawab Dimas.
“tidak sayang, kamu harus berobat kamu harus sembuh demi Mama sama Papa ya” jelas mama Dimas menasihati.

“oke Dimas mau, tapi Dimas mau bertemu sama seseorang dulu sebelum aku berangkat ke Singapura” sahut Dimas.
“iya sayang”

Keesokan harinya, Dimas bersiap-siap masuk sekolah untuk yang terakhir kalinya karena besok dia harus berangkat berobat ke Singapura.
Hari ini, dia berniat akan berbicara dan berpamitan kepada Irene. Dimas juga merasa rindu karena sudah beberapa hari ini mereka tidak berkomunikasi.

“hai Keke, Irene mana?” tanya Dimas kepada Keke.
“Dimas, kamu ke mana saja kok kamu baru kelihatan? Irene ada di perpustakaan. Dari kemarin dia menyendiri di berubah jadi pendiam” jelas Keke.
“memangnya kenapa? Ya sudah aku ke perpustakaan dulu, terimakasih Ke informasinya”

Di Perpustakaan
“hai cewek sendirian saja” sapa Dimas dengan nada yang beda.
“hmm”
“hanya begitu jawabannya, kamu kenapa Ren? Kamu marah sama aku?” tanya Dimas.

“jangan ganggu aku, mending kamu keluar saja sekarang” usir Irene.
“aku tidak akan keluar kalau kamu belum mau jelasin kenapa kamu marah sama aku” kekeuh Dimas.
“kamu tidak sadar? Kamu kemana saja akhir-akhir ini jarang komunikasi sama aku. Kamu mau menjauh dari aku apa kamu lupa sama janji kamu dulu? Hah ?!” Bentak Irene.
“tidak begitu sayang, aku ada alasan aku tidak menghubungimu selama ini. Maafkan aku aku memang salah.” jelas Dimas dengan rasa bersalahnya.

“syukurlah kalau kamu sadar. Sudah kamu keluar aku mau sendiri jangan ganggu aku” usir Irene untuk yang kedua kalinya.
“aku ke sini mau bilang sama kamu, kalau aku mau pergi aku bakalan pindah ke Singapura, nanti sore jam 14.00 WIB aku berangkat dan sementara waktu kita bakalan LDR” jelas Dimas.
“kamu mau pergin kamu tega banget ya sumpah kamu keterlaluan banget! Maaf Dimas aku tidak bisa menjalankan hubungan jarak jauh. Aku harap kamu bisa mengerti mungkin hubungan kita cukup sampai disini saja” jawab Irene dengan mata sembabnya.

“tapi Ren, aku punya alasan tersendiri aku tidak mau pisah sama kamu. Aku…”
“sudahlah Dim, cukup ya cukup” ucap Irene lalu pergi meninggalkan Dimas.
Irene pun meninggalkan Dimas sendirian di perpustakaan. Hatinya hancur ketika menerima kenyataan bahwa hubungan dia dan Dimas berakhir dengan sia-sia.
Mungkin dia terbawa emosi karene dengan mudahnya dia memutus hubungannya dengan Dimas.

Lain halnya dengan Dimas, dia merasa sangat bersalah karena dia tidak bisa berkata yang sejujurnya kepada Irene. Dia tidak ingin melihat Irene sedih jika dia tahu akan penyakitnya.

Sesampainya di rumah, Dimas disambut oleh kedua orangtuanya. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke bandara hari ini. Akan tetapi perasaan Dimas masih belum bisa terkontrol dia terus menerus memikirkan keadaan wanita yang sangat disayanginya yang baru saja mengeluarkan air mata karena ulahnya.

“ayo Dimas kita berangkat. Pesawat kita akan take off pukul 14.00 WIB. Masih satu jan untuk perjalanan ke bandara” jelas papa Dimas.
“iya Pa” jawab Dimas lesu.
“kamu yang semangat sayang jangan seperti ini, kamu pasti sembuh ya sayang” mama Dimas menimbali.

Akhirnya mereka bertiga berangkat ke bandara dengan taksi. Pukul 14.45 WIB mereka sampai di bandara. Dimas menoleh ke belakang dia sangat berharap jika Irene akan menghampirinya untuk mengucapkan salam perpisahan. Tapi hasilnya nihil tidak ada sama sekali tanda-tanda akan kedatangan Irene.

6 bulan kemudian.
Pengobatan Dimas sudah berjalan akan tetapi keadaan Dimas masih tetap sama seperti 6 bulan yang lalu tidak ada perkembangan membaik.

“Papa, Mama Dimas mau kita balik saja ke Indonesia. Percuma Dimas berobat disini tidak ada perubahannya sama sekali” ucap Dimas.
“tapi Dimas, kamu harus sembuh sayang kamu harus berobat disini” jelas Mama Dimas.
“tidak Ma, pokoknya Dimas mau besok kita balik ke Indonesia.” jawab Dimas.

“ya sudah kalau itu keputusan kamu Dimas. Papa akan urus semuanya” jelas papa Dimas.
“iya terima kasih pa.”

Keesokan harinya setelah kedatangan Dimas di Indonesia, dia sangat berharap untuk bertemu dengan Irene. Sudah 6 bulan ini mereka lost contact.
Hari ini, Dimas berniat untuk mendatangi rumah Irene.

“maaf mas, mau cari siapa ya?” tanya pembantu Irene.
“saya mau cari Irene bik, Irene nya ada?”
“oh mbak Irene nya masih di rumah sakit mas belum pulang” jelas pembantu Irene.
“memangnya ada apa ya bik kok Irene ke rumah sakit?” tanya Dimas menyelidik.

“mbak Irene periksa mata 4 bulan yang lalu dia kecelakaan sehingga mengakibatkan kedua mata mbak Irene mengalami kebutaan” jelas sang pembantu.
“kalau boleh tau, rumah sakit mana ya bik?”
“rumah sakit kasih bunda mas”

“terima kasih bik, saya permisi” pamit Dimas
“iya mas”

Akhirnya Dimas pun menuju ke rumah sakit yang tadi diberitahukan oleh pembantu Irene. Sesampainya di sana, Dimas tidak sengaja mendengar penbicaraan dokter dengan orangtua Irene.
Dokter berkata bahwa Irene bisa melihat lagi, jika ada pendonor mata. Langsung saja ketika orangtua Irene keluar dari ruangan dokter tersebut, Dimas masuk.

“permisi dok, boleh saya masuk” ucap Dimas.
“oh iya silahkan. Ada keperluan apa?” tanya dokter.
“maaf dok tadi saya mendengar bahwa ada pasien yang sedang membutuhkan donor mata, apakah benar?” tanya Dimas memastikan.
“iya benar. Anda siapa ya?”

“saya Dimas dok, teman Irene pasien tadi. Saya ke sini berniat ingin mendonorkan mata untuk dia” jelas Dimas.
“tapi donor mata itu taruhannya nyawa, bisa saja kamu kehilangan nyawa kamu setelah mendonorkan mata kamu”
“tidak masalah dok, lagipula saya sebentar lagi akan meninggal saya mengalami kanker hati stadium 4, maka dari itu saya berniat mendonorkan mata saya”
“tapi ini perlu persetujuan dari pihak keluarga”

“keluarga saya sudah pasti setuju dok. Saya mohon.” mohon Dimas kepada dokter.
“baiklah jika itu pilihan kamu. Saya akan persiapkan semuanya besok atau lusa kita akan operasi donor mata” jelas sang dokter.
“iya dok terima kasih. Saya permisi” pamit Dimas.

Sesampainya di rumah, Dimas akan membicarakan masalah donor matanya kepada Irene.
“Ma Pa Dimas mau sebelum Dimas meninggal aku bisa memberikan kebahagiaan pada orang yang aku sayangi”
“maksud kamu apa Dimas?” tanya papa Dimas.
“aku mau mendonorkan mata aku ke Irene Pa, Ma. Dia adalah sosok bidadari yang selama ini setia di hati aku. Aku ingin dia bahagia dia bisa melihat dunia ini dengan mataku ini” jelas Dimas.

“kalau itu kemauan kamu nak, Papa sama Mama akan dukung” jawab Mama Dimas.
“terimakasih Ma Pa.” Ujar Dimas.

Keesokan harinya berjalanlah operasi pendonoran mata kepada Irene. Sebelum Dimas tadi berangkat ke rumah sakit dia sudah menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada Irene. Surat itu Ia titipkan kepada orangtuanya. Dimas juga berpesan bahwa tidak ada satu pun orang yang akan memberitahu Irene siapa pendonor mata itu.

3 hari setelah pendonoran mata tersebut berjalan, sekarang waktunya untuk membuka perban mata Irene. Dia sangat ingin tahu siapa pendonor baik hati itu. Akan tetapi dokter dan orang tuanya masih tutup mulut akan hal itu.

“Mama Papa aku bisa melihat. Lihat aku bisa melihat lagi” ucap Irene dengan hati senang.
“iya sayang, selamat ya kamu bisa melihat” ujar Mama Irene.

Tidak lama kemudian terbukalah pintu ruang rawat Irene.

“tante Rossa, tante kapan pulang? Dimas mana tante?” tanya Irene saat Mama Dimas memasuki ruangannya. Memang sebelumnya Irene sudah dikenalkan oleh Dimas ke mamanya.
“ini sayang tante ke sini mau mengantarkan ini” ucap mama Dimas sambil memberikan sebuah surat.
“ini apa tante?” tanya Irene
“ini titipan dari Dimas sayang, kamu baca ya”

Untuk Irene

Maaf ketika kamu buka surat ini aku sudah bahagia di alam yang berbeda denganmu. Tapi jangan khawatir aku tidak sedih walaupun aku berpisah sama kamu karena sebagian tubuh aku ada di kamu. Melihat kamu senyum bahagia karena kamu bisa melihat indahnya dunia dengan titipan mata aku, aku sangatlah bahagia. Kamu jangan menangis ini mungkin sudah takdir kita. Oh iya sebelumnya maaf baru kali ini aku kasih tau alasan aku kenapa waktu itu aku tidak menghubungimu beberapa hari dan akhirnya aku pindah ke Singapura, aku terkena kanker hati stadium 4 aku terpaksa tidak mengatakannya ke kamu karena aku tidak mau melihat bidadari cantikku menangis. Maaf waktu itu aku pernah membuatmu menangis tapi sebenarnya aku tidak mau berpisah dengan kamu.

Sepulang aku dari Singapura aku ke rumah kamu dan di situlah aku mulai tahu keadaan kamu. Ketika aku sampai di rumah sakit itu aku mendengar bahwa kamu akan bisa melihat jika ada donor mata mulai saat itu aku yakin bahwa aku akan membuatmu bahagia dengan titipan mata ini. Jaga selalu ya, kamu baik-baik disana. Jangan tangisi kepergianku. Selamat tinggal.

Dari Dimas.

Tess.. air mata Irene turun dengan derasnya dia tidak menyadari jika Dimas sangat mencintainya bahkan dia sangat rela berkorban untuknya demi kebahagiaan Irene.

End.

Cerpen Karangan: Fariza Al Fauziah
Facebook: Fariza Al Fauziah

Nama: Fariza Al Fauziah
Sekolah: SMA N 1 Ngadirojo
Ig: @fariza.al.eff
Pacitan – Jawa Timur

Cerpen Cinta Yang Tertinggal (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Terakhir

Oleh:
Mentari pagi kini telah bersinar dengan terangnya menerangi bumi. Tak lupa juga dengan sejuknya alam di pagi ini. Hari ini Bella berangkat ke sekolahnya tepat pukul 06.15 lebih siang

Grenade

Oleh:
Easycome, easy go, That’s just how you live, oh, Take, take, takeit all, But you never give. Should’ve known you wastrouble From the first kiss, Had your eyes wide

Tolong Sudahi Rasa Sakit Ini

Oleh:
Kamu sudah terlalu lama mengendap di sini, di hati ini, dan aku tak tahu berapa lama lagi kamu akan terus mengendap. Bukannya tak mampu tuk mencari penggantimu tetapi saat

Cinta Terbaik

Oleh:
Matahari mulai terbenam namun Nathan belum juga datang. Aku menunggu dengan gelisah, sudah satu jam sendirian menunggu. Aku merasa ada yang aneh dengan kekasihku. Hampir sebulan ini dia banyak

Ada Cinta di Ujung Usia

Oleh:
Latief Hendrayana, seorang akuntan yang bekerja di sebuah perusahaan keuangan ternama di Jakarta, Money Finance yang di vonis mengidap kanker otak oleh dokter, memiliki tujuan hidup. Menjadi orang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *