Duniaku Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 14 November 2017

Namaku Sera. Aku manusia biasa. Bahkan menurutku aku tidak mempunyai kelebihan. Duniaku berbeda dengan yang lain.

Saat ini aku sedang berada di ruang kelas, mengikuti pelajaran Biologi yang sedang dijelaskan oleh guruku yang bernama Bu Rohmah.

Tiba tiba ada yang melemparku selembar kertas yang sudah diremuk. Aku pun membukanya.

“Dasar tuli.” adalah isi dari kertas itu.

Aku sudah sangat mengenal kata kata itu karena itu adalah kata kata yang setiap hari selalu saja dilontarkan padaku.
Murid di kelasku sangat suka menjahiliku dengan berbagai cara. Ini adalah salah satunya. Ya, Aku memang tuli. Tapi aku heran, apa salah menjadi seseorang yang tuli? Apakah menjadi orang yang tuli dapat membunuh seseorang?

Dunia ini sangat kejam bagiku. Tidak, bukan kejam. Tapi tidak adil. Mengapa orang orang selalu memandang rendah pada orang yang mempunyai kekurangan? Tidak bisakah mereka sedikit saja menghargai kami?

Saat ini aku tidak mempunyai satu orang teman pun. Semua murid sekolah ini tidak ada yang mau berteman denganku. Dulu ada, mereka bernama Vani, Rena, Davina dan Tia. Mereka sudah seperti keluargaku. Mereka sering diganggu karena berteman dengan orang sepertiku. Orang yang perlu menggunakan alat bantu untuk mendengar. Setiap hari selalu ada saja yang menggangu mereka. Awalnya mungkin mereka biasa saja, tapi lama lama mereka tidak tahan karena setiap hari menjadi bahan ejekan. Jadi mereka memutuskan untuk memutus tali lersahabatan kita.

Tiba tiba seseorang menggebrak mejaku. Ternyata seseorang itu adalah Bu Rohmah. Ia mungkin marah karena aku sedari tadi melamun.

“Sera!! Dari tadi kamu melamun tidak memperhatikan ibu! Apakah kamu tidak berniat belajar? Jika begitu silakan keluar! Jangan ikuti pelajaran ibu!” bentak nya.
“Maaf bu, biarkan saya tetap mengikuti pelajaran. Saya janji tidak akan melamun lagi.” ucapku
“Ya sudah, tapi kalau kamu mengulanginya lagi ibu tidak akan segan segan menyeret kamu ke luar kelas.” balas Bu Rohmah.

Sekarang waktu istirahat. Aku sedang duduk di kantin menyantap bakso yang kubeli di kantin 3. Tiba tiba ada sosok laki laki tampan yang bediri di depanku sambil membawa satu piring nasi goreng.
“Eh?” ucapku spontan sambil menatap aneh padanya
“Hai. Kamu sendiri? Aku boleh duduk gak? Nemenin kamu?” ucap laki laki itu
“Kalau kamu mau ya silahkan.” jawabku
Laki laki itu pun duduk di sebelahku.

“Oh iya, salam kenal. Namaku Reihan Zailendra Pratama. Panggil aja Rei atau Reihan juga boleh” ucap lelaki itu lalu menyantap nasi gorengnya.
“Sera.” ucapku
Lalu kami berdua mulai menghabiskan makanan masing masing tanpa mengucapkan satu kata pun.

“Kamu anak baru?” Tanyaku
“Memangnya kenapa?” tanya balik lelaki bernama Reihan itu
“Kamu gak takut diejek tuh?”
“Apa sih? Diejek kenapa? Gak ngerti deh.”
“Biasanya, Orang orang yang dekat denganku diejek karena berteman dengan orang sepertiku. Jadi aku saranin kamu cepet cepet jauh jauh dari aku.”
“Kita baru aja kenalan, kamu udah nyuruh aku jauh jauh dari kamu. Memangnya ada yang salah denganmu sampai orang yang mendekatimu jadi diejek ejek?”
“Nih.” ucapku sambil memperlihatkan telingaku yang memakai alat bantu dengar lalu mengikat rambutku.
Ia mungkin tadi tidak melihatnya karena tertutup rambutku yang terurai.

“Aku duluan ya.” ucapku sambil beranjak untuk kembali ke kelas
“Eh tunggu. Barengan dong, kan sekelas.” pintanya
“Tapi aku gak liat kamu di kelas. Memperkenalkan diri aja gak deh kayaknya.”
“Ya iyalah. Aku kan emang gak memperkenalkan diri. Lagian kamu juga, kerjaannya ngelamun mulu di kelas.” ejeknya
Aku pun segera pergi meninggalkannya dengan langkah cepat.
“Hoy! Sera!” teriaknya sambil mengejarku
Aku tidak menghiraukannya. Aku mempercepat langkahku, karena bel sudah berbunyi menandakan jam pelajaran akan segera dimulai. Tidak lama kemudian aku pun sampai di kelas dan Pak Pandu pun memasuki ruangan kelas untuk memulai pelajaran.

Tidak terasa sekarang waktunya untuk pulang ke rumah karena jam pelajaran terakhir sudah selesai.
Aku pun pulang dengan menggunakan sepedaku.
Sesampai di rumah aku tidak disambut siapa siapa karena rumahku memang sepi. Ayah dan ibuku sedang bekerja. Keluargaku memang bukan keluarga yang kaya, tapi aku bersyukur karena orangtuaku mampu untuk membiayai kebutuhan hidup.
Aku menuju kamarku dan segera menghempaskan tubuhku pada tempat tidur untuk mendatangi dunia mimpi dan mengistirahatkan tubuhku yang lelah ini.

Aku pun terbangun karena suara yang ricuh. Suara itu berasal dari kedua orangtuaku. Ya, mereka belakangan ini sering beradu mulut karena suatu masalah yang aku tidak tahu. Aku pun segera melepaskan alat bantu dengarku tidak mau tahu masalah yang dibicarakan. Aku tidak menggunakan alat bantu dengar saat di rumah karena untuk apa aku memakainya jika yang aku dengar hanya masalah masalah dan masalah. Aku lelah dengan semua ini.

Hari ini sedikit berbeda dari hari hari kemarin.
Hari ini ‘mungkin’ aku mendapat seorang teman. Meskipun kemarin aku sudah menyuruhnya menjauhiku, Reihan tetap saja mendekatiku.
Sebenarnya walaupun aku menyuruhnya menjauh, di dalam lubuk hati aku tetap ingin mempunyai teman, mempunyai tempat curahan hati. Memangnya siapa sih yang tidak ingin punya teman?
Untuk sekarang, aku masih punya Tuhan untuk mencurahkan isi hati.

Semenjak kemarin, entah kenapa aku selalu merasa jantungku berdetak kencang setiap Reihan mendekatiku. Tidak hanya itu, Reihan juga berhasil membuatku tersenyum.
Ya, aku ini ‘jarang sekali’ tersenyum. Selama ini tidak pernah ada yang menghiburku, bahkan acara komedi di Televisi pun tidak pernah ada yang membuatku tersenyum. Orangtuaku tidak pernah punya waktu untukku, mereka terlalu sibuk bekerja.

2 bulan telah berlalu,
Aku masih menjalani hidup yang sama namun ditemani seseorang, dia bernama Reihan. Ia tidak menjadi bahan ejekan karena ia memang tidak pantas untuk itu. Ia orang ‘berada’, dan ia juga populer karena ketampanannya, kesempurnaannya, jadi banyak yang mendekatinya dan tidak ada yang berani mengejeknya. Tidak hanya laki laki tapi perempuan pun banyak.
Siapa yang tidak terkesima olehnya? bahkan aku pun terkesima olehnya, setiap hari perasaanku padanya semakin bertambah.

Meskipun aku ingin mempunya status ‘lebih’ dari teman, tapi aku bersyukur Reihan adalah temanku. Ia memberikan makanan yang diberikan “penggemarnya’ kepadaku, ia memberikan segalanya bagiku. Tapi karena hal itu juga, aku merasa semakin terpuruk. Banyak perempuan di sekolah yang membullyku, karena tidak terima Reihan dekat dengan orang sepertiku. Mereka menarik rambutku, memukulku, dan sampai sampai mereka merusak alat bantu dengarku. Mereka melakukan semua itu di belakang Reihan, mereka mengancamku agar tidak berbicara apapun padanya.
Saat alat dengarku rusak, Reihan menanyakan ke mana alat dengarku itu, lalu aku mengatakan bahwa alat itu rusak. Jadi pada hari itu aku tidak menggunakan alat bantu, aku membaca gerak bibir untuk berkomunikasi.

Tapi esoknya, Reihan membelikanku alat bantu dengar yang baru, bahkan ia sendiri yang memasangnya pada telingaku
“Mengapa kamu terlalu baik padaku, Rei?” tanyaku
“Aku melakukan ini semua demi kebahagiaanmu.” jawabnya
“Terimakasih Rei, kamu bagaikan malaikatku. Maaf, aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu.”
ucapku. Air mata sudah membendung di lupuk mataku.
“Aku hanya ingin kamu bahagia. Itu saja.” ucapnya sambil membelai rambutku.
Dan saat itu juga aku tidak bisa menahan air mataku. Air mataku mengalir deras di pipi, setelah sekian lama akhirnya air mata yang kutahan selama bertahun tahun akhirnya tertumpahkan juga, aku menangis, selama ini aku selalu kuat untuk menahannya, tapi mengapa saat ini tidak?

Reihan berkata “Lho, kok nangis sih?” lalu ia memelukku sesaat, dan kemudian mengusap pipiku sambil berkata “Hei, udah dong nangisnya. Masa seorang Sera nangis sih?”
Aku mulai tenang, tangisku perlahan lahan mulai berhenti.
Aku bertanya tanya, mengapa aku seperti ini? Sebelumnya aku bukan orang emosional seperti ini.
Reihan telah berhasil meruntuhkan benteng pertahananku. Aku yang dulunya jarang tersenyum, dan jarang pula menangis akhirnya bisa ia taklukan.

Andai saja aku bisa mengungkapkan rasaku padanya, tapi itu tidak mungkin karena aku tidak yakin ia memiliki perasaan yang sama padaku. Aku tidak pantas memilikinya, ia lebih pantas pada orang yang lebih cantik, lebih baik, lebih segalanya dariku.

Duniaku memang berbeda, tapi Reihan telah berhasil membuat Duniaku yang berbeda ini menjadi lebih berbeda dengan yang lain.
Aku memang dibuat bahagia dengan kehadirannya tapi aku sekaligus terpuruk. Aku tidak tahan dengan semua tindakan bully para perempuan yang menggemarinya.
Duniaku memang berbeda berbeda sejak awal dan Reihan semakin membuatnya benar benar berbeda dan aku tidak sanggup untuk menjalaninya lagi, aku ingin mengubah dunia berbedaku ini.
Selamat tinggal Rei, terimakasih atas segala kebaikanmu. Semoga kita berjumpa lagi.

I Love You

17-02-2017

Sera

The End

Cerpen Karangan: Sri Yuliani
Blog: sy9603.blogspot.com

Cerpen Duniaku Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Permata Impian

Oleh:
Lega rasanya, semua perlengkapan untuk acara resepsi pernikahanku dengan raisa telah disiapkan. Tinggal menunggu hari H nya yang kurang beberapa minggu lagi. Tak bisa kubayangkan betapa cantiknya raisa memakai

Kekasih Yang Telah Pergi

Oleh:
Bagi Kita Senja Selalu Sempurna, Entah kapan Senja itu buruk bagi kita. Senja itu indah. Like A Rainbow menurutku, tapi apakah bagimu sempurna? Kuharap begitu. Karena Cintaku padamu takkan

Cinta Sembilan Tahun Silam

Oleh:
“Lihat Dimas, dia.. Astaga! Tampan, maskulin, pandai bermain basket, dan selalu mempesona.” Ucap Nabilla dengan sungguh-sungguh. “Key, lihatlah! Kau ini, kenapa melamun terus?” lanjutnya sambil menggoncang-goncang tubuhku. “Kau sudah

Aku Cintanya Sama Kamu

Oleh:
Gimna ya mulainya… Udah gak banyak si yang aku ingat, tapi sekalian bantu mengingatnya yaaa… Semua berawal saat aku pindah sekolah dan menjadi siswa smp. tak kusangka perasaan yang

Gaun Hitam

Oleh:
20 Desember 2014 “Enggak usah banyak-banyak. Keluarga inti sama kerabat aja udah cukup rame kan, Mas. Sekalian berhemat buat hidup kita nanti kedepannya.” “Tapi ini kan sekali seumur hidup,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *