Dear Cecilia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 25 March 2016

“Caca! Anterin gue ke perpus yuk!” kataku sambil menarik tangan Caca yang sedang minum es cincau.
“Eh.. Eh! Cecil ah gitu.. Gue masih mau minum es! Cindy!! Tolongin gue!” kata Caca sambil menarik tangan Cindy yang lagi selfie.

Begitulah tingkah kami tiap hari di sekolah. Kalau lagi akrab, akrab banget. Tapi kalau lagi begini, tarik sana, tarik sini. Aku Cecilia Hudneys, The Nerds Queen si pecinta buku. Sahabatku, Caca Nichole The Big Queen tukang makan yang langsing gak gendut gendut dan Cindy Redmond Selfie Queen tukang selfie. Kami anak famous di sekolah yang dikenal dengan triple-C. Sudah 11 tahun kami bersahabat sejak SD hingga sekarang kelas 11.

Pagi itu, waktu istirahat. Kami langsung menuju ke perpustakaan secepat kilat, karena istirahat tinggal 10 menit lagi. Dan aku tidak mau membuang waktuku dengan berjalan lambat seperti keong atau siput. Istirahat selama 45 menit itu, kami gunakan dengan cukup baik. Selama 15 menit pertama untuk makan, 15 menit lagi main gadget, selfie, update status dan sebagainya, dan 15 menit terakhir untuk membaca buku di perpus. Kami selalu tepat waktu, kecuali ketika ada guru yang korupsi mengambil jam istirahat sebagai jam pelajaran sehingga kami terpaksa mengundur jadwal rutin 15 menit kami. Perpustakaan. Surgaku di sekolah. Sedangkan nerakanya ada di kelas IPA. Meskipun aku suka membaca, bukan berarti aku tahu semuanya. Aku suka membaca novel, itu saja. Dan aku bukan nerd berkacamata yang jerawatan di kanan-kiri.

“Jadi, buku apa yang kalian baca?” tanya sesosok lelaki di hadapan kami.
“Hard Love,” jawab kami serentak tanpa melepaskan sedetik pun pandangan kami dari buku.
“Aku Ben Flirck, kalian sangat kompak,” katanya berusaha mencari perhatian kami. “Sepertinya membaca sangat seru,” kata si Ben itu duduk di hadapan kami.
“Baiklah, cukup. Apa maumu?!” tanyaku mulai geram. Kami menutup buku setebal 5 cm itu dengan kompak.
“Cecil.. waktu kita masih 5 menit tenang saja..” kata Caca mengarahkan jam tangannya padaku. “Kau tidak perlu marah begi–” ucap Caca terpotong.
“Aucchh!!” teriak si lelaki itu sambil memegang keningnya seperti orang mau pingsan.
BRUKK!! Benar, dia langsung terbanting jatuh pingsan. Hening sebentar. Semua mata tertuju padaku, bahkan Caca Cindy seakan-akan mereka berpikir kalau aku baru saja menghisap jiwa si Ben yang baru pingsan itu.

“Apa?” tanyaku bingung sambil mengernyitkan dahi.
“Lo ngisep jiwanya?” tanya Cindy ke arahku dengan wajah polos dan suara cukup kencang. Tuh kan.
Lalu seisi perpustakaan langsung ribut dan heboh. Beberapa orang menggotong Ben untuk dinaikkan ke kursi, yang lainnya mengambil teh hangat dan P3K.
“Masa seribet itu sih orang pingsan doang, paling gugup ngobrol sama kita kan?” kataku mengernyitkan dahi sambil membela diriku. Caca dan Cindy menatap ku tajam seperti hakim yang menjadikanku seorang tersangka. Tring!! Bel masuk berbunyi. “Fyuh! Hampir aja!” gumamku menghela napas panjang. Lalu kami semua segera ke kelas, sementara si Ben itu langsung dikerumuni oleh para guru.

Keesokkan harinya, ku dengar si Ben itu masuk rumah sakit. Aku jadi merasa bersalah karena agak membentaknya kemarin. Aku terus berpikir apa aku yang menyebabkan ia masuk rumah sakit. Karena dari Lenny si tukang gosip telah menyebarluaskan tentang peristiwa kemarin. Sekarang, aku dikenal dengan julukan ‘Penghisap Jiwa’. Sungguh menyakitkan menjadi orang terhina.

“Cecilia!!! Lo tahu gak? Si Ben kritis!” kata Caca meneriakiku sambil mengguncang-guncangkan pundakku.
“Hah? Serius? Jangan salahin gue sih!” kataku segera meninggalkan Caca menuju taman.

Hari ini aku sangat takut Ben kenapa-kenapa. Karena menurutku, kalau sampai kritis begitu sepertinya ia memiliki penyakit serius. Akhirnya, aku memutuskan untuk menjenguknya sepulang sekolah bersama Caca dan Cindy. Bel pulang sekolah pun telah berbunyi. Aku, Caca, dan Cindy langsung bergegas menuju rumah sakit tempat Ben dirawat. Aku berniat untuk memastikan kalau bukan aku yang menyebabkan dia sakit sampai kritis. Di rumah sakit, ku lihat 2 orang dewasa yang sepertinya ialah orangtua Ben.

“Maaf, apa Ben dirawat di sini?” tanyaku sopan. Mereka serentak mengangguk khawatir.
“Saya Cindy Bu, ini Caca dan ini Cecil. Kalau boleh tanya, Ben sakit apa?” tanya Cindy to the point.
“Ben punya penyakit kanker otak,” jawab ibunya. “Stadium 3,” sambung ayahnya.
“Tapi,.. Ben kok tidak botak?” tanya Caca ceplas-ceplos, aku dan Cindy memelototi Caca, Caca langsung merapatkan mulutnya.
“Maksud dia, kok tidak ada ciri-cirinya?” tanya Cindy, kedua orangtuanya hanya menggelengkan kepala. Kami pun mengerti, orangtua Ben tidak ingin diwawancarai dulu.

Seorang dokter ke luar dari kamar rawat Ben, dan menghampiri kedua orangtuanya. Kami samar-samar mendengar kalau Ben sudah membaik dan sadar. Segera kami dan orangtua Ben masuk menemui Ben yang masih terbaring lemah. Kami masih berdiri di pintu masuk. Ibunya langsung menangis sambil berusaha tersenyum menggenggam tangan Ben. Ku lihat Ben berbisik sesuatu pada kedua orangtuanya. Lalu orangtuanya itu meninggalkan Ben dan menepuk bahuku pelan. Kami bertiga pun berdiri di sebelah ranjang Ben. Wajah Ben terlihat sangat pucat, dan entah kenapa aku menjadi sangat khawatir.

“Gue mau minta maaf..” kataku to the point. Ben tersenyum tipis.
“Kalian baru pulang sekolah?” tanya Ben. Kami serentak mengangguk.
“Cecil yang ngajakin kita ke sini, dia takut lo kenapa-kenapa,” ujar Cindy. Aku mengangguk tertegun, tepatnya menggeleng syok. Bisa-bisanya Cindy berkata begitu mempermalukanku. Awas saja nanti. Aku menatap Cindy setajam silet bersiap mengeluarkan mata laserku. Lalu Cindy, Caca, dan Ben terkekeh pelan. Mengingat ini rumah sakit, aku menahan amarahku. Setidaknya aku dapat melihat Ben yang kembali segar meskipun tangan kanannya diinfus. Keheningan menyelimuti kami beberapa detik, hanya suara detakan jantung Ben di monitor menjadi lagu dalam hening.

“Terima kasih telah datang teman-teman. Cecil. Sebenarnya waktu itu aku hanya ingin jujur padamu kalau sebenarnya aku sangat menyukaimu Cecil,” kata Ben hampir membuat jantungku berhenti berdetak. Aku bisa merasakan wajahku memanas dan sudah semerah udang rebus. Rasanya dari puluhan lelaki yang mengungkapkan perasaan mereka padaku, baru kali ini aku tidak bisa menolak permintaan manusia satu ini. “Kau tidak perlu membalas perasaanku, aku sangat paham. Aku hanya tidak tenang bila belum mengungkapkan rasa itu, maaf bila aku mengganggumu…” sambung Ben tersenyum sendu. Rasanya air mata telah memenuhi kantung mataku. Sungguh aku tidak tahu kenapa aku jadi semacam terharu seperti ini. Tisu mana tisu?

“Hmm.. Ben, maaf aku masih ada urusan. Aku akan menjengukmu besok, sepulang sekolah,” kataku menyudahi momen canggung ini. Ben mengangguk. Lalu kami pamit pulang juga pada kedua orangtua Ben. Keesokan harinya waktu istirahat, seperti biasa di 15 menit terakhir kami ke perpustakaan. Alangkah kagetnya kami ketika melihat seorang lelaki yang tertutup wajahnya oleh buku sedang duduk di tempat duduk langganan kami sambil membaca buku kami. Tentu saja aku marah. Aku langsung berjalan sambil menghentakkan kakiku disusul oleh Caca dan Cindy. Baru saja ingin marah-marah, mulutku kaku dan tak bisa bicara sepatah kata pun, karena lelaki itu adalah Ben.

“L-lo nga-ngapain d-di sini?” tanyaku gagap. Entah sihir macam apa yang membuat lidahku kaku, dan jantungku 100 kali lipat berdetak lebih cepat dan membuatku gugup.
“Gue lagi baca buku. Kan gue sembuh gara-gara lo jenguk kemarin,” jawab Ben dengan mata hazelnya dan senyum manis dengan lesung pipit di kedua pipinya. Bayangkan saja dia itu artis Afghan, sangat mirip. Dan baru ku sadari, ia tampan. “Aku menunggu jawaban darimu..” aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.
“Gue,.. Mmm.. Ya deh,” kataku seperti orang kikuk.
Dia tersenyum bahagia. Sepulang sekolah kami pergi ke karnaval, menaiki bianglala, rumah hantu, dan lainnya. Aku sangat bahagia, aku belajar cinta.

Keesokan harinya, dia tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Kabarnya dia masuk rumah sakit dan kritis lagi. Tanpa pikir panjang, sepulang sekolah langsung secepat kilat aku menuju rumah sakit naik taksi kali ini tanpa Caca dan Cindy karena aku harus buru-buru berhubung dengan firasatku yang buruk. Sesampainya di rumah sakit, orangtua Ben menangis. Dari pintu ruangan dengan kaca hitam, aku lihat dokter sedang memasang defibrilator yaitu alat pengejut jantung. Aku benar-benar khawatir dan tidak tenang. Berulang kali dokter itu memasang pengejut jantung sampai tubuh Ben terhentak ke atas, namun dapat ku lihat dari pintu kalau monitor detak jantung hanya menunjukkan garis panjang hijau. Dokter pun akhirnya ke luar dari ruangan tadi dengan wajah kusut. Dan benar apa firasatku karena Ben telah tiada. Hatiku remuk, seperti ratusan pisau menghujam tepat di jantungku. Cukup terakhir ku lihat wajahnya waktu kami bersenang-senang di karnaval. Merupakan 1 hari yang berarti bagiku. Aku tidak mau melihat wajah pucat Ben yang tak bernapas tertutupi kain putih. Lalu orangtua Ben memberiku sepucuk surat warna pink. Dan mereka pergi. Isinya..

“Dear Cecilia, Thanks for being my first and last love. Thanks for one day that you gave to me. Don’t worry, i’ll always love you. But we must break up. I don’t want you to stuck on me. Ketika kau membaca ini, artinya aku sudah tidak bernapas. Maafkan aku. Tapi aku tenang karena mati dalam keadaan mencintai gadis seperti kamu. Love you more Cecil! Dead love, Ben.”

“I love you too Ben, always!” gemaku dalam hati.

Cerpen Karangan: Arumdipta Ginitri
Facebook: Arumdipta Ginitri
Just a 14 tahun girl with her amateur skills in writing and imagine everything~
Follow my, Ig: arumdiptaa_76
LINE: rumdip_76

Cerpen Dear Cecilia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehilangan

Oleh:
Morugle adalah gadis SMA Tuna Negara. Ia adalag gadis yang amat cantik, ketika melihatnya sekali saja tidak akan puas. Morugle memiliki penyakit langka yang menyebabkan ia tak akan hidup

Ketika Harus Merelakan

Oleh:
Aku terjaga dari tidur pulasku, rasa kebelet pipis mulai merangsang tubuhku untuk bangun dan segera menuju kamar mandi. Aku berusaha memanggil ibuku yang tertidur pulas di kursi seberang tempat

Surat Kecil Untuk Morgan

Oleh:
Gadis cantik ini tengah berkutat dengan ponselnya, menekan huruf demi huruf yang ada pada layar handphonenya menjadi kebiasaannya sebelum tidur “good night and sweet dream. I’ll always love you”

Tidak Harus Bersama

Oleh:
“Cinta akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali.” itu salah satu quotes di instagram yang selalu membekas di pikiranku. Namaku Sara, aku berusia 17 tahun dimana kebanyakan orang bilang kalau

Perpisahan Kita

Oleh:
Pernahkah kau menyukai seseorang, bahagia saat sedang bersamanya, merasa nyaman saat di dekatnya, tapi sadar tidak mungkin bisa bersama selamanya? Atau semacam tidak dipersatukan oleh takdir. Karena alasan-alasan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *