Detektif Muda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 29 April 2016

07.00 am
Aku masih di depan cermin, memperhatikan wajahku yang berkumis tipis dan berambut cepak. Ku perhatikan mulai dari iris mata, alis, hidung, sampai lubang hidungku perhatikan, kali aja nanti di acara yang telah aku susun sedekimian istimewa itu tiba-tiba ‘kotoran hidung’-ku keluar begitu saja. Mana mungkin aku akan membiarkannya. Waktu acaranya memang masih lama, ya masih 12 jam lagi sih, tapi aku harus bersiap-siap sesempurna mungkin di depan ‘dia’ aku rela gajiku dipotong demi libur dari tugas detektifku. Padahal hari ini ada kasus besar menunggu, tapi kasusku lebih besar dan berat, aku akan menangani ‘kasus’-ku dulu daripada kasus besar yang lain. Biarlah gajiku kepotong yang penting hatiku kenyang. Haha. Tiba-tiba ponselku berdering. Mr. Sandy call sial, pak tua itu meneleponku, angkat tidak ya. Setelah aku pikir-pikir dan aku timbang-timbang sepertinya lebih baik ku angkat daripada mendapatkan masalah besar kalau ku reject panggilan atasanku yang menyebalkan itu.

“Assalamualaikum, ya Pak ada apa?”
“Hery, lebih baik kamu ke kantor sekarang..”
Tut.. Tut..

Mendengar kata ‘ke kantor’ membuatku sebal, bukanya aku sudah izin. Mau atasanku itu marah atau murka karena aku menutup panggilan begitu saja aku tak peduli. Biar, karena hari ini hariku, bukan hari kerjaku.

03.00 pm
“Ya Mbak, nanti setelah ‘gadisnya’ datang semua orang di sini pada diam oke? Terus lagunya dimainkan ya Mbak, terus nanti kalau aku sudah berdiri dan membawa bunga mawarnya semua orang ikut berdiri dan nyanyiin lirik lagu ‘ini’ . Terus… (bla-bla-bla), mengerti Mbak?” Mbak-mbak pelayan di cafe langgananku ini cuma melongo, entah paham atau dia benar-benar kagum dengan rencanaku, pokoknya hari ini adalah hariku. Malam ini adalah malamku. Aku langsung melangkah pergi ketika mbak-mbak itu mengangguk tanda mengerti, aku harus segera berpakaian keren dan ‘cool’ di matanya nanti.

“Eh, ya Mbak jangan lupa nanti untuk lagu endingnya lagu yang ‘itu’ ya Mbak,”
“Iya iya!”
Hahaha… Nyolot dia.

07.00 am
Aku menuntun Adina melangkah pelan masuk ke cafe langgananku itu, cafe yang tadi dari luar kelihatan rame kini sunyi, yes!
“Kenapa tuh orang-orang, kok pada diem?” Dina bertanya tanya padaku.
“Mungkin mereka kagum padamu.” Aksi gombalku padanya. Hahaha, bumbu pelengkap.

Saku celanaku bergetar, sial pasti atasan sialan itu menelepon lagi, dari tadi ia tak berhenti hentinya meneleponku, dari pada ambil pusing ku matikan handphoneku, “Kita duduk di sebelah sana ya.” ku melembutkan suaraku agar terdengar lebih romantis. Setelah beberapa kali berbincang-bincang ke sana ke mari kini aku akan mengeluarkan puncak acara istimewa ini. Aku segera berdiri, para pengunjung cove yang lain pun berdiri, Adina nampak kebingungan dengan apa yang dilihatnya, aku mengeluarkan mawar merah ala-ala film romantis prancis.

“Adina, maukah kau menjadi kekasihku?”
Pipi Adina memerah, aku bisa menebak dia pasti malu sekali, lalu para pengunjung cafe menyanyikan lagu yang aku suruh tadi. Setelah itu mereka berteriak bersama sama. “Jawab! Jawab! Jawab!” Tambah merahlah pipi Adina, baru ku sadari, ternyata kecantikan Adina bertambah 200% kalau ia sedang malu berat.

Adina dengan malu mengangguk. Duar! Rasanya aku ingin terbang ke angkasa dan menggapai bulan lalu ku petikkan untuknya, aku benar-benar bahagia. Lalu ku ulurkan tanganku padanya, aku menuntun ia berdiri. Aku mendekat lebih erat dengannya. “Terima kasih untuk malam ini,” Suaranya begitu merdu ku dengar. Aku ingin menciumnya, namun mengingat aku baru punya KTP 3 tahun aku pun mengurungkan itu. Pulangnya ku pacu motor ninjaku pelan, Adina pun melingkarkan tangannya di perutku, aku ingin menikmati perjalanan malam ini dengan ‘cinta’.

“Apa kamu tahu Dina, aku benar-benar bahagia!!” Aku berteriak kencang, sekencang hatiku berdebar bahagia.
“Hery, jangan keras-keras nanti dilihatin orang loh,” Katanya lembut.
“Ngapain malu, yang penting beban hilang kan?” Adina tersenyum manis.
“Aaaaaaaa!! Aku bahagia!” Aku begitu senang mendengarnya. Adina berteriak kencang.

Tiba-tiba… Brought! Motor kami terlempar jauh tertabrak sebuah mobil jeep silver. Genggaman Adina terlepas ia terlempar sampai ke pembatas jalan, dapat ku lihat begitu jelas kepalanya terbentur keras pembatas jalan, lalu ia terlihat jatuh ke luar jalan. Namun aku pun tak begitu mendingan. Aku terlempar ke gerbang sebuah rumah kepala belakangku menabrak gerbang besi itu, posisi terakhirku seperti seorang yang sedang duduk lurus di depan jeruji besi gerbang. Beberapa menit sebelum aku tak sadarkan diri dapat ku lihat mobil itu tanpa rasa bersalah terus berlari. Oh tidak sepertinya dari awal ia memang sedang dikejar polisi. Adina! Aku harus menolongmu tapi apa daya aku pun tak sadarkan diri.

02.00 pm
Kesadaranku mulai pulih, perlahan-lahan ku buka mata dengan pelan-pelan, terlihat sosok seorang pria di depanku, dia berkumis tebal dan ada tahi lalat di bawah bibir.

“Pak tua?” Kataku spontanitas.
“Akhirnya kamu bangun, Bapak kira kamu sudah mati,” Katanya seadanya.
Sial dikira aku mati. Padahal aku berencana untuk kencan dengannya hari minggu ini dengan Adina.
Aku segera berusaha untuk bangun. “Mau ke mana kamu?” Tanyanya malas.
“Aku mau pulang minggu ini aku mau kencan dengan Adina,”
“Kencan, Adina? Minggu? ‘palamu g*blok’ ini hari rabu, tukang tidur!” Katanya. Ah apa sih yang ia bicarakan. Jelas-jelas tadi malam malem minggu.
“Bukannya kemarin itu sabtu?”

“Kamu itu sudah koma 1 bulan lebih 15 hari, tukang tidur!”
Apa!! 1 bulan 15 hari, koma! Sebenarnya apa yang terjadi padaku, oh ya! Di mana Adina!
Tanpa peduli apa pun aku langsung mencopot infus dan segera bergegas berdiri dan hendak lari keluar.
“Mau ngapain kamu?” Tanya pak tua Sandy sialan itu.
“Di mana Adina?” Aku begitu panik.
Pak tua mendekat, langkahnya begitu pelan lalu ia memegang pundakku.
“Dia tenang di alam sana, Hery, dengarlah kamu harus kuat menghadapi semua ini”.

Deg!

1 bulan kemudian. Aku menatap gerbang SMA Bina Nusantara di depanku, rasanya aku kembali keenam tahun yang lalu dimana aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya di sekolahan yang suasananya begitu ku rindukan. Bukan tanpa alasan aku di sini, semua bermula pada pagi itu.

“Ini tugasmu, tugas lapangan, penyamaran. Sebenarnya sudah berbulan-bulan yang lalu mau aku katakan, namun kamu ku telepon malah begitu. Ya baiklah satu bulan sudah cukup bukan untuk move-on.” pak tua sialan, dia pikir mudah mencerna dan mengalami ini semua, kehilangan orang yang begitu kita sayangi sangat teramat sulit. Apalagi belakangan aku mulai kehilangan gairah hidupku.
“Ya, tapi kasus ini tentu akan membuatmu bergairah,” Apa sih yang ia bicarakan.

“Tersangka dalam kasus ini adalah Firmana Admaja, atau lebih terkenal dengan nama bos Admaja. Dia adalah pembisnis nark*tika teraman dari endusan polisi, aku tak tahu siapa yang ada di balik semua ini tapi yang perlu kamu tahu, dialah yang menabrak kalian malam itu, walaupun kini ia ada dipenjara namun semua ini belum selesai karena ia punya tangan yang banyak,” deg! Admaja? Orang yang menabrak aku dan Adina malam itu. Sialan! Aku benar-benar merasa beruntung mendapatkan misi ini.

“Tugas kamu penyamaran menjadi murid kelas XII di SMA Bina Nusantara, semua sudah kami urus, mulai dari raport, ijazah, dan surat perpindahan dari sekolah lama kamu, perlu kamu ketahui, selain karena bakat kamu, kami menyuruhmu melakukan tugas ini karena dari segi fisik kamu masih cocok untuk menyamar menjadi pelajar SMA, hahaha,” pak tua sialan. “Hery, tersangkanya adalah tangan kanan bos Admaja, dia masih muda pula, baru berumur 18 tahun. Misi kamu temukan dia cari informasi dia, kalau bisa kamu harus berpura-pura ingin jadi rekan bisnis dan sahabatnya, ini data profilnya, mengerti?” pak Shandy menyerahkan aku sebuah data data untuk keperluanku.

“Mengerti Pak!” Jawabku sedikit bersemangat.
“Moga saja nanti kamu dapat cewek-cewek SMA,” Katanya sambil berlalu.
Aku tak memedulikan itu, yang aku peduli adalah ‘pembunuh masa depanku’ itu.

Baru-baru ini ku dengar ‘dia’ si bos besar, kabur dari penjara, baguslah aku akan menangkap buronan keparat itu. Ku tahan napas lalu ku hembuskan pelan, aku ingin memulai semuanya dari sini dari gerbang sekolah. Adina, aku berjanji akan membayar nyawamu dengan nyawanya. Kakiku melangkah menuju tempat yang begitu cerah dan bersinar, bersinar seperti harapan hatiku saat ini.

The End

Cerpen Karangan: GP. Arifin
Blog: http://gparifincerpen.blogspot.com

Cerpen Detektif Muda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Yang Indah

Oleh:
Malam hari saat aku sedang belajar mama memanggilku “taraa!” panggil mama, “iya ma?” jawabku. “ada temen kamu tuh yang pengen ketemu kamu” ucap mama. “indah ya ma?” tanyaku. “bukan,

Ketika Mentari Menghapus Embun

Oleh:
Aku mencintai perbedaan, aku menyukai kesederhanaan. Tapi aku tak membenci penyeragaman, juga tak menghujat kemewahan. Orang-orang menganggapku aneh karena tak sejalan dengan mereka, mereka melihatku kaku ketika aku benar-benar

Siapa

Oleh:
Lagi-lagi ada yang menaruh hadiah di mejaku. Aku sangat dibuat penasaran. Siapa yang selalu memberiku hadiah setiap hari, ada saja sekotak hadiah dan tak lupa ada secarik surat yang

The Valuable Shadow

Oleh:
Braaak!!! Aku langsung berlari menghampiri asal suara itu. Terlihat seorang gadis tergeletak di pinggir jalan dengan posisi setengah badan tertindih motor yang dikendarainya. “Kamu baik-baik saja?” Tanyaku sambil mendirikan

Heart Sounds (Part 2)

Oleh:
“Kita pergi ke karaoke, bagaimana?” pertama kalinya Zack mengajakku ke luar untuk berkencan. Bahkan aku tidak tahu ia menganggap ini kencan atau bukan. “Hmm. Kapan?” jawabku yang sok jual

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *