Dikdok (Langit Tanpa Bintang) Part 2

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Gokil, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 January 2017

Keesokan harinya.. Diky yang sedang terguling nyenyak di kasur bermotif Manchester United itu diguncang-guncangkan badannya dengan sadis dan anarkis oleh Nevi. “Apaan sih Nev? Gue lagi mimpi jadi Naruto nih! Ganggu aja! Minggat lo!”, bentak Diky kesal. Dia paling tidak suka tidurnya diganggu. “Bangun kodok..! Anterin gue!!”, pinta Nevi setengah merengek. “Ahh.. kemana? Tukang pasang behel lagi? Minta Ucok atau Usro aja!!”, jawab Diky setengah berteriak tanpa melepas pelukannya dari guling spongebob kesayangannya. “Bukan, ke rumah sakit!”, seru Nevi tepat di mulut telinga Diky (jadi yang bener di mulut atau di telinga nih? Ah saya juga bingung). “Ngapain? Bukannya neneknya Kika udah sembuh?”, tanya Diky, kali ini sudah agak sadar tapi masih merem. “Bukan, nengokin Vita”, jelas Nevi. “Apa?”, tanya Diky, kali ini sedikit melotot kaget. “NENGO..KIN VITA..!!”, bentak Nevi kesal. “Emank si Vita sakit?”, Nevi mengangguk. “Sakit apa?”, tanya Diky penasaran. “Leukimia”, jawab Nevi setengah berbisik. “Apa?”, tanya Diky memastikan, kali ini sambil mengorek kupingnya dengan jempol kakinya sendiri. “iih.. sejak kapan sih lo budeg gini Dok?”, tanya Nevi kesal. “Beneran?”, “Iya, lo budeg!!”. “Bukan! Maksud gue beneran si Vita sakit leukimia?”, tanya Diky antusias. “Ngapain gue bohongin lo! Mending bohongin orang china banyak duitnya!”. Sedetik kemudian, Diky sudah rapih berpakaian, tanpa mandi tentunya.

Nevi sudah duduk dengan manisnya di atas skuter hitam kesayangan Diky. “Awas, jangan nyeruduk tukang balon lagi lo Dok. Pelan-pelan aja!”, seru Nevi khawatir. Diky sedang memasang helm dan berpose dengan gaya Valentino Rossi yang mau balapan. Balap karung maksudnya. “Iya iya kagak kok! Palingan nyeruduk nenek-nenek yang lagi nyebrang terus nyenggol babu tetangga yang pulang belanja, terus nyerempet angkot cicaheum-ciroyom, terus nyungsep di got!”, jawab Diky enteng yang disusul dengan tonjokan ringan beruntun dari Nevi di punggungnya, sakit juga lho, gini-gini si Nevi hobi olahraga tinju sih. Mereka pun meluncur meninggalkan asap hitam pekat dari kenalpot yang menandakan bahwa motor tersebut belom ganti oli selama dua tahun dan belum diservis sekalipun dalam hidupnya. Ckck…

Diky berdiri di ruangan hening. Serba putih. Dinding putih, tirai putih, meja putih, bangku putih, semuanya putih. Ditatapnya seorang gadis manis yang terbujur lemas tak berdaya di atas kasur putih yang sepertinya nyaman sekali. “Vita, kamu udah baikan?”, tanya Nevi dengan suara pelan seraya meletakkan buah-buahan yang sempat dia beli dalam perjalanan. “Semoga aja Nev, makasih ya udah nengok. Aku seneng banget berteman sama kamu”, ucap Vita lirih. “Vita kamu ngomong apa sih! Eh, iya, ini aku bareng Diky”. Vita menoleh ke arah Diky yang padahal sudah di samping Nevi dari tadi. Vita memberikan senyum manisnya pada Diky, “Hai, Dik..”. Diky menyentuh rambut indah yang lembut milik Vita, “Vita, kamu sakit apa?”. “Nevi udah ngasih tau kan?”, Vita malah balik bertanya. Diky hanya mengangguk lemah. “Leukimia?”, Diky memastikan dengan menatap kedua mata Vita lekat-lekat. “Kenapa? Kamu khawatir sama aku ya? Semua orang pasti mati kan? Gak papa kok Dik.. Semua yang ada di dunia ini memiliki batasan kan?”, “Sssstt…”, potong Diky. “Kamu pasti sembuh Vita, aku janji”, hibur Diky yang langsung menggenggam telapak tangan Vita tanpa ragu. “Diky, kamu apa-apaan sih? Aku baik-baik aja kok. Kamu pikir semua penderita leukimia itu pasti mati ya? Penderita koreng juga bisa mati kok dik”, Vita berusaha melepaskan genggaman Diky dari tangannya namun Diky terlalu kuat menggenggam tangan Vita.

Nevi hanya menatap heran kepada kedua temannya itu, dia memperhatikan sikap Diky yang berubah manjadi begitu hangat. “Diky, aku tau dari Nevi kalo kamu itu konyol, lucu, baik, perhatian, dan jarang mandi. Tapi sekarang kenapa kamu diem?”, tanya Vita masih dengan nada lirih. Diky tak kuasa menatap matanya, dia hanya menunduk di hadapan Vita masih sambil menggenggam tangannya. Membayangkan betapa malangnya nasib gadis manis ini. “Diky, mana kekonyolan kamu itu? Ayo tebak-tebakan spongebob lagi..”, kali ini Diky nampak seperti menahan air mata, matanya berkaca-kaca. Tak disangka seorang gadis semuda ini bisa begitu tegar menghadapi penderitaan yang tak seorang pun mengharapkannya.
“Hey, laki-laki gak boleh nangis lho. Kamu ini kenapa coba?”. “Kamu pasti sembuh Vita, aku janji..”, Diky mengulangi ucapannya, kali ini nadanya sedikit turun. “Diky denger ya, kalaupun aku gagal sembuh dari penyakit ini. Aku gak papa kok. Udah bisa kenal dan berteman dengan kalian aja aku udah bersyukur. Semua awal pasti menemui akhir, setiap ada kelahiran pasti ada kematian, semua ini memiliki batasan. Karena batas itulah kita semua dituntut untuk berjuang kan? Aku udah berjuang dan ini udah batasnya Diky. Kenapa orang selalu menangisi kematian padahal yang akan mati tidak menangis.” Mata Diky berkaca-kaca, diciumnya kening gadis itu dengan lembut untuk menghentikan ucapannya. Vita menatap Diky dengan tatapan mata kosong yang menyayat hati. “Kamu pasti sembuh Vita, pasti..”, Diky hanya bisa mengulangi kata-katanya, pikirannya kacau. Nevi memeluk Diky dari belakang untuk menenangkannya. “Udah Dik, jam besuk kita hampis habis. Biarin Vita istirahat dulu”, ujar Nevi pelan. Vita mengangguk sambil menatap Diky dalam-dalam. Mengisyaratkan agar Diky menuruti kata-kata Nevi. Diky pun melepaskan genggamannya, kemudian beranjak dari ruangan itu bersama Nevi setelah sebelumnya, Nevi menyuruh Vita agar beristirahat yang tenang, “kamu istirahat ya vita jangan mikirin apa-apa biar lebih tenang, kita pulang dulu.” Vita mengangguk dan tersenyum sambil terus menatap kedua temannya hingga lenyap di balik pintu kamar Rumah Saki. Dalam hatinya ia merasa begitu tenang. Terima kasih Diky..

Sementara di perjalanan pulang, Diky terus memikirkan Vita. Mengharapkan dengan sangat agar penyakitnya dapat sembuh. Tak henti berdo’a di dalam hati untuk gadis belia yang tak berdaya itu. Bayangan wajah Vita terus berkelebat di benaknya. Menggambarkan kepedihan dengan sorot mata kosong itu. Mengisyaratkan kehidupan yang berat dan sepi. Diky begitu nyata merasakan kesunyian yang terpancar dari raut wajah Vita tadi. Seperti langit malam yang gelap tanpa satu bintang pun yang menerangi. Rasanya ingin sekali Diky menjadi satu saja bintang yang mampu memberi sedikit sinar di sisa hidup gadis yang baru dikenalnya itu. Pikiran-pikiran itu membuat Diky tidak konsen saat mengendarai sepeda motornya. Alhasil, dia sempat hampir saja menyenggol tukang es lilin yang sedang nyeberang. Otomatis si tukang es lilin itu mencak-mencak penuh emosi, “Woi bocah sialan lo! Kutu kupret! Kecoa buntung! Babi rusa! Eh, babi ngepet!! Nyembah babi!! Bisa nyetir motor gak sih lo?”. Nevi terbelalak kaget, “Tuh kan Dik, ati ati coba!!”. Diky hanya nyengir kuda dan melanjutkan laju motornya.

Suatu malam di depan rumah makan padang. Handphone samsung J1 melantunkan sebuah tembang Dear God milik Avenged sevenfold. Diky menekan salah satu tombol “Hallo, apaan Nev?.. Hah? Apa? Ooh.. iya ini gue udah mau ke studio kok. Tunggu aja!”, Diky bergegas memakai jaket kulit kesayangannya dan segera meluncur menuju studio musik tempat mereka biasa latihan. Semenit kemudian skuter yang dia namai Sukri itu diparkirkan di sebelah mobil jazz milik Kika. “Hey, udah lama ya?”, tanya Diky cengengesan. Emank bocah yang satu ini paling hobi ngaret kalo pas latihan biar terkesan penting. “Enggak kok sayang, baru sebentar. Sebentar banget. Sampe-sampe muka lo pengen gue lipet-lipet biar jadi dodol duren!!”, jawab Kika seraya menunjukan senyum iblis khasnya. Gadis cantik yang berposisi sebagai vokalis the DUKUNs ini memang terkenal ketus dan galak. Ya, walaupun penampilannya feminim dengan rambut panjang lurus terurai dan wajahnya yang oriental, sebenarnya dia jago karate. “Sori, tadi gue nganter nenek-nenek yang kesasar dulu”, bela Diky ngasal. Oh iya, mau tau arti the DUKUNs? Ini idenya Ucok, dia yang memberi nama band ini. Itu diambil dari inisial nama masing-masing personilnya. Diky, Ucok, Kika, Usro, Nevi. Sedangkan huruf S dalam bahasa inggris berarti jamak, artinya lebih dari satu orang anggota band nya. (Ya iyalah! Kalo sendirian namanya solo!! Bukan Tagal lho!). Dan juga agar nama tersebut mampu memberikan kekuatan magis yang ajaib kepada band ini agar mampu bersaing dengan band papan atas seperti NOAH. Ada-ada aja ya si Ucok ini?

Beberapa lagu telah selesai dibawakan. Kini masuk pada lagu terakhir. Diky yang berposisi sebagai penabuh bedug di mushola, eh, drummer maksudnya memberi aba-aba dengan memutar-mutar stiknya menggunakan jari agar semuanya fokus. Ucok sang gitaris mengangguk penuh arti. Usro sang bassist dan Nevi sang keyboardis saling bertatapan bersiap untuk mulai memainkan intro. Suara emas Kika yang merdu dan halus dengan sedikit serak mulai menyanyikan verse awal lagu karangan Diky dengan gaya feminimnya yang mempesona hingga siapapun yang melihatnya pasti jatuh hati. Ku hidup tanpa cinta, bagai langit tanpa bintang. Adakah seseorang yang mampu mengusir sepiku.. Langit tanpa bintang, dimana kau menghilang.. Akankah ku temukan sinar yang terang…

Usai latihan, Nevi menggandeng tangan Diky kaluar dari ruang studio diikuti Ucok dan Kika sedangkan usro masih sibuk di dalam studio untuk merapihkan alat-alat. “Ada apa Nev?”, tanya Diky. “Gue dapet telepon sebelom latihan tadi dari mamihnya Vita”, “Ada apa? Vita udah sembuh ya? Iya kan? Bener?”, tebak Diky antusias dengan mata berbinar-binar. Nevi menggeleng, melirik Kika dan Ucok sejenak, kemudian setelah Kika dan Ucok mengangguk penuh arti, Nevi pun menatap Diky dalam-dalam. “Vita, pergi Dik..”, ucapan Nevi tertahan. “Kemana? Pindah rumah sakit?”, tanya Diky polos. Nevi menggeleng, “Vita pergi selamanya, operasinya gagal, dia udah tenang dan bebas dari beban kehidupan selama ini..”. Diky tercengang mendengar jawaban Nevi. Seluruh tubuhnya terasa lemas dan dingin. Dia tak mengira ini benar-benar terjadi. Gadis cantik dengan senyumnya yang indah dan mempesona. Gadis tabah yang menghadapi penyakitnya dengan senyuman manis. Gadis yang baru saja dikenalnya dan membuat hatinya tersentuh. Diky sadar betul bahwa ia menyukainya pada pandangan pertama. Kini gadis itu pergi jauh dan takan kembali.. Menghadap sang pencipta. Tak ada sedikitpun kesempatan bagi Diky untuk berkenalan lebih jauh dengannya. Diky duduk di atas kap mobil honda jazz milik Kika, Kika dan Nevi memeluknya berbarengan untuk menenangkan Diky yang tampak berkaca-kaca. Ucok mengambil kunci motor Diky yang jatuh dari genggaman tangan kiri Diky. “Gue bawa motor lo Dik, lo bareng anak-anak naek mobil Kika aja”, kata Ucok yang mengerti bahwa kondisi jiwa Diky tak memungkinkan untuk mengendarai skuter itu, kemudian langsung meluncur dengan sukri kesayangan Diky, tentu saja dengan meninggalkan asap hitam.

“Udah dik, balik yuk..”, ajak Kika. “Kita brifing dulu buat manggung minggu depan di rumah Kika”, ujar Nevi pelan. Diky menengadah ke atas menatap langit. Dia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh ke tanah. Usro baru saja selesai membereskan studio musik, studio ini milik band indie terkenal bernama Pepo. Usro memang terkenal akrab dengan para personilnya, jadi dia dipercaya menjadi kuncen studio ini dan juga bertanggung jawab atas kebersihan dan kerapihan studio. Ya iyalah! Udah dikasih main gratis juga sukur! “Eh Nev, gue kan tadi siang mondar-mandir di sekitar kosan lo. Berharap ketemu cewek cantik yang tempo hari gue liat waktu nganterin nasi goreng ke kostan Diky. Kok dia gak nongol-nongol lagi ya? Siapa sih namanya? Kata si kodok itu temen lo? Kenalin donk”, ujar Usro dengan gaya polosnya tanpa tahu apa-apa. Diky tak menghiraukan mereka dan langsung masuk ke dalam mobil honda jazz pink milik Kika. Kika dan Nevi saling berpandangan, kemudian menyusul Diky masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan pertanyaan Usro. Tinggalah Usro celingukan sendiri di parkiran. Bingung. Ada apa dengan teman-temannya? Tapi karena emank dia bego. Ya udah aja melongo sambil garuk-garuk pantatnya yang burik. Setelah Kika mengagetkannya dengan bunyi klakson ala trompet tahun baru Toooott…!! “Ikut balik gak sro? Cepet masuk!!”, bentak Kika sadis dari balik kemudinya. Usro pun segera belingsatan dan masuk ke mobil melalui jendela yang terbuka dengan kepala terlebih dahulu, kakinya menyusul dua hari kemudian.

Mereka pun lenyap di balik kabut malam kota Bandung. Meninggalkan jejak sepasang ban mobil di jalanan yang sedikit becek karena hujan. Hujan ini mengisyaratkan hati Diky yang perih, seolah tersayat mendapati kenyataan yang terjadi. Ia masih memikirkan Vita. Wajah dan senyumnya selalu menghiasi imajinasi Diky sepanjang perjalanan. Dering HP milik Kika berbunyi dengan singkat tanda bahwa ada pesan masuk. Kika meraihnya dengan tangan kiri tanpa melepaskan tangan kanannya dari kemudi. Sedetik kemudian Kika menutupnya dan meletakkan handphonenya kembali di dashboard. “Dari siapa ka?”, tanya Nevi. “Horee…. Tante gue baru aja melahirkan. Kita mampir ke rumah sakit dulu ya!!”, seru Kika dengan girang. Nevi dan Usro senyam senyum ikut bahagia. Sedangkan Diky? Dia bergumam dalam hati, kenapa meraka tertawa kegirangan mendapati ada bayi yang baru saja lahir? Sedangkan yang dilahirkan malah menangis, seolah tak rela untuk lahir di dunia ini. Dan kenapa juga Vita tersenyum bahagia menyambut hari kematiannya sendiri? Diky sungguh tidak memahami semua ini.

Angin malam kota Bandung meniup perasaan itu hingga terbang ke awang-awang yang sepi di langit tanpa bintang.. Sesepi hati Diky saat ini….

Cerpen Karangan: Aray Pepo
Blog: Iswararona.wordpress.com

Cerpen Dikdok (Langit Tanpa Bintang) Part 2 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Disaat Valentine

Oleh:
Biasanya di bawah tangisan langit aku dan dia bermain air disini. Tapi sekarang entah kenapa aku benci dengan tangisan itu. Melihatnya saja aku tak mau apalagi menyentuhnya. Sekarang terasa

Aku Membusuk Dalam Bayangan Masa Lalu

Oleh:
Lapuk jiwa ini tersiram lara yang sulit tuk ku keringkan, dimana langkah ini harus ku hentikan begitu lelah ia mencari kepingan–kepingan cinta yang mungkin masih tersisa. Ku raba mungkin

Alasan Cinta

Oleh:
Sudah 14 hari kau koma dan hanya diam kaku terbaring di ranjang kebesaran rumah sakit ini, tanpa ada sedikit pun obrolan walau aku selalu ada di samping kirimu. Air

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *