Fajar Dan Kenangannya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 August 2017

Suasana pagi ini tak seperti biasanya. Kali ini, kuhabiskan pagi di hari minggu untuk pergi jogging bersama alin, sahabatku, di alun-alun kota kami. Sengaja kami keluar rumah sebelum matahari terbit, agar kami tak terkena polusi kendaraan bermotor. Aku berjalan dari kompleks rumahku, menghampiri si alin dan kami jogging ke alun-alun.

Aku siswi SMAN 1 SUKOHARJO, aku tinggal di perumahan sanggrahan indah, tak jauh dari sekolah dan juga rumah alin sahabatku. Alin adalah teman sekaligus sahabatku sejak kami SD hingga SMA saat ini.

Ketika kami sedang beristirahat di pinggir alun alun, kulihat seorang lelaki dengan celana panjang hitam dan berkaos pendek merah tua menghadap ke arah kami dan raut mukanya yang sepertinya kukenal. Kufikir dalam-dalam siapa lelaki itu. Bermenit-menit aku berfikir, dan. ya. Dia adalah fajar. Teman SD ku dulu dan juga orang pertama yang aku pernah suka. Sekarang dia berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu dia bertubuh kecil tapi tidak ideal dengan beratnya. Tapi sekarang, dia sudah menjadi remaja bertubuh jangkung dengan tingginya yang pas dengan beratnya badannya.

Dia tampaknya menatapku lekat-lekat. Mengisyaratkan seakan-akan dia ingat jika aku teman SD nya. Dan tampaknya kini dia berjalan menghampiriku.
“ini rara bukan ya?” tanyanya dengan ragu
“saya alin mas.” Jawab alin dengan percaya dirinya
Aku hanya menahan tawa mendengar alin menjawab pertanyaan fajar. Sebenarnya aku sadar bahwa fajar menanyaiku, tapi sengaja ketika dia menghampiriku, aku berpura-pura menatap luasnya alun alun.
“maaf, sampingmu ini namanya rara bukan? Itu sih kalo tidak salah.” Jawabnya kembali dengan sedikit kebingungan di wajahnya.
“ra, ini siapa ra? Kamu kok kenal cowok sekeren secakep seganteng ini?” tanya alin sambil membisik di telinga kiriku.
“temen SD dulu” jawabku singkat dan kupalingkan wajahku menatap alin dan otomatis aku melihat fajar juga.
“rara kan?” tanya fajar balik menatapku
“iya jar” jawabku malu-malu
“kamu masih ingat aku?”
“ingatlah, aku bukan pelupa yang baik kok. Hehehe.”
“hm.. iya iya. Sekarang kamu sekolah di mana ra? Udah lama banget ya kita nggak pernah ketemu?”
“aku sekarang di SMAN 1 SUKOHARJO, aku masih baik baik saja kok. Kamu aja yang sok sibuk, kalo ada kumpul bareng bareng sok aja nggak pernah ikut.” Jawabku dengan gurauan yang sengaja kucairkan, karena kurasa bertemu dengannya seperti bertemu dengan bapak kepala sekolah.
“oh, em, kita lanjutin di hp saja ya. Ini nomor teleponku” dia mengambil sesobek kertas bersama bolpoin di saku celananya dan menulis nomor teleponnya dengan cepat lalu memberikannya padaku. kuduga, bahwa dia suka dengan dunia sastra, jadi dia selalu membawa kertas dan bolpion.
“oh iya jar” jawabku sembari menerima kertas dari fajar. Dia pun kembali duduk di awal tempat ia duduk tadi. Tapi kali ini dia duduk membelakangiku dan tak lagi berhadapan denganku.

Dulu waktu SD aku pernah jatuh cinta pada lelaki ini. Karena menurutku dia paling imut tapi keren, paling kocak tapi pinter, paling supel dan so pasti dermawan. Tapi sepertinya dia tak tahu bahwa aku mencintainya. Karena saat itu aku mencintainya dalam diam.

Malam ini kuberanikan diriku mengirim sms untuknya.
To: fajar from: rara
Hey!
Dua menit kemudian dia membalas messagesku
From: fajar to: rara
Ini rara ya?
To: fajar from :rara
Iya jar, gimana tadi kamu mau ngelanjutin bilang apa?
From: fajar to: rara
Hehe, nggak papa kok ra, cuman pengen nyambung pertemanan aja, kan udah lama kita nggak pernah contac.an. sekarang kamu berubah sekali ya, aku jadi ingat waktu kamu masih suka ngejailin aku.
To: fajar from: rara
Itu kan dulu, aku sekarang nggak kayak gitu lagi. Lha kamu sih, kalau mau ngejailin kamu tu, pasti endingnya kamu hanya protes dan lapor ke bu mita. Trus nanti aku dihukum dan kamu tertawa bebas di belakangku, hahaha
Kami pun mulai nostalgia panjang lebar tentang kekonyolan kami sewaktu SD dulu, hingga tak sadar malam pun sudah larut. Dan aku yang mengakhirinya.

Kudapat informasi darinya, sekarang dia bersekolah di SMAN 2 SUKOHARJO, letaknya sih hanya berada tepat di samping kanan sekolahku, itu artinya sekolah kita dekat dan kita akan sering bertemu. Dan rumahnya dia, berada di blok D perumahan sanggrahan indah, aku berada di blok A, jika masyarakat selain dari blok A hendak ke jalan raya harus melewati blok A, jadi dia setiap hari akan melewati depan rumahku.

Kutarik selimut bermotif bunga ini, sebelum kepejamkan mataku, kuingat balasan dari setiap jawaban yang ia utarakan. Sepertinya, kini ia menjadi lelaki bijaksana, layaknya pemimpin yang dirindukan bangsa. Aku terbuai dalam cinta pertamaku yang kembali datang. Dan tak terasa, dinginnya malam makin menusuk tulangku, aku pun memejamkan mataku, menghabiskan malam dengan tidur panjangku.

“Cie, yang kemarin abis ketemu sama cowok keren, cakep, ganteng” gurau alin padaku saat kami berjalan menuju sekolah.
“apaan sih, itu kan cuman temen SD dulu” jawabku tenang, seakan rasa cintaku pada fajar tak kutampakkan di hadapan alin.

Kami mulai menjalani kegiatan sehari hari kami sebagai siswa SMAN 1 SUKOHARJO, kuikuti kegiatan OSIS dan juga kepramukaan. Karena aku suka dengan alam dan kemasyarakatan, jadi kedua ekstrakulikuler ini sangat kuminati dan akhirnya aku bergabung.

Aku memang mencintai fajar sejak dulu, sejak aku SD, akan tetapi dia tak tahu bahwa dalam diam aku mencintainya. Ketika SMP aku miscontact dengannya, karena aku berada di jawa timur dan dia berada di sukoharjo, jawa tengah. Jarak kita memang jauh, akan tetapi, tak pernah kubuang rasa ini untuknya. Aku percaya bahwa tuhan akan menemukan kita entah kapan dan bagaimana. Terbukti, pemikiranku dikehendaki oleh tuhan dan kini aku bertemu dengannya. Dalam keadaan yang kami sama-sama lebih baik.
Sejak saat itu, aku dan fajar chat-chattan, membahas tentang OSIS dari sekolah kami masing-masing, bertukar pemikiran, meminta pendapat hingga bernostalgia kembali ketika kami SD dulu.

Ketika aku lulus SMA
Aku mendapatkan beasiswa untuk sekolah ke luar negeri. Tepatnya di negara belanda. Sebuah negara yang dulu, pernah kuimpikan aku akan menuntut ilmu di sana. Aku bimbang harus mengikuti saran guruku atau tidak. Kupikirkan dua hari lamanya. Kumintai pendapat orangtuaku dan mereka langsung menyetujuinya. Tepat satu minggu setelah aku menerima beasiswa itu, kutinggalkan indonesia, negeri yang paling kucinta beserta ribuan kenangan di dalamnya.

“kamu belajar yang serius nak, jangan pikirkan ayah dan ibumu ini. Yang penting ketika kamu pulang nanti, kamu bisa jadi orang yang bermanfaat untuk negaramu.” Pesan ayah ketika aku akan memasuki ruang check in -yang 3 jam lagi pesawat ini akan membawaku ke negeri kincir angin itu.
Seketika itu air mataku tak bisa kutahan lagi. Mataku berkaca-kaca dan akhirnya air yang kusimpan di pelupuk mata ini pecah juga.
“ra, hati-hati di sana ya. Temui aku besok, ketika kamu telah lulus dari belanda. Aku janji aku nggak akan ninggalin kamu. Dan aku janji lagi, kita pasti akan bertemu ketika kami sudah sukses kelak” ucap suara seorang pria dari belakang aku berdiri, kukenali suara itu, dan benar saja, itu suara fajar.
Air mataku semakin menjadi-jadi. Aku menangis deras. Namun, Aku hanya mengangguk, pertanda bahwa aku menerima janji-janji yang diucapkannya.
“maaf mbak, segera masuk ruang chek in, tiga puluh menit lagi pesawat akan segera berangkat.” Kata petugas sembari menghampiriku.
Kuhapus air mataku, dan kubawa koper-koperku memasuki ruang chek in. Kini aku akan pergi dari ayah, bunda, alin, dan juga fajar.

5 tahun kemudian
Aku tiba di indonesia, bandara adi sudcipto tepatnya. Segera kucari taksi menuju rumahku. Kutemui ayah bundaku, tampaknya raut muka mereka kini terlihat lebih tua daripada sebelum aku berangkat ke belanda.
Setelah seminggu, kukunjungi rumah sahabatku dulu. Alin. Kugayuh sepeda onthelku menuju rumahnya, kudapati dia sedang menyiram bunga di halaman rumahnya.

“alin” teriakku dari depan rumahnya
“eh, rara, iya ra, aku kangen banget sama kamu, gimana kondisimu sekarang? makin kurus aja.” Jawabnya dengan memelukku erat-erat. Seakan kami tak pernah bertemu 10 tahun lamanya
“aku baik kok, kamu sukanya ngejek aku terus sih. Aku jadimalu nih.” ucapku
Setelah sekian lama aku mengobrol dengannya, kuputuskan untuk mengajak alin pergi ke rumah fajar, sudah sekian lama aku tak berkomunikasi dengannya.

Kali ini, aku memilih untuk berjalan kaki bersama alin menuju rumah fajar. Mengingat dulu aku terbiasa jalan kaki ketika di belanda. Kuhirup segarnya udara indonesia, setelah sekian tahun tak kudapati di belanda.
“Tok tok” kuketuk pintu rumah fajar
“Iya mbak, mari masuk”
Tawaran dari ibunya fajar kali ini aku terima, dan kini aku berbincang panjang lebar bersama beliau.
“sebenarnya, ada tragedi di keluarga kami, ini terjadi dua tahun silam, ketika kami semua sepulang silaturrahim, kami melewati jalan terjal di pegunungan wonogiri, tiba-tiba rem mobil kami blong. Dan kami mengalami kecelakaan. Yang selamat hanya saya dan suami saya. Fajar pun telah kembali menghadap illahi” jelas ibu fajar dengan mata berkaca-kaca
Hatiku langsung hancur, seakan-akan seluruh jiwaku melayang, harapan yang akan aku bangun bersamanya seakan roboh tak berdaya. Aku tak mampu menahan air mata. Aku menangis di hadapan ibunya fajar. Perlahan kujelaskan semua janjinya kepadaku. Dan al hasil, sekarang dia sudah di pusaranya. Meninggalkanku dengan seluruh ucapan manis yang dulu diucapnya. Kini ia tertidur selamanya dan tak akan kembali lagi.

Ibu fajar mengantarkanku ke pusara anak tercintanya. Disana tertulis nama muhammad fajar akbar bin sriyadi dengan jelas. Kembali kutumpahkan air mataku. Kali ini, Aku tak habis fikir, mengapa tuhan memisahkan aku darinya secepat ini. Namun, takdir telah berkehendak. Biarkan tuhan yang mengatur seluruh hidupku. Aku hanya meratapi kepergianya serta mengirim doa lewat al fatihah yang setiap hari kubaca dalam do’a.

Cerpen Karangan: Nilna Layyina
Facebook: Nilna Dati
nilna dati layyina, siswi 15 tahun bersekolah di MAPK MAN 1 SURAKARTA. ini cerpen pertamanya yang dikirim, jadi apabila banyak kesalahan tolong dimaafkan.

Cerpen Fajar Dan Kenangannya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pergi Tak Kembali

Oleh:
Sebuah cerita bermakna Yang ingin ku tulis Bukanlah sebuah mimpi Yang terbang melayang Hanya di atas angan-angan Rasa sepi di tengah keramaiaan ini Buat ku tau apakah aku bisa

Cewek itu Liani

Oleh:
Malam yang cerah dengan bulan yang bersinar terang membawa ketenangan dan keyakinan pada malam ini. Malam ini akan terasa lain dari malam biasanya, yang biasanya Cuma di rumah dan

Berharap Kebesaran Allah

Oleh:
Hari ini ku lalui seperti biasanya… hanya ada satu yang berbeda, sesuatu yang membuatku begitu bahagia.. Yup.. hari ini aku mudik ye ye.. Akhirnya aku bisa melepas semua rinduku…

Melangkah Pergi

Oleh:
Sinar mentari beranjak pergi diiringi jingga yang mengusik sunyi, bintang-bintang bertaburan diikuti bulan yang perlahan menyeruak ke permukaan, menaburkan cahaya terang penuh kedamaian membuang resah dan galau yang membuncah

Keadaan Atau Kehendak

Oleh:
Aku memang bodoh, dan cinta yang membuatku seperti ini. Dua tahun yang lalu aku dan kamu dipertemukan oleh tuhan untuk saling mengenal satu sama lain. Aku ingat saat kali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *