Dia, Tuhan…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 30 November 2013

Dia

Dia.
Dia
Dia
Hanya dia
Hanya dia
Hanya dia yang aku inginkan
Tuhan, aku sangat mencintai dia
Engkau juga tahu bahwa dia juga mencintaiku
Satukan kami
Jika itu terbaik bagiku dan semua yang aku sayangi, Amin

Doa yang selalu aku panjatkan. Di setiap malam tidurku. Di setiap kesendirian hidupku. Aku tidak minta banyak, aku tidak berani. Aku hanya minta dia. Untuk hidupku yang sekali ini. Untuk kehidupan abadiku nanti juga. Jika ada pendamping hidup untukku, dialah orangnya. Hanya dia. Hanya dia. Hanya dia yang aku inginkan
Aku tidak ingin yang lain. Andai semua orang tahu. Betapa besar cintaku padanya. Jerry Anderson. Seseorang yang aku kenal sepuluh tahun yang lalu. Perkenalan kami bermula tanpa disengaja. Yang aku sebut takdir.

Suatu hari aku pergi ke taman kota seorang diri. Jarak antara rumah dan taman tidak terlalu jauh, hanya sekitar tujuh menit. Setiba di taman aku begitu lelah, lalu aku duduk di kursi taman yang menghadap ke jalan raya sambil memium air mineral yang aku bawa dari rumah. Aku mengamati lalu lintas yang tidak terlalu padat lalu ada seseorang yang datang dari seberang jalan yang hendak menyeberang ke taman. Aku perhatikan orang itu, sepertinya bukan orang Indonesia. Aku bisa tahu dari postur tubuhnya yang tinggi kurus dan meskipun wajahnya sedikit tertutup oleh rambutnya yang pirang panjang berantakan aku tahu jika dia bukan orang Indonesia.

Sesampainya dia di sebrang jalan yaitu taman kota, dia berjalan ke arahku. Aku tidak sadar jika pandanganku masih tertuju padanya, hingga dia menyapaku dengan aksen Inggrisnya. “Selamat sore nona” dia mengucapkannya dengan baik meskipun terdengar aneh. “Selamat sore” jawabku. “Bolehkah saya duduk di samping Anda?” pinta orang asing itu lalu aku menyilahkannya duduk.

Aku tidak menyangka dia begitu ramah padahal wajahnya tidak menggambarkan demikian. Setelah berbincang cukup lama akhirnya dia memperkenalkan diri. Namanya Jerry, dia sebenarnya orang Inggris, tetapi sudah dua tahun lebih tinggal di Indonesia. Aku bergumam dalam hati, hebat sekali dalam dua tahun sudah bisa berbahasa Indonesia sebaik ini. Dia adalah musisi jalanan di Inggris. Dia sering melihat-lihat di internet bahwa Indonesia itu indah. Lalu dia memutuskan untuk merantau ke Indonesia

Dia pergi meninggalkan Inggris tanpa restu orang tua. Keluarganya juga tidak menyetujui rencana Jerry merantau ke Indonesia, tetapi dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Indonesia. Kata Jerry, Indonesia begitu menakjubkan. Selain alamnya yang sudah terbukti keindahannya, orang-orangnya juga ramah seperti di Inggris. Dan cuaca di sini sangat enak, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.

Aku tidak menyangka Jerry menceritakan banyak hal tentang dirinya. Dan sepertinya aku mulai mengaguminya. Saat ini pekerjaannya adalah musisi di kafe-kafe dan hotel. Tak jarang juga dia ikut konser di festival-festival band Indie. Setelah lama mengobrol akhirnya dia berpamitan padaku. Dia bilang sebenarnya ada janji dengan temannya di kafe dekat taman kota, tetapi karena tidak sengaja melihatku dari seberang jalan, dia ingin menyapaku. Aku hanya tersenyum malu lalu dia pergi. Belum jauh dia berjalan, dia kembali “Emm, maaf apakah boleh saya meminta nomor Anda?” dia memintanya dengan sopan dan begitu manis, tidak mungkin aku menolaknya.

Setelah pertemuan pertama itu, kini kami lebih sering bertemu. Jika tidak di rumahku atau sekedar berjalan-jalan, biasanya aku menemaninya bernyanyi di kafe. Tidak jarang pula aku menonton konsernya di festival. Sudah lebih dari sebulan kita saling mengenal. Aku pun juga sudah mengenal banyak teman-temannya. Dan keluargaku juga sudah mengenalnya. Dia begitu ramah terhadap semua orang. Termasuk anak-anak kecil tetanggaku yang sering bercanda gurau dengan Jerry saat dia mengunjungi rumahku.

“Hey, Adinda sayang. Mengapa kau menyukaiku? Apa karena aku tampan, tapi aku merasa tidak terlalu tampan” Tanya Jerry padaku sambil tersenyum manis. “Sure not darling. Aku menyukaimu karena itu kamu bukan orang lain” jawabku penuh keseriusan. “Just so you know honey, I’m not like what people think about me. I’m just me, not cool as you think. Even more than you think.” Kata Jerry dengan penuh percaya diri. “Well, that’s why I love you” lalu aku memeluknya.

Aku masih ingat saat-saat seperti itu. Setiap pagi dia selalu membangunkanku dengan meneleponku “Selamat pagi mentari” aku tahu dia pasti tersenyum lebar saat itu. Dia memang selalu tersenyum lebar kepadaku. Tidak pernah aku melihat dia dengan wajah sedih. Meskipun aku tahu dia sangat merindukan keluarganya. Aku pernah menyuruhnya kembali ke Inggris tetapi dia bilang tidak bisa. Dia ingin sukses sebelum kembali. Untuk itu setiap hari Jerry bekerja keras dari pagi hingga malam. Aku bahkan jarang melihat dia bersantai-santai tanpa melakukan apa-apa. Pasti ada saja yang dilakukannya. Entah itu menulis lirik, sekedar membaca majalah musik, searching venue atau hanya berlatih gitar.
Bukan hanya itu yang aku kagumi dari sosok sempurna di mataku ini. Dia suka dengan anak-anak. Di akhir pekan jika tidak ada pekerjaan, dia pasti mengunjungi panti asuhan yang aku rasa jaraknya cukup jauh dengan mengendarai sepeda. Tetapi dia sangat menikmatinya. Dia juga suka mengajar anak-anak kecil menggambar dan bahasa Inggris di taman kota. Dan tentu saja perhatiannya padaku.

Pernah suatu ketika, seperti biasa aku berjalan-jalan mengunjungi mall dekat kota dengan Jerry. Tiba-tiba seorang temannya menghubunginya mengabarkan kalau temannya yang bernama Zhen kecelakaan di Jalan Raya Malang. Dengan wajah yang sangat khawatir Jerry bergegas menuju tempat kejadian kecelakaan tersebut. Setelah keluar mall ternyata hujan deras, akhirnya Jerry memanggilkan taxi untukku dan menyuruhku pulang sendiri. “Maaf sayang, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Kamu hati-hati ya. Sesampainya di rumah kamu hubungi aku, oke?” lalu mencium keningku. “Pasti, kamu juga hati-hati” pintaku. Lalu dia menutup pintu taxi yang aku tumpangi. Kami pun berpisah.

Tidak disangka, jalanan begitu padat dan macet. Sudah lebih dari tiga puluh menit aku terjebak macet, padahal jika dihitung-hitung jarak rumahku dengan mall hanya dua puluh menit saja. Sialnya baterai ponselku habis. Aku pikir Jerry akan sibuk mengurus temannya yang kecelakaan dan aku akan menghubunginya saat tiba di rumah. Tetapi Jerry sudah menghubungiku dulu. Lama sekali dia mencoba menghubungiku tetapi tidak bisa. Dia menghubungi rumahku tetapi Ibuku mengatakan bahwa aku belum pulang. Dengan sangat khawatir, setelah temannya ditangani oleh dokter dia pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencariku. Dia takut hal buruk menimpaku. Dia berkeliling kemana-mana. Dari taman-taman kota, jalanan hingga perumahan-perumahan sekitar rumahku. Sesampainya di rumah aku langsung menghubunginya. “Halo, Jerry”. “Adinda, dari mana saja kamu?. Apa kamu baik-baik saja sayang? Sekarang kamu dimana?” dengan sangat khawatir. “Aku sudah di rumah..” lalu dia menyela kata-kataku. “Oke tunggu aku, aku segera kesana, I love you”.

Lima menit kemudian dia sampai di rumahku dengan pakaian yang basah kuyup dan bibir yang membiru karena kedinginan. Setelah aku membukakan pintu untuknya dia langsung memelukku erat. Dia benar-benar sangat khawatir. Dia pikir aku diculik atau kecelakaan karena tidak bisa menghubungi ponselku. “Jangan lakukan itu lagi padaku, aku tidak sanggup jika jauh darimu?”, kata Jerry sambil masih memelukku. Lalu aku meminta maaf dan memeluknya lebih erat lagi.

Aku kagum dengan kegigihannya untuk meraih mimpinya menjadi musisi yamg sukses. Seperti saat itu, hari itu hujan seharian turun tanpa henti. Aku pergi bersama Jerry ke festival yang tempatnya lumayan jauh. Meski dinginnya udara dan basahnya tubuh, belum lagi dinginnya tempat duduk kereta yang terbuat dari besi. Jerry tidak mau melewatkan kesempatan ini. Sesampainya disana ternyata konser dibatalkan karena alasan keselamatan bersama. Jerry bilang ini konser yang dia tunggu-tunggu karena di sana ada produser yang ingin dia temui. Tetapi sayang sekali konsernya dibatalkan. Aku tidak melihat raut wajah sedih pada Jerry. Dia bahkan berkata pada dirinya sendiri “Kegagalan yang sedikit lebih lama akan terasa lebih nikmat nantinya saat sukses” aku sangat bangga kepadanya dan aku langsung memeluknya.

Suatu hari aku sengaja pergi ke rumah kontrakan Jerry tanpa memberitahunya terlebih dulu. Aku mengetuk pintu berkali-kali tetapi Jerry tidak muncul juga, lalu aku meneleponnya. “Hey, apa kabar?” “Hai, aku sedikit tidak enak badan” dia mengatakannya sedikit terpatah-patah. Lalu aku menyuruhnya untuk membuka pintu rumahnya karena aku sudah berada di depan. Lama sekali aku menunggunya membuka pintu hingga akhirnya dia datang. Wajahnya begitu pucat tetapi tetap dengan senyum yang sangat lebar kepadaku.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu?” aku benar-benar sangat khawatir. Dia malah tertawa “Aku tidak apa-apa. Ini sudah biasa. Nanti juga sembuh” dia menenangkanku dan menyilahkanku masuk. Selama ini dia tidak pernah memberitahuku jika dia mengidap penyakit tipes. Jika dia terlalu lelah pasti sakitnya kambuh. Aku sangat kasihan padanya. Dia tinggal seorang diri, jika dia tidak sadarkan diri bagaimana? Aku meneteskan air mata lalu memeluk Jerry.
“Aku benar-benar tidak apa. Aku janji jika aku sakit akan memberitahumu” aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya. Setelah itu aku membuatkannya bubur lalu menyuapinya. Meskipun sakit dia tidak merasa seperti sakit. Dia melakukan semua pekerjaan rumah seperti biasa. Seperti saat dia mengambil jemuran pakaiannya aku tidak boleh membantunya, jadi aku hanya duduk di teras rumahnya sambil memperhatikannya. Aku sangat bangga pada Jerry. Dia begitu mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Selain dia bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri, dia juga menyisihkan sedikit uang untuk Momnya yang dikirim setiap tiga bulan sekali. Tidak banyak memang kata Jerry, tetapi dia ingin membahagiakan Momnya. Dia ingin Momnya tahu bahwa dia baik-baik saja di Indonesia.

Orang tuaku memang senang jika Jerry berkunjung ke rumah, tetapi mereka selalu menasehatiku, “Lara sayang, boleh saja berteman dengan Jerry. Tapi ingat kita berasal dari belahan dunia yang berbeda, bukan hanya berbeda negara, bahasa dan budaya, melainkan juga berbeda agama.” Selalu, kata-kata itu yang diucapkan oleh orang tuaku jika Jerry berkunjung. Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum sebisanya.

Tiba waktu dimana Jerry mengutarakan cintanya padaku. Aku tidak tahu harus menerimanya atau tidak. Aku tahu dia begitu baik padaku. Dia juga membuat hari-hariku lebih berwarna. Dan sepertinya kita memang sudah saling jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi entah mengapa hatiku ragu mengucapkan kata “Ya”
“Honey, will you be mine please..” pinta Jerry dengan tulus sambil berlutut kepadaku. “Yes I will with my pleasure, my prince” aku menerimanya sebagai kekasihku.

Sudah lebih dari setahun kami menjalin hubungan sepasang kekasih. Tetapi aku tidak pernah memberitahukannya kepada orangtuaku. Tentu saja, mereka akan melarangku. Karena cinta kita adalah cinta terlarang. Sudah lama juga kegigihan Jerry dalam bermusik. Akhirnya dia dapat menuai hasil jerih payahnya selama ini. Ada sebuah label musik terkenal di kotaku yang mau bekerja sama dengan Jerry. Akhirnya mimpi-mimpi indah Jerry terwujud, tetapi mimpi kami tidak.

Sudah terlalu lama hubungan rahasia kami tidak diketahui keluargaku, hingga suatu hari ayahku memergokiku sedang berciuman dengan Jerry di depan rumah. Seketika itu ayah sangat marah lalu memisahkan kami. Ayah mengusir Jerry sampai memukulnya dengan sapu. Aku berteriak agar ayah tidak memukul Jerry tetapi ayah tidak menghiraukanku. Jerry juga tidak menghindar saat ayah memukulnya. Lalu aku memohon agar Jerry pergi. Dia pergi dari rumahku, ayah menyeretku untuk masuk, tetapi aku masih berdiri dan melihat Jerry pergi.

Semua keluargaku memarahiku habis-habisan. Tetapi ibu tidak, ibu malah membelaku dengan duduk di sampingku dan memelukku. “Sudah yah, sudah hentikan”. “Itu anakmu bu, yang sudah dewasa tetapi tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kamu rela melihat orang tuamu, ibu mu masuk neraka, gara-gara kamu mengikuti egomu sendiri?!”. “Tapi aku sangat mencintainya yah..” kataku sambil menangis tersedu-sedu. “Mulai saat ini juga putuskan hubungan kalian. Dan ayah akan menikahkanmu dengan pilihan ayah, yang pastinya akan membahagiakan kamu di dunia dan di surga nanti”. “Apa?” Tanyaku kaget dan tidak terima. Setelah itu aku menangis semalaman hingga aku tertidur. Ponsel dan notebookku disita ayah. Aku hanya boleh keluar rumah dengan di temani oleh saudaraku bang Iko. Aku merasa seperti tahanan saja.

Sejak malam itu aku tidak berhubungan lagi dengan Jerry. Jerry pun juga tidak pernah ke rumahku. Pernah kata ibuku dia menelepon tetapi ayah menutupnya. Aku sangat merindukannya.

Setiap hari aku hanya memikirkannya, aku juga merindukan belaian hangatnya. Ciuman lembutnya. Canda tawanya. Senyum indahnya. Ketulusan hatinya dalam semua apa yang dilakukannya. Aku bahkan lupa jika dia bukan orang Indonesia. Dia begitu ramah sebagai orang asing. Aku seperti telah mengenalnya lebih lama dari siapapun. Dan aku takut kehilangannya.

Suatu ketika saat aku di toko buku aku memberanikan diri untuk meminjam ponsel bang Iko, “Bang Iko, aku boleh pinjam ponselnya, please.. aku janji hanya sebentar” pintaku dengan muka memelas. “Oke, jangan lama-lama”. “Hhalo..” aku begitu gugup. “Ya, ini siapa?” Jerry bahkan sudah lupa suaraku, dia tidak mengenali suaraku. “Ini Adinda Larasati” mataku mulai meneteskan air mata yang sudah lama tertahan. “Adinda.. aku sangat merindukanmu, apa kabarmu sayang?” dengan girang. “Aku baik, bagaimana denganmu?” tanyaku tidak sabar karena aku juga sangat merindukannya.
Aku bilang sebentar pada bang Iko, tetapi aku tidak bisa berhenti mendengarkan suara belahan jiwaku. Kami berbicara banyak hal, termasuk single barunya yang baru saja masuk rekaman dan rencananya akan dirilis bulan depan. Aku sangat bahagia Jerry baik-baik saja dan tentu saja karena dia dapat kontrak rekaman.

Akhirnya waktu itu tiba juga, ayahku mempertemukanku dengan calon suamiku. Namanya Wibawa Cendikia, dia bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Ayah bilang agamanya sangat kuat, dia merupakan putra dari kerabat dekatnya dan dia sempurna sebagai suamiku.

Apalah bisaku. Dari dulu hingga sekarang aku selalu mengalah. Aku hanya ingin menjadi anak yang patuh pada orang tua. Aku hanya bisa mencoba menjadi yang terbaik untuk keluargaku, sebisaku.

Sebulan kemudian kami menikah. Dengan separuh hati kujalani proses pernikahan dengan hati yang tersayat dan tercabik-cabik. Di hari bahagia semua orang ini kecuali aku, Jerry menelepon bang Iko. Sebenarnya bang Iko tidak tega memberi tahu Jerry tentang pernikahanku hari itu, tetapi apalah guna. Cepat atau lambat dia akan tahu juga.

Jerry tak sanggup berkata saat bang Iko mengatakan yang sebenarnya. Itulah terakhir kali aku tahu kabar tentang Jerry. Cinta sejatiku yang seharusnya menjadi milikku, tapi Tuhan berkata lain. Jerry, seandainya kau tahu betapa aku merindukanmu. Tapi aku hanya bisa mengatakannya dalam hati.

Suatu ketika saat aku berbelanja di mall aku bertemu dengan Sonya teman Jerry. Aku bertanya bagaimana kabarnya ternyata dia membatalkan kontrak rekamannya yang padahal kurang dari dua hari akan dirilis. Hari itu juga dia kembali ke Inggris. Dia bahkan tidak berpamitan kepada teman-temannya. Sampai sekarang tidak ada yang tahu kabar tentang Jerry. Hatiku terenyuh, sepertinya jantungku berhenti berdetak. Tetapi aku dikuatkan oleh sosok mungil yang menggandeng tanganku.

Aku tidak menyangka pertemuanku waktu itu membawa banyak cerita yang kisahnya tidak akan pernah habis. Yang hanya tertulis dalam hatiku yang paling dalam. Aku tahu sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Tapi untuk melupakannya, aku tidak sanggup. Aku bisa bersikap biasa seperti aku baik-baik saja. Tetapi di dalam hati ini penuh luka. Tapi siapa yang tahu? Dan siapa yang peduli? Tidak seorang pun. Tidak apa. Aku akan baik-baik saja. Demi buah hatiku yang aku sayangi. Aku akan berjuang setiap hari untuk memberikan yang terbaik untuknya. Hingga nafas ini akhirnya lelah dan hilang.

Tuhan, jika Engkau tidak dapat mempersatukan kami di bumi, aku mohon satukan kami di surga nanti.

Cerpen Karangan: Agus Purnamasari
Facebook: https://www.facebook.com/loveDBA4ever

Cerpen Dia, Tuhan… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1 Jam Saja

Oleh:
Bersama jaket berbulu putih ini ku rasakan sunyi yang menyelimuti malam ini, bulan yang terang benderang seakan menyapaku di kesepian ini, di temani dengan sejuta bintang dengan cahaya cantiknya.

That Star is You

Oleh:
OIK’s POV Mungkin ini adalah yang akhir dari cerita hidupku. Penantian yang tak berujung. Aku sudah tak sanggup menahan segalanya. Aku sudah lelah. Lelah untuk melakukan semuanya. Aku sudah

Cinta Yang Salah

Oleh:
Cinta sejati?, apa itu cinta sejati? apakah cinta sejati itu benar benar ada? Aku tak mempercayai lagi yang namanya cinta sejati setelah aku dikhianati oleh seseorang yang sangat aku

Worst Class

Oleh:
Terkadang kau pasti pernah merasakan rasa banggan dan sedih secara bersamaan. Kapan? Hari itu di saat kau dinyatakan sebagai alumni, sebagai wisudawan. Sudah pasti kau bangga, siapa yang tidak

Tangan Dari Penulis

Oleh:
Seorang penulis pasti mempunyai cerita hidupnya yang bahkan gak pernah mereka tulis sendiri. Kehidupan mereka ditentukan oleh takdir mereka tidak pernah tahu kapan mereka mendapatkan jodoh, mendapatkan rezeki, bahkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *