Dreamcather

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 25 September 2016

Setiap pagi, selalu saja ada kejutan sebuah kotak bersampul biru yang entah siapa pengirimnya, isinya sebuah dreamcather dengan secarik kertas lengkap dengan coretan pena sang pengirim rahasia itu, awalnya aku selalu mengabaikannya, tidak pernah mempedulikannya karena bagiku semua itu hal yang tidak penting dan jika mencarinya akan membuang buang waktuku dan nantinya pengirim rahasia itu akan capek sendiri. Tapi dugaanku meleset, pengirim rahasia itu malah semakin sering mengirimkan dreamcather namun kali ini jarang memakai surat cinta mungkin sudah habis kata kata mungkin juga dia sudah lelah berimajinasi membuat puisinya itu.

Dan hari ke 94 dia mengirim kembali coretan pena tanganya kali ini menurutku mengharukan

Dear tita
Sudah lama kuendapkan rasa cinta ini..
Melihatmu hanya dari jarak jauh..
Sekedar tersenyum yang bagiku itu adalah senyuman cinta dan bagimu mungkin diartikan hanya sebagai senyuman sapaan..
Banyak hal yang kutulis dalam catatanku
Dan itu semua tentang dirimu..
Tita andai saja kau mengetahui aku yang sebenarnya..
Aku pria yang selama ini mengendap perasaan terhadapmu
Tita seandainya aku mati dan kedua mataku ditutup dilarang menatapmu lagi oleh tuhan
Itu menyiksa bagiku tapi aku menyingkirkan semua itu, aku bisa melihat di atas sana..
Melihatmu berbahagia bersama seseorang yang ditakdirkan tuhan bersamamu..

Kertas putih yang kugenggam erat erat, air mataku perlahan menetes, aku ingin tau siapa pengirim dreamcather ini siapa?.

“Tita, gimana kalau kita cari di seluruh area sekolah ini siapa pengirimnya.” ujar meli mencoba menenangkanku yang kini hanyut dalam kesedihan “Itu tidak mungkin mel, banyak siswa disini, kita tidak bisa mencarinya satu persatu” kataku masih tercampur isak tangis
Meli berpikir sejenak berinteraksi dengan otaknya sebelum pada akhirnya “Reza!” ucapam meli seketika membuatku terkejut “Mel apa sih kok nyangkut ke reza”
“Tit, reza udah dua minggu enggak sekolah.” kata meli dengan kecemasannya
“Iya tau dia sakit kan.”
“Tita nyadar gak sih reza itu selalu senyum sama kamu, nyapa kamu dia pernah ngasih kamu gelang dreamcather saat valentine tahun lalu, masih inget kan?”
“Terus?”
“Ya berarti yang setiap hari ngasih dreamcather itu reza!, gak salah lagi tita kita harus jengukin reza ke rumah sakit!!! Ujar meli seketika tangannya menarik keras tanganku membawaku entah kemana aku masih tak mengerti atas ucapan meli barusan.

Kini kau sudah berdiri di hadapanku seorang pria terbaring lemah dengan semua peralatan medis terpasang di tubuhnya, terpejam di ranjang rumah sakit
Air mataku mulai kembali menitik, aku baru menyadari jika ada seorang pria yang mencintaiku tulus yaitu reza pria yang jarang sekali aku sapa, pria yang menurutku buruk, ternyata dia… Ahh mengerikan tuhan kenapa kau membuat pria ini selalu diam, diam dan diam…

“Tita..” reza mulai menggerakan jemari jemari tangannya, aku masih lihat matanya masih terpejam, aku tau saat ini reza sedang menahan rasa sakitnya, oh tuhanku mohon sembuhkan dia lenyapkan semua sakitnya.
“Tita aku mencintaimu..” ucap pelan reza dengan suara parau matanya masih setia terpejam dan air mataku semakin keluar deras, aku menutup mulut dengan telapak tanganku agar reza tak mendengar suara gemuruh ini yang akan membuatnya sakit.

Kenapa pria ini selalu diam..
Belaga misterius..
Membuatku bertanya tanya…
Kenapa cintanya harus diendap seperti ini..
Membuatnya semakin sakiiit..

Cerpen Karangan: Nurul Aulia Putri
Blog / Facebook: nurulauliaputri11.wordpress.com / Nurul Aulia Putri

Cerpen Dreamcather merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Bisa Kumiliki

Oleh:
Semua berawal dari perkenalan dan pertemuan, dua orang remaja SMA yang bernama Viana dan Randy. Dulu, beberapa bulan yang lalu mereka pernah dekat, bahkan Viana dan Randy pernah merasakan

Surat Berakhir Tangis

Oleh:
“Salsa Lorisnia”, itu namaku. Kisah ini bermula sejak aku duduk di bangku SMA kelas X di kota Solo. Setiap hari aku pulang sekolah berjalan kaki dengan seorang sahabat karibku,

Malam Berkabut Putih

Oleh:
Keheningan ini menciptakan sebuah kesunyian yang menyayat kalbu. Ku coba resapi lagi nafas yang masih memburu ini. Ku coba mengheningkan betapa malangnya nasib pagi ini. Aku berlari menerobos pagi

Saat Kau Tak Disini

Oleh:
Seperti bintang-bintang Hilang ditelan malam Bagai harus melangkah Tanpa kutahu arah Aku duduk di beranda taman itu, menunggu senja menjemput. Menunggu sesosok lelaki yang aku harapkan. Lelaki yang akhir-akhir

The Poor Jane

Oleh:
Ini sudah larut malam, tapi Harold belum datang juga. Aku sampai lelah menunggunya. Sejak dua jam yang lalu, aku sudah duduk di bangku yang terletak di taman kota ini,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *