Desember 12 (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 21 November 2015

Semenjak pertemuan itu, hubungan Gendis dengan Yoku kian hari semakin dekat. Hubungan mereka bukan lagi sekedar teman biasa, melainkan lebih dari itu. Rupanya hasrat cinta masih melekat di hati Gendis dan juga Yoku, dan pertemuan itu seolah mengobarkan kembali api cinta di antara mereka. Hari demi hari mereka menjalin sebuah cinta yang terdengar klise bagi orang lain, terlebih lagi bila mereka sedang pergi bersama dan terdengar suara adzan berkumandang, pastilah saat itu juga Gendis meminta Yoku untuk menemaninya ke musala, tempat di mana Gendis bersujud menyembah Sang Maha Kuasa.

Sementara itu, Yoku yang berkalung salib sangat setia menunggu Gendis ke luar dari musala. Namun ketika Gendis dan juga para jamaah yang lainnya ke luar dari musala, sering kali para jamaah itu berbisik-bisik menyudutkan Gendis.
“Keturunan ningrat kok ya pacarannya sama orang kafir, kayak ndak ada laki-laki yang lain aja yo”
Begitulah mereka berkata dengan logat Jawanya yang kental. Namun, kata-kata yang dilontarkan oleh para jamaah itu justru semakin membuat Gendis mempertahankan hubungannya dengan Yoku.

Segala rintangan dan hambatan telah dilalui bersama oleh Gendis dan juga Yoku selama 12 bulan. Namun sayang, nampaknya hubungan yang selama ini diperjuangkan, seakan menyeret Gendis ke dalam sebuah ketakutan yang selama ini dirisaukan olehnya. Yah, keimanan yang dianut oleh Yoku adalah hal yang membuat Gendis tidak bisa bersama dengan Yoku secara utuh, dan itu alasan dari segala ketakutan yang terus berotasi di benak Gendis.

“Kita sudah melewati jutaan detik, aku khawatir jika kita gak bisa melewati lebih dari itu” ujar Gendis sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Yoku.
“Mengapa kamu mengkhwatirkan sesuatu hal yang hanya berlandaskan jika?” tanya Yoku.
“Entahlah, mungkin karena rasa khawatir inilah yang membuat aku bertahan hingga sejauh ini,”
“Tapi bukankah khawatiranmu itu tidak terjadi?”
“Bukannya tidak terjadi, tapi belum terjadi saja, dan itu yang membuat aku semakin takut kehilangan dirimu”

“Rasa takutmu itu hanya akan melukai hatimu saja, tenanglah saya terlahir ke dunia ini hanya untukmu, apakah itu belum cukup untuk menghilangkan rasa takutmu?”
“Mungkin kamu memang terlahir untukku, namun apakah kamu dan aku ditakdirkan untuk bersama?”
“Saya tidak bisa meramalkan takdir, tapi saya yakin Tuhan tahu yang terbaik untuk kita,” ujar Yoku sambil mengenggam erat jemari Gendis.
“Oh ya, nanti malam datang ke rumah aku ya, soalnya aku ingin Ibu tahu tentang hubungan kita”
“Saya janji akan datang,”

Pukul 7 malam Yoku sudah menampakan dirinya di hadapan Gendis dan juga Ibu Gendis. Yoku yang kala itu mengenakan setelan tuxedo tampak begitu gagah ketika menyapa Ibu Gendis. Awalnya, percakapan antara Ibu Gendis dan Yoku berjalan dengan sangat baik, terlebih lagi sikap ramah yang ditunjukkan oleh Ibu Gendis terhadap Yoku membuat rasa ragu di hati Gendis akan hubungannya perlahan mulai pudar. Namun sayang, sikap ramah yang ditunjukkan oleh Ibu Gendis mendadak berubah ketika ia melihat kalung salib melingkar di leher Yoku. Bahkan raut wajahnya pun berubah seperti api amarah yang segera ingin disemburkan ke putri satu-satunya itu. Dan secara tiba-tiba saja dia menarik tangan Gendis dan memaksa Gendis untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa mempedulikan Yoku.

“Kamu toh kenapa ndak bilang ke Ibu kalau pria itu bukan muslim, kamu tahu kan kalau keluarga kita berdarah ningrat dan almarhum Bapakmu itu juga seorang kiyai, lalu mau taruh di mana muka Ibu kalau kamu sampai menikah dengan orang yang berlainan agama!” ujarnya dengan suara yang lantang.
“Walau kita menganut agama yang berbeda, tapi Tuhan itu kan tetap satu bu” ujar Gendis dengan suara yang getir.
“Pakai akal sehatmu Gendis, bagaimana bisa anak seorang kiyai bisa menikah dengan orang kafir seperti itu!”
“Yoku bukan kafir bu!” ujar Gendis dengan lantang.
“Gendis!!” bentak Ibu Gendis sambil mendaratkan sebuah tamparan ke wajah Gendis.

Mendengar perdebatan hebat dari dalam, Yoku mendadak masuk untuk melihat kejadian yang sebenarnya.
“Maaf bu, bukan maksud saya untuk lancang, tapi tak sepantasnya seorang Ibu menampar wajah putrinya” ujar Yoku.
“Saya tidak butuh nasihat dari kamu, saya harap mulai sekarang dan seterusnya kamu jauhi anak saya, dan sekarang juga saya minta kamu untuk angkat kaki dari rumah saya!”
“Baik kalau itu yang Ibu mau, saya janji tidak akan berhubungan lagi dengan Gendis” ujar Yoku.

“Yoku, kamu tidak benar-benar melakukan itu kan Yoku?” tanya Gendis sambil menahan tangisnya
“Maaf Gendis saya harus melakukannya, ini adalah yang terbaik untuk kita, dan saya juga berterima kasih kepada Ibu karena sudah mau menerima kedatangan saya pada malam hari ini” ujar Yoku.
“Yoku!” teriak Gendis.
Yoku pergi meninggalkan Gendis, bahkan dia pun tidak menoleh saat Gendis memanggil namanya. Gendis berusaha untuk mengejar Yoku, namun perempuan yang tadi menampar Gendis justru menghalanginya.

2011, Desember 12.
“Kamu kenapa ada di rumah saya?” tanya Yoku.
“Eh kamu udah bangun ya, maaf ya aku udah lancang masuk ke rumah kamu, soalnya pintu rumah kamu gak dikunci sih, jadi aku langsung masuk aja deh. Oh ya, karena sekarang Desember 12 jadi aku buatin kamu sarapan pagi ya, kamu mau makan apa pagi ini?”
“Kamu kenapa ada di rumah saya?” tanya Yoku kembali.
“Aku kabur dari rumah, makanya aku ke sini”

“Kamu harus pulang Gendis!”
“Aku gak mau pulang, aku mau di sini sama kamu!”
“Gendis sadarlah bahwa keimanan kita berbeda, kita memang tidak akan pernah bisa untuk bersama”
“Kalau gitu kita tinggal di luar negeri saja, aku punya cukup uang kok, kamu mau kemana? ke Belanda? atau ke Jepang, di sana kita bisa menikah dan tetap bisa menganut agama kita”
“Gendis sadarlah! ini memang yang terbaik untuk kita, kamu akan bahagia jika kamu tidak bersama dengan saya” ujar Yoku dengan tegas.

“Tapi aku hanya ingin bahagia bersama denganmu, aku tak peduli dengan perkataan orang lain tentang kita, yang aku inginkan adalah bersamamu, menikah denganmu!” ujar Gendis dengan suara yang lantang.
“Tapi saya tidak ingin menikah dengan wanita yang berlainan agama!!” bentak Yoku.
“Aku gak nyangka kamu mengatakan itu” ujar Gendis sambil beranjak pergi.
“Gendis tunggu!”

Yoku berlari mengejar Gendis, tapi Gendis seakan menghiraukannya. Namun ketika Yoku sampai di persimpangan jalan dan berteriak memanggil Gendis berkali-kali, barulah Gendis menolehkan wajahnya ke belakang. Akan tetapi sungguh naas nasib lelaki berbadan tegap itu, ketika ia hendak menghampiri pujaan hatinya yang berada di ujung jalan, tiba-tiba saja sebuah truk berbadan besar menabraknya hingga menyebabkannya terhempas. Terlihat di keningnya darah mengucur, bibirnya pun sangat pucat kala itu, sontak Gendis langsung berlari ke arah lelaki itu.

“Yoku kamu harus bertahan! Kamu gak boleh meninggalkan aku sendiri!” ujar Gendis sambil menangis.
“Kita pasti akan berjumpa lagi” ujar Yoku sambil mengenggam tangan Gendis.
Perlahan kelopak mata Yoku mulai tertutup, namun entah mengapa kala itu ia meninggalkan sebuah senyum di wajahnya.
“Yoku!!” teriak Gendis

Satu tahun kemudian.

2012, Desember 12.
Ditatapnya wajah pria itu melalui bingkai foto yang ia pegang. Awalnya sebuah senyum terpancar di wajahnya, namun lambat laun butiran air mulai mengalir dari bola matanya, dan bila ada yang mencoba mengambil bingkai foto itu, maka ia akan menjerit histeris. Tidak hanya itu, dia juga sering kali berbicara kepada bingkai foto itu, seolah pria yang ada di bingkai foto yang ia pegang tersebut hidup.
“Yoku kita pasti nikah kan?” ujar Gendis sambil memeluk bingkai foto Yoku.

Cerpen Karangan: Nola Dewanti
Hallo nama aku Nola Dewanti, aku berharap sekali cerpen aku bisa dipublikasikan. Kalau mau lihat cerita aku yang lain, bisa di liat di sini:
Facebook: www.facebook.com/noladewanti
Twitter: www.twitter.com/nola_dewanti
Blog: www.salahmencet.blogspot.com

Cerpen Desember 12 (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gerimis Merah (Part 1)

Oleh:
Langit tampak begitu temaram, sesekali suara bergemuruh menggema sayup-sayup dari balik awan, mengabarkan pada semesta bahwa rintik-rintik air hujan bisa jatuh kapan saja membasahi bumi. Angin hanya berhembus perlahan

Terpaut pada Satu Hati

Oleh:
Saat ini Cares hanya terdiam, terpaku, dan membisu. Hanya rangkaian butiran beninglah yang selalu setia menemaninya tatkala ia mengingatnya, mengingat segala kenangan indah yang telah ia lalui bersamanya. Cares

Love is Honesty

Oleh:
Hari ini tepat dua tahun setelah kepergian Dava, lelaki yang kurang lebih 5 tahun telah menyempurnakan hari-hari Aya. Lelaki yang selalu dikagumi oleh Aya ini memang sudah menghembuskan nafas

Waktu, Hati dan Doa

Oleh:
Eyva Maharani Pagi yang cerah kembali menyapa. Sang fajar telah keluar dari peraduannya, tersenyum begitu indah. Bola matanya menyapa seorang gadis. Gadis yang setia menunggu, dan menanti sesorang pria

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *