Couple

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 20 February 2016

Aku bisa melihatnya. Sinar jingga yang muncul di balik laut. Aku tetap menatapnya sendiri. Meski sudah terasa di sekitarku mulai sepi. Aku hanya merasakan angin sore menjelang malam. Kadang tak ku hiraukan siapa pun yang melewatiku duduk sendiri. Pasir ini sangat dingin. Aku mendengarnya, langkah kaki yang mulai mendekat ke arahku dari belakang. Lalu duduk di sampingku senyamannya. “Apa kamu sedang memikirkanku?” suaranya sangat ku kenal. Aku hanya menoleh ke arahnya. Lalu balik menatap langit yang mulai menghitam.

“Apa yang perlu aku pikirkan darimu?”
“Terus saja simpan perasaan itu.”
“Oke.”
“Hampiri aku jika kamu ingin memberitahunya.”
“Aku selalu ingin memghampirimu untuk memberitahumu. Tapi selalu saja kamu yang selalu menghampiriku lebih dulu.”
“Oh… Mungkin sebaiknya aku tidak perlu menghampirimu saat kamu sendiri begini.”

Aku langsung menatapnya melotot. “Baiklah. Kamu sepertinya mulai menjengkelkan.”
“Mana mungkin aku sampai membuat jengkel orang yang aku cintai.”
“Aku sudah tahu itu.”
“Tapi aku tidak pernah tahu kalau kamu juga mencintaiku?”
“Makanya, kamu harus cari tahu.”
“Aku sudah tahu. Kamu juga suka aku kan? Jujurlah.. Mukamu merah..”
“Hari mulai gelap seperti ini, bagaimana kamu bisa melihat mukaku yang memerah?”
“Itulah hebatnya pria sejati.”

Terkadang aku ingin mengatakannya tapi juga ingin minta maaf kepadanya. Aku sedih melihatnya, kadang juga senang saat mengenangnya. Maaf!
“Marsha? Ada apa denganmu?” suaranya sangat lembut saat mengkhawatirkanku.
“Apa aku terlalu jahat kepadamu, Valdi?”
“Tidak. Kamu sangat baik bagiku.”
“Bukan itu. Aku selalu ingin minta maaf kepadamu, tapi aku takut jika kamu tidak pernah memaafkanku.”
“Kamu tidak pernah membuat kesalahan kepadaku. Apa yang salah padamu?”
“Perasaanku.”
“Aku sudah tahu, kamu tidak mencintaiku kan?”
“Apakah aku boleh memelukmu? Hanya untuk saat ini dan selamanya.”

Tubuh tegap itu langsung memelukku hangat. Memang dialah pria sejati itu. Aku selalu ingin memilikinya, namun tak akan pernah bisa untuk selamanya.
“Aku mencintaimu, Valdi. Aku mencintaimu.”
“Lalu apa maksud ucapanmu tadi?”
“Apa kamu pernah menyadarinya? Karena aku baru menyadarinya.”
“Apa?”
“Kita lahir dari Ibu yang sama.”
“Apa?! Kata siapa?”
“Aku mulai mengerti kenapa Ibuku selalu melarangku jika bersamamu. Apa kamu mau memaafkanku?”
“Aku tidak tahu.”
“Apa kamu marah? Marah saja! Kamu pantas marah! Apa kamu menyesal?! Benci saja aku! Benci aku sebagai musuhmu! Benci saja aku Val!!”
“Mana bisa aku membenci orang yang aku cintai?”
Untuk yang kesekian kalinya, aku lebih memilih untuk tidak mengenalmu saja. Terlalu buruk untuk dapat mengenalmu.

Cerpen Karangan: Anjar Desynta Arum
Facebook: Anjar Desynta Arum

Cerpen Couple merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Namanya Safhira

Oleh:
Bel pulang sekolah telah lama berdering. Kelas-kelas telah mulai kosong. Banyak siswa telah pulang, tapi tidak denganku. “Kamu belum pulang Put?” suara Anita yang menggugahku dari lamunan. “Masih nunggu

Spring Day End

Oleh:
Waktu menjadi berjalan lambat saat kau benar-benar kehilangan seseorang. Saat dia benar-benar tak ada di sisimu lagi, hidupmu menjadi semakin kosong. Tak ada lagi tawanya, senyumannya, bahkan deru napasnya

Penantian Tak Berujung

Oleh:
“Beib bolehkah aku besok pergi ke Jakarta untuk menggantikan posisi Ayahku di perusahaannya?” ucap Dimas kekasih Mya. “Emm, kenapa secara mendadak begini?” ucap Mya. “Maafkan aku sayang, tapi Ayahku

Hafsah dan Replika Purnama

Oleh:
Seperti biasa, langit yang cerah tak memberikan isyarat apapun tentang sesuatu yang akan terjadi hari ini. Kepulan asap dari permukaan secangkir teh seakan menari mengiringi waktu santai di akhir

Membuang Lembar Kelabu

Oleh:
Dicky “… dia… gadis yang baik” tertatih, “aku yakin dia yang terbaik, dan… dapat menjadikanmu lebih baik…” itulah kata-kata terakhir dari Syira untukku. “Tit……….” “sayang…” bisikku dengan mengelus rambutnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *