Dalam Bus Malam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 15 May 2017

Kuangkat tas ranselku yang hanya berisi beberapa helai pakaian. Kunaiki bus malam yang akan membawaku ke kampung tempat dimana aku dilahirkan. Ya, kampung halamanku. Aku ingin pulang sejenak, melarikan diri dari riuhnya hiruk pikuk suasana kota. Mencoba mencari ketenangan dengan duduk beberapa jam sendirian dalam keheningan bus malam. Kebetulan bangku di sebelahku kosong, sehingga sepertinya meditasiku kali ini akan berjalan lancar.

Beberapa menit kemudian bus berjalan perlahan, menyusuri jalan keluar terminal yang tampaknya tak begitu ramai. Memang pada jam segini sebagian besar penduduk kota tengah menikmati istirahat mereka dengan tidur pulas ditemani selimut hangat yang menutupi tubuh.

Kubuka ponsel yang sejak tadi kumatikan. Terlihat ada pesan di sana, pesan yang sebenarnya tak ingin kubaca tapi sudah terlanjur terbuka.
“Nayla kamu sekarang di mana? Aku tadi dari tempat kos kamu tapi kamu nggak ada. Aku harap kamu baik-baik saja. I Love you”
Itu pesan dari Raka. Pesan yang kesekian kalinya dia kirim tapi tak pernah aku balas. Memang selama beberapa hari ini aku berusaha menjauh darinya. Menjauh dari cinta yang dulu kuharapkan dan sekarang tak lagi kuinginkan.

Malam semakin pekat. Purnama di atas sana semakin meredup seiring dengan semakin banyaknya awan yang menutupi wajahnya. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Udara di dalam bus terasa semakin dingin sedingin hatiku yang nyaris beku. Beku karena cinta yang telah menggoreskan luka.

Masih teringat jelas dalam ingatanku saat Raka untuk pertama kalinya menyatakan cinta padaku. Saat itu dia terdengar begitu tulus hingga hatiku luluh dibuatnya. Sejak saat itu hari hari kami lalui dengan penuh cinta. Tak ada yang aneh dengan sikapnya. Dia bersikap bagaimana layaknya pria yang mencintai kekasihnya. Meskipun tak begitu romantis, tapi Raka pria yang sangat perhatian. Hingga tak terasa hubungan kami telah berjalan tujuh tahun. Dan kami berdua berencana untuk menikah.

Setelah kami menyampaikan niat suci kami kepada kedua orangtua kami masing-masing, akhirnya aku dan Raka resmi bertunangan. Pelan-pelan kami mulai mempersiapkan keperluan untuk pernikahan. Meskipun tanggal dan harinya belum ditentukan tapi sedikit demi sedikit kami sudah mulai menabung. Semua sepertinya akan berjalan lancar, sampai pada akhirnya terjadilah peristiwa itu. Peristiwa yang menghancurkan semua rencana. Tak pernah terlintas dalam benakku jika ini akan terjadi padaku.
Aku berusaha berpikir sebenarnya apa yang salah denganku. Apa yang kurang dariku hingga Raka tega membagi cintanya dengan wanita lain yang tak lain adalah sepupuku sendiri. Apakah dunia ini sudah benar benar gila?

Kejadian itu terjadi seminggu yang lalu. Ketika kudengar Raka sedang sakit, kucoba berbaik hati untuk menjenguknya. Kubawakan bubur ayam dan buah jeruk kesukaannya. Kudatangi tempat kosnya yang tak begitu jauh dari tempat aku bekerja. Ketika aku sampai di tempat kosnya aku terkejut melihat seorang wanita keluar dari kamarnya. Aku lebih terkejut lagi begitu tau bahwa wanita itu adalah Siska, sepupuku. Aku tak tau persis apa yang telah mereka berdua lakukan di dalam. Tapi dengan melihat raut muka bersalah dari mereka berdua saat mengetahui aku ada di situ, kupikir semuanya sudah jelas. Sesuatu yang salah telah terjadi. Aku langsung pergi tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutku.
Sesak rasanya hati ini mengingat kejadian itu. Tak terasa sungai kecil dari kedua bola mata ku mengalir tanpa bisa kucegah.

Kulihat keluar jendela, tampaknya hujan mulai turun. Diawali dengan rintik-rintik kecil. Kemudian disusul dengan butiran air yang lebih besar.
Kuhembuskan napas dalam, mencoba menghilangkan sesak yang menghimpit dada. Sejak saat itu kuputuskan untuk menghapus Raka dari kehidupanku. Memang tak mudah, apalagi Raka selalu berusaha untuk menjelaskan dan tak henti hentinya memohon untuk mempertahankan hubungan kami. Tapi untuk apa aku mempertahankan orang yang tak bisa setia. Meskipun aku sudah memaafkannya tapi hatiku terlalu sakit untuk menerimanya kembali. Cinta yang kupupuk selama tujuh tahun harus hilang begitu saja tertutup luka dan rasa sakit.

Ponselku berbunyi lagi, Raka meneleponku. Tak kuangkat telepon darinya. Tak lama kemudian sebuah sms masuk.
“Sayang kamu di mana? Sudah 3 hari ini kamu seperti menghilang?”
Untuk pertama kalinya dalam tiga hari ini kubalas pesan dari Raka
“Jangan hubungi aku lagi”
Dengan cepat dia membalas.
“Aku tau aku salah, aku minta maaf. Aku mohon jangan tinggalin aku. Aku sayang banget sama kamu. Aku nggak bisa jauh dari kamu.Tolong angkat telfon ku”
Kemudian Raka menelepon lagi. Segera kumatikan kembali ponsel ku dan kusimpan rapat di dalam tas ransel.
Aku tak mampu lagi membuka hatiku untuknya. Dengan deraian airmata yang masih berlinang aku berdoa dalam hati.

“Tuhanku Yang Maha Adil, Tuhan ku Yang Maha Melihat. Engkau tau persis sakit yang aku rasakan. Aku mohon sembuhkan rasa sakitku. Dan berikan yang terbaik untukku”
Segera kuhapus air mataku.

Hujan diluar sana sudah mulai reda. Mendung pun perlahan menghilang. Mentari pagi dengan malu malu mulai menampakkan wajahnya. Terminal sudah dekat, aku harus bersiap.

Udara pagi terasa begitu segar begitu aku keluar dari bus. Kupandangi sekeliling orang orang terlihat begitu bersemangat. Aku pun juga harus bersemangat seperti mereka. Disini sejak hari ini. Setelah kesendirian ku dalam bus malam, aku akan melupakan masa lalu ku. Aku harus semangat untuk memulai hidup baru. Hidup yang bahagia. Akan kuhapus semua air mata karena Raka. Karena sesungguhnya orang yang telah membuatku menangis adalah orang yang tidak pantas untuk kutangisi.

Cerpen Karangan: Wiwin
Facebook: bibehqyu

Cerpen Dalam Bus Malam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesan Terakhir

Oleh:
Sore hari, di bawah pohon cemara di belakang rumahku, aku duduk terpaku pada satu masalah yang sedang menimpaku. Aku menangis tanpa hentinya, di fikiranku cuma ada satu yaitu si

Cinta Pertama Dan Terakhirku

Oleh:
Dreng, dreng, dreng, bunyi alarm yang membangunkanku dari tidur lelapku. Aku pun segera mandi kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Pagi hari yang cerah membuatku semangat ke sekolah. “Hai

Aku dan Kamu

Oleh:
Hari ini aku datang mengunjungimu. Aku hapus beberapa daun yang mencoba menghalangi pembaringanmu. Ah aku tak bisa melupakan itu, kenangan yang kita torehkan bersama. Kenangan yang dimulai di tempat

Sebuah Kalimat Untukmu

Oleh:
Aku menyukaimu. Walau kau tak pernah tau… Dan aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Tak pernah ada keberanian pada diri ini untuk mengatakannya. Seperti saat ini. Aku kembali menaruh

Desember

Oleh:
Namaku Dila, di kelas aku memiliki beberapa sahabat baik yaitu abdul, cahyo, arudhanie, dan yang terakhir wildan.. Aku sayang sama mereka semua, tapi akhir akhir ini ada perasaan aneh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dalam Bus Malam”

  1. nayla says:

    keren…disitu ada namaku nayla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *