Embun dan Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 12 June 2015

“Berakhir dengan sebuah Teddy Bear dan Mawar Merah”

Sang surya menyinari pagi yang cerah ini dengan sembunyi-sembunyi. Mungkin sang surya masih sedikit engan untuk bersinar cerah di pagi ini, burung-burung kecil berterbangan kesana kemari sesuka hatinya. Andai aku seokor burung yang memiliki sayap yang dapat membawaku terbang kemanapun aku mau mungkin aku dapat berlari bebas kemanapun dari sebuah kesakitan. Namun semua itu mustahil karena sesungguhnya tak akan ada sebuah kehidupan tanpa sebuah kesakitan.

Pagi yang masih tertutupi oleh kabut sedikit tebal dan embun pagi yang segar masih menjadi aroma yang sejuk di hidungku. Embun yang menjadi keindahan di pagi hari, embunlah harta paling berharga di pagi hari karena embun hanya akan ada saat pagi hari embun bagaikan panorama yang dinantikan jutaan manuasia dengan kesegarannya.

Pagi ini aku memutuskan untuk lari pagi mengelilingi daerah rumahku, karena hari libur yang masih panjang aku mengisi liburanku dengan sedikit berolahraga karena telah lama badanku ini tidak berolahraga secara maksimal. Aktifitas berolahraga pun terganggu dengan kondisiku saat itu masih tunanetra.

Astaga! aku lupa kalau hari ini ternyata hari Minggu, pastas saja tak sedikit yang melakukan hal yang sama di pagi ini. Janjiku pagi ini akan berlatih karate bersama Shady terlupakan kuharap ia tak menungguku di rumah saat aku pulang nanti, bergegas menuju arah pulang aku berlari sedikit memacu kecepatanku berlari.

Aku meraih gagang pintu rumahku dan sedikit melongok ke dalam karena takut kudapati Shady menunggu di dalam. Teryata semua seakan sia-sia keberadaanku yang ingin sembunyi-sembunyi masuk karena takut terlihat oleh Shady, teryata Shady telah lebih dulu melihat keberadaanku yang mengendap-ngendap menuju kamar.
“Ekhem.”
Aku membalikan pandanganku ke sumber suara itu yang sudah pasti dia adalah Shady, Yah.! Benar dia adalah Shady yang telah menantiku satu jam yang lalu.
“Hehe, Udah lama?” memberanikan diri memulai perbincangan.
“Nih. Minum dulu susunya.” Menghampiriku dengan membawa segelas susu vanila kesukaanku yang tidak terlalu panas.
“Makasih.” Mataku masih menatap wajahnya yang sedikit masih pucat. Setelah kuminum susu pemberiannya, aku hanya duduk di hadapannya dan memperhatikan dirinya.
“Kamu masih sakit Dy?” mulai menatap mata indahnya yang penuh cerita dan tanda tanya.
“Enggak Kekey, kalau udah istirahatnya nanti kita latihan di teras belakang.”
Sambil mengambil langkah lebih dulu dariku dengan meninggalkanku sendiri di ruang tamu. Tak ingin membuatnya menunggu terlalu lama lagi seperti tadi aku pun menyusulnya dengan sedikit berlari karena tak ingin tertinggal, kami memang sering berlatih karate bersama selain sebuah hobi olahraga ini merupakan olahraga favorit kami. Tapi prestasi Shady di bidang olahraga ini jauh lebih unggul dari aku pastinya, dia seorang atlet hebat yang pernah menjuarai berbagai macam kejuaran. Sedangkan aku masih tertinggal jauh dan masih perlu belajar banyak darinya, dia bagaikan guru dalam hidupku tak pernah lelah dan bosan mengajariku.
“Key, ayo pemanasan.”
“Iya. Bos sip.” Bergaya seperti seorang bawahan yang patut pada majikanya. Hehe.

Tanpa terasa teryata sang fajar mulai terbenam meninggalkan lembayung yang amat sangat merona. Telah lama aku tak menikmati indahnya lembayung di sore hari, sang fajar semakin tak terlihat. Aku menikmati indahnya pergantian sore ini yang akan menjadi malam penuh bintang yang bertabur di awan hitam semakin mempercantik keadaan bumi. Aku dan Shady beristirahat dengan posisi sedikit berbaring dan kedua lengan menjadi tumpuan, telah lama aku kehilangan saat-saat seperti ini bersamanya. Telah lama kurindukan semua hal konyol yang kami lakukan saat kami bersama, namun saat ini hatiku merasa Shady sedang meyembunyikan sesuatu dariku entah apa itu. Yang kulihat hanyalah wajah yang pucat penuh keringat.
“Key, suatu saat nanti aku berharap kamu bisa mengikuti kejuaraan tahun depan.”
“HAH? Kejuaraan??” aku terkejut mendengarnya, selama ini aku hanya mengikuti lomba-lomba perguruan saja belum pernah yang namanya turun ikut bermain di ajang kejuaraan.
“Iya, aku harap kamu dapat melanjutkan segala mimpi dan harapanku.”
“Kenapa bilang gitu? Aku belum pantas mengikuti kejuaran tahun depan bekalku masih sangat sedikit dibandingkan dengan kamu yang telah berpengalaman.”
“Waktu yang tak mengizinkan aku untuk mengikuti kejuaraan tahun depan. Untuk itu aku akan melatih kamu sampai kamu mampu bersaing disana.”
Sedikit aneh dengan perbincanganku kali ini seakan dia akan meninggalkan semuanya, ada apa ini? apa yang sedang disembunyikannya dariku? aku terus bertanya-tanya dalam benak namun tak berani aku ungkapkan.
“Key, belajarlah mencintai orang lain jangan terlalu kau simpan rasa cintamu terhadapku.”
“Dy, kamu gak lagi serius kan sama ucapan kamu barusan?”
“Seorang karateka tak pernah main-main dalam berkata.”
“Maksudnya apa? kamu nyuruh aku belajar mencintai orang lain?” saat ini aku hanya berusaha menatap wajahnya dan berharap ini hanyalah sebuah sandiwara semata.
“Aku tak ingin melihat kau bersedih nantinya, aku tak ingin melihat air matamu.”
“Jangan konyol deh Dy!”
Aku pergi meninggalkan Shady sungguh tak kuasa mendengar ucapannya, dan aku berharap itu hanya perbincangan yang salah. Tak mengerti apa yang sedang membebaninya saat ini sampai dia berani mengatakan seperti itu. Aku merebahkan badanku di atas kasur dengan perasaan yang masih tak menentu, saat fikiranku kacau dan hati mulai gundah tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarku.
“Tok tok tok.” sontak terdengar suara ketukan pintu kamarku “Key, aku boleh masuk?”
Suara yang khas dan mungkin karena aku sudah terbiasa mendengarnya tak perlu lagi kutanya siapa, itu suara Shady untuk apa iya menemuiku lagi? bukankah dia yang meminta aku untuk menjauhinya.
“Enggak,”
Namun sepertinya jawabanku tak dihiraukannya, bodohnya aku mengapa tak aku kunci kamarku. Jadi dia tak bisa masuk tanpa seizin aku terlebih dahulu.
“Aku masuk karena kamarmu tak kamu kunci,”
“Ada apa lagi?”
“Key, maafin aku ya dengan ucapanku tadi.”
“Mmm.”
“Dimaafin gak?”
“Nggak tau.”
“Ayolah beri aku maafmu.”
Fikiranku masih tergiang oleh ucapannya tadi aku masih menyimpan tanda tanya besar. Tapi tak tega aku melihatnya yang begitu tulus memohon maaf padaku, jujur sebenarnya aku tak marah padanya hanya sedikit kesal dengan ucapannya yang ngawur tak jelas tadi.
“Iya, aku maafin.”
“Are you sirious?” menampak senyum manisnya yang dilengkapi lesung pipit di pipi kanan kirinya.

“Ya udah gak dimaafin nih!”
“Eits. Jangan dong.”
Hehehe. Sebenarnya tak mungkin juga aku tidak memaafkannya.
“Keluar yuk. Sebagai tanda maaf aku sama kamu.”
“Kemana.”
Tidak banyak berbicara dia langsung mengandengku keluar kamar dan mengajak aku pergi, tak saatu pun pertanyaan aku dijawab olehnya.

Tanpa berganti baju dan masih dipenuhi dengan keringat aku memasuki mobilnya. Dan yang kesekian kalinya aku bertanya bagaikan berbicara dengan tembok yang berdiri tegak di hadapaku. Sungguh menyebalkan sekali kau ini, namun tidak aku pungkiri aku bahagia disaat seperti ini. Saat aku hanya berdua denganmu, saat aku bisa bersama denganmu, dan aku bisa berada dekat denganmu yang selalu menguatkan aku dalam segala hal yang menimpaku. Kau tak pernah meninggalkan aku sendiri.

Tuhan, terimakasih kau telah hadirkan dia dalam hidupku. Semoga Tuhan tidak pernah bosan mendengar setiap doa yang aku panjatkan selalu menyebutkan namamu di setiap sujudku. Semoga kau selalu dalam naungan Tuhan dan selalu dilindungi olehnya, karena aku tahu Tuhan tidak pernah salah Tuhan maha mendegar. Tuhan… Sehebat apapun aku mencintainya, sehebat apapun aku menyanginya di dunia ini tidak bisa menyelamatkan kita saat kau menyimpan sebuah kata “PERPISAHAN” karena segala yang terbaik hanya kaulah yang maha mengetahui. Tuhan jika memang kau simpan kata “PERPISAHAN” itu di antara kami aku hanya berharap itu terjadi hanya saat matahari berada satu hasta dari atas ubun kami. Sebuah keyakinan akan perasaan ini, dan dengan sebersih bersihnya aku mencitaimu dalam sebuah ketauhidan semoga kita diwafatkan bersama. Tuhan mempertemukan engkau denganku di satu tempat dimana para hambanya melihat sebuah kebahagian aku mencintaimu karena Tuhan, bukan karena kesempurnaan fisik dan materimu yang jauh lebih baik dariku.
“Key, apa yang membuat kamu melamun sampai menangis seperti itu?” Menghentikan mobilnya dan menatapku penuh tanya. Mungkin kata perpisahan itu yang membuatku meneteskan air mata tanpa kusadari sendiri bahwa aku sedang menangis.
“Nggak papa kok, kenapa berhenti?.”
“Jangan kau simpan kebohongan di balik matamu Key!.”
“Beneran deh, gak ada yang ditutupi kok .”
“Kalau begitu yakinkan aku kalau saat ini kamu baik-baik saja.”
“Baiklah, Shaaaadyy aku baik-baik sajaaaa.” Aku membuka jendela mobilnya dan berteriak. Mungkin terlihat konyol saat kami saling meyakinkan satu sama lain, namun tanpa disadari inilah yang membuat kami bahagia dan nyaman.

Melanjutkan perjalanan yang cukup panjang. Sampai saat ini aku masih tidak mengerti kemana dia akan membawaku pergi. Tapi aku hanya berharap dia tidak membawa aku ke toko olahraga lagi, ya! karena selama ini dia lebih sering membawaku ke toko buku atau toko olahraga untuk membeli segala macam kelengkapannya.
Tapi sepertinya kali ini berbeda setelah aku melihat tempat ini. Desiran ombak dan angin pantai yang dilengkapi senja yang sempurna membuatku merasa tentram, kehangatan dan debar jantungku kini berdebar dengan cepat tidak seperti biasanya. Tanpa aku sadari teryata pria seperti Shady ini bisa dikatakan cukup romantis meski terkadang dia jauh lebih terlihat menyebalkan. Kehangatan yang dulu tidak aku rasakan sempurna kini terasa begitu hangat saat kau berada dekat denganku, kehangatan yang telah lama aku rindukan.
“Kekeeeeeeeeeeey…”
“Dasar bodoh sedang apa kau ini berteriak seperti tadi? Sungguh menyebalkan hanya membuat telingaku sakit saja.” Sedikit jengkel aku dengan tingkahnya.
“Ayo ikuti, itu akan membuatmu jauh lebih baik.”
“Shaaaaaady…”
“Hahahaha… Segitu saja suaramu memalukan! sunguh sangat memalukan seorang karateka hanya mampu berteriak seperti tadi? Hahaha…” Dengan wajah yang sedikit angkuh dia meledek aku dengan mudah. “Dengarkan ini sekali lagi, Kekeeeeeeeeeey I LOVE YOU”
Sontak aku merasakan kehangatan sikapnya saat itu, aku hanya terdiam dengan mata terpaku pada desiran ombak pantai yang indah dengan senyum bahagia yang kini terpancar dari wajahku. Dengan penuh senyum kebahagian aku memalingkan pandanganku yang terarah pada sosok terang dalam hidupku saat ini, tatapan pada wajah pria yang masih terpejam menghadap sinar senja.
Kini kami hanya terdiam satu sama lain. Keheningan yang tercipta, suara ombak menerjang karang yang berdiri kokoh di antara pesisir pantai.
“Shaaaaaaaaady I LOVE YOU TOO” Memecahkan kehenigan yang terselip di antara kami. Jujur sebenarnya hati ini menyimpan sebuah kejanggalan yang terselip dalam benak fikiran dan hatiku, tidak seperti biasanya dia begitu hangat dan kehangat ini benar-benar terasa berbeda. Aku menatap wajahnya yang terlihat dengan senyuman manis dilengakpi lesung pipitnya yang cukup dalam di wajah yang masih terlihat pucat.
Kini kami memang saling beradu pandang. Cahaya senja semakin tak terlihat, aku mulai mengawali pembicaraan yang memang mulai terasa janggal di hati ini.
“Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?”
“Tidak ada satu pun yang aku sembunyikan darimu. Percayalah” dengan lirih suaranya terdengar lembut dekat telingaku.
“Aku telah lama mengenalmu, pupil matamu berkata kau sedang berbohong saat ini. Katakanlah sebelum pupil matamu semakin membesar.” Pintaku dengan mengemgam erat tangannya yang nampak pucat dan dingin.
“Aku merasa lapar, lain waktu kita lanjutkan lagi pembicaraan ini sebaiknya sekarang kau temani aku makan terlebih dulu.” Ujarnya seraya mengalihkan pembicaraan dengan menarik tanganku dengan genggaman yang cukup erat, membuatku sulit membebaskan diri dengan segala macam pertahanan dan akhirnya membuat aku menyerah dengan ini.
“Kau ini, pintar sekali mengalihkan pembicaraan. Tak sopan!” dengan sedikit mendengus di depanya yang tengah asyik memilah dan memilih menu makan kali ini.

Setelah menikmati indahnya malam di pesisir pantai dan segala macam hidangan yang bertemakan sea food telah membuatku terasa kenyang dan membuat ketenangan para penghuni perutku.
“Ini mas notanya.” Dengan sopan seorang pelayan memberikan nota makan malam kami malam ini. Kudapati sebuah kepanikan yang nampak dari wajahnya, “Ada apa?” mencemaskan wajahnya yang terlihat panik.
“Sepertinya dompetku tertinggal di mobil. Tunggu sebentar aku akan mengambilnya dulu kau tetap disini.” Bergegas mengambil kunci mobil di hadapanku.
“Duduklah, biar aku yang mengambilnya.”
“Key, aku saja.”
“Shady aku ingin mengambil ponselku di dalam tas dan kau tak mungkin hafal bagian-bagian dari tasku.” Entah apa yang membuat aku bersikeras ingin mengambilnya, apa mungkin ini karena rasa penasaranku yang tinggi terhadap ucapan, tingkah dan segala hal yang dia lakukan hari ini tak seperti biasanya.
“Baiklah, hati-hati.”
“iya…”

Langkahku penuh dengan tanya, aku sedikit berlari entah panggilan apa yang membuatku semakin penasaran. Dengan aku sedikit berlari seperti tadi membuat aku lebih cepat sampai, saat tiba dengan cepat aku mengambil sebuah dompet lipat hitam yang terbuat dari kulit itu. Diluar dugaanku terselip di antara lipatan dompet hitam ini yang membuatku penasaran, maaf jika aku lancang membuka dompetmu. Sungguh aku hanya ingin tahu ada apa? Yang sebenarnya. Ampau coklat susu dengan lebel tanda Rumah Sakit terlihat jelas di sudut atas ampau itu. Dengan hati gemetar aku membukanya dan teryata sebuah surat hasil diagnosa jatung, mataku masih berputar membaca surat itu dan kini yang kudapati sebuah kalimat yang membuat jantungku berhenti berdetak “Ananda Muhammad Irshady Petro Khalifah mengidap Lemah Jantung stadium akhir dan kemampuan bertahan dengan kondisi seperti ini hanya beberapa bulan saja.” Sungguh aku tak menyangka akan semua ini.
Aku mohon tidak untuk saat ini. Aku memaksakan kedua mataku memandangi langit penuh bintang demi menyeka sebuah tangis yang tersimpan di pelupuk mataku saat ini. Aku benar-benar jatuh dan tak sanggup dengan kondisi ini harus bertemu dengannya. Aku berjalan dengan gontai dan terus menyeka air mata dan meyakinkan agar tidak tumapah air mata ini di depannya
“Ini dompetmu.” Tak sanggup rasanya bila harus menatapnya.
“Kamu kenapa Key? Kamu nagis?” tangannya mencoba menyingkirkan punggung tanganku yang masih sibuk menghapus tangis.
“Aku baik-baik saja Shady, percayalah! Yang harusnya aku khawatirkan itu adalah kau!” tangis ini tak lagi dapat tersembunyikan mataku tak sanggup menyimpan kebohongan ini lebih lama.
“Kau pasti telah mengetahuinya, maaf aku tak berterus terang tentang hal ini.” Dekapan hangat yang kau berikan saat ini membuat aku semakin takut kehilangan sebuah kehangatan.
“Percayalah Key, ini hanya secarik kertas. Semua kuasa ada di tangan Tuhan, aku masih punya Tuhan dan kau untuk bertahan meski penuh rasa sakit.”
“Tapi…”
“Kumohon jangan berbicara terus, aku bosan mendengarmu terus berbicara hari ini.” Caramu menguatkan aku begitu berbeda, kau terus meledek aku dengan kondisi seperti ini kau benar-benar membuat aku semakin jengkel. Apa sebenarnya kau tak mengerti kekhawatiranku terhadapmu begitu besar Hah!?.
“Aku punya sesuatu untukmu.”
“Apa?”
“Lihat ini, memang tidak mahal dan mewah tapi aku harap kamu menyukainya.” Sebuah boneka Teddy Bear besar dan mungkin sangat besar karena boneka ini lebih besar dari tubuhku dan setangkai Mawar Merah membuat nanar mataku kembali berkaca-kaca. Aku salah selama ini menilaimu sebagai orang yang sulit dan jauh dari kata romantis tapi sepertinya penilaian aku terhadapmu kali ini bisa aku pungkiri.
“Kumohon jangan berbicara terus, aku bosan mendengarmu terus berbicara hari ini.” Aku membalikan kata-kata yang mampu membuat aku membisu sesaat dengan ucapannya, dan begitupun dia yang hanya tersenyum nakal mendengar aku mengulang kalimat yang telah dia ucapkan beberapa menit yang lalu. “Terimakasih, aku suka bonekanya dan mawar ini indah. Sekali lagi terimakasih “
“Coba kau tekan bagian dada bonekamu.”
“Untuk apa?”
“Lakukanlah tak perlu protes.!”
“Baiklah.”
Saat tanganku menekan bagian dada boneka ini, terdengar indah alunan seorang pianis handal dan saat alunan musik berakhir diteruskan suara yang tak asing lagi, siapa lagi selain Shady! Mengatakan “I LOVE YOU MY LITLE ANGEL” aku terengah mendengarnya.
“Udah malem nih, pulang yuk.” Tangannya merangkul pudakku penuh kehangatan yang membuatku sedikit bertingkah manja.

Pagi yang cerah membuat cahaya fajar hampir memenuhi kamarku, aaaaaaa… rasanya badanku ini masih terasa sangat pegal dan lelah karena perjalanan yang cukup panjang dan memakan banyak waktu. Rasanya masih ingin terbalut dengan selimut dan berbaring santai di atas tempat tidurku. Saat mulai kembali merebahkan badanku yang terbanting lemah di atas kasur terdengar lagu Ma Boy (Smells Remix) dari ponselku tanda pangilan masuk bergegas meraih ponsel yang tidak begitu jauh dari posisiku. Shady memanggil, pagi sekali anak ini bangun atau jangan-jangan malah tidak tidur sama sekali.
“Halo.”
“Dasar pemalas pasti baru bangun.”
“Sembarangan sekali kau ini, aku sudah bangun dari tadi.” Dengan nada yang sedikit tinggi seolah meyakinkannya.
“Tak mungkin, kelambu kamarmu masih tertutup rapat apa itu tandanya kau sudah bangun!?”
“Bagaimana kau tahu.”
“…” aku berlari menghampiri jendela kamar ku, sosok terang itu telah menanti. Dengan melambaikan tangan memberi isyarat kepadaku untuk keluar menghampirinya. Sejenak terlintas bayang surat itu, dimana dalam surat itu tertulis “Stadium Akhir” tidak sedikitpun terbayang dalam benak akankah mampu kehilangan dia dalam waktu dekat ini. Wajahku memanas menahan tangis seakan itu benar akan terjadi, aku percaya padamu Tuhan kau pasti sedang menyusun sesuatu yang indah untuk aku dan dia. Aku juga percaya kau tak akan memberi tangis lagi, kau tidak akan memberiku sebuah kepergian.
“Kau, lama sekali pemalas.”
Hanya mendengus kesal dengan ucapannya. “Kekey, Shady… sarapan dulu yuk sebelum kalian berpergian.” Suara Ibu yang terdengar dari ruang makan mengajak kami sarapan sebelum pergi. Tanpa ragu Shady masuk dan bermanja dengan Ibu seperti sedang bersama Ibunya sendiri, sungguh aku sangat bahagia melihat kebahagian kecil ini Tuhan.
Aku, Ibu, Ayah, Kak monic dan Shady menikmati sarapan asli buatan tangan Ibu yang nikmatnya tidak kalah dengan Restaurant di mall.

Dalam gelap aku tak bisa melihat indahnya dunia ini, dan dalam gelap aku tak dapat melihat kejernihan tetesan embun dengan lagit biru yang ditemani para burung-burung kecil berterbangan lalulalang di lagit yang cerah. Aku terlalu nyaman dengan suasana hangat seperti ini terlalu menikmati kehangatan cintanya yang begitu tulus dalam dirinya terhadap aku. Sebulan telah berlalu dimana rasa sedihku telah tergantikan dengan seribu kebahagian saat aku terus dekat dengannya melalui hari-hari yang indah penuh dengan warna-warni kehidupan.
“Pagi ini kau akan bawa aku kemana lagi?” Aku mulai bertanya saat keheningan mulai menghampiri entahlah rasanya aku tidak akan pernah membiarkan keheningan menghampiri disaat-saat seperti ini tidak akan aku biarkan.
“Taman.” Jawabnya dengan singkat tanpa menoleh sedikitpun padaku.
“Taman di teras belakang sekolah itu?”
“Iya..”
“Jam berapa kita kesana?” mencoba mencari perhatiannya yang tegah asyik merapihkan barang-barang di bagasi mobilnya, entah apa barang-barang yang tersimpan di kotak itu.
“Tidak perlu banyak bertanya, kau masuk saja ke mobil duluan nanti aku menyusul.”
“Gak pake lama.”
Senyum indah itu terpancar dari sosok yang aku puja. Senyuman dari seorang pria yang berpostur tubuh tinggi dan kulit yang tampak putih layaknya Blasteran Indo-German. Diriku sendiri bingung mengapa aku bisa menyukai sebegitu dalam seperti sekarang ini? Tampan? Ya, dia memang begitu tampan, tetapi itu bukanlah suatu alasan utama aku menyukainya. Mungkin karena pribadinya begitu low profile, baik, intelligent, dan berkharisma. Laki-laki yang bernama Shady itu benar-benar telah merubah segalanya dalam hidupku menjadi lebih baik. Orang yang begitu aku kagumi dan aku puja. Dia juga seorang atlet karate hebat, berbagai kejuaran telah diraihnya.

“Sampai… silahkan menikmati tamannya nona.” Bergaya bagaikan seorang sopir pribadi yang sedang menghadapi majikan yang super protektif.
“Hahaha…” Aku hanya tertawa bersama yang diakhiri pelukan hangat.
“Nona, bisakah kau bantu aku bawa barang-barang yang di bagaasi tadi?”
“Kau ini! Aku ini majikanmu masa kau menyuruhku untuk membawa barang-barang itu!” Hangatnya pelukan itu hilang tergantikan dengan cubitanku yang mengincar pinggangnya.
“Ada apa kau membawa aku kesini?” tanyaku saat Shady sibuk mengeluarkan kotak dari bagasi mobilnya.
“Aku mau kita nulis harapan kita masing-masing di dalam balon ini, nanti kertasnya simpen di dalam balonnya setelah itu baru kita terbangin balonnya bareng-bareng.” Dengan memberi aku selembar kertas dan bolpoin. Dia begitu asyik menuliskan harapan-harapan itu, sedangkan aku masih terdiam dengan kertas yang masih kosong.
Dan saat ide itu muncul…

Harapanku.
Aku hanya ingin Tuhan memberikanku malaikat yang tulus mencintaiku, aku hanya meminta saat malaikat itu datang dan lalui hari bersamaku aku hanya ingin malaikatmu kau beri waktu yang panjang untuk bersamaku. Melepaskan malaikatmu dari rasa sakit, rasa sakit yang membuat hati ini semakin teriiris saat aku harus melihat malaikatmu sedang menahan rasa sakit itu. Tuhan beratkah harapanku? Kau maha mendengar bukan? Aku yakin kau maha tahu segalanya. Tak perlu kutuliskan dalam secarik kertas putih yang mungkin tak akan sanggup menampung semua harapanku.

“Ini balonnya kalo sudah masukan saja kertasmu, biar aku yang memompa dan mengikat balonnya. Nanti kau yang menerbangkan harapanku, begitupun sebaliknya gimana?”
Aku hanya mengangguk pelan dengan senyum mewakili mulutku yang sudah tak sanggup berkata apapun lagi. Aku hanya menikmati detik-detik saat aku bersama denganmu seakan tak ingin satu detik pun terlewati, kami menggenggam tali balon yang sedang melayang di udara. “Kita terbanginya bareng ya? Setelah aku selesai berhitung sampai tiga kita lepasin bareng-bareng.”
“Satu..”
“Dua…”
“Tigaa…”
“Sekarang balon itu sedang dalam perjalanan menyampaikan harapan-harapan yang sudah kamu tuliskan pada Tuhan, sekarang aku minta satu hal lagi sama kamu”
“Apa?”
“Saatnya nanti tiba aku hanya tidak ingin melihat kau menagis dan menyalahkan takdir yang telah ditentukan Tuhan, sesungguhnya tanpa kau sadari takdir dapat kita rubah tidak selamanya takdir membawamu dalam duka. Percayalah!”
“…”

Cerpen Karangan: Kifama Ar Russy HR
Facebook: kiki fatihatul makiyah
Nama saya kiki fatihatul makiyah. hobi saya menulis, berlatih karate, dan hal menyenangkan lainnya. ini tweet saya kalian bisa follow saya @kikicifzp mention for folback 🙂

Cerpen Embun dan Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ronan

Oleh:
Hujan itu membangunkanku dari tidurku yang singkat. Aku mengucek kedua bola mataku dan melihat ke arahnya. Ia masih terbaring dan terkulai lemah di sana. Dan ternyata aku tidak di

LDR

Oleh:
Jenny, seorang cewek SMA yang berambut panjang dan berhidung mancung itu kerap disapa Jen oleh teman-teman sebayanya. Jen masuk sekolah SMA dengan tujuan mencari ilmu dan mencari pengganti Jono,

Terimakasih

Oleh:
Kisah fiksi dari buku kusam yang berdebu Aldo dan Dini adalah sepasang kekasih yang sangat berbahagia, hubungan mereka dimulai sejak mereka kelas 2 SMA, Dini jatuh cinta kepada Aldo

Ku Nantikan Pertemuan Kita

Oleh:
“Yan.. melamun aja ayo pulang, mau jadi penunggu kampus lo,” ujar sahabatku Rusdi. “Iya sabar dikit napa?” dengan nada santai. “Rus aku nebeng ya..” dengan wajah sumringah. “No problem..

Dua Jam Yang Lalu

Oleh:
Dua jam yang lalu kau telah berjanji untuk menemuiku di sini. Di sebuah halte bus tempat pertama kali kita bertemu. Saat itu hujan deras, aku melihatmu dengan mengenakan baju

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *