Destiny

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 18 July 2016

Tahun 2000
Malam begitu sunyi, meskipun banyak beribu bintang di langit, namun tak dapat menggantikan sinar sebuah mentari, dan seperti layaknya malam, yang identik dalam gelap yang menakutkan bagi anak anak pada umumnya.
Suasana pedesaan yang tenang hanya bersuarakan serangga serangga kecil yang tak terlihat.
Di sudut desa, tampak sebuah pemakaman umum yang juga terlihat mencekam bagi anak-anak pada umumnya, namun itu tak berlaku bagi seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang dengan asyiknya bersepeda melewati makam.
Namun tiba-tiba ia menghentikan laju sepedanya ketika mendengar suara tangis seorang anak perempuan dari dalam makam. Anak laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan rasa ketakutan, tanpa ragu Ia lalu memasuki makam mencari sumber suara. Tak lama kemudian ia pun mendapati anak perempuan yang tampak dua tahun lebih muda darinya tengah menangis sambil menutup matanya.

“Hei.. Kenapa kau?” tanya anak laki-laki itu.
“Aku takut gelap, banyak orang mati disini..,” jawab si anak perempuan yang masih menangis dan menutup matanya.
“kalau kau takut kenapa disini? Pulanglah..” ucap si anak laki-laki itu.
“Aku gak tau jalan pulang.. Aku takut..” jawab anak perempuan itu, si anak laki-laki lalu tersenyum dan menarik tangan anak perempuan yang menutupi matanya.
“Bukalah mata kamu dan lihatlah…” pinta anak laki-laki itu.
“Gak mau! Takut..” anak perempuan itu tetap menutup matanya.
“Ayolah coba dulu, jangan takut, ada aku disini..,” perlahan anak perempuan itu membuka matanya dan seketika tangisnya terhenti berganti dengan rasa takjub melihat banyaknya cahaya kunang-kunang yang memecah kegelapan di antara mereka.
“Wow.. Kenapa bisa ada bintang-bintang disini?” tanya anak perempuan itu dengan takjubnya.
“Itu bukan bintang, tapi kunang-kunang.., bagus kan?” jelas anak laki laki itu.
“Sama saja” anak perempuan itu masih terlihat takjub.
“Ya udah ayo aku antar pulang..” anak perempuan itu mengangguk, ia lalu membonceng anak laki-laki itu. Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di depan rumah anak perempuan, Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong bajunya.
“Ini buat kamu.., sebagai tanda terimakasihku.” anak perempuan itu memberikan sebuah permen lolipop, namun tiba-tiba anak laki-laki itu ketakutan melihat permen lolipop dan pergi melajukan sepedanya dengan sangat kencang meninggalkan si anak perempuan yang terlihat bingung pada anak laki-laki itu yang begitu ketakutan melihat permen lolipop.

Tahun 2013
Ketika orang lain hanya menganggapmu sebagai benalu, menyingkirkanmu saat waktu pentingnya, dan memanggilmu kembali saat sisa waktunya, hanya untuk mengisi sisa. Ketika orang lain menganggap doamu tak begitu penting baginya, ketika itu kau akan mengerti, betapa mahalnya waktu orang lain untukmu, dan betapa banyaknya waktumu yang tak berguna untuk orang lain.
Siapakah hati yang inginkan ini? Hanya sebagai titik yang tak terlihat meski kebaikannya itu tulus, entahlah! Hati yang disakiti tanpa disadari, selalu menempatkan diri pada satu titik terkecil dan tak terlihat.
Hati itu tak berharap menjadi besar, ia hanya ingin terlihat, tak juga dari semuanya, ia hanya ingin terlihat oleh satu hati yang diyakininya sebagai jawaban Tuhan atas permintaannya untuk satu tempat, rasa yang tulus.

Perasaan inilah yang kini tengah dirasakan oleh Dimas, seorang pria muda yang baru saja keluar dari tempat rehabilitasi nark*ba, Dimas adalah mantan pecandu, dan kini ia tinggal seorang diri di rumahnya. Kisah tragis dua tahun lalu telah menghancurkan semua kebahagiaan Dimas, ketika itu keluarga yang selama dua puluh tahun menjadi surga baginya, seketika menjadi neraka, saat kenyataan pahit telah hilang dari kerahasiaannya, ketika Ibunda Dimas tak sanggup lagi memendam emosinya, dan tak dapat menerima kenyataan bahwa suaminya berselingkuh, ketika itu emosi menjadi hal yang wajar. Namun ibunda Dimas lepas kendali hingga ia dengan hati yang tersakiti telah meracuni suaminya hingga tewas. Dan sejak saat itu Dimas kehilangan ayahnya untuk selamanya.
Kepedihan nyata tak hanya berhenti sampai disitu, sang ibu yang terlanjur rapuh pun kehilangan akal sehatnya, dan ia pun gila. Dimas yang baru saja melihat nyata yang sesungguhnya setelah menyelesaikan bangku sekolah pun tak memiliki hati yang cukup kuat hingga ia pun tersesat ke jalan yang salah, terbelenggu dalam kesesatan nark*ba.

Dan kini, Dimas benar-benar sendiri, meskipun beberapa usaha kost-kostan yang ditinggalkan mendiang ayahnya sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya, namun bukan itu yang Dimas butuhkan saat ini, kepedulian dan penerimaan dirinya layaknya manusia normal, itulah yang Dimas butuhkan kini.
Namun nyata yang ia terima tak seindah harapannya, semua teman-teman dan orang-orang yang dulu baik padanya kini menjauhinya seolah dirinya adalah seorang pengidap virus menular yang tak berguna dan berbahaya bagi siapapun.
Hari itu Dimas mencoba menemui ibunya yang kini dirawat di rumah sakit jiwa, sesampainya di sana kesedihan Dimas semakin bertambah manakala ibunya sama sekali tak menyambutnya dalam pelukan kasih seorang ibu yang lama ia rindukan. Sang ibu justru tak mengenalinya dan tak mau menemuinya. Dalam hati yang penuh luka Dimas tetap berharap ibunya dapat segera sembuh dan berkumpul kembali bersamanya.

Dimas lalu pergi ke kampus, ini adalah hari pertamanya kuliah setelah sempat tertunda dua tahun.
“Dimas…” terdengar suara yang memanggilnya saat memasuki kampus. Dimas pun mencari sumber suara, ia lalu menoleh ke belakang, terlihat seorang gadis yang tampak sudah sangat akrab dengan Dimas.
“Sella??” Dimas langsung mengenalinya, mereka lalu berpelukan. Sella adalah pacar Dimas sewaktu SMA, dan hubungan mereka terhenti begitu saja tanpa kata putus sejak Dimas mengalami masalah dalam keluarganya. Ternyata Sella juga mahasiswi di kampus yang sama dengan Dimas, hanya saja sekarang Sella sudah semester empat. Mereka pun lalu menuju kelas masing-masing setelah sebelumnya sepakat untuk pulang bersama setelah jam kuliah selesai.

Dimas memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, bersamaan itu terlihat seorang gadis berkerudung yang juga berlari menuju ruangan yang sama dengan Dimas, dan tabrakan pun tak dapat mereka hindari.
“Aduh maaf maaf.. Gak sengaja.” ucap Dimas.
“Gak papa kok..” jawab gadis berkerudung itu.
Dimas lalu mempersilahkan gadis itu untuk masuk lebih dulu, sementara ia berjalan di belakangnya, dan hari itu pun berlalu dengan cepat. Dimas lalu mengajak Sella untuk ke rumahnya.

“Kamu tinggal sendirian disini? Orangtua kamu kemana?” tanya Sella ketika sesampainya mereka di rumah Dimas.
“Ceritanya panjang Sel, suatu saat kamu juga akan tau, tapi maaf sekarang aku belum bisa cerita..” jawab Dimas, terlihat kesenduan di wajahnya. Sella pun mengerti.
“Permisi.. Assalamualaikum..,” terdengar suara dari luar rumah, Dimas lalu keluar untuk melihat siapa yang datang, terlihat seorang gadis berkerudung yang tadi bertabrakan dengan Dimas,
“Maaf apa benar disini menerima kost? Saya mau kost disini apa masih bisa?” ucap gadis itu.
“Oh… Bisa bisa.. Kebetulan masih ada satu kamar yang kosong..” jawab Dimas. Mereka lalu berkenalan, gadis itu bernama Ara, ia berasal dari Semarang, dan kini kuliah semester awal di Bandung. Dimas lalu mengantarkan Ara ke kamar kost yang terletak di samping kiri rumah Dimas, ada cukup banyak kamar kost disana. Dimas lalu membukakan pintu kamar nomor tiga untuk Ara.
“Hanya ini kamar yang masih kosong, gimana? Apa kamu cocok?” tanya Dimas memastikan.
“Iya cocok, tapi apa bisa langsung saya tempati hari ini?” tanya Ara.
“Oh, tentu.. Ini kuncinya..” jawab Dimas. Sesaat Ara memandangi Dimas seakan ia teringat sesuatu,
“Maaf, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Ara.
“Bukankah kamu yang bertabrakan tadi di kampus?” ucap Dimas.
“Iya saya ingat itu, tapi sebelum itu apakah kita pernah bertemu?” tanya Ara yang terlihat masih penasaran. Dimas tampak mengingat-ingat.
“sepertinya belum, ya udah aku tinggal dulu ya.. ada teman aku di rumah..” jelas Dimas, namun Ara menahannya sejenak,
“Tunggu, ini saya ada permen dari Semarang, ya anggap saja sebagai salam perkenalan kita..” Ara memberikan sebuah permen lolipop besar pada Dimas. Dan seperti yang sudah Ara duga, Dimas langsung lari ketakutan melihat permen itu.
“Maaf aku tidak suka permen..” jawab Dimas dalam langkah cepatnya, Ara pun tersenyum,
“Ternyata keanehan itu tahan lama.” ucap Ara dalam hati.

Hari telah berlalu begitu cepat, tak terasa sudah enam bulan Dimas menjalani hidup barunya, hubungannya dengan Sella pun semakin dekat, begitu juga dengan Ara, bahkan rahasia pahit masa lalu yang selama ini ditutupinya dari semua orang dengan terbukanya Dimas ceritakan pada Ara, dan hati Dimas menjadi lebih tenang ketika Ara dapat menerima semua masa lalu Dimas dan tetap mau berteman dengannya. Bahkan seminggu sekali Dimas mengajak Ara untuk menjenguk ibunya di rumah sakit jiwa. Ara pun senantiasa menguatkan hati Dimas.

Malam itu entah kenapa perasaan Ara menjadi sangat sakit ketika Dimas meminta pertimbangannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Sella, Dimas berniat untuk kembali menjadi pacar Sella.
“Ya udah kau ungkapkan saja.. Lagian aku lihat Sella juga sepertinya masih menyukaimu” jawab Ara berusaha menyembunyikan sesak di dadanya.
“Tapi Ra, aku takut Sella tidak bisa menerimaku jika dia tau masa laluku..” jelas Dimas tampak khawatir.
“Kalau dia benar benar tulus dia pasti akan menerima semua masa lalumu seburuk apapun itu.” jelas Ara yang sengaja juga menyiratkan perasaannya pada Dimas, namun sayangnya Dimas tak menyadari itu.
“Baiklah aku pergi dulu.. Thanks ya Ra..” ucap Dimas sambil berlalu meninggalkan Ara untuk menemui Sella. Kini Ara tak dapat lagi menahan air matanya yang kemudian ia biarkan keluar.

Akhirnya malam itu juga di sebuah restaurant Dimas mengungkapkan perasaannya pada Sella, dan betapa senangnya Dimas ketika mendengar jawaban Sella mau kembali menjadi pacarnya. Namun tiba-tiba Hp Dimas berdering, Ara menelponnya dan mengatakan bahwa ibunya kabur dari rumah sakit dan kini berada di rumahnya, Dimas dan Sella pun langsung bergegas pulang ke rumah Dimas.

Tak berapa lama kemudian mereka sampai di rumah, terlihat Ara tampak sedang menyuapi ibunya dengan sepiring nasi, Ara pun lega melihat kehadiran Dimas dan Sella.
“Gimana ibu?” tanya Dimas panik.
“Dari tadi ibu kamu teriak-teriak panggil nama kamu, lalu dia minta makan..” jelas Ara pada Dimas. Dimas lalu mendekati ibunya dan memeluknya.
“Ibu kenapa kabur dari rumah sakit bu..” tanya Dimas sedih.
“Dimas… Dimas anak ibu… Ibu tidak gila nak, ibu sudah sembuh, biarkan ibu tinggal disini nak.. tolong ibu…” ucap ibu Dimas tegang.
“Iya iya bu, ibu tenang ya.., ayo bu, Dimas antar ke kamar, ibu harus istirahat dulu..” Dimas lalu membawa ibunya ke kamar untuk istirahat, sesaat kemudian Dimas ke luar menemui Ara yang nampak khawatir dan Sella yang terlihat masih sangat terkejut.
“Gimana? Ibu kamu udah tidur?” tanya Ara khawatir. Dimas mengangguk, ia lalu mendekat pada Sella,
“Sell, sekarang kamu udah tau kan?” ucap Dimas.
“Sebenarnya ada apa sih Dim? Aku gak ngerti..” tanya Sella bingung. Dimas lalu menceritakan semua masalalunya, tentang perselingkuhan Ayahnya, pembunuhan yang dilakukan ibunya hingga kejiwaannya terganggu, dan tentang nark*ba yang sempat mencanduinya, semuanya ia ceritakan pada Sella.
“sekarang terserah kamu apakah masih mau tetap bersamaku atau tidak, aku terima apapun keputusan kamu Sell..” jelas Dimas pasrah. Sella masih nampak terkejut tak percaya mendengar semua cerita masa lalu Dimas, Ia pun langsung ke luar pergi meninggalkan Dimas tanpa sepatah kata apapun. Dimas hanya tertunduk lemas melihat reaksi Sella.
“Ternyata aku salah, orang yang kuharapkan paling memahamiku, yang kukira paling mengerti dan menerima apa adanya diriku, ternyata tak lebih dari orang asing yang menganggap rendah diriku. Seburuk itukah aku hingga bahkan ia tak mau berkata apapun untuk sekedar salam perpisahan?” ucap Dimas, terlihat jelas perasaan sedih dan kecewa di wajahnya. Ara yang melihat itu semua berusaha menenangkan Dimas, Ia mencoba merangkulnya, dan menggenggam tangannya untuk menguatkan.
“Lebih baik kau tau sekarang, karena kau akan jauh lebih sakit ketika semua ini terjadi saat kau sudah terlanjur jauh berhubungan dengan Sella..” jelas Ara bijak. Dalam hati Ara pun turut merasakan kesedihan melihat kerapuhan diri seorang di hadapannya itu, orang yang sudah menjadi sangat berarti baginya sejak pertama kali mereka bertemu.

Sejak hari itu Dimas mencoba kembali bangkit dari kecewanya, tentunya dengan bantuan Ara yang selalu ada di sampingnya.
“Ingatlah kau masih punya ibu yang masih membutuhkanmu, kuatkan hatimu agar kau juga bisa menguatkan hati ibumu..” itulah yang sering Ara katakan pada Dimas, dan Dimas pun merasa kembali bersemangat tiap kali mendengar kata-kata itu dari Ara.

Kini hubungan Ara dan Dimas semakin dekat, keadaan ibu Dimas pun semakin membaik, tak jarang Ara membantu Dimas mengurus ibunya meski hanya dengan membantunya memandikan dan menyuapinya saat makan.
Kebaikan dan ketulusan hati Ara ternyata membuat hati Dimas tersentuh dan mulai mengagumi sosok Ara. Suatu malam Dimas duduk sendiri di teras rumahnya, pikirannya melayang ke masa lampau, ia merenungkan dua perbedaan antara Sella dan Ara ketika ia menceritakan masa lalunya, kala itu Ara langsung merangkul, menerima, dan menguatkannya, sementara Sella malah menjauhinya tanpa sepatah kata apapun.
Dimas pun mulai menyadari kesalahannya, sesungguhnya dalam hati kecilnya yang dibutuhkannya adalah Ara, bukan Sella. Dan yang berhak atas cintanya adalah Ara yang telah menerima apa adanya dirinya. Tiba-tiba Dimas tersadar dari lamunannya ketika Ara datang mendekatinya dan duduk di samping Dimas.
“Hei.. Lagi ngapain? Ibu kamu sudah tidur?” tanya Ara.
“Oh.. Hai Ra.. Udah kok.., baru aja ibu tidur..” jawab Dimas.
“Hmmm.. Dimas, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Ara.
“Boleh, kenapa Ra?” jawab Dimas.
“Apa dulu waktu kecil kamu pernah tinggal di Semarang?” tanya Ara.
“Enggak pernah, dari dulu aku tinggal disini kok.., tapi Eyang aku rumahnya di Semarang, jadi aku sering kesana dulu sebelum Eyangku meninggal sepuluh tahun lalu, emang kenapa?” Dimas balik tanya.
“Oh.. Gak papa kok, eh tau kah? Dulu aku pernah nyasar di kuburan lho waktu kecil.. Tapi untung saja ada anak laki-laki yang menolongku waktu itu, hmm tapi dia aneh..” ucap Ara bercerita mencoba memancing ingatan Dimas.
“Oh iya? Aneh kenapa emang?” tanya Dimas.
“Anak itu takut pada lolipop.. Haha..” jelas Ara mencoba melihat reaksi Dimas, wajah Dimas nampak terkejut, namun sesaat ia kembali biasa dan tertawa. Ara pun kecewa.
“Itu adalah kenangan yang sangat berarti bagiku, yah.. Walaupun takut lolipop tapi dia tetap menjadi pahlawanku, dia jugalah yang pertama kali menunjukkan bintang-bintang untuk mengusir ketakutanku pada kegelapan.” jelas Ara berharap Dimas dapat mengingatnya.
“Apakah hingga kini anak itu masih berarti untukmu?” tanya Dimas, Ara pun tersenyum mengangguk.
“Hmm.. Semoga kau bisa segera bertemu dengannya ya..” ucap Dimas, Ara pun menjadi sangat kecewa dengan kata-kata Dimas.
“Apakah kenangan itu tak berarti juga bagimu Dimas?” tanya Ara yang tertahan dalam hati. Ara mencoba tetap tersenyum dalam rasa kecewanya.

Malam keesokan harinya, Dimas mengajak ibunya dan Ara untuk duduk bersama di teras rumah, ia bermaksud mengungkapkan perasaannya pada Ara dan meminta restu Ibunya.
Terlihat Ara yang tengah mengupas buah apel untuk ibu Dimas. Dimas hanya tersenyum melihat kedekatan Ara dengan Ibunya.
“Ra.. Terimakasih untuk semua kebaikanmu, dan maafkan aku yang terlambat menyadari bahwa sesungguhnya yang hatiku inginkan adalah kamu..” ucap Dimas.
“Maksud kamu?” Ara bingung.
“Aku menyayangimu Ara.., maukah kau terus mendampingi hidupku untuk selamanya?” jelas Dimas akan permintaannya. Ara nampak terkejut bahagia, ia pun mengangguk tanda bahwa ia menerima permintaan Dimas. Dimas pun tersenyum senang. Ia lalu mendekati ibunya,
“Ibu, Dimas mau ibu menjadi saksi kebahagiaan ini, apakah ibu mengijinkannya bu?” tanya Dimas. Ibunya terdiam, pikirannya yang kosong melayang ke masa lalu pada saat Ayah Dimas meminta ijin padanya untuk menikah lagi. Seketika ibu Dimas lepas kendali, jiwanya kembali terganggu.
“Kamu!! Laki-laki kejam! Teganya kau berselingkuh! Kau harus mati!” ucap ibu Dimas tanpa kendali. Ia lalu mengambil pisau buah di meja dan mencoba menyerang Dimas, namun dengan reflek Ara menghalangi tubuh Dimas dan akhirnya pisau itupun menancap di dada Ara. Seketika tubuh Ara terjatuh dan bersandar pada Dimas.
“Araaa…” jerit Dimas tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sesaat kemudian para tetangga pun datang, sebagian dari mereka mengamankan Ibu Dimas dan membawanya kembali ke rumah sakit jiwa, sedangkan sebagian lagi membantu Dimas membawa Ara ke rumah sakit.

Di rumah sakit Ara semakin pucat, Ia tampak menahan rasa sakit namun tak sedikitpun ia mengeluh. Sementara Dimas tak sedetikpun melepaskan genggamannya dari tangan Ara, dan setelah memeriksa keadaan Ara, dokter pun mengatakan tak sanggup, luka yang menusuk dada kiri Ara cukup dalam hingga mengenai organ dalam yang vital, dokter mengatakan waktu Ara tak akan lama lagi.
Mendengar itu Dimas semakin panik, ia terus memaksa dokter untuk menyembuhkan Ara, sementara sikap Ara malah terlihat sangat tegar menghadapi kenyataan, bahkan ia pun mencoba menenangkan Dimas.
“Sudah Dimas… Sudah.. Tenanglah..” ucap Ara lirih. Ara berusaha untuk duduk, tapi tubuhnya terlalu lemah, Dimas segera membantunya, menyandarkan tubuh Ara di bahunya.
“Semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan.., dan kumohon, jangan pernah kau menyalahkan ibumu atas semua ini..” pinta Ara dengan segenap ketulusannya, Dimas pun tak kuasa menahan airmatanya melihat ketegaran hati Ara.
“Dan sebelum aku pergi, aku ingin kau penuhi tiga permintaanku..” lanjut Ara.
“Apa?” tanya Dimas singkat.
“Pertama, aku ingin ke makam, hanya berdua denganmu.,” pinta Ara. Dimas sedikit terkejut, namun ia pun memenuhi permintaan itu. Dimas lalu menggendong Ara menuju makam terdekat.

Sesampainya di dalam makam, Ara mengajak Dimas duduk di bawah pohon kamboja, Ara lalu kembali menyandarkan tubuhnya di bahu Dimas.
“Kenapa Ra? Bukankah kau takut gelap?” tanya Dimas. Ara hanya tersenyum.
“Aku ingin melihat bintang..” jawab Ara singkat.
“kan sudah kubilang, itu kunang-kunang Ara… Bukan bintang..” jelas Dimas. Ara langsung terkejut mendengar Dimas mengetahui apa yang ia maksud.
“Dimas?? Kau mengingatnya??” tanya Ara. Dimas mengangguk mengiyakan.
“Maaf aku baru sadar, Aku mengingatnya sejak kemarin kau menceritakan kisah masa kecilmu. Itulah sebabnya kenapa aku berani mengungkapkan perasaanku, karena aku tau kau pasti akan menerimaku..” jelas Dimas.
“Lalu kenapa Dimas? Apakah semua tidak ada artinya setelah kau mengingatnya?” tanya Ara.
“Tanpa mengingat itu pun kau sudah menjadi sangat berarti bagiku..” jelas Dimas. Ara tersenyum haru. Namun wajahnya semakin pucat menahan rasa sakit, meski ia tetap berusaha menyembunyikan kesakitannya.
“Dimas..” ucap Ara.
“Kenapa Ra..?” jawab Dimas.
“Kenapa kau sangat takut dengan permen lolipop?” tanya Ara.
“Karena Eyang aku pernah bilang penyebab giginya hilang adalah karena permen lolipop, dan aku tak mau jika itu juga terjadi padaku..” jelas Dimas dengan polosnya.
“Jadi hanya karena itukah?” tanya Ara heran, ia mengangkat kepalanya dari bahu Dimas, namun dengan segera Dimas kembali menyandarkan kepala Ara ke bahunya.
“Iya, emang gak boleh?” Dimas balik tanya.
“Boleh..” jawab Ara tersenyum. Sejenak mereka terdiam.
“Kelak jika kau merindukanku, ingatlah bahwa saat itu aku juga sedang merindukanmu, jadi tolong datanglah ke makamku, itu adalah permintaanku yang kedua..” pinta Ara. Dimas hanya menangis pilu mendengarnya.
“Tolong jangan pernah menangis, karena aku ingin menjadi senyummu, bukan airmatamu, aku ingin menjadi kenangan indahmu, bukan sedihmu, itulah permintaanku yang ketiga…” ucap Ara dengan suara yang semakin lemah.
“Aku menyayangimu Ara..” Ucap Dimas.
“Aku juga menyayangimu Dimas..” jawab Ara. Dimas lalu memeluk erat tubuh Ara.
Perlahan Ara menutup matanya dalam senyum bahagia, tangannya pun terlepas dari genggaman Dimas. Menyadari bahwa Ara telah tiada, Dimas langsung menangis sejadinya, namun tiba-tiba ia teringat pada permintaan Ara yang terakhir, ia lalu segera menghapus airmatanya. Seketika tampak kunang-kunang berterbangan di sekitar Ara dan Dimas dengan indahnya.

Sejak kematian Ara, Dimas memutuskan untuk menetap di kota Semarang agar lebih mudah mengunjugi makam Ara. Dan hari itu untuk kesekian kalinya Dimas datang ke makam Ara.
“Lihatlah Ra, bahkan tanpa kau minta pun aku sudah pasti akan sering kesini, karena setiap saat aku selalu merindukanmu..” ucap Dimas sambil menaburkan melati di atas pusara Ara. Ia lalu mencium batu nisan Ara penuh dengan kasih yang tulus.
“Aku berjanji, kelak ketika kita kembali bertemu di Surga, akulah yang akan mengenalimu lebih dulu, dan akulah yang akan menyayangimu lebih dulu… Ara..”

THE END

Cerpen Karangan: Triana Aurora Winchester
Facebook: Triana Aurora Winchester
Aku, adalah seperti yang Tuhan tau tentang aku

Cerpen Destiny merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatanku di Perjalanan Singkat Waktu

Oleh:
Perjalananku ke Semarang hampir sampai, sepuluh menit lagi Stasiun Tawang akan tampak. Malam terus bergulir, sepi.. dan kesepian ini mengikutiku, membiaskan perjalananku yang lalu-lalu, meniti galau yang lama ku

Salahkah Aku Mencintaimu

Oleh:
“Jika kau akan pergi, mengapa kau datang jika aku mencintaimu apakah itu salahku?” 2 tahun aku menjalin hubungan dengan Rama, aku sangat mempercayainya walaupun aku tahu dia bermain api

Dalam Bus Malam

Oleh:
Kuangkat tas ranselku yang hanya berisi beberapa helai pakaian. Kunaiki bus malam yang akan membawaku ke kampung tempat dimana aku dilahirkan. Ya, kampung halamanku. Aku ingin pulang sejenak, melarikan

Stand by Me

Oleh:
“Maheeee…..maheeee.” sebuah suara dari kejauhan mengagetkanku. Kulihat ke arah sumber suara. Anita, yaa itu jelas suara Anita. Kulambaikan tanganku dan ia mulai berlari ke arahku. “Mahee..ntar siang temenin nonton

Dua Alam

Oleh:
“Aku ingin kamu selalu ada dekat aku sayang, Oh iya, Jika suatu saat nanti Tuhan memanggilku duluan, kamu janji ya sayang jangan pernah lupain aku..” ujar sarah pada kekasihnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *