Cintaku Berawal Darimu

Judul Cerpen Cintaku Berawal Darimu
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 4 January 2017

Semua sama dan akan tetap sama, aku adalah aku dan tak bisa menjadi diri orang lain. Hidupku teramat sangat bahagia saat itu karena mereka sangat menghargai aku sebagai seorang wanita dewasa. Sebelum pria menyebalkan itu datang di kehidupan kami, yaa dia Rivan tangan kanan dari ayahku. Aku fikir memang benar benar menganggap aku wanita dewasa, tetapi dugaanku salah. Mereka sengaja mengirim Rivan untuk mengawasi dan menjagaku, mereka tak memberiku sebuah kebebasan dan mereka masih menganggap aku seorang anak kecil, padahal aku sudah kelas 3 SMA. Aku rasa anak anak seusiaku sudah tak diperlakukan seperti aku, mungkin karena aku anak tunggal mereka jadi mereka sangat over protektif padaku.

Namaku Randita Hartanto aku biasa dipanggil Dita, pagi ini adalah pagi yang sangat cerah tetapi tak secerah hatiku saat ini karena ini adalah hari pertamaku berangkat sekolah diantar olehnya ya Rivan maksudku. “Sayang, cepetan dong sarapannya nanti kamu telat lho. Rivan juga udah jemput tuh” suara lembut mama mengagetkanku “iya mama ini Dita udah beres sarapannya. Mmm mana tuh si Rivan? Tas Dita berat jadi dia aja yang bawain tas Dita.” kataku sambil celingak celinguk mencari keberadaannya, “Sayang, Rivan itu tugasnya jagain kamu bukan pelayanmu nak. Ayo gendong sendiri tasnya dan cepetan temui dia di luar karena hari ini ayah sama Rivan ada rapat penting. Ayo cepat cepat” kata ayah kurang setuju. Aku pun tak dapat mengelak apa yang ayah katakan, aku segera menghampiri Rivan yang sedari tadi menungguku di depan mobilnya “pake mobil gue aja, gue mau pulang sendiri hari ini” kataku dengan nada cuek dan jawabannya pun membuatku bad mood pagi ini “tidak bisa nona muda, mulai sekarang Kau tanggung jawabku. Ayo cepat naik!”. Hahh dengan seenaknya dia mengaturku, apa dia sudah lupa siapa dia dan apa darajatnya. Dasar pria menyebalkan

Sesampainya di sekolah aku langsung turun dari mobilnya dan tanpa disangka dia memanggilku dari dalam mobilnya, ya mau tidak mau aku menghampirinya “apa lagi mau lo hah?” kataku dengan nada ketus “nona, kenapa kau begitu galak padaku? Inget pulang sekolah saya jemput. Jangan macam macam dengan kabur atau pulang duluan!!! Paham?” katanya “heh lo tuh tugasnya jagain gue bukan ngatur hidup gue Rivan!” kataku, dia pun terdiam dan tak mau kalah dan kami berdebat di depan pagar sekolahku. Tiba-tiba sebuah suara mengacaukan perdebatan kami “Nona Randita, apa nona hanya akan berdebat di depan pagar dan gak akan mengikuti pelajaran hari ini? Dengarlah bel sudah berbunyi” satpam sekolahlah yang mengacaukan perdebatan ku “awas kau!!” ancamku pada Rivan.

Akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi saat aku sedang menunggu Rivan tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundakku “nungguin orang kepercayaan ayah kamu yah? Kayanya dia gak akan jemput deh, mending pulang bareng gue yu” ya ternyata dia adalah laki-laki paling populer di sekolah namanya Aldo, wanita mana yang sanggup menolak ajakannya. Saat aku hendak menjawab tiba-tiba suara menyebalkan itu menyeruak di telingaku “nona Randita ayo kita pulang, tuan besar sudah menunggu di rumah” oh tuhan mengapa Rivan datang di saat yang tidak tepat seperti ini, “mmm tuan muda tidak perlu repot repot mengantar nona muda pulang karena Rivan sudah datang jadi sebaiknya tuan muda pulang saja oke, nona ayo naik” sambungnya dengan nada angkuh. Aku pun berpamitan pada Aldo dan tak lupa kuucapkan terimakasih atas tawarannya, dan aku pun langsung naik dan duduk di samping Rivan.

Sepanjang perjalanan aku hanya dia dan tak berbicara sepatah kata pun padanya karena aku benar benar malas dan kesal padanya “nona, apa nona marah padaku?” Katanya memecah Keheningan “lo udah bikin hidup gua ancur seancur ancurnya, lo tau? Aldo itu cowok paling populer di sekolah gue dann tadi dia ngajakin gue balik bareng dann apa yang lo lakuin hah? Lo tiba-tiba nongol dan mengacaukan semuaa, cuma cewek bodoh yang nolak ajakkan dia. Dan sekarang gue lah cewek bodoh itu dan ini semua gara-gara lo Rivan!!!” Kataku dengan nada penuh amarah, dia hanya tersenyum dan berkata “dia playboy dan tak pantas untukmu” aku semakin emosi mendengar komentarnya “apa hak lo nilai Aldo kaya gitu hah? Diaa tuh naksir ke gue dan lo yang hancurkan semua, gue makin gak suka sama lo!!!”. “Sekarang hentikan kemarahan nona dan turunlah karena kita sudah sampai” katanya. Aku pun turun dari mobilnya dan segera memasukki rumah dan ternyata ayah dan ibukku sedang bersantai di ruang tamu “ayah, pokonya aku gak mau di kawal terus terusan yah, baru hari pertama dia bersamaku diaa udah kacaukan semua.. Pokonya Dita gak mau ayah” kataku merengek pada ayahku, tiba-tiba Rivan datang dan langsung berpamitan pada ayahku karena dia harus kembali ke kantor.

Saat aku hendak ke kamarku tiba-tiba ayah memanggilku dan menyuruhku duduk karena ada yang ingin ayah katakkan, mau tidak mau aku pun menuruti keinginan ayah “kamu tentu tau kalau Rivan itu tangan kanan ayah kan? Ayah sangat percaya padanya nak, saking percayanya ayah padanya ayah mempercayakan pewaris tunggal Hartanto Grup padanya” ayah tersenyum dan membelai rambutku “dia sudah tidak punya orangtua ayah menyayanginya sama Seperti ayah menyayangimu nak, umurnya masih 20 tahun dan dia kini sebatang kara dia adalah anak sahabat baik ayah, ayahnya Rivanlah yang membantu perusahaan ayah kala masa masa sulit nak. Cobalah bersikap lebih sopan padanya, dia seperti itu semua perintah ayah dia adalah laki-laki yang baik. Jika kamu tidak menyukainya maka jangan lah bersikap tidak sopan padanya. Kamu paham Randita?” lanjut ayah, “iya paham ayah. Aku mau ke kamar dulu cape” kataku sambil bergegas pergi menuju kamarku.

Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur, dan aku mulai berfikir apa yang ayah katakkan tadi, mungkin benar kata ayah. Aku bersikap kurang sopan padanya tadi, seharusnya aku bisa lebih sopan padanya. Tiba-tiba ibu masuk dan duduk di ujung ranjangku “sayang, malam ini Rivan akan makan malam di sini jadi ayah minta kamu untuk makan malam di rumah hari ini” kata Ibu dengan suara lembutnya “tapi bu, Dita sore ini mau pergi ke toko buku dan akan makan malem di luar” sanggahku “sama siapa kamu akan pergi?” tanya ibu “sendiri bu, soalnya Nita lagi sakit jadi Dita pergi sendiri”. “Kalo gitu kamu pergi sama Rivan aja habis makan Malam” kata ayah tiba-tiba datang “tapi yahh aku..”, “gak ada tapi oke. Turuti semua perintah ayah, lagi pula dia kan yang akan menjagamu” kata ayah memotong pembicaraanku, aku pun mencoba merengek pada ibu tapi ibuku malah menyuruhku untuk mematuhi semua perintah ayah, mau tidak mau aku harus patuh pada mereka.

Di toko buku aku pun mencari segala buku yang aku mau dan Rivan pun dengan setia menungguku, setelah selesai Rivan mengajakku untuk duduk sebentar di taman yang tak jauh dari toko buku yang kami singgahi tadi. “gua mau pulang, ngapain lo ajak gua ke sini? Lo mau curi curi kesempatan yah ke gua?” kataku dengan tatapan menyelidik, Rivan hanya tersenyum dan bertanya “kamu tau apa bedanya perempuan dan wanita?” di telingaku itu adalah pertanyaan yang sangat bodoh sekaligus aneh “heh lo gila atau gak waras sih, perempuan dan wanita itu samaa.. Mereka sama sama 1 genre, lo kuliah tapi oon yah begituan aja pake nanya. Kasihan banget bokap gua nguliahin plus memperkerjakan lo di perusahaanya” kataku dengan nada sangat ketus dan lagi lagi dia hanya tertawa dan itu membuatku sungguh sangat bingung, apa dia mendadak gila?. Dia menjawab dengan amat sangat santai “kamu salah, mereka memang 1 genre tetapi mereka berbeda” aku semakin penasaran dengan perkataannya “hah maksud lo?”. “perempuan itu seorang gadis yang belum mencapai pemikiran dewasa, sedangkan seorang Wanita itu gadis yang lebih matang pemikirannya. Dan aku rasa kamu adalah seorang perempuan bukan seorang wanita” katanya sambil berlalu meninggalkan aku yang masih mematung. karena penasaran aku pun mengejarnya “heh heh maksud lo apa? Gue gak dewasa gitu? Heh berhenti jawab gue dulu” dia pun berhenti dan berdiri di hadapanku dan berkata “kamu belum dewasa nona, jika kamu sudah menjadi seorang wanita maka tugasku sudah selesai. Ayo kita pulang” katanya. Seperti biasa aku hanya terdiam sepanjang perjalanan dan dia pun tak berkata sepatah katapun padaku, aku memikirkan perkataannya tadi. Ya aku akui aku memang seorang perempuan, mungkin karena itu ayah menyuruhnya menjaga dan mengantar jemput aku. Sesampainya di rumah aku masih merenung memikirkan yang dia katakkan tadi.

Tak terasa 1 bulan sudah dia menjadi pengawalku dan hari ini adalah hari pengumuman kelulusan, ya dan benar dugaanku aku lulus ujian dengan nilai terbaik, aku pun memilih universitas yang aku inginkan dan ayah pun menyetujuinya tapi Rivan tetap saja menjagaku walau aku sudah menjadi mahasiswi. Ada hal yang sangat membuat aku bahagia, Aldo kini dia menjadi kekasihku dan malam ini aku berencana untuk jalan dengannya, untung saja Rivan sedang sangat sibuk di kantor ayah sehingga aku bisa pergi dengan bebas, dan ayah dia sedang ke luar kota untuk urusan bisnis maka dari itu lah Rivan teramat sangat sibuk di kantor dan ibu dia sedang arisan di luar dengan teman temannya. Oh tuhan apakah malam ini adalah malam keberuntunganku hahaha hatiku sangat senang. Aku dan Aldo duduk di sebuah ruangan yang sangat sepi hanya ada aku, aldo dan beberapa teman Aldo juga ada di sana. Entah apa yang ada di dalam fikiran Aldo sehingga dia bisa meminta hal yang tidak akan pernah bisa aku berikan selain kepada suamiku kelak. Ya jelas aku menolak permintaannya, aku fikir dia akan memaklumi itu tetapi dugaanku salah. Dia malah memaksakan kehendaknya kepadaku, aku langsung mendorongnya dan berlari keluar dia pun mengejarku. Aku berasa tahanan yang sedang dikejar kejar polisi, dan pada akhirnya aku pun menabrak seorang pria berbadan kekar saat aku memandang wajahnya ternyata dia adalah laki-laki yang sangat aku kenal. Dialah Rivan dengan panik aku menceritakan semua padanya dan saat dia mencoba menenangkanku Aldo pun datang “rupanya disini kamu sayang, ayo kembalilah dan tunaikan kewajibanmu padaku” katanya dengan senyum sadis. Aku pun berlari ke belakang tubuh Rivan “tolong aku Rivan, tolong aku” kataku dengan nada sangat takut. Rivan dan Aldo pun berkelahi dan jelas Aldo kalah, kemudian Rivan pun mengantarkan aku pulang.

Di perjalanan aku hanya diam dan masih sangat shock, mobil Rivan berhenti di sebuah warung kopi di pinggir jalan “kita minum teh dulu, nona harus tenangkan diri karena jika nona pulang dengan keadaan seperti ini maka nyonya besar akan curiga dan nona akan benar benar dilarang untuk keluar” katanya. Aku pun menurutinya turun dari mobil dan duduk di sebelahnya, dan teh kami pun datang. Aku meminum tehnya dan hatiku jauh lebih tenang “laki-laki yang menyayangi kekasihnya dengan tulus, dia tidak akan pernah berfikir untuk menyentuh apalagi sampai meminta hal yang biasa istri lakukkan untuk suaminya” perkataan Rivan benar benar membuat aku sadar bahwa Aldo tak sungguh sungguh mencintaiku. Aku tak dapat lagi menahan gejolak air yang memaksa keluar dari pelupuk mataku, ya aku menangis di hadapan semua orang yang sedang menikmati malam di tempat itu. Rivan pun menyodorkan sapu tangan miliknya dan aku memakai sapu tangan itu untuk menghapus linangan air mataku “thank’s van”. “Aduh mengapa istrinya dibuat menangis Seperti itu mas? Kasihan kan istrinya” kata ibu penjaga warung tersebut, dan dengan sewot kujawab “dia bukan suami saya bu”. “Haha aduh ibu ini ada ada saja, mana mungkin nona Randita putri dari tuan Reynaldi Hartanto menjadi istri saya” timbal Rivan sambil tertawa yang sulit diartikan “oalah ini putri dari tuan Hartanto toh.. Pantas cantik sekali” kata ibu penjaga warung itu. Setelah merasa lebih tenang Rivan pun mengantarkan aku untuk pulang.

Sesampainya di rumah ibuku Bertanya “sayang, kenapa mata kamu sembab gitu? Kamu abis nangis?” lalu Rivan tiba-tiba menyerobot ucapanku “iya nyonya dia habis menangis, tadi kita habis nonton film melow drama jadi nona menangis nangis sampai seperti ini”. “Haha aduh Dita kok sampai nangis nangis kaya gini sih lebay banget. Hmm van, kamu itu udah kaya anak saya kenapa kamu panggil saya nyonya? Kamu itu anak saya, jadi panggil saya ibu atau mama yah” kata ibuku sambil mengusap usap punggung Rivan. “Ya udah kalo kalian masih mau ngobrol mending ibu masuk yah” sambung ibu, “mmm van, thank’s udah bantu gue hari ini gue gak tau harus gimana kalau gak ada lo” kataku sambil meundukan wajahku karena malu “Nona, itu adalah kewajiban saya. Tenanglah sampai nona belum menjadi wanita, saya akan menjaga nona. Sekarang ayo masuk dan beristirahatlah” katanya tanpa melupakan senyumannya itu.

2 hari setelah kejadian itu, aku memutuskan sebuah keputusan yang sangat berat aku ambil. Pagi ini aku bergegas mencari ibuku “bu, punya no Rivan gak? Dita mau dong no nya” kataku pada ibuku yang sedang sibuk membantu asisten rumah tangga kami menyiapkan sarapan “ada, coba lihat aja di hp ibu. Tuh ada di kamar”. Aku pun mencatat no nya di handphone ku, dan bergegas menelepon Rivan.
‘Halo Rivan, hari ini jam 3 sore lo bisa gak nemenin gue?’ kataku lewat telepon
‘Bisa. Kemana nona akan pergi?’ jawabnya
‘Taman sari, temui aku disana jam 3’ kataku
‘Baiklah’ jawabnya
Telepon pun kututup dan aku segera bergegas sarapan. Untung saja hari ini tidak ada jadwal kuliah, jadi aku bisa santai di rumah.

Aku menunggu di taman sari, ya aku menunggu Rivan tentunya tapi hari ini tumben sekali Rivan terlambat dan tak tepat waktu. Tiba-tiba datang Rivan di belakangku dengan terengah engah, “nona maaf aku terlambat, hari ini banyak sekali pekerjaan di kantor. Maaf sekali nona”, “it’s oke, sekarang lo tunggu di sini dan pantau gue, kalau ada apa apa lo tolong gue oke” kataku, “nona mau bertemu siapa?” katanya penasaran. Lalu dengan ketus kujawab “lihat dan kerjakan tugasmu!!”, kulangkahkan kakiku dengan rasa yang sangat gugup menghampiri pria yang hampir saja mencuri kehormatanku “sayang, aku tau kamu ke sini karena mau meminta maaf padaku dan menyerahkan apa yang aku mau kan sayang?” kata Aldo dengan nada amat angkuh. Aku hanya tersenyum dan berkata “do, gue mau putus dari lo. Gue bukan cewek murahan yang bisa kasih kehormatan gue buat cowok kaya lo. Sorry gue bukan seperti perempuan yang lo fikir. Bye” tanpa disangka Aldo langsung mencengkram tanganku dan mencoba menarikku ke dalam dekapannya dan jelas aku mencoba melepaskan segala muslihatnya tapi Rivan langsung datang untuk menyelamatkanku dan mereka sempat berkelahi lalu Aldo pun meninggalkan kami dan pergi entah kemana. Jujur aku sangat Shock tapi itulah resiko yang harua aku ambil.

Rivan mengajakku duduk di kursi yang tak jauh dari lokasi kami tadi “itu keputusan yang sangat bijak nona” katanya sembari menebar senyumnya yang sangat manis. aku tak menjawab sepatah kata pun padanya, “nona, bagaimana kalau hari ini nona ikut denganku. saya punya tempat indah untuk menenangkan fikiran” ajaknya, aku hanya memandangnya dan mengangguk.

Setelah 1 jam perjalanan ternyata dia membawaku ke puncak bukit, pemandangannya sangat indah dan setidaknya itu membuat fikiranku jauh lebih tenang “kamu benar van, aku adalah seorang perempuan bukan seorang wanita” kataku lirih dan dia pun tersenyum “suatu saat nanti nona akan menjadi seorang wanita, percayalah”. Setelah sekian lama kami di sana Rivan pun menutuskan untuk mengantar aku pulang, sesampainya di rumah kami disambut ayah “aduhh anak ayah udah pulang, sepertinya kamu sudah bisa menerima keberadaan Rivan” kata ayah. Aku merasa sangat jengah pada perkataan ayah dan tiba-tiba ibu menyambar pembicaraan kami “kayanya akhir akhir ini kamu sering jalan bareng Rivan? Kalian ada hubungan?” tanya ibu antusias. Sungguh aku sangat malas membahas masalah ini sekarang, lalu aku pun menutuskan untuk naik ke kamarku dan beristirahat.

Beberapa bulan kebelakang ini pun aku sering pergi bersama Rivan, dan dia lebih ketat lagi dalam menjagaku jujur aku nyaman dengan penjagaannya. Malam ini tumben sekali Rivan tidak menjemputku di kampus tumben sekali dia tak dapat menjemputku ah tapi sudahlah mungkin dia banyak pekerjaan di kantor.

Sesampainya di gerbang rumah aku melihat mobil Rivan sedang terparkir di sana dan saat aku masuk aku amat sangat terkejut dengan pernyataan ayah padanya “van, saya ingin kamu menikahi Randita”. Rivan pun terkejut dan mengatakan hal yang tak pernah aku duga sebelumnya “tuan, tuan adalah keluarga untuk saya. Tuan bagai ayah untuk saya, tapi maaf saya tidak bisa menikahi nona Randita. Nona Randita adalah cinta pertama saya tapi saya ingin dia mendapat laki-laki yang jauh lebih baik dari saya. Saya sangat mencintainya tapi saya tidak bisa menikahi nona Randita”. Lalu ayah seperti memohon padanya agar dia mau menikahiku “aku mohon, nikahi Putriku. Kaulah yang terbaik untuknya Rivan”. Rivan nampak berfikir dan dia pun mengangguk dan bersedia menikahi aku karena tak tahan aku masuk “ayah?” mereka pun menoleh “sayang kamu udah pulang, ayo masuk” kata ibu seperti panik “aku udah denger semua yah” kataku , “ayah dan ibu sudah tua nak, kami tak bisa selalu menjagamu maka ayah serahkan tugas ini sepenuhnya pada Rivan, bagaimana keputusanmu nak?” kata ayah. “Apapun keputusan ayah aku akan menurutinya” kataku dan mereka pun nampak senang dengan keputusan yang aku ambil ini

3 bulan berlalu setelah Malam itu, aku dan Rivan pun telah resmi menjadi suami istri 2 hari yang lalu. Aku mencoba menjadi istri yang terbaik untuknya, dia juga laki-laki yang amat sangat baik dan bisa menghormati aku sebagai seorang wanita. 1 bulan setelah pernikahan kami aku pun dipastikan hamil, aku cukup senang mendengar kabar baik itu. orangtuaku pun sangat senang, selama 8 bulan setengah dalam masa kehamilan Rivan selalu senantiasa menjagaku dan aku merasa bahagia akan hal itu. Putra pertama kami pun lahir yang diberi nama ‘Vandy Rizkyansyah’ aku teramat sangat bahagia.

Tetapi kebahagiaanku berkurang bahkan sangat berkurang saat aku mengetahui bahwa Rivan memiliki penyakit yang amat sangat mematikan. 3 bulan setelah kelahiran Putera kami Vandy, Rivan dirawat di rumah sakit karena penyakitnya itu. Aku senantiasa menjaganya dan aku menitipkan Vandy pada ibuku, aku merasa begitu lelah karena setiap hari aku harus merawat Rivan sambil harus ke kampus dan menengok putra kami di rumah ayah. Entah mengapa hari ini Rivan ingin aku berada di sampingnya dan tak mengizinkan aku untuk ke kampus dan aku pun menurutinya “terimakasih kamu mau menjagaku, jagalah Vandy dan besarkan dia dengan kasih sayangmu karena dia adalah keturunan kita. karena aku yakin kamu bukan seorang perempuan lagi tapi kamu sudah menjadi seorang wanita. Vandylah yang akan menggantikan tugasku nona Randita” katanya dengan suara terbata bata sambil menggenggam tanganku “kamu ini apaan sih van? Ngomongnya kok kaya gitu, bukan aku yang akan membesarkan Vandy tapi kita yang akan membesarkan dia” kataku. “Aku mencintaimu nona Randita” katanya seperti menahan rasa sakit, dan inilah pertama kalinya aku mengatakan ini padanya “aku juga mencintaimu Rivan” kataku sembari tersenyum dan dia pun membalas senyumanku tapi alangkah kagetnya aku saat dia tiba-tiba menutup matanya. Aku panik bahkan sangat panik, kupanggil dokter untuk memeriksa apa yang terjadi. Setelah dokter memeriksanya dia pun mengatakan “nyonya maaf aku tidak bisa menyelamatkan suami anda. Dia telah meninggal dunia” Katanya penuh penyesalan, aku pun terduduk kaku di lantai rumah sakit.

Ini adalah tahun ke 17 aku menjadi orangtua tunggal untuk Puteraku dan dia sudah berusia 16 tahun menjelang 17 tahun. Aku tak berniat untuk menikah lagi karena bagiku Rivan tidak bisa digantikan oleh siapapun. Hari ini aku dan anakku memutuskan untuk membereskan rumah, saat aku sedang membersihkan lemari tiba-tiba Vandy datang dan berkata “mom, ini buku apa? Aku nemu di tas hitam itu”, aku pun melihat tas hitam yang putraku tunjukkan “lho ini kan tas ayah kamu waktu di rumah sakit. Kok aku baru lihat buku ini” kataku sambil membuka buku itu.
Buku itu berisi curhatan Rivan

‘Hari ini adalah hari pertamaku menjaga nona Randita, dia perempuan yang sangat cantik, matanya yang biru membuat aku larut dalam keindahan matanya. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku melihatnya’

Lalu di halaman selanjutnya

‘Aku sangat marah karena melihat laki-laki brengsek itu hendak menyentuh gadisku tapi dia telah memutuskan keputusan yang sangat tepat dengan memutuskan untuk berpisah dari Aldo laki-laki kurang ajar itu. Jujur aku tidak ingin dia menjadi seorang wanita karena saat dia jadi seorang wanita maka tugasku sudah selesai.’

Air maraku mulai tak tahan ingin keluar saat ku buka halaman selanjutnya..

‘Aku menyetujui untuk menikahi nona Randita dan dia pun bersedia menjadi istriku. Aku sangat bahagia, apalagi saat mengetahui bahwa dia mengandung anakku. Dan akhirnya anakku pun lahir, seorang putra yang kami beri nama ‘Vandy Rizkyansyah’ dia sangat tampan dan matanya berwarna biru sama Seperti Randita, ya wajar saja karena ibu dari Randita adalah warga Amerika yang menikah dengan tuan Reynaldi yang berdarah sunda. Aku rasa penyakitku makin memburuk dan akhirnya istriku pun tau soal penyakitku ini dia senantiasa menjagaku. Tuhan aku sangat mencintai mereka, lindungi dan jagalah mereka’

Air mataku meleleh tanpa bisa ku kontrol, Vandy mencoba menenangkan ku yang tak bisa menahan air mata “mom, Vandy janji Vandy bakal jagain mom Seperti permintaan ayah. Vandy sayang mom. Vandy sayang ayah” katanya. Aku hanya memandang wajahnya lalu tersenyum dan membelai rambutnya.

Aku pun menjalani hidupku berdua dengan putraku karena kedua orangtuaku pun telah tiada, dan akulah yang meneruskan perusahaan ayahku. Kelak jika Vandy sudah dewasa maka Vandylah yang akan meneruskan semua ini…

The end

Cerpen Karangan: Riyu Ningtyas
Facebook: Rida Ayu

Cerita Cintaku Berawal Darimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luka

Oleh:
Suara burung itu mengagetkanku. Entah sudah berapa lama aku duduk di tempat ini. Saat ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul 10 batinku. Cukup lama juga

Autumn (Cinta di Musim Gugur)

Oleh:
Cinta mungkin bisa bersemi pada musim apa saja dan mungkin bisa kapan saja dan dimana saja. Cinta tidak memandang arti sebuah kecantikan dan ketampanan ataupun pintar atau bodohnya seseorang.

Hadiah Terakhir

Oleh:
Bukan pilihan mudah menjadi penulis cerpen atau cerbung, dari banyaknya kalimat hanya beberapa kata yang mendapat pujian selebihnya sampah. Banyaknya ide usang yang sengaja ku pendam rapat memang terlihat

Khayalan Si Bungul 3 (Suatu Kenangan)

Oleh:
Setiap manusia memiliki ceritanya sendiri tentang cinta. Dan di setiap perjalanan cinta selalu ada rintangan dan hambatan di depannya sampai akhirnya kita menemukan titik ujungnya. Ada yang berakhir manis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *