Dua Sudut Pandang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 14 November 2015

– Rani
Tak butuh waktu lama untuk mencintaimu. Dan membencimu, aaarrhh, butuh waktu seumur hidup untuk melakukannya. Sekarang aku sedang berada di titik terberat hidupku. Harus membenci seseorang yang ku cintai. Membenci dan mencintai jelas hal yang berlawanan. Tapi sekarang aku melakukan keduanya bersamaan pada orang yang sama. Lelaki yang sama. Nama pria itu adalah Aldan. Setiap kali mengingatnya, hatiku selalu bilang bahwa ia adalah mahluk paling sempurna, tapi di otakku dia adalah pengecut paling berengs*k. Aku sering menangis ketika hal ini terjadi. Bagaimana mungkin aku menganggap seorang pengecut itu sempurna? Bagaimana mungkin aku bisa Move On ketika Aldan terus-terusan menjadi sisi yang sempurna untukku.

Aku melihat cahaya bulan yang selalu tampak percaya diri menyinari dunia dari kegelapan. Kapan aku bisa seperti bulan? kataku membatin. Aku melihat layar Hp-ku. Mengharapkan chat dari siapa kamu? Aldan? Hahaha kau ini bodoh sekali. Aku melemparkan Hp-ku ke kasur. Teringat semua memori antara aku dan dia. Tidak, kita tidak pernah resmi menjadi sepasang kekasih. Kita hanya dekat. Oh aku lupa, mungkin hanya aku saja yang merasa seperti itu. Mungkin bagi dia, aku hanya salah satu penggemarnya yang bodoh, yang senang berlebihan ketika dikasih secuil harapan, atau lebih parahnya lagi, aku mungkin hanya sampah di matanya.

Semua ini menyiksaku. Aku harusnya sudah melupakan kenangan-kenangan itu. Seharusnya chat–chat kita berdua sudah dimusnahkan dari Hp-ku. Tapi, bagaimana semua itu bisa terjadi ketika chat antara aku dan dia seakan menjadi bacaan wajib sebelum tidur. Menjadi hal yang indah untuk sekedar dibaca, tapi seiring kesadaranku mengingatkan bahwa Aldan tidak pernah menyukaiku, hal itu semakin sakit untuk dibaca, apalagi untuk dikenang.

Aku paling tahu sifat burukku. Aku ini mungkin masuk dalam kategori orang paling keras kepala di dunia. Ketika aku punya keinginan maka siapa pun tidak akan bisa menghentikannya. Mungkin aku tahu hal itu akan menimbulkan keburukan, tapi aku tidak akan jera sebelum aku merasakannya sendiri. Keras kepala sekali kan aku? Meski Tata, teman baikku selalu bilang berhentilah untuk mengenang Aldan, tapi aku tidak pernah berhenti untuk melakukannya. Aku sudah sangat merasakan buruknya, sakitnya, perihnya tapi ketika mengingatnya aku selalu lupa rasa sakitnya, selalu lupa rasa perihnya. Dia selalu menjadi pemberi luka bagi diriku, tapi dia juga pengobat luka paling mujarab.

Aku merobek secarik kertas dari bukuku. Sekedar iseng ingin corat-coret. Aku tak pernah ingin menulisnya. Tapi seakan tanganku dengan refleksnya menggoreskan kenangan-kenangan tentangnya. Ya, lagi lagi tentangnya.

“Untuk kamu…. Kamu lagi apa di sana? Inget gak sama chat kita? Chat itu loh yang tentang flynn sama rapunzel. Terus kamu bilang kalau kamu itu gak ngerti tentang itu. Malah ganti topik jadi sepakbola. Hahaha jujur aja, aku itu sama sekali gak ngerti tentang sepakbola, ya, tapi gara-gara kamu ikut-ikutan aja deh sok sok ngerti offside, kartu merah, kartu kuning, pelanggaran. Lucu ya kalau diinget-inget. Eh, eh kamu inget gak yang pas ulang tahun kamu. Iya, aku ngucapin jam 12 malem. Terus kamu balesnya baik banget. Bilang “AMIIN MAKASIH RANI, kamu yang ngucapin pertama kali loh, semoga kamu juga sukses ya,” Gara-gara itu aku itu gak berhenti buat senyum. Gak berhenti liat foto kamu.”

“Terus inget gak yang pas kamu minta maaf ke aku sampe berkali-kali? Yang gara-gara kamu balesnya lama. Hahaha sebenernya sih waktu itu aku pura-pura marah biar chat-nya panjang sama kamu. Tapi nih hal yang paling buat aku ngapuuuung banget itu waktu chat pertama kali kita berdua, waktu kamu nanyain nilai bahasa indonesia ahahaha inget banget masa-masa itu. Dari situ kan kita jadi deket? Tapi kenapa kita tiba-tiba jadi jauh gini? Kenapa gak ada angin gak ada hujan kita jadi kayak orang yang musuhan. Kenapa kamu? Apa salah aku? Atau emang kamu emang mau ngejauh gitu? Mau ngasih kode kalau harusnya aku gak usah nge-chat lagi? Tahu gak aku sakit banget? Pengen ngulang semuanya dari awal. Atau lebih baik aku gak usah kenal kamu apalagi jadi deket. Aldan Ramadhan Putra makasih ya buat semuanya. SEMUANYA. Sakit hatinya, senengnya, perihnya, ngapungnya….”

Aku berhenti menulis di kertas itu. Harusnya ku tambah lagi tulisannya. Ku tambah lagi dengan akibat dia masuk dalam hatiku. Karena akibatnya begitu berpengaruh pada diriku. Akibatnya aku jadi bingung lebih penting yang mana nyawaku atau nyawanya? Lebih penting mana kebahagiaanku atau kebahagiaannya? Lebih penting mana diriku atau dirinya? Aku meneteskan air mata di atas kertas itu. Merasa bersalah telah melukai perasaanku sendiri karena telah mengenang Aldan. Sudah, cukup, plis jangan lagi tentang dia. Tapi kenapa setiap aku menolak untuk mengingatnya, semakin keras juga keinginan ku untuk melakukannya. Apa ini efek dari cinta pertama?

Hari Senin. Setelah kemarin aku terus-terusan mengingatnya, kini waktunya aku terus-terusan berpikir. Fisika huuuuuh pelajaran macam apa ini. Aku terus-terusan mengutak-ngatik angka tapi tak kunjung ada jawaban. Aku menyerah. Ku tanyakan pada Tata bagaimana caranya. Saat Tata menjelaskan caranya, dia menemukan kertas corat-coretku tentang Aldan. Tapi sialnya… Boni, cowok comel mirip banci tiba-tiba menarik kertas itu. Lalu membacanya keras keras.

Ketika itu terjadi, aku ingin bumi menelanku lahap. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi. Malu yang akan menelanku dengan lahap. Malu, ya aku sangat malu. Aldan menarik ku ke luar kelas. Dia membentak ku keras.
“Kamu ingin aku malu?” Katanya.
Aku hanya diam.
“Diem? Kamu cuma bisa diem?” Kata Aldan.
Aku hanya diam.
“Kamu memang bisanya cuma buat malu,” Katanya lagi.
“Aku… Boni kan yang ngelakuinnya,” kataku gugup menahan tangis.
“Boni kayak gitu gara-gara kamu,” Katanya.
“Maaf,” kataku.
“Maaf gak bisa ngehapus malu,” Katanya buang muka.

Emosiku tiba tiba saja naik. Aku tidak mau jadi lemah lagi karenanya.
“Jadi kamu mau apa hah? Mau aku bersujud? Aku juga gak mau hal ini terjadi!!” kataku berteriak.
Dia hanya melihatku dengan sinis lalu pergi.
Aku tetap terpaku, tidak bergerak sedikit pun. Aku menangis. Lagi-lagi aku gagal untuk menjadi kuat. Ya, dia selalu melemahkanku. Menjadikanku Rani yang cengeng, bodoh, tolol.

– Aldan
Walaupun dia anak baru tapi aku mengenal sosok Rani dengan sangat baik. Dia cewek cantik dengan kepintaran di atas rata-rata. Jujur saja, aku sempat berpikir untuk membuka hati untuknya. Untuk mencari wanita pengganti Tata. Rani. Dia tak pernah tahu kalau dulu aku pernah punya hubungan spesial dengan teman sebangkunya, Tata. Ya, waktu itu memang Rani belum menjadi siswa di sekolah kami. Dia adalah anak pindahan dari Jakarta. Rani juga tidak tahu kalau Tata telah merapuhkan aku. Rani tidak tahu kalau aku telah memperjuangkan Tata sekuat tenaga tapi Tata tidak pernah menghargainya. Dia hanya menjadikan aku pelampiasan yang tidak ada penting-pentingnya.

Tata tak pernah memutuskanku. Mungkin baginya aku berguna untuk disuruh-suruh. Tapi aku sadar, cinta tidak boleh merenggut kebahagianku. Tapi bagaimana jika seluruh kebahagiaanku terletak pada dirinya? Haaah tapi lama-lama aku menyerah karena sikapnya. Aku memutuskannya. Dan tentu saja akulah yang sedih sedangkan dia… Dia tidak pernah peduli padaku. Aku jelas marah. Aku ingin sekali Tata merasakan apa yang aku rasakan. Tapi aku tak pernah sanggup melakukannya. Aku tak pernah bisa menyakitinya. Dia terlalu ku cintai, terlalu ku sayangi. Hingga aku mau-maunya ia jadikan permainan.

Ya, ketika emosiku sedang tidak karuan, datanglah Rani. Dia adalah wanita polos dengan kulit kuning langsat. Dia duduk di sebelah Tata. Mereka menjadi teman dekat. Niatku untuk membuka hati perlahan-lahan berubah menjadi rencana jahat. Aku tidak mampu menyakiti Tata tapi Jika aku menyakiti Rani bukankah Tata juga akan ikut-ikutan merasakan sakitnya? Akhirnya ku permainkan Rani. Mungkin lebih sakit dari apa yang Tata lakukan padaku. Diberi secuil harapan lalu ditinggalkan.

Tapi Rani, dia juga sama sepertiku. Ia selalu tahan banting jika ku sakiti. Ia selalu sabar menerima balasan-balasan dingin dariku. Bahkan aku terkadang merasa bersalah telah mempermainkannya. Dia ini sama sekali tidak bersalah. Aku mendengar Boni membacakan surat yang Rani buat untukku. Di situlah titik rasa bersalahku memuncak. Aku tidak boleh menyakiti Rani lagi. Dia wanita yang terlalu baik. Otakku saat itu berpikir keras, bagaimana caranya agar Rani membenciku. Agar dia sadar, untuk tidak mengharapkan aku lagi.

Aku membentak dia sekeras-kerasnya. Dia hanya diam. Waktu itu aku lihat ada air mata yang menggenang di matanya. Aku ingin sekali memeluknya. Meminta maaf kepadanya. Tapi… Jangan. Kau harus membuatnya membencimu. Aku membentaknya lagi. Agar dia marah padaku. Agar dia sadar bahwa aku laki-laki berengs*k yang tak patut disandingkan dengan wanita sebaik dia. Dia tetap diam. “Rani, ayo marah padaku.” Kataku membatin. Setelah dia diam untuk kedua kalinya, akhirnya dia membuka mulut. Tapi aaaah dia tidak marah, dia hanya meminta maaf padaku. Aku membuat kata-kata sesakit mungkin dan akhirnya dia marah padaku. Dia membentakku. Air mata ke luar dari matanya. Aku tidak sanggup melihatnya. Aku pergi.

Aku sama sekali tidak mendengar langkah kakinya. Mungkin dia masih terdiam di sana. Aku ingin membalikkan badan lalu menghampirinya. Tapi.. Bukankah kamu ingin dia membencimu?
Membenciku? Kenapa aku merasakan sakit saat mengingatnya. Aku bodoh karena telah mengharapkan yang seharusnya ku abaikan dan mengabaikan yang seharusnya ku harapkan.

Bel pulang sekolah telah memenuhi seisi kelas. Membuat seluruh siswa merasa senang, itu kan yang diharapkan seluruh siswa dari tadi pagi? Tapi entah mengapa, untuk kali ini aku lupa untuk mengharapkan bel pulang sekolah, yang aku hanya harapkan hanyalah kedatangan Rani di kelas. Kemana dia? Sejak kejadian tadi ia menghilang. Tata pun ikut-ikutan menghilang. Tata masuk kelas. Lalu buru-buru mengambil tasnya dan tas Rani. Saat dia hendak ke luar dari kelas, aku menanyakan dimana Rani berada. Tapi Tata hanya memberikan tatapan benci lalu menyuruhku untuk menjauhi Rani.

Sejak pulang sekolah aku hanya mengkhawatirkan keadaan Rani. Sesakit apa dia karena aku? Aku ingin menghubunginya tapi percuma, pasti sekarang dia sudah membenciku habis-habisan. “Hah bukannya itu yang kamu mau?” Teriak hatiku keras-keras

Aku teringat ada PR matematika yang harus dikumpulkan besok. Aku merogoh-rogoh tasku. Tapi eh.. ada selembar kertas. Ya, itu kertas surat yang Rani buat. Mungkin Boni sengaja memasukkannya pada tasku. Aku membacanya. Aku tersenyum, tapi aku teringat kejadian tadi. Entah karena apa aku tergerak untuk mengambil sebatang pulpen lalu menuliskan sesuatu di belakangnya. Setelah menulis kalimat-kalimat spontan. Ibu masuk ke kamarku. Langsung cepat-cepat ku masukkan kertas itu ke dalam saku celana.

“Al, tadi Ibu wali kelas telepon temen kamu ada yang kecelakaan terus sekarang dirawat di rumah sakit Sehat Sentosa,” kata Ibu.
“Siapa bu?” kataku kaget.
“Euum kalau gak salah namanya Rani. Dirawat di kamar no 18,” Kata Ibu .
Aku langsung bangun dari kursi. Pamit kepada Ibu untuk menjenguk Rani.

Aku mengendarai motor secepat-cepatnya. Di otakku hanya ada Rani, Rani, dan Rani. Aku harus menemuinya walau untuk yang terakhir kalinya. Malam membuat semuanya tidak terlalu jelas. Ada pohon di depanku, dan braaaak. Kepalaku terbentur keras, mungkin ini benturan paling sakit yang pernah aku rasakan seumur hidup. Aku merasa tubuhku terpental lalu semuanya gelap.

– Rani
Setelah lama terdiam karena kejadian tadi, aku akhirnya beranjak dari kediamanku. Mataku masih penuh dengan air mata. Ya, semuanya masih buram. Aku ingin ke kantin untuk membeli minum. Aku menuruni tangga secara perlahan, tapi sepertinya aku melewati 1 anak tangga. Aku jatuh terguling-guling seperti sinetron-sinetron di TV dan rasanya sakit sekali. Entah mengapa aku susah untuk bangkit, kepalaku pusing hebat, mungkin karena terbentur beberapa kali, lalu semuanya menjadi buram dan akhirnya gelap.

Ya, tadi jatuh dari tangga. Lalu kenapa aku di sini? Di taman yang penuh bunga dan hey dia… Itu Aldan? Dia tersenyum kepadaku, lalu menghampiriku. Dia perlahan-lahan menyentuh rambutku.
“Kau harus segera kembali,” Katanya.
“Kembali kemana?” kataku.
“Kembali ke tempat asalmu,” Katanya lagi.
Lalu dia mengantarkanku pada pintu berwarna putih. Lalu dia menyuruhku untuk masuk.
“Kau? Kau tidak ikut,” kataku.
“Aku di sini.,” Katanya. Aku menuruti keinginannya. Ku buka lalu….

Aku merasakan pusing, aku juga merasakan nyeri di sekujur badanku. Mataku seakan berat untuk terbuka. Ya, walaupun semuanya masih tampak buram tapi aku tahu ini pasti rumah sakit. Aku juga melihat teman-temanku, mamah beserta wali kelasku.
“Alhamdullilah Rani sudah sadar. Tinggal Aldan semoga dia juga cepat sadar,” Kata Ibu wali kelas yang sedang berdiri di sebelah Mamahku.
“Aldan?” kataku heran.
“Ya, dia kecelakaan, dia terpental beberapa meter karena motornya menabrak pohon,” Kata Ibu wali kelas.

Rasa khawatir seakan menguasai diriku. Aku berusaha untuk bangun tapi Mamah mencegahnya. Mamah bilang agar aku tidak banyak bergerak karena kaki dan tanganku mengalami patah tulang. Tapi bukan aku namanya jika hanya diam. Aku merengek-rengek. Memohon-mohon pada Mamah. Mamah sangat tahu sifatku yang keras kepala dan akhirnya aku diperbolehkan untuk menjenguk Aldan dengan memakai kursi Roda.

Jarak kamar rawatku dengan Aldan tidak jauh. Tidak sampai 5 menit aku sudah berada di depan kamar rawat Aldan. Aku membuka perlahan-lahan pintunya. Pertama aku melihat punggung dari Ibunya Aldan. Walau dari belakang aku sudah tahu bahwa wanita paruh baya itu sedang menangis. Sekarang aku sudah tepat berada di sebelah ranjang Aldan. Banyak selang dimana-mana. Dalam hati aku tak berhenti untuk berdoa.

Dokter bilang harapan hidup Aldan hanya sekitar 20 persen. Tapi seberapa persen kah itu tetap saja dokter hanya seorang manusia. Yang menentukan kematian itu Tuhan. Hanya Tuhan. Aku tidak mempedulikan dokter. Pura-pura tidak pernah dengar tentang harapan hidup yang dimiliki Aldan. Tapi tak lama setelah kepura-puraanku berlangsung, seorang suster mengusirku dari kamar rawat. Bilang bahwa kondisi Aldan sangat kritis, sehingga hanya dokter dan beberapa suster yang boleh masuk.

Suster yang satunya lagi memberikan barang-barang Aldan kepada Ibunya. Aku berusaha membantu Ibunya membawakan barang bawaan Aldan dengan menyimpannya di pangkuanku yang sedang duduk di kusi roda, ya, aku tahu Ibunya Aldan sedang bersusah payah untuk tenang, untuk mencoba tegar karena anak laki-laki satu-satunya itu sedang bersusah payah mempertahankan nyawa. Aku melihat secarik kertas. Lalu membukanya secara perlahan dengan sebelah tanganku.

“Untuk kamu… Hai Ran. Senang bisa bertemu kamu. Kamu itu wanita terbaik yang pernah aku kenal. Kamu selalu aja bikin aku salut. Kamu pinter tapi gak sombong, cantik tapi gak centil, dan satu hal lagi yang aku suka dari kamu. Kamu itu wanita kuat. Aku ingat chat kita. Semua chat kita. Dari awal sampai akhir. Aku bahkan ingat saat pertama kali aku melihat kamu di depan kelas dan dengan malu memperkenalkan namamu, Rani Auliyya. Hahaha ya, ya, ya aku inget juga sama rapunzel flynn yang kamu ceritain. Oh ya pengetahuan kamu tentang bola juga ya lumayanlah buat seorang cewek. Maaf… Gak tahu berapa kali maaf yang harus aku ucapin biar kamu memaafkan aku. Ya, kamu boleh sebut aku tolol, bodoh, berengs*k, pengecut atau apapun yang kamu suka asalkan mau maafin aku.”

Ada air mata yang spontan ke luar dari kedua mataku. Aku menangis sambil berdoa. Mengharapkan Aldan untuk segera bangun, lalu bilang padanya, semua kesalahannya tak pernah aku anggap. Aku bahkan sekarang lupa, apa saja yang Aldan lakukan sehingga membuat aku menangis. Yang aku ingat hanya kelakuannya yang sering buat aku senyam-senyum sendiri. Huuuuh Ya Tuhan… tolong Aldan. Ibunya Aldan dipanggil oleh dokter. Setelah sekian lama, ia akhirnya keluar dari ruangan dokter, badannya tersungkur, ya, dia jatuh pingsan. Dan aku jadi yakin, ini pasti kabar buruk.

Tepat jam 23.07 Aldan dinyatakan meninggal dunia. Aku merasa ganjil mendengar ini. Aku tidak… Tidak pernah siap untuk kehilangan sosok yang sangat ku cintai. Setiap orang juga pasti sama sepertiku. Tidak pernah siap ditinggalkan orang tercinta.

– Aldan
Aku kira, aku yang akan kehilangan. Ternyata, seorang wanita cantik bernama Rani sekarang sedang melihatku lekat-lekat di sebelah ranjang. Aku ingin sekali tahu, apa yang ada di dalam perasaannya melihatku terbaring lemah. Aku juga tahu Mamah sedang menangisiku. Menangisi aku yang sebentar lagi pergi dari dunia dan menjalani hidup yang sesungguhnya. Aku ikut-ikutan sedih melihat kedua wanita yang paling berarti dalam hidupku sedang menangis.

Mah, terima kasih untuk 17 tahun yang menyenangkan. Terima kasih untuk segala perjuangan Mamah yang telah membesarkan aku seorang diri. Maafkan Aldan yang sering menyakiti Mamah. Maafkan Aldan yang sering lupa, kalau Mamah adalah mahluk ciptaan Tuhan yang seharusnya Aldan paling hormati. Ran, aku harus pergi. Aku sedih meninggalkan kamu. Tapi aku senang tidak kehilangan kamu. Tuhan benar mengambil nyawaku duluan. Karena yang pasti aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu.
Napasku sudah tinggal di ujung tenggorokan. Aku sudah saatnya pergi meninggalkan dunia ini. Aku tersenyum.

– Rani
Aku melihat tumpukan tanah yang sudah mengubur badan Aldan. Di mana pun dia berada sekarang, aku hanya berharap dia bahagia. Aku melihat di sekeliling kuburan. Semuanya menitikkan air mata, kecuali satu orang. Hah siapa orang berbaju putih yang sedang terseyum itu. Aku memandangnya lekat-lekat. Lalu menyadari. Itu Aldan. Dia lalu memberikan senyumnya padaku. Aku menitikkan air mata lalu tersenyum. Hey, aku tahu kamu pasti sedang bahagia sekarang.

Cerpen Karangan: Diane Fauziyyah
Blog: dianefauziyyah.blogspot.com
Twitter: @DianeFauziyyah

Cerpen Dua Sudut Pandang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Definisi Cinta (Part 2)

Oleh:
Aku baru bangun dari tidur siangku. Kugosok–gosok kedua mataku dengan punggung tanganku, dan menatap jam weker di meja kecil samping tempat tidurku. ‘Baru pukul setengah lima sore, tapi di

Senja Yang Kedua

Oleh:
Mentari senja di pingir pantai menjadi kisah hidupku yang indah dengan lelaki yang kusayang, saat itu sunset menyinari tubuhku dan menjadi saksi kisah cintaku. Awalnya kita bertemu pada acara

Mengapa Kamu Memilih Dia

Oleh:
Meski malam gelap gulita Angel tetap saja menangis Angel belum bisa melupakan pria yang benar-benar dia cintai. Malam berganti pagi ayam telah berkokok Angel tersentak bangun mendengar suara yang

Hanya Sederas Hujan

Oleh:
Musim hujan sudah mulai terasa, setiap sore hujan mulai mengguyur kota kami dan keadaanku tak berubah masih seperti 2 bulan yang lalu. “ifa… minum dulu obatnya.” suara ibuku selalu

Narina (Part 2)

Oleh:
“Narina apakah ada yang salah dengan ucapanku? Christian apakah dia meninggalkanmu?” Narina menunduk bahkan untuk mengangkat kepalanya Ia benar-benar kesulitan. Allena tak tau apa sebenarnya yang terjadi dengan sahabatnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *