Cintaku Dan Tasbih Darimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

Hari minggu ini ku putuskan untuk fokus memikirkan seorang gadis manis yang bernama Izzah yang selalu memakai kerudung yang hampir menutup seluruh tubuhnya (jilbab syar’i) dan kacamata di sebuah taman yang indah melalui kertas dan goresan pensil. Sembari aku tersenyum melihat wajah yang muncul dari hasil goresan pensilku itu. Ia, Izzah adalah gadis yang sangat aku kagumi yang duduk di bangku kelas XI sebuah SMK di kotaku. Dua hari lalu aku sengaja menunggunya pulang dari rapat OSIS yang biasanya pulang hingga sore untuk mengantarkannya pulang agar dia selamat sampai tujuan. Tujuanku tidak hanya itu sih, selain jalur rumah kita yang searah aku juga ingin selalu dekat dengannya.

“Izam, kamu masih di sini?” sapanya sembari memberikan senyuman kepadaku dan tak lupa dia menunduk tak melihat wajahku. “Iya pulang bareng yuk? Sekalian aku mau ngajak kamu cari novel dulu mau?”
Dia memegang erat buku yang ia bawa dan dia menjawab, “Eee.. maaf Zam aku takut dimarahi sama Umi, kalau pulang terlalu sore bagaimana kalau besok aku sekalian mau mencari buku untuk adikku.” Aku pun mengangguk dan akhirnya kami berdua pulang bersama. Di jalan aku dan dia menceritakan banyak hal hingga tak terasa kami sudah sampai di tempat untuk naik angkutan umum. Sekitar 10 menit kami menunggu akhirnya angkutan pun datang. Aku mempersilahkan Izzah untuk naik terlebih dahulu lalu aku menyusulnya, kebetulan angkutannya kosong jadi aku bisa mengambil duduk yang tepat di depan Izzah.

“Zam..”
“Ada apa?”

Izzah terlihat gugup hendak mengatakan sesuatu tampaknya ku lihat dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya rupanya sebuah tasbih berwarna cokelat yang terbuat dari kayu. “Izam ini untukmu aku minta maaf karena selama ini aku mengagumimu karena sifatmu yang dewasa dan selalu melindungiku, oleh karena itu aku ingin memberikan tasbih ini agar kamu selalu mengingat Allah dan mengingatku jika aku telah pergi suatu saat nanti.” Katanya sembari tersenyum kepadaku dan untuk yang pertama kalinya ia menampakkan wajahnya padaku.

“Izzah apa kamu tahu? Aku juga mengagumimu, dari awal aku mengenalmu aku telah kagum pada sifatmu yang apa adanya. Dan kamu tidak usah minta maaf padaku karena kamu tidak salah, aku terima ya tasbih dari kamu.” Setelah aku menggenggam tasbih pemberiannya angkutan yang kita naikki tiba-tiba terasa terpental dan aku membentur kaca, di situ sempat ku lihat kerudung Izzah mulai memerah dan aku menggenggam tangan Izzah yang halus itu, “Bertahan Izzah,” dia tersenyum ke arahku. Aku tidak mengingat apa yang terjadi setelah itu, namun saat aku membuka mataku aku sedang terbaring di ruangan sepertinya rumah sakit. Saat aku mulai tersadar aku sontak bangkit.

“Izzah..” aku meneriakkan itu lumayan kencang membuat 2 orang yang ada di sebelahku menoleh kepadaku.
“Dokter di mana teman saya? Katakan dia baik-baik saja kan, Dok?”
Dokter itu mengelus pundakku agar aku tenang dan dengan wajah yang sedikit kecewa beliau berkata, “Maaf kami tidak bisa menyelamatkan teman adik.”

Bagai remuk rasanya jantungku saat aku mendengar itu. Ternyata tasbih itu dan kata-kata yang dia ucapkan tadi adalah untuk yang terakhir kalinya bagiku. Aku sangat terpuruk, semua temanku berusaha untuk menghiburku, namun tetap saja tidak ada yang bisa membuatku tersenyum. Namun saat aku tertidur di tengah air mataku yang mengalir Izzah datang menghampiriku. “Izam di mana senyummu yang selalu membuatku semangat, aku ingin melihatmu tersenyum lagi. Dan aku mohon mulailah harimu seperti selayaknya aku tidak mau kamu menyiksa dirimu sendiri.” Aku langsung terbangun dari tidurku dan aku berkata dengan diriku sendiri. ‘Izzah aku akan tersenyum untukmu, aku akan menemuimu di surga suatu saat nanti.’

Dan hari ini dengan air mata yang menetes di atas lukisan wajah Izzah yang ku buat sendiri. Ku langkahkan kakiku ke arah sebuah makam yang bertuliskan, “Fatimah Aizzahra” dan aku meletakkan lukisan itu di samping nisan dan mendoakannya karena hanya ini caraku untuk melepas rindu kepadanya.

Cerpen Karangan: Imro’atun Maghfiro
Facebook: Imro’atun Maghfiro
Hai namaku Imro’atun Maghfiro teman-teman biasanya memanggilku Miun, umurku 16 tahun dan sekarang aku belajar di SMKN 1 jombang jurusan akuntansi
ini adalah karya pertamaku selamat membaca. 🙂

Cerpen Cintaku Dan Tasbih Darimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kereta Bawah Tanah

Oleh:
Suara roda bercampur dengan rel kereta di kejauhan terdengar oleh telingaku. Aku bangun dari dudukku, memanggul ranselku, dan berdiri di pembatas masuk kereta. Suasana sepi di stasiun bawah tanah

Ketika Bintang Jatuh Cinta pada Hujan

Oleh:
Siang ini rintik hujan menyapa tepat begitu sepasang sepatu kets kesayanganku hendak melangkah keluar rumah. Semilir angin berhembus dan membuat setiap tengkuk yang dilewatinya bergidik kedinginan. Dua lapis baju

Sampai Jumpa, Surfboard

Oleh:
Ku langkahkan kaki ini menuju tempat yang dipenuhi pasir putih. Ya. Tempat itu adalah pantai. Ku lihat pondok-pondoknya mulai dibongkar karena memang, musim panas kali ini akan segera berakhir.

Antara Kau dan Kejora

Oleh:
Pohon yang berjulang tinggi, menguak rindang pada dedaunan. Sepoi-sepoi angin pun mendesau, melambaikan dedaunan dan rerumput seolah-olah menyambut suasana malam yang hening. Malam ini, aku begitu setianya duduk mesra

Peri Cintaku

Oleh:
Akhirnya sampai juga, batinku. Dalam perjalanan tadi sungguh menyebalkan. Seperti biasa, di tengah senja jalanan ibu kota pasti ramai dipadati pengunjung. Pengunjungnya bukan sembarang pengunjung, tapi pengunjung yang antri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *