Cintaku Tak Akan Padam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 August 2015

Masih ku ingat tentang hari itu.

“bi kita putus, aku udah gak sanggup pacaran sama orang yang egois kayak kamu” kata-kata itu mengalir begitu saja tanpa aku sadari.
“hah? Kamu gak bener-bener bilang itu kan de. Dea kamu bohong kan? Aku bakal perbaiki sikapku asalkan kamu gak mutusin aku, aku mohon de,” Abi pun memelas untuk menolak keputusanku.
“gak aku serius, bye!” aku berlari meninggalkan Abi yang masi berjongkok di taman tempat favorit kami.
“maafin aku bi, aku lakuin ini agar kamu bahagia aku sungguh sungguh menyesal”

Tak terasa air mataku jatuh dari pelupuk mataku, seketika itu pintu kamar tempatku berada dibuka.

“Eh cengeng nangis lagi, lo” kata Dena ya kalian pasti tahu kami kembar, Dena yang lebih seksi, lebih cantik dia sehat tak seperti aku, aku sakit-sakitan aku harus menghAbiskan sisa hidupku di rumah sakit dengan badan kurus pucat. Ya inilah alasanku mengapa ku putuskan Abi saat itu, aku gak ingin dia melihatku tersiksa dan aku membuatnya tersiksa, cukup sudah semua, sampai saat ini aku dengar Abi masih belum bisa move dari aku, aku pun begitu. Lalu ide gila muncul di kepalaku.

“Den, aku mau minta tolong, ini permintaanku yang terakhir. Sebelum tuhan memanggilku” ucapku lirih.
“Kak ngomong apaan sih. De, inget ya lo itu gak bakal ke mana-mana lo bakal tetep sama gue, gue gak mau pisah sama kembaran gue, gue gak mau” isak Dena, yah dia Adikku memang kelakuannya kasar namun dia sangat lembut dan mudah menangis.
“Ngapain kamu nangis Den, toh kamu juga udah tahu kan? Hidupku gak lama lagi, kankerku udah sampai batasnya cepat atau lambat semua akan berakhir, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku, kalau kamu nolak aku gak mau kemotrapi” ancamku.
“jangan bawa-bawa kemo dong, itu kan untukmu sayang! oke gue lakuin kemauan lo, emang apa?” tanya Dena sambil membersihkan air matanya.
“aku mau..”

Hari itu Dea pun jalan-jalan dengan Miko, dari kejauhan Dea mendengar seseorang yang memanggilnya dengan suara yang tak asing lagi di telinganya.

“Dea?” Abi menjerit memanggil Dea yang menyamar jadi aku.
“Iya?” Dea pun menoleh.
“Sapa dia sayang?” tanya Miko manja sambil mencium pipi Dea.
“Eh kamu, Mik. Miko ini Abi mantanku, Abi ini Miko tunanganku.” sahut Dea sambil memperkenalkan Miko dan Abi.
“Miko.” kata Miko sambil mengulurkan tangan seraya menjabat tangan, karena tidak dibalas Miko pun menurunkan tangannya.
“De.. apa ini alasanmu meninggalkanku untuk cowok ini? Hah? Apa benar? Dia? Dia tak jauh lebih baik dari pada aku, dia seperti banci yang hanya bisa merebut pacar orang. Hey, banci apa kau sudah tak laku? Hah?” kata Abi termakan emosi.

PLAKK!! Sebuah tamparan mendarat di pipi Abi, pipi yang tadinya mulus kini sudah terlukis dengan sebuah cap tangan Dea.

“Dea?” ucapnya dengan memegang pipinya yang perih.
“Abi, jaga omonganmu, Miko adalah cowok terbaik yang pernah ada, tak sepertimu dia jauh lebih baik dari kamu, ayo Miko kita pergi dari sini aku sudah muak melihat seseorang yang hanya mementingkan dirinya sendiri.” kata Dea sambil menggandeng Miko dan berlalu dari tempat itu.
“Dea! Dea!” teriak Abi penuh dengan kemarahan.

Hari demi hari Abi habiskan dengan merenung, kini dia sadar bahwa Dea sudah tidak mencintainya lagi.

“haha, untuk apa aku pikirkan cewek yang tak mencintaiku lagi, toh dia sudah punya dambaan hatinya sendiri?” Abi pun meraih handphone-nya dia mencari cari nomor di kontak Hp-nya itu dan menelpon.
“Vi, kamu mau gak jadi pacarku?”
“Hah? Kakak beneran?” kata seorang cewek di seberang dengan riang.
“Ya aku beneran, aku pikir-pikir aku mulai nyaman denganmu aku mulai jatuh cinta denganmu, haha kamu udah luluhin hatiku, Vi. Gimana Vivi kamu mau gak jadi pacarku?” jawabnya panjang lebar.
“Ya, kak Vivi mau!” jawab Vivi mantap.
“Sayang kita kan udah pacaran? Mau sampe kapan kamu manggil aku Kakak?” kata Abi lembut.
“Maaf, kak.”
“Kan Kakak lagi, panggil namaku, toh kita hanya beda 1 tingkat kan?”
“Iya kak, eh iya Abi.” jawabnya ragu-ragu.

Hari-hari mulai berlalu, kini Abi sudah memiliki kekasih baru yang amat ia cintai, dia sudah melupakan Dea dengan maksimal.

Suatu hari saat Abi akan pergi ke cafe dengan Vivi, ada seseorang yang mencegahnya pergi dengan menyalip jalan Abi dan menghentikan mobil tepat di depan sepeda motor Abi. Otomatis Abi pun mengerem dengan kuat untuk menghindari tabrakan.

“Eh, lo gila ya?” teriak Abi dengan keras sambil melepas helmnya.
“Sayang, tenang.” kata Vivi menenangkan Abi.
“Gimana mau tenang say? Kalau kita tabrakan gimana?” emosi Abi menjadi-jadi.

Nampak seorang cowok keluar dari mobil, cowok itu sepertinya udah gak asing buat Abi.

“Eh, lo? Eh lo mau gue hajar hah? Lo mau ngebunuh gue hah? Belum cukup apa lo siksa gue?” teriak Abi pada Miko.
“Udah gak ada waktu buat lo marah-marah, lo ikut gue sekarang.” sahut Miko.
“Ikut lo? Ogah!” bentak Abi.
“Sayang, sabar dong!” Vivi mencoba menenangkan.
“Lo mau ikut atau lo nyesel seumur hidup lo.” kata Miko sambil masuk ke dalam mobilnya.
“Udahlah sayang kita ikutin aja, mungkin memang ada hal mendesak.” saran Vivi pada Abi.

Abi pun mengikuti mobil Miko dari belakang, tak lama dari itu mobil Miko berhenti di sebuah rumah sakit yang besar yaitu R.S MUTIARA KASIH. Dan saat itu pula perasaan Abi mulai tak enak.

“Lo mau apa ke Rumah sakit?” tanya Abi sinis.
“Ikut gue masuk.” jawab Miko dengan datar.
“Ayo, sayang.” ajak Vivi.

Nampak kejauhan di depan Ruang Operasi terlihat seorang cewek yang sedang menangis tersedu-sedu dan melihat Miko berjalan dia pun memeluk Miko.

“Sayang, Kakak, Kakak” teriak cewek itu.
“Oh, jadi ini yang mau lo tunjukin, kemesraan lo sama Dea? Puas lo? Sorry gue udah punya Vivi cewek yang gue sayang” kata Abi marah. “Ayo, sayang kita pergi” sambung Abi sambil menggenggam tangan Vivi.
“Kak Abi aku.. aku.. aku bukan Kak Dea, aku Dena.” teriak Dena.
“Permainan apa lagi yang lo buat de? Lo belum puas apa nyakitin gue?” teriak Abi.
“Please kak, dengerin aku dulu.” isak Dena sambil sujud seketika itu Miko pun menangis.
“Ada apa ini?” tanya Vivi.
“Udahlah say, mereka hanya 2 manusia tak punya hati.”

PLAK! Tamparan keras mengenai pipi Abi, dan tamparan itu berasal dari Dena.

“Puas?” tantang Abi.
“Maaf kak, aku gak bermaksud aku hanya ingin menceritakan kejadian sebenarnya, sebelumnya aku perkenalkan diriku aku Dena Agustin Saputri, mungkin Kakak mengiraku Kak Dea, nama kami, muka kami, postur kami, segala yang ada padaku memang sama persis, itu karena kami kembar identik. Kakak masih gak percaya? Kami dilahirkan dari pasangan Desy dan Nazir Gunawan. Kak Dena gadis yang ceria, yang baik, hingga pada hari itu Kakak tervonis kanker darah stadium akhir.”
“Apa ini ada hubungannya dengan kenapa dia mutusin aku?” tanya Abi.
“Ya, Kakak mungkin mikir Kak Dea udah gak sayang sama Kakak, tapi itu salah kak, sampe akhirnya dia mutusin Kakak itu karena Kak Dea gak mau Kak Abi jadi kesiksa melihat Kak Dea sakit-sakitan.”
“Oh, tuhan. Aku memang bodoh!” kata Abi sambil memukul kepalanya.
“Sayang, udah.” teriak Vivi menenangkan.
“Pada akhirnya Kak Dea ngambil jalan mutusin Kakak, dengan alasan gak masuk akal. Dia tersiksa, dia selalu ingin sembuh, namun akhirnya Kak Dea sadar bahwa Tuhan akan mencabutnya, mama sama papa udah ngedatengin seluruh dokter terbaik, namun nihil. Karena Kakak belum bisa move on dari Kak Dea, Kak Dea selalu mencari cara, sampai akhirnya hari itu”

“Aku mau kamu nyamar jadi aku den, aku mau kamu bikin Abi benci sama aku. Dia gak akan bisa ngenalin kamu sebagai Dena karena dia gak kenal kamu. Please den.. aku mohon banget, ini permintaanku yang terakhir. Miko aku juga minta tolong sama kamu,” ucap Dea memelas.
“Oke, aku bantu, asal Kakak kemoterapi ya?” bujuk Dena.
“Aku juga.” jawab Miko mantap.
“Kamu pergi ke tempat-tempat yang sering Abi datengin, yakinkan dia bahwa aku udah gak cinta sama dia”
“Kakak..”
“Den.. kamu kan udah janji?”
“Iya..”

“Sampai akhirnya Dea, udah sampe batasnya dia udah gak bisa ngendalikan sakitnya, dan dia masuk Ruangan itu.” Miko angkat bicara sambil menujuk Ruang operasi.
“Kak Dea memberikan ini sebelum dia masuk ke Ruang Operasi tadi.” Dena pun memberikan sebuah amplop dengan banyak darah.
Abi pun membaca surat itu.

“untuk Abi tersayang.
Maafkan aku, maaf beribu maaf aku ucapkan. Aku gak bisa jadi cewek yang terbaik untuk kamu. Aku tahu kamu sudah memiliki dambaan hati lain. Aku lihat dia sangat cantik. Dena memberi fotonya padaku. Sayangku.. aku minta maaf aku gak bisa jujur akan keadaanku, aku gak mau kamu sedih karena aku, aku ingin kamu bahagia. Aku gak punya keberanian untuk memberitahumu akan penyakitku, aku tak pantas bersanding denganmu. Kamu begitu bersinar sayang kamu harus lebih bahagia bersama dia dari pada denganku, aku harap kamu gak marah sama Dena dan Miko. Abi sayang.. hiduplah bahagia, raihlah mimpimu.. asalkan kamu tahu Cintaku Tak Akan Padam. Aku akan selalu mencintaimu walau aku tak bisa bersamamu. Makasih udah jadi malaikatku. Aku sayang kamu.
Dari DEA”

Air mata Abi mulai jatuh setelah membaca surat yang ditulis Dea, dokter pun keluar ruangan.

“Dokter..” teriak Dena.
“Maaf Dena.. Dea sudah tidak bisa bertahan.” ucap dokter lirih.
“Aku turut berduka.” ucap Vivi.
“Kakak! Miko, Kakak. Kakak! Kakak bohong dia bilang akan, akan…” tangis Dena pun pecah.
“Udah sayang, udah.” Miko mencoba menenangkan Dena.
“Sabar..” sambung Vivi dengan air mata.
“Dea selamat jalan, aku akan tetap mencintaimu selamanya, walau aku sudah memiliki Vivi, kamu tetap yang pertama dan terakhir untukku.” ucapnya dalam hati sambil menatap Vivi.

Cinta sejati adalah cinta yang tak akan padam walau raga telah menghilang, walau nyawa telah pergi. Jagalah cintamu dan kekasihmu.

The End

Cerpen Karangan: Hera Suara wana karsa
Facebook: Rarra Hera
HALO, aku Hera Suara wana karsa. kepanjangan ya? panggil aku rarra, aku lahir tanggal 12 April 2000, aku sekolah di SMPN 1 RAMBIPUJI. aku gak pandai menulis tapi aku suka. Semoga kalian suka karyaku

Cerpen Cintaku Tak Akan Padam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Move On

Oleh:
Kau acuhkan ku, kau diamkan aku, kau tinggalkan aku, lumpuhkan lah ingatanku hapuskan tentang dia, hapuskan memoriku tentangnya, hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia, ku ingin ku lupakannya Terdengar

Aku Atau Sahabaku

Oleh:
Kadang kita sering terbengkalai atau termenung mendengar kata CINTA, Apa itu Cinta?, mungkin semua orang mengetahui apa arti Cinta. Cinta memang harus dimiliki oleh semua makhluk tuhan di dunia,

Diary Abangku

Oleh:
Ini aku tulis untuk menjadi kenangan bagi kalian yang membaca ini karena perjalananku tidak akan panjang lagi, garis akhirku terasa semakin dekat. Aku tidak tahu darimana semuanya ini berawal.

I Always Love You

Oleh:
Pada hari itu seorang gadis terlambat masuk sekolah setelah melewati pekan liburan. Gadis itu bernama Evita Wulandasari Bunga Zainal siswa dari SMA ternama di jakarta. Saat sampai di sekolahnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *