Di Sini Ada Hati Yang Terluka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 6 June 2016

Di setiap cerita selalu ada cinta, dan ada rintangan. Tapi akhir cerita tetap menunjukkan sepasang kekasih yang dapat menyatukan cinta mereka. Namun tidak pernah disorot tentang seorang yang tersakiti hatinya karena akhir cerita indah itu. Pada kenyataannya selalu ada yang menangis dalam sepi menahan beban bahagia orang lain.

Cerita Satu:
Haruskah, aku benamkan diri meratapi semua yang telah terjadi. Menyesali apa yang pernah membuat aku tertawa. Setiap langkah kakiku begitu berat menginjak tempat-tempat ini. Kenangan indah yang kini berubah menjadi memori buruk bagiku.

Tidak bisa kusalahkan dia, ataupun mereka, dan ini juga bukan kesalahanku. Tidak ada satu pun umat yang bisa menentukan pada siapa yang dia akan mencinta. Dan tak ada seorang pun wanita yang tega menyakiti wanita lainnya.

Setelah sembilan bulan lamanya aku menutup telinga mendengar rayuan adam, menutup mata menatap anugrah Tuhan, menutup hati menerima kasih sayang. Saat bertemu dia, pertama mendengar suaranya menyebut namanya, pertama menyentuh tangannya. Ada yang bergerak di hatiku, satu pintu telah terbuka. Bersiap untuk menerima tamu ini. “Win” begitu ia menyebut dirinya di hadapanku. Welcome to my life, balasku dalam hati.

Esok, esok dan esoknya lagi. Kami sering bersama, menghabiskan hari dengan cerita-cerita masa lalu. Kini aku tahu, dia adalah pangeran yang salah memilih cinta, hingga dia harus menyiksa hatinya untuk mengemis ratunya agar bersedia kembali ke sisinya. Tuhan, aku kasihan terhadap makhluk Mu ini. Mengapa dia harus mencintai wanita yang tidak mencintainya Tuhan. Mengapa dia harus menanti untuk seseorang yang tak berniat untuk kembali. Aku yang terlanjur jatuh hati padanya memberanikan diri, membebaskannya dalam kabut cintanya.

Hari ini, 11 Juni 2011. Senja hari di tepi pantai Padang. “Tata, terima kasih karena engkau telah hadir dalam hidupku. Kedatanganmu membuat aku bisa tertawa. Ucapanmu selalu membuatku bersemangat untuk menjalani hari. Maukah kau menjadi pacarku?” Tanya nya. Ini, apakah aku bermimpi? tidak pernah aku memikirkan dia akan menjadi pacarku. Aku tengah di mabuk cinta, dan tidak berpikir panjang.

Cinta, selalu indah di awal. Aku dan Win merajut cinta dalam hubungan pacaran. Dunia seakan milik kami berdua.

Memasuki usia ke 2 bulan pacaran kami terasa sulit ternyata, menyatukan rasa pada yang lebih muda dengan segala kelabilan yang ia punya, ia banyak memeras nafasku untuk bertahan. Belum lagi dari sandungan yang dibuat oleh mantan kekasihnya di sana, yang mampu membuat goyah dan curigaku akan hubungan mereka benar berakhir.

Malam sebelum pagi ini, aku merasakan lagi pengkhianatan yang ia buat, kebohongan yang ia coba susun untuk mendapat aku dan dia. Win, biarlah bagiku kini tak bersamamu dari pada aku harus dibohongi. Jangan sekali-kali kau buat aku merasa bodoh dan terkasihani karena harus berbagi dirimu.

Jika bisa terulang kembali, akan kuhapus hari itu. Hari aku bertemu dia, hari dia katakan cinta, hari ketika aku mendengar pembicaraannya dengan mantan kekasihnya. Dia berkata “Aku masih sayang kamu Yie, aku tahu aku salah karena telah pacaran dengan Tata, tapi aku kesepian di sini sayang. Kamu tidak juga menepati janjimu untuk kembali ke sini, kembali padaku”. Aku terhempas, hatiku hancur, pikiranku melayang. Dan tak sengaja air mata telah sampai kebibirku.

Inilah akhirnya, dia lebih memilih wanita itu, yang telah lama merebut hatinya. Tidak seharusnya aku hadir di antara mereka. Kini, aku harus merasakan perih yang aku perbuat sendiri.

Tak berguna pun aku mengingat janji yang pernah ia buat untukku. Semuanya telah pergi, dia dan cintanya. Sekalipun aku menangis, dia tak akan pernah memilihku, karena aku hanya pelarian.

Cerita dua :
“Katakan padaku, dibandingkan dengan Nadia, siapa yang paling cantik?” Tanya Sarah manja kepada kekasihnya Bagas. Bagas hanya tersenyum saja, melihat tingkah kekanak-kanakkan Sarah yang membandingkan dirinya sendiri dengan orang yang sudah lama meninggal. “Ayo katakan… Pasti aku kan!” ucap Sarah lagi sambil merangkul tangan Bagas yang berjalan lebih cepat darinya.

Sarah adalah seorang model majalah kampus, selain menjadi model dia juga bekerja sebagai penjaga toko kaset milik pacarnya. Dan Bagas adalah seorang fotografer yang cuek dan tertutup. Entah apa yang menjadi alasan wanita cantik ini memilih pria itu menjadi pujaan hatinya, mungkin dia bisa mendapatkan pria tampan lainnya yang lebih romantis dan lebih bisa memanjakan dia. Tapi dia tetap bersikeras untuk bertahan hingga hampir 3 tahun lamanya.

Sarah terkenal sebagai playgirl, memiliki banyak pacar dan tak kenal cinta. Namun, setelah berjumpa dengan Bagas, yang sebagai fotograpernya, dia melepaskan gelar playgirlnya dan berteriak pada batu karang bahwa ia jatuh cinta.

Memiliki mu adalah harta terbesar dalam hidupku, tak akan aku rela menukarmu dengan Bradd Pitt sekalipun. Begitu ia selalu bilang kepada Bagas. Bagas hanya tersenyum, dan hanya selalu tersenyum.

Di belakang meja kasir Sarah memangkukan tangannya, menatap rak kaset di depannya, di mana berdiri seorang pria yang sedang melihat-melihat kaset yang tersusun di rak dan sesekali menukar-nukar tempat susunan itu. Tatapan Sarah berbinar, seakan menangis.

“Kamu Lagi mikirin apa?” Tanya Bagas yang sudah ada di hadapannya.
“Gak ada, besok hari ulang tahun ku” jawab Sarah gugup karena kaget.
“Aku tahu, kamu mau kado apa?”
“Nikahi aku”
Bagas diam sejenak. “Aku harus minta ijin nenek dulu, kenapa, kamu sudah bosan pacaran. Kalau bosan kenapa masih bersamaku” jawab Bagas datar.
“Bukan seperti itu, kalau minta persetujuan nenek dia pasti tidak akan pernah setuju. Karena baginya Nadia lah yang pantas menjadi istri mu. Aku tidak bosan, dan tak akan bosan hidup bersamamu” balas Sarah tersenyum. Dia sadar, perjuangan Bagas sudah cukup besar, yaitu berani menentang neneknya untuk pacaran dengan Sarah. Padahal nenek adalah satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.

Satu persatu teman Sarah sudah menduduki kursi pengantin. Ada rasa iri yang menghantui hatinya. Usianya sudah memasuki 25 tahun, kepuasan yang ia dapat menjadi pacar Bagas kini tidak lagi cukup. Dia mulai terobsesi untuk menikah, berkeluarga dan memiliki keturunan. Tak jarang pembahasan ini menjadi pertengkaran mereka. Dan akhirnya selalu Sarah yang mengalah.

17 Agustus 2011, di salah satu café di Pekanbaru. Adalah pertemuan pertama mereka di bulan Agustus, semenjak pertengkaran di akhir bulan Juli. Bagas menelepon Sarah pertama, meminta untuk bertemu dan mengakhiri pertengkaran yang kekanak-kanakan ini katanya. Sarah sangat kegirangan dan memeluk rekan sekitarnya setelah menutup telepon tersebut, hatinya bahagia menerima kemenangan dari pertarungan ego yang mereka mainkan. Sarah menahan diri untuk tidak menghubungi Bagas setelah pertengkaran itu, dia bersikap di luar kebiasaan demi membuktikan seberapa besar rasa cinta dan sayang yang dimiliki kekasihnya itu.

Menggunakan dresscout pemberian Bagas dulu, Sarah memasuki café mencari pria idamannya. Terlihatlah Bagas yang sedang asyik memainkan laptop miliknya. Segera Sarah menghampirinya, namun tiba-tiba Bagas berdiri dan seperti mengejar seseorang yang hendak keluar dari café, Sarah penasaran dan mengikuti Bagas dari belakang.

Bagas mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal jauh dari wanita itu, kemudian saat hampir dekat, ditariknya tangan wanita itu. Dan mata mereka saling bertatapan. Si wanita terlihat bingung bercampur marah. “Kamu siapa?” ucap si wanita.
“Nadia, kamu mirip sekali dengannya. Apa kamu Nadia?” balas Bagas tak berkedip melihat wanita di depannya. Selanjutnya Bagas meminta gadis tersebut duduk menemaninya di café, dan mereka mulai akrab.

Jauh dari tempat duduk mereka, Sarah memperhatikan dengan seksama. Setiap gerak bibir mereka dan ekspresi wajah mereka. Ada amarah dalam hatinya, ingin sekali menghampiri dan mengacaukan suasana mereka. Namun niat itu urung diungkapkan karena melihat Bagas tersenyum, tersenyum manis yang tak pernah ia berikan kepada Sarah. Tertawa bahagia dengan mata yang berbinar-binar. Tak kuat lagi melihat, Sarah membalikkan diri, meninggalkan café dan Bagas. Hatinya terluka sangat dalam untuk kali pertama.

Esoknya. Sarah menjumpai bagas di tempat pemotretan. Bukan untuk memulai pertengkaran baru melainkan… “Sayang, maaf yach. Semalam aku pulang telat dari pemotretan, jadi waktu ke café, kamunya udah gak ada”
“Ehm, kenapa tidak kasih kabar?” balas Bagas, dan menghentikan pekerjaannya. Diajaknya Sarah untuk makan siang di sekitar tempat pemotretan. Dan mereka sudah kembali seperti biasanya. Sesekali Sarah membelai rambut Bagas, ia sangat rindu kepada pria ini. Hingga ia bersedia menyimpan sakit hati yang ia terima demi dapat kembali seperti ini.

Hari ini Sarah tidak dalam kondisi berbaik hati. Ia tidak sedang ingin mengalah dalam pertengkaran yang dikarenakan Bagas sering absen dalam jam-jam kencan mereka. Dia membuka semua luka yang pernah ia pendam, dan memojokkan Bagas.
“Kamu jalan dengan wanita lain kan?” Tanya Sarah.
“Enggak, aku gak jalan dengan wanita lain. Aku sedang sibuk, banyak kerjaan, makanya gak bisa kencan ama kamu Sarah.” Jawab Bagas.
“Alah, bohong. Kamu jujur aja, kamu lagi dekat dengan wanita lain. Kamu selingkuh, kenapa sih gak jujur aja” kali ini Sarah berteriak menuduh Bagas.
“Iya, aku jalan dengan wanita lain. Puas?!” balas Bagas yang nadanya sudah mulai meninggi.
“Gak mungkin. Kamu gak mungkin melakukannya” Sarah mengungkiri pertanyaan Bagas barusan. Setelah merasakan pahitnya kejujuran ia malah memungkirinya. Menyesal mendengarnya.

2 hari mengurung diri di kamar. Sarah memilih keluar menemui wanita lain Bagas. Dia mencari alamat si wanita selama masa penyendirian. Dan akhirnya kini dia berhadapan dengan wanita tersebut. Dia benar-benar sangat mirip dengan Nadia. Rambutnya, matanya, senyumnya, dan cara bicaranya juga sama seperti yang nenek ceritakan. Dan akhir diketahui nama gadis itu Nuri.

Mereka bicara empat mata di taman sekitar rumah Nuri. Sarah menceritakan hubungan dia dengan Bagas. Dari ekspresi Nuri, sepertinya dia tidak tahu bahwa Bagas sudah punya pacar. “Maaf jika saya merusak hubungan kalian” ucap Nuri menyesal.
“Ini bukan salahmu, apa kamu percaya takdir. Karena takdirlah Bagas bertemu denganmu. Sosok wanita yang ia dambakan. Meski telah 3 tahun lamanya kami bersama, tak pernah sekalipun aku melihat dia sebahagia saat bersamamu. Mungkin dia memang bukan untukku, dan aku bukanlah pengganti Nadia yang pantas. Aku rasa aku tahu diri” balas Sarah kemudian meninggalkan Nuri yang sedikit bingung.

Setelah hari itu, Bagas tidak pernah melihat Sarah, dia sempat mendengar dari cerita Nuri tentang pertemuan itu. Dan saat menghampiri Sarah di rumahnya dia sudah pergi ke Yogyakarta. Bagas hanya mendapatkan 1 kotak bingkisan titipan Sarah sebelum berangkat. “Makasih ya tante”

Bagas melempar kotak tersebut setelah membaca surat di dalamnya. Dan cincin yang sempat ia pasangkan ke jari manis Sarah terbuang entah kemana. Dia terlihat marah dan benci. Tak lama handphonenya berdering memutar lagu Nano ‘Aku bukan malaikat’
“Kamu di mana?” Tanya Bagas marah kepada sipenelepon, dia berpikir itu Sarah karena nada deringnya.
“Halo, ini aku Nuri. Kamu sudah makan siang?”.

Hanya pada saat itu. Selanjutnya tidak ada lagi yang peduli dengan Sarah. Tidak ada yang merasa kehilangan. Tapi Sarah sendiri masih menatap Bagas dari kejauhan, berharap suatu saat nanti Bagas akan melihatnya dan menyadari luka di hatinya saat harus melepas Bagas, mendengar tangisan yang keluar ketika menerima kenyataan dan takdir tidak berpihak padanya.

From : Tata
To : Win
Sayang, terima kasih untuk waktu yang pernah engkau beri padaku. Untuk mimpi indah yang sempat menjadi impianku. Terima kasih untuk rayuan yang kini menjadi luka bagiku. Maafku karena telah merebutmu dari dirinya. Aku pikir aku bisa lebih baik untukmu. Tapi mungkin cintaku tak sebesar cintanya, hingga tak bisa membuatmu benar berpaling. Salamku untuk dia, semoga kalian bahagia.

From : Sarah
To : Bagas
Bagas sayang, aku pergi meninggalkanmu. Aku sudah bicara dengan Nuri. Kurasa dia bisa menjagamu lebih baik lagi. Kebodohanku untuk tetap bersamamu kini telah berakhir. Tapi aku tidak pernah menyesal menjadi bodoh karena mencintaimu. Selamanya aku mencintaimu (Sarah Pradanty).

Cerpen Karangan: Yuni Asnita
Facebook: Https://www.facebook.com/thatha.ciiuni

Cerpen Di Sini Ada Hati Yang Terluka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luka Abadi Dari Cintamu

Oleh:
Entah sudah kali keberapa kupandangi luka di tanganku, tanpa kusadari setetes air meleleh mengalir di pipiku. Ada rasa sesal dan kecewa, kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku,

Cinta Ini Membunuh Ku

Oleh:
“Cinta, memang anugerah yang teramat indah. Dimana limpahan kasih sayang, perhatian, cinta kasih ku dapat setiap hari. Segala kelemahanku, kau pandang kekuatanmu tetap mencintaiku, bahkan yang paling mengerikan dariku

Menunggumu

Oleh:
Mataku menerawang entah ke mana. Pikiranku kosong, benar benar kosong. Aku melamun sangat lama. Aku penasaran dengan siswa baru yang akan mendatangi kelasku. Semoga laki laki. Yah, inilah aku,

Sesak

Oleh:
“Aku si wanita kaku itu. Aku mencintaimu jauh sebelum kau mengenalku. Aku menyimpan perasaan ini di lubuk hatiku. Ku berusaha mengubur semua perasaan ini, tetapi hasilnya? Aku merasa sesak.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *