Dalam Balutan Tawa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 28 January 2014

Rasanya, pagiku akan terasa lebih menyenangkan jika selalu mendapatkan senyum terindah itu. Satu senyuman yang selalu saja melebur setiap kegalauan di hatiku.
“Reyna, apa kamu tidak lelah untuk selalu tersenyum heuh?” candaku dengan mimik serius.
“Aish, kamu ini! Jangan jadikan dirimu seperti namamu itu, Rain!” balasnya tak mau kalah.
Aku terkekeh geli mendengar racauan bibirnya, beraninya ia mengejek nama indahku ini.
“Ish, jangan ejek namaku!” rengekku sembari menampakkan ekspresi kesal.

Kuakhiri percakapan pagi itu karena dentingan lonceng yang telah menggema dari arah ruang guru.
“Kita jumpa istirahat nanti, kutunggu di perpustakaan ya!” teriaknya sembari berlari-lari kecil menghampiri ruangan bertuliskan XII IPA 1.

Dentingan lonceng telah tergantikan oleh bel yang berbunyi nyaring, sebagai pertanda bahwa lampu yang sejak pagi padam telah kembali menjalankan tugas militernya.

“Hey, sedang membaca apa?” ujarku membuyarkan aksi membacanya.
“Aish, Rain!!! Kembalikan bukuku!” balasnnya dengan nada kesal karena aktifitas jahilku mengambil buku yang semula bertengger manis di telapak tangannya.
“Hahaha, baiklah! Ini bukumu, huh sama sekali tidak menarik untuk dibaca!” kataku sinis setelah membolak balik buku miliknya.
Ia yang semula sibuk mengocehpun tidak jelas pun terdiam dengan menambahkan sebuah bibir yang lebih dicondongkan ke depan.

“Rey, kenapa akhir-akhir ini kamu menyukai buku-buku membosankan itu?” tanyaku penasaran.
Bagaimana tidak, satu hari yang lalu aku telah melihatnya melahap habis sebuah buku membosankan berjudul ‘Lebih mengenal Hemofilia’ setelah sehari sebelumnya ia juga melahap habis sebuah buku ‘Penyakit Penyakit Mematikan’. Dan di hari ini, aku melihatnya tengah asyik melahap buku yang cukup tebal bertema akan penyakit ‘Leukimia’.
“Memangnya tidak boleh? Buku-buku beginian sangat memberi informasi tahu! Daripda kamu, hanya sebatas kertas bergambar kartun yang dipadukan bersama beberapa teks singkat di sisinya.” Protes Reyna degan mimik mengejek akan segala hobi membaca komikku.
“Walau begitu, komik itu sangat menyenangkan dari pada buku-buku favoritmu itu. Ish, buku-buku tebal yang menguras banyak tenaga dan waktu!.” Elakku tak terima.
“Haha, sudahlah. Ini sama sekali tidak lucu Rain Anggara! Lebih baik kita mengisi lambung yang telah menagih jatah makannya.” Balasnya dengan ekspresi seseorang yang sangat lapar.

Tiga hari sudah aku tak pernah berjumpa dengannya. Dengan gadis cantik yang saat ini tengah sibuk memenuhi tugas militernya sebagai seorang siswa terpandai di sekolah untuk meraih prestasi di olimpiade sains.
“Berjuanglah! Semoga berhasi!” tulisku melalui salah satu aplikasi yang tengah mendapat posisi ‘number one’ di Indonesia.
“^_^, thanks!” balasnya di beberapa menit kemudian.

Setelah lima hari menunggu kedatangannya, akhirnya aku kembali menemukan senyum keceriaannya disini. Di sebuah tempat yang telah mendiami hatinya hampir tiga tahun lama. Lagi-lagi aku mendapatinya tengah serius dengan membaca buku setengah tebal yang disana bertuliskan ‘Menyikapi Leukimia’ dengan tinta berwarna putih. Terlihat kontras dengan cover hitam yang membungkus erat buku berlembar hampir seratus itu.
“Aku merindukanmu!” ungkapku dengan mengulurkan satu senyuman padanya.
“Aku bahkan tidak kepikiran denganmu!” balasnya dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.
“Oh, baiklah. Aku pergi!” ucapku berlagak marah dan kecewa.
“Rain.. aku hanya bercanda! Kamu ini, kaya anak kecil saja!” celotehnya dengan perkataan yang mengundangku tertawa geli.
“Hahaha, sudahlah ayo kita makan. Kali ini aku traktir untuk merayakan kesuksesanmu meraih juara 1!” sahutku dengan menarik-narik tangan Reyna.

Karena kesibukanku dalam mengalihkan jabatan ketua Osis, aku kembali tak bisa berjumpa dengan senyum manisnya. Kurasa, aku hampir gila karena memikirkanmu, Reyna.
“Rain, Reyna sakit apa sih? Sudah tiga hari dia nggak masuk.” Adu Farza, teman sebangku Reyna.
“Apa? Yang benar Za?” tanyaku kaget.
Tanpa menjawab pertanyaan Farza, dengan langkah cepat kularikan tubuhku menuju tempat parkir motor kesayanganku. Setelah mendapat informasi dari pembantu rumah tangga Reyna, kulajukan segera ninja motorku demi menghampiri Reyna yang katanya sedang dalam masa kritis.
“Reyna kritis Rain..” beritahu tante Gita dengan nada duka yang mendalam.
“Maaf, tante tidak memberitahumu. Itu… karena Reyna melarangnya.” Tambahnya kemudian.
Aku sangat paham dengan alasan ini, Reyna adalah seorang makhluk yang takkan pernah mau melibatkan orang lain dalam masalah hidupnya.

Disaat aku tengah sibuk mendengarkan banyak cerita dari Ibu Reyna, seorang dokter muda menghmapiri.
“Maaf, kami telah berjuang dengan sekuat tenaga. Tapi, Allah berkehendak lain. Ia telah pergi dengan tenang.” Urai Dokter Fahmi serius.
Mendengar hal itu, seorang Ibu yang awalnya terlihat tegar dan kokoh mendadak rapuh dan terjatuh tepat di sampingku. Dengan cepat, beberapa orang perawat pun membawanya dengan kursi roda.

“Rey, apa kamu benar-benar tak bisa bernafas lagi? Kembalilah, jika kamu perlu oksigen, ambillah sebagian oksigen millikku. Bangun Rey, perjalanan kita masih panjang. Cita-citamu menjadi seorang perawat belum tercapai Rey! Bangunlah!” ucapku pada sosok tubuh dingin yang terdiam bisu di atas nakas rumah sakit.
“Sudahlah Rain, ini sudah menjadi jalan terbaik untuknya. Mungkin keputusan Tuhan lebih baik dalam memanggilnya, karena sudah sepuluh tahun belakangan ia menderita. Kamu tahu, Leukimia telah merenggut banyak keceriaan Reyna. Ia sempat hilang dalam jurang kebisuan dan selalu ingin menyendiri, tapi semenjak kamu hadir dalam hidupnya, ia menjadi berubah 360 derajat. Senyum dan keceriaannyapun telah kembali menghiasi wajahnya, terima kasih karena telah mau menjadi sahabat baiknya selama ini. Dan ini, ini surat yang Reyna titipkan untukmu.” Tutur orangtua satu-satunya Reyna, Ibu Gita padaku.

Aku terdiam dalam kebisuan, bahkan aku tidak memperdulikan beberapa perawat diikuti oleh Ibu Reyna telah membawa tubuh dinginnya untuk segera dimandikan. Mungkin inilah alasananya begitu menyukai berbagai macam buku yang berisikan penyakit-penyakit mematikan.

For: Rain Anggara
Aku terlalu mengagumi sosokmu, seperti aku mengagumi hujan yang selalu turun disiang hari. Menyejukkan! Maaf, mungkin aku nggak bisa hadir dihari ulang tahunmu nanti, Karena, dokter bilang kalau umurku takkan kurang dari satu bulan lagi. Penyakit itu… telah menyebar ke seluruh tubuhku. Maaf, aku benar-benar minta maaf padamu. Tak banyak yang dapat kuberikan padamu, selain hanya senyum dan senyum tuk menghiasi harimu agar tak berwarna kelabu. Rain, semoga hidupmu lebih berwarna dan cerah ya..
Love you,
Reyna Safira

Cerpen Karangan: Hanida Ulfah
Facebook: www.facebook.com/hanidaulfah.alfarizy

Name : Hanida Ulfah
Ttl : Amuntai, 01 Januari 2013
Sekolah : SMA Negeri 1 Samboja
Facebook : www.facebook.com/hanida.alfarizy
ID Facebook : Ukhty Hanida Alhumaira
Email : Hanidaalfarizy[-at-]yahoo.co.id

terima kasih karena telah bersedia membaca cerita sederhana ini. Dipersilahkan kritik & sarannya di facebook saya, “UKhty Hannida Alhumaira”

Cerpen Dalam Balutan Tawa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Menjadi Kenangan (Part 3)

Oleh:
Pada akhirnya Farra kini telah memberikan kesempatan kepada Rafly untuk yang kedua kalinya, kini hati Farra pun telah luluh kembali. Farra tidak menyangka jika ia sekarang telah menjalin hubungan

About My Love

Oleh:
Aku gak boleh larut dalam perasaan ini. aku takut… benar-benar takut. Di satu sisi aku sangat mencintai kekasihku tapi di sisi lain aku sangat merasa nyaman jika berada di

The Last Songs

Oleh:
Pagi itu hidangan di meja semuanya sudah tersedia mulai dari capcai, sop ayam, ayam pangang dan berbagai macam makanan lain sudah disediakan. untuk menyambut kedatangan keluarga lelaki yang akan

Aku dan 29

Oleh:
“gak bisa semudah itu kamu bilang sayang sama aku, kalau kamu sayang sama dia Faz” aku menatapnya pedih. Aku berusaha tak ingin menyela kehidupannya kini, tak ingin kembali untuk

Perpisahan yang Membuatku Trauma

Oleh:
Sewaktu itu pertemuan yang sangat singkat, Tepat pertama di dalam percakapan handphone aku dan si pacar heru akbar saling berkomunikasi, tidak ada yang tau kalau nantinya akan menjadi keributan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *