Cuaca Berbicara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 December 2013

Setiap rintikannya akan selalu aku ingat. Semuanya.

Cuaca hari ini sangat cerah. Entah mengapa hatiku pun begitu berbunga. Senyuman terus terukir di wajahku. Sambil terus menatap layar ponsel. Tak sabar aku ingin memberitahukan kabar baik ini pada sahabatku. Raisa. Segera aku mencari kontak Raisa di handphone-ku, lalu menekan tombol untuk memanggil..

Tut… tut.. tut..
“Hallo..”
“Hai sa! Bangun lo!”
“Siapa nih?”
“Buset deh ini anak, makannya kalau angkat telpon liat dulu siapa yang nelfon. Melek makannya!”
“Hah? Oh elu din, apaan sih pagi pagi. Ganggu tidur gue yang nyenyak ini..”
“Sa! Lo harus tau! Tadi malem gue diucapin good night dong sama…”
“Sama siapa? Elah gitu doang. Gak penting you know!”
“Lo harus tau sama siapa nya…”
“Emang sama siapa sih?”
“Biyan…”
“WHAT?! Lo gak lagi becanda kan? Apa lo masih di alam bawah sadar?”
“Ih suerrr sa gue gak lagi becanda. Ini fakta!”
“Kok bisa? Sumpah gue langsung melek denger ini! Dan gue yakin lo pasti lagi senyum senyum sendiri. Iya kan?!”
“Hahaha, menurut lo? Dan yang lebih gilanya lagi…”
“Apa gak?”
“Gue mau ketemu sama biyan. Today! Entar sore!”
“Wah parah nih parah! Gak tau kenapa gue mendadak bahagia gini. Congrats my baby balabala! Akhirnya setelah bertahun tahun tak berjumpa sama dia, hari ini lo bakalan melepas kangen.”
“Iya doain, semoga aja cuaca mendukung ya.”
“Kayaknya cuaca bakalan dukung lo nih.”
“Semoga… ya udah ya. Gue Cuma mau sekedar ngasih info ini. Babay.”

Senyuman masih terpapar di wajahku. Aku tak bisa menghentikan ini. Aku melihat jam di tanganku. Masih tersisa 15 menit untuk mempersiapkan diri sebelum bertemu Biyan. Biyan, siapa yang tidak tahu biyan. Siapa yang tidak tahu perasaan seorang dinda terhadap biyan. Semua hal itu telah menjadi rahasia publik. Biyan adalah orang yang aku kagumi selama 4 tahun. Mungkin, nanti aku akan mengaguminya lebih lama lagi. Sudah sekitar 2 tahun aku tak pernah berjumpa dengannya. Melihat wajahnya dan mengetahui keadaannya hanya sebatas lewat media sosial. Dan hari ini… aku akan bertemu dengannya. Entah ada bom apa di tubuhku, rasanya aku ingin meledak sekarang juga. Aku bilang pada biyan, untuk menunggu di taman sekitar komplek rumahku jam 3. Dan biyan langsung mengiyakannya. Aku tidak sabar ingin melihat wajah biyan dari dekat. Khayalanku mulai berterbangan. Sampai akhirnya ada yang menyadarkanku….
“Hai..”
“Eh bi… biyan?”
“Hai apa kabar din?” Tanya biyan sambil mengulurkan tangannya.
“Ba.. baik.” Aku tergagap. Keringat dingin mengguyuri tubuhku dengan cepat. Jantungku rasanya mencelos. Aku terus menatap biyan. Rasanya aku ingin menghentikan waktu sekarang juga.
“Din? Dinda.. hey kok ngelamun?”
“Hah? Eh iya maaf.”
“Gak akan nanya kabar aku nih?” sambil tersenyum.
Deg.. jantungku kali ini benar benar berhenti berdetak untuk beberapa detik. Senyumannya begitu manis. Tuhan.. jika ini mimpi berikan aku tidur yang amat sangat panjang.
“Oh iya, kamu apa kabar juga?”
“Baik juga kok, udah lama nunggu disini?”
“Enggak kok bentar.”
“Gak panas? Cari tempat ice cream yuk.” Ajak biyan sambil menarik tanganku.
“Jalan kaki gak apa apa kan? Tadi aku kesini pakai taksi soalnya.”
Aku tak menjawabnya. Aku hanya mengangguk sambil terus menutup mulutku. Rasanya aku ingin berteriak sekencang kencangnya.
“Tuhan, terimakasih atas cuaca hari ini.” Ucapku dalam hati.

“Udah sore nih din, aku harus buru buru. Aku ada janji juga sama temen.”
“Oh iya, kamu naik apa?”
“Disini nyari taksi yang deket dimana ya?”
“Di depan sana.”
“Ya udah, nanti aku ke depan sana aja.”

Hujan pun tiba-tiba turun..

“Eh, tapi hujan..”
“Gak papa, aku buru buru soalnya.”
“Aku anterin deh ya.”
“Gak usah, ngerepotin.”
“Udah gak papa, sekalian aku mau pulang juga.”

Aku berjalan menyusuri rintikkan hujan sampai ke ujung jalan. Sampai pada akhirnya senyumku tertahan. Ada seorang wanita melambaikan tangannya ke arahku. Bukan, nampaknya ke arah biyan. Siapa wanita itu? Pikiranku melayang. Wanita itu menghampiri biyan.

“Yuk.”
“Eh kamu kok ngejemput kesini?”
“Iya soalnya aku tau mobil kamu lagi di bengkel. Jadi ya aku bawa mobil deh buat jemput kamu.”
“Oh iya din, kenalin. Ini diva. Div, ini dinda.”
“Oh hai dinda.” sambil mengulurkan tangannya.
Aku hanya membalas sapaan tangan diva. Otakku tak henti berpikir. Diva? Siapa diva ini…
“Din, kita duluan ya. Dah. Makasih, jadi ngerepotin.”
Aku hanya membalas dengan senyuman. Biyan melambaikan tangannya. Aku pun membalas lambaian tangannya. Aku menyusuri jalan pulang dengan tak henti mengukir senyum. Hujan tak aku pedulikan. Cuaca kini tak sesuai dengan apa yang sedang aku rasakan. Tiba tiba handphone-ku berdering, ada satu pesan singkat dari Raisa. Aku segera membukanya.

“Din, lo beneran jalan sama biyan? Gue barusan iseng liat bbm biyan. Di status bbm nya ada nama diva. Dia punya cewek? Lo tau kan? Apa gimana sih, gue jadi bingung.”

Aku terpaku membaca pesan dari Raisa. Diva? Diva kan cewek yang barusan. Jadi itu…

Aku tertunduk di bawah hujan. Setiap rintikannya akan selalu aku ingat. Semuanya.
Obrolan aku dan biyan, dan obrolan antara aku, biyan dan diva. Semuanya terjadi di bawah rintikan hujan.
Sekarang aku tau. Kenapa hujan begitu tiba tiba turun. Sama seperti hatiku yang tiba tiba hancur.

Aku berusaha tersenyum sambil menengadahkan kepalaku ke langit.
“Ternyata cuaca yang berbicara.” Ucapku.

Cerpen Karangan: Jihan Eka Mufidah
Blog: jihanekam.blogspot.com

Cerpen Cuaca Berbicara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apakah ini Takdir?

Oleh:
Pagi itu tepat pukul 4.30 aku terbangun, rupanya getar ponselku yang menjadi akibatya. Entah siapa yang meneleponku di pagi buta seperti ini, tapi rupanya inilah yang menjadi petunjuk tentang

Di Penghujung Waktu

Oleh:
Kisah ini tercipta karena kerinduan yang memaksa hati untuk tetap diam dalam pengabaian. “akan selalu ada ruang tersendiri di hatiku untukmu” itulah ucap yang kurindu, ya! Aku percaya itu.

Separuh Coklat Hati

Oleh:
Aku terlelap dalam mimpi indah ku yang mampu membawa ku dalam ketenangan. Entah sampai kapan laki-laki separuh baya ini masih menemani di sampingku. Setelah aku sadar kehadiran laki-laki ini

Bukan Permainan

Oleh:
“Hai angin bisakah kau berhembus kencang dan menerbangkan rasa sakit yang kini hinggap di hatiku? Atau bisakah kau mengatakan kepadaku apa kau bisa menghilangkan rasa sakit? Tolong… bawa semilir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *