Dika, Terima Kasih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

“Dika… di mana kamu sekarang? Aku masih menunggumu sampai saat kini.. ku mohon kau kembali Dika.. aku akan dijodohkan dengan pria yang tidak ku kenal…”

Sore hari yang sunyi, dibalut oleh hujan gerimis yang perlahan membasahi bumi. Aku terduduk lemas dengan tatapan kosong di beranda rumahku. Setitik cahaya mentari bersinar sendu seakan memberiku jawaban atas dilema yang ku alami. Namun aku masih tak mengerti. Dika Akbar. Pria kesayanganku yang sekarang sedang berada di kota seberang. Sebelum pergi, ia menebar janji akan membawakan surga saat dia datang nanti. Dia akan menikahiku dan membuatku bahagia. Tetapi apa? Sekarang ia hilang tanpa kabar bak ditelan bumi.

Dan Rahman Mahardika. Putra dari ustad Mahardika. Aku memang tahu dia, tetapi aku tidak kenal betul dia. Dan nanti ia akan menjadi imamku, nahkodaku yang akan mendayung bahtera rumah tanggaku. Aku tidak tahu harus bagaimana, menunggu cintaku, atau menikah dengan putra ustad itu. Di satu sisi, aku takut jika Dika tiba-tiba kembali. Dan di sisi lain, aku takut jika Dika melupakanku di sana.

Sore berganti sore kembali, seperti hari kemarin, gerimis membalut suasana. Entah mengapa ingin rasanya aku menghampiri titik air yang lembut itu. Tetapi tiba-tiba gerimis berubah menjadi hujan yang amat deras. Aku tetap tidak pergi dari tempat. Aku duduk dan tertunduk, aku menangis, dan bertanya-tanya. Kenapa kelembutan ini hanya sesaat? Dika, kamu di mana? Ingatkah engkau padaku. Di saat engkau di rantau ku tunggu tunggu dirimu. Hingga hujan reda, aku masih ada di halaman belakangku, masih seperti tadi. Dan juga memikirkan hal tadi, namun tiba-tiba ibuku datang.

“Nirma!! Apa kau buat di sana?” Lalu ibuku menghampiriku. Dan menyadarkanku dari lamunanku.

“Nirma!!”
“Ada apa Umi?” Terkejut.
“eh, kenapa kau menangis sayang? Apa kau sedih karena perjodohan ini?”
“Hiks, bukan Umi, Nirma sedih karena Dika, kenapa Dika lunturkan kepercayaan dari Umi dan Abi hiks, hiks, Nirma sangat cinta denga Dika Umi. Nirma bingung, Nirma harus terima atau tidak Umi… hiks hiks”
“Tapi kau lihat kenyataannya kan? Dika tak ada kabar sampai sekarang..”
“Hiks hiks,”
“Oh… begini saja, kau salat istikharahlah nanti malam, agar kamu dapatkan jawabannya”
“Baiklah Umi…” Malam pun akhirnya tiba, aku melakukan seperti apa yang disarankan ibuku, aku melakukan salat istikharah. Lalu ku lanjutkan dengan doa dan juga zikir. Namun tanpa sadar, aku pun tertidur.

(Mimpi)

“Bress…” suara hujan.
“Nirma?…”
“Apa dik?”
“Apa kamu tahu kalau hujan bisa menjadi petunjuk hidup?”
“Tidak, memang bagaimana filosofinya”

“Hujan, berasal dari gerimis yang lembut, itu melambangkan kelembutan, atau kenikmatan yang kita rasakan sekarang. Lalu berubah menjadi hujan deras, memang rasanya menusuk, karena ini adalah ujian. Dan tiba saatnya hujan itu reda, itu adalah jawaban dari semua ujian. Tidak ada hujan yang tidak reda, karena semua ujian pasti akan memberikan jawaban”
“Lalu?”
“Entahlah.. bisa jadi jawaban itu bukanlah aku, tetapi orang lain, orang lain yang lebih bisa membahagiakanmu.”

Dan tiba-tiba aku pun terbangun. Aku mencoba mengingat apa yang dikatakan Dika dalam mimpiku, aku. Dan aku merasa itulah jawabannya. Aku harus menerima lamaran dari Rahman dan menikah dengannya, walaupun harus merasakan tertusuk hujan deras, pasti nanti akan ada saatnya reda. Dika, terima kasih… Setelah pernikahanku berlangsung, dua hari kemudian aku mendapatkan sepucuk surat, ternyata dari Dika, saat ku buka isinya adalah..

“Nirma, maafkan aku, aku tidak bisa menepati janjiku. Karena aku mengidap penyakit yang sangat parah hanya 25% kemungkinanku untuk sembuh. Aku tidak akan bisa menjadi imam yang baik. Malah mungkin aku hanya akan menambah beban untukmu. Cintamu, Dika Akbar.” Air mataku tak lagi dapat terbendung setelah membaca surat pemberian Dika. Dika, terima kasih, inilah kebahagiaan yang kau janjikan untukku. Dengan kau tidak membiarkanku sakit karena kehilanganmu nanti. Dika, terima kasih.

Cerpen Karangan: Khoirunnisa Aulia
Facebook: khoirunnisa.aulia.5[-at-]facebook.com

Cerpen Dika, Terima Kasih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maukah Kau Bersamaku?

Oleh:
Sherra, perempuan penunggu ‘Bakery Latte’ ini sudah sejak satu jam yang lalu berdiri di balik etalase kaca yang berisi roti-roti aneka warna yang nampak lezat. “Rainbow Cake satu” seorang

Gaun Hitam

Oleh:
20 Desember 2014 “Enggak usah banyak-banyak. Keluarga inti sama kerabat aja udah cukup rame kan, Mas. Sekalian berhemat buat hidup kita nanti kedepannya.” “Tapi ini kan sekali seumur hidup,

Sahabatku, Pujaan Hatiku

Oleh:
Hari itu ada ulangan Matematika, aku kurang suka sama pelajaran yang satu ini nih. Aku jarang dapat nilai bagus, aku orangnya gak jago ngitung “Hei, ngelamun aja, non! Ntar

Adakah Bahagia Untukku? (Part 3)

Oleh:
“Apa pedulimu pada nyawaku? Aku nggak berhutang apapun padamu,” katanya, seolah meremehkan cewek yang ada di depannya. “Dicka!” Ada sekelumit rasa jengkel di hati Ann, “tunggu dulu!” Dia pun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *