Doni Sang Juara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 26 July 2013

Hai, Namaku Novria, sebut saja aku dengan Ria. Umurku 16 tahun. Aku adalah seorang siswi yang duduk di bangku SMA. Nah bicara tentang hobi! Hobi… hobi ku adalah basket dan melukis. Basket… basket itu menyenangkan, ya aku mengakui bahwa ini adalah hobi yang aneh untuk anak perempuan seperti aku, nah ada satu lagi mama… mama adalah sesosok wanita mulia di mataku, tetapi aku kecewa, kenapa? karena mamaku tidak menyetujui akan hobi besarku ini, hmmm… tapi itu semua tidak akan menggoyahkan niatku untuk tetap bersama basket.

Pagi yang cerah dan suasana yang kurang menyenangkan untuk anak seperti aku, anak yang kurang perhatian dari kedua orangtuanya, karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tepat pukul 07.00 pagi klakson pak sarman berbunyi, supir pribadi di rumah ku. pak sarman berkata “neng, ayuk atuh ini mah sudah telat” jawab riri, “iya, pak sebentar”. Akhirnya aku pun turun dari anak tangga kecil yang membuatku harus cukup berhati-hati, aku bergegas menuju mobil, akhirnya tibalah aku di sekolah tercinta ku ini. Teng.. teng bel tanda masuk sudah berbunyi, aku bergegas, berlari terengah engah menuju kelas, tiba-tiba “Bruk”, ternyata aku menabrak seorang anak laki-laki yang kelihatannya ia murid baru di sini dan sedang mencari sesuatu. Laki-laki itu berkata “maaf-maafkan aku, aku tidak sengaja”, jawab riri, “oh, tentu tidak apa, o iya kamu anak baru ya?”, laki-laki itu berkata “Iya benar, aku anak baru disini, perkenalkan aku Doni, aku sedang mencari Ruangan kepala sekolah”, sahut riri “kamu lurus saja, belok kiri, nah disitu don”, doni berkata, “Terimakasih, salam kenal ya”.

Aku pun bergegas menuju kelas, beberapa menit kemudian Pak Jupri, guru biologi kami itu datang, tetapi yang anehnya pak Jupri tidak datang sendirian, dia masuk bersama seorang anak laki-laki yang wajahnya itu gak asing lagi buat aku. Ha! (terkejut), aku ingat, dia adalah Doni, yang tadi pagi. Tiba-tiba pak Jupri menyuruh Doni duduk di sebelah ku, ya.. memang sekarang aku duduk sendirian, semenjak teman sebangku ku pindah sekolah. Tiba-tiba aku melihatnya tersenyum manis kepadaku.

Teng… teng… teng bel pertanda bahwa pelajaran telah selesai pun berbunyi, tiba tiba doni mengeluarkan suaranya setelah ia menahan suaranya di kelas tadi karena takut sama pak Jupri, ha… ha lucu banget deh, doni berkata “hei, ayo kita pulang”, hmm.. aku hanya tersenyum melihatnya. Di tengah perjalanan, doni bertanya “hei, dari tadi kita duduk berdua di kelas, tapi aku belum tau nama kamu siapa”, ria menjawab “oh iya ya sampai lupa, aku Novria, tapi panggil Ria aja ya, soalnya namanya kepanjangan”, doni berkata “ok… ok, kamu tinggal di mana”, sahut Ria “di jln. anggrek di depan kedainya kong Ahong, kalau kamu Don?” Doni menjawab “waahh… sama dong aku juga tinggal dekat daerah sana, satu arah dong, Ria menjawab “hmm, iya, Don, kamu suka main Basket” Doni menjawab, “waaw, suka banget itu adalah Hobi besar aku ri, Ria menjawab “oh.. keren, ok, Sore nanti aku bakalan tunggu kamu di lapangan, berani gak, kalau gak berani sih pengecut namanya” Doni berkata Oke.. ri, siapa takut”.

Setiba di rumah aku menuju kamar untuk meletakkan tas dan mengganti baju, setelah itu ku buka pintu kamar ku, tetapi entah kenapa suasana rumah ini tidak seperti dulu, sepi. Dulu setiap papa pulang dari kantor papa selalu bisa membuat putrinya ini bahagia, walau kadang ia terlihat lelah, mama… mama juga, dulu mama slalu memberikan ciuman kecil di pipiku, tetapi sekarang sedikit pun aku tak pernah merasakan kebahagian setiba datang ke rumah ini. terkadang aku berfikir bahwa aku adalah anak yang paling menderita yang hidup di dunia ini, menderita walau masih punya kedua orangtua.

Tiba-tiba “dooor” ternyata mbok Inah yang mengejutkan ku, mbok berkata “aduh non ria ini melamun ya, ojo.. ojo ngelamun toh non, nanti cantik e ilang lho non”, Ria menjawab “hehe.. mbok.. Ri nggak ngelamun kok mbok”, mbok Inah berkata “udah non, ojo ngelamun wae, makan non, mbok wes siapin makanan kesukaan non ria toh”, Ria berkata “iya, mbok, makasih, mbok baik”, mbok berkata “iyo, non sama-sama, ayo non mbok temenin makannya”.

Setelah selesai makan mbok Inah berkata “non nggak suka main bola baaas, bas opo toh non” sahut ria dengan rasa kaget, “basket mbok, oh iya mbok, aku lupa aku harus kelapangan mbok, makasih mbok”.

Setiba di lapangan, ternyata Doni sudah berada disana lebih dulu daripada aku, aku mengintip dari celah-celah dedaunan, ternyata Doni main Basketnya hebat banget, hhmm.. tapi dia kan belum mengalahkan aku, kalau dia sudah kalah baru deh dia hebat. Lalu ria berkata “hei Don udah lama ya, kasian banget, sory ya aku telat, oke sekarang maju kamu Don, kalau kamu menang kamu orang pertama yang ngalahin aku” Doni menjawab, “okey… okey ri, ayo maju sini”.

Akhirnya permainan basket itu pun di mulai, walau hanya berdua, tetapi entah kenapa aku ngerasa ada yang aneh, kenapa ya di saat aku dekat sama Doni aku ngerasa tenang banget dan gak ada rasa sedih dan sunyi seperti di rumah. Aku belum tahu, entah apa yang aku rasakan selama ini, aku teringat dengan kata-kata mama dulu tentang sebuah perasaan kasih sayang dan cinta. Tetapi apa benar ini rasa cinta, sebelumnya aku belum pernah ngerasain gimana rasanya jatuh cinta, hmm tapi gak mungkin aku jatuh cinta sama Doni dia itu sudah aku anggap sebagai sahabat aku.

Tiba-tiba Doni berkata “ri kamu kenapa, sakit ya, kok ngelamun, ngelamun jorok ya”, sahut ria, “ah.. kamu apa-apaan sih Don”, lalu terdengar teriakan gembira, hore hore, aku menang, eh ternyata itu suara Doni yang berhasil mengalahkan aku di saat aku ngelamun tadi. Hmm tapi gak apa kok, siapa yang menang itu bukan berarti segalanya. Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan seperti air yang jatuh perlahan, ternyata itu adalah tetesan darah yang keluar dari kedua lubang hidungku, ya memang ini bukan hal biasa, karena aku sudah lama benget mengalami hal seperti ini. tetapi ternyata Doni memaksa ku untuk membawa ku ke dokter, dan alhasil dokter berkata aku terserang penyakit kanker dan sudah stadium 3, aku gak nyangka aku bisa seperti ini. tetapi dokter mengatakan sesuatu di depan doni dan aku, dokter itu mengatakan aku tidak boleh kelelahan termasuk aku harus menghentikan hobi basket ku ini.

Di perjalanan aku berkata kepada Doni, “Don gimana, besok aku ada pertandingan besar di sekolah, sedangkan aku gak boleh main basket lagi”, jawab Doni, “tenang aja ri, ada aku, aku akan gantikan posisi kamu, aku janji tim kamu pasti menang, dan kamu akan melihatnya dengan senyuman indah yang akan terbinar selamanya” sahut ria, “beneran Don, makasih ya”.

Tibalah keesokan harinya pertandingan besar yang selama ini ku impikan ini tiba juga, aku tak tau apa aku sanggup melihat Doni bertanding dengan keadaan fisik yang tak berdaya ini, terbaring di tempat tidur, seperti rasanya mau pergi, tetapi ada pak sarman supir setia keluarga kami yang mau mengantarkan aku melihat Doni, ya benar Doni… Doni adalah orang yang selalu ada di saat aku kehilangan semuanya, walaupun pertandingan itu tidak sampai beberapa menit lagi.

Sesampai di sana aku seperti sudah tak berdaya lagi menahan semua derita ini, tetapi terdengar suara teriakan bahagia dan terlihat wajah yang bersinar terang yang menghampiriku, ya benar, ia Doni. “Ri … Ria aku berhasil ri, Kita berhasil ri. Dia mendekat menghampiri sosok ku yang hampir rapuh ini Dia memncarkan senyuman dan memeluk erat tubuhku seperti pelukan dari sang ayah yang selama ini kurindukan, Kuinginkan. Perlahan ku berkata dengan bibir pucat, menggigil dan mata yang hampir terpejam “Don, kamuu berhasil, kamu spesial, dan kamu juara, don, Don ini adalah kata-kata terakhir yang memang harus aku sampaikan sama kamu don, aku cinta kamu, dan inilah senyuman indah yang kamu inginkan, yang akan terbinar selamanya… selamanya.
Akhirnya aku pun sampai di titik puncak ku, titik di mana aku ingin sekali melihat bagaimana cara mereka/orang yang aku sayangi, termasuk mama dan papa mengenang ku, karena aku sudah pergi meninggalkan mereka.

Cerpen Karangan: Nadya
Facebook: nadyatiara

Cerpen Doni Sang Juara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Last Prom Night With My Soulmate

Oleh:
Tak ada yang mengajariku tentang bagaimana cara memperlakukan orang yang aku cintai. Karena cinta sesuatu yang alami. Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan rasa cintanya itu. Termasuk

Ungkapan Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
Ocha itu cantik. Kata yang kurang tepat untuk menggambarkan bagaimana tuhan bisa menciptakan makhluk dengan fisik sempurna bernama Ocha. Rambut lurus hitam panjangnya berkibar saat tertepa angin. Bukannya merusak

Sampai Jumpa, Surfboard

Oleh:
Ku langkahkan kaki ini menuju tempat yang dipenuhi pasir putih. Ya. Tempat itu adalah pantai. Ku lihat pondok-pondoknya mulai dibongkar karena memang, musim panas kali ini akan segera berakhir.

Satu Kesempatan Lagi

Oleh:
“PlAK!!” Tamparan itu kini mendarat lagi di pipiku untuk ke sekian kalinya. Ku terdiam sambil memegangi pipiku yang masih terasa sakit. “Aku cape! Aku cape harus selalu keras sama

Penyesalan

Oleh:
Jangan pernah kembali jika akhirnya kau pergi lagi. Daun-daun pergi dengan cepat karena tersapu angin, rumput-rumput juga sedang bergoyang karena terpaan angin. Tak ada yang saling menyalahkan tentang hal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *