Firasat

Judul Cerpen Firasat
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 27 December 2016

Kriiingg!!!. Pukul 3 sore bel sekolah akhirnya berbunyi lebih indah. Aku membereskan buku matematikaku yang sangat tak berguna ke dalam ransel putihku. Semua teman-teman di dalam kelas sudah hampir kosong. Aku memang laki-laki yang tak begitu cepat namun ketelitian pikiranku boleh diuji dengan yang lain. Bayangkan saja kaus kaki teman di sebelahku saja tak dibawa dan bahkan aku harus mengantarkan kacamata guru matematikaku tadi. Sampai sekarang aku tak tahu kenapa semua murid dan guru selalu ingin cepat pulang padahal konflik di luar kelas lebih membingungkan.

Hangatnya senja sepertinya mengundang keinginan untuk melepaskan segala permasalahan pelajaran matematika tadi. Secangkir kopi sepertinya menjadi satu-satunya yang mengerti akan jiwa dan pikiranku. Ketebalan dompetku hari ini sepertinya juga memungkinkan untuk setidaknya membeli kopi dan beberapa makanan ringan di kedai kopi yang sering aku singgahi. Perjalananku tidak akan melelahkan karena cukup 27 menit 49 detik saja agar aku sampai disana.

Hari semakin sore dan langit semakin indah. Tiba diriku di depan barista yang menjadi kasir. Secangkir kopi affogato menjadi penenang jiwaku saat itu. Keadaan di kedai benar-benar tenang karena hanya ada dua pasangan sejoli dan seorang diriku saja. Bahkan aku bisa mendengar jelas percakan dan kebohongan pasangan itu.

Seorang gadis dengan rambut model frenchbraid (kepang perancis) berkacamata dan sedikit jerawat di pipi kiri dengan pakaian kemeja merah serta rok hitam sampai betis membuka pintu kedai. Terdengar pesanan cokelat hangat dan dia langsung pergi ke toilet. Keluar dari toilet dengan melepas kepang rambutnya serta mengambil cokelatnya.

Meletakan secangkir cokelat hangat dan tas kecil di sebelahku.
“Boleh aku duduk?” ucap sang gadis.
“Tentu saja.” ucap diriku sambil tersenyum.
Gadis itu langsung duduk dan membersihkan kacamata yang ia pakai. Hampir 5 menit tak ada percakapan di antara aku dan dia. Maka kita berdua menjadi pendengar pasangan sejoli yang belum pulang dari sore tadi. Tak lama kemudian aku membuka percakapan dengan wanita di sebelahku.
“Siapa namamu?” tanya ku kepadanya.
“Untuk apa?” wanita ini menjawab selagi membersihkan kacamatanya.
“Mengenal banyak orang bisa menambah wawasan.” jawab aku sambil sedikt menggaruk kepala.
“Aku Fania” pungkasnya.

Nama yang cukup bagus menurutku. Sudah lima menit tak ada percakapan lagi setelah mengenal namanya. Maka sekali lagi sebagai lelaki pemberani aku memberanikan diri untuk mengungkapkan sebuah firasat yang dari tadi ada di pikiranku.

“Ceritakan saja” ucap aku tiba-tiba
Keadaan hening beberapa detik.
“Apa maksudmu?” tanya Fania.
“Kau meletakan coklat hangat itu terlebih dahulu sebelum bertanya apakah boleh duduk di sebelah diriku menjadi hal yang aneh seakan-akan aku tak bisa menolaknya dan seorang wanita biasanya tidak bisa memendam sebuah cerita atau masalah yang dipikirkannya.”
“Lalu, apakah itu memastikan diriku harus bercerita?” ucap Fania yang semakin bingung.
“Haha, tidak juga. Hanya saja di kedai kopi ini tidak ada siapa-siapa selain diriku dan pasangan itu. Dari banyaknya tempat kosong untuk menyendiri kau memilih untuk duduk di sampingku. Itu berarti ada sesuatu yang ingin kau ceritakan.”

Namun Fania hanya bisa tersenyum dengan melanjutkan minum coklat hangatnya. Aku berpikir bahwa firasatku pasti benar karena tak ada bantahan dari dia. Aku semakin percaya diri untuk melanjutkan firasatku yang kedua.

“Ada acara yang gagal atau kekasihmu tidak datang?” sebuah pertanyaan tiba-tiba yang membuat Fania sedikit kaget.
“Tau darimana?” jawabnya dengan alis mata kiri yang terangkat.
“Kau memasuki kedai dengan gaya rambut kepang yang butuh waktu lama untuk membuatnya dan sulit untuk melepaskan kepang itu sendirian. Dan biasanya hanya digunakan untuk acara resmi atau makan malam bersama seorang kekasih. Namun kau melepaskan kepangan rambutmu sendiri sehabis dari toilet, seakan-akan ada acara yang gagal atau kekasihmu tak datang malam ini.”

Fania tersenyum kembali dan memintaku untuk melanjutkanya. Dan aku semakin yakin atas kebenaran firasatku ini. Tidak ada bantahan dan koreksi dari fania yang membuat aku semakin pandai memperhatikan hal-hal kecil.

“Dilihat dari pakainmu seperti ini, sangat tak mungkin untuk menghadiri acara resmi terlebih lagi kau hanya memakai sepatu biasa. Itu artinya ada masalah dengan seorang kekasih. Firasatku mengatakan bahwa kekasihmu tidak datang malam ini dan kau menunjukan rasa kecewa dengan melepas kepangan rambutmu itu.”

Lagi-lagi Fania diam dan melanjutkan minum coklatnya. Aku semakin bangga terhadap diriku atas dugaan-dugaanku. Protes saja tidak ada dari Fania yang menandakan tak ada kesalahan sama sekali pada firastku. Tak lama kemudian dia akhirnya bicara apa yang sebenarnya terjadi.

“Firasat yang sangat baik atas petunjuk-petunjuk yang kau katakan.” Fania memuji diriku.
“Oh iya terimakasih.” jawab ku sambil membanggakan diri.
“Tapi maaf semua firasat yang kau katakan, semuanya salah.” Ucap Fania.

Mendengar perkataan ini aku kaget dan bagaimana mungkin aku bisa salah. Akupun menanyakan kesalahan-kesalahan yang aku katakan kepadanya tadi. Dan Fania menceritakan semua kesalahan dari firasat-firasatku.

“Dimana kesalahannya?” ucap diriku yang sudah sangat bingung.

“Pertama, aku memilih tempat ini dari sekian banyak tempat kosong untuk menyendiri karena di tempat ini adalah tempat aku dan kekasihku tertawa bersama. Kedua, aku meletakan coklat hangat terlebih dahulu sebelum duduk karena biasanya kekasihku selalu menyicipinya terlebih dahulu untuk memastikan apakah manisnya sudah pas atau belum. Jika belum maka biasanya aku disuruh untuk menambahkan gula disana, karena menurut dia coklat hangat di kedai ini kurang memuaskan.”

“Lanjutkan.” Ucap aku yang semakin penasaran atas kesalahan-kesalahanku.

“Ketiga, alasan aku melepas ikatan kepang di rambutku adalah karena kekasihku selalu mengatakan bahwa aku sangat manis jika rambutku terurai seperti ini. Dan terakhir, aku tidak akan kecewa jika kekasihku tidak datang malam ini, karena dia tidak akan mungkin datang kembali.” Ucap Fania

“Maksudmu apa?” tanya ku yang semakin bingung.

“Jadi begini, dulu aku mempunyai pasangan yang sangat suka ngopi dan traveling. Dia adalah lelaki yang sangat perhatian melebihi ayahku. Dia adalah lelaki yang bisa menjadi sangat lembut dan romantis namun seketika bisa menjadi yang paling kasar dan jorok sekalipun. Dia lucu. Hampir setiap minggu selalu mengajak aku untuk mengopi bersama di kedai ini. Sayangnya, aku tak suka kopi jadi aku selalu minum coklat hangat di kedai ini. Kami sudah 4 tahun menjalin hubungan dengan segala cara kita bertahan dalam kurun waktu yang lama. Dia sangat suka mendaki gunung. Suatu ketika dia pamit kepadaku untuk mendaki gunung yang kesekian kalinya. Beberapa hari setelah dia pamit seharusnya aku mendengar kabar pulang darinya. Namun, tepat tanggal ini aku mendengar kabar dari temen sependakiannya bahwa dia tersesat dan hilang saat mendaki gunung. Aku tersenyum dengan curahan air mata yang tak ada habisnya. Setelah mendengar kabar itu aku langsung pergi ke kedai ini. Dan aku berdoa kepada tuhan jika memang dia masih hidup datangkanlah dia ke kedai ini namun jika dia sudah tak bernafas maka hidupkanlah dia di surga. Dan ternyata dia tidak datang dan aku yakin dia sedang hidup di surga. Bahkan aku tak pernah merasa kehilangan karena jiwa dia sudah hidup di ragaku. Oleh karena itu setiap tanggal hari ini aku selalu berusaha datang ke kedai ini untuk memperingatinya.” Ucapnya

Aku terdiam mendengar cerita singkatnya itu yang membuatku sangat malu bahkan sangat bodoh sekali. Firasat yang aku ucapkan ke dia adalah sebuah firasat yang benar-benar salah. namun aku sedikit bahagia karena sepertinya aku mampu membangkitkan rasa rindu Fania kepada kekasihnya. Fania akhirnya pamit dan segera meninggalkan kedai dengan wajah yang senang namun dengan air mata yang selalu dihapusnya.

Satu bulan kemudian aku kembali ke kedai.
“Mas mau coklat hangat ya” pintaku kepada barista.
“Tumben, biasanya ngopi terus” jawab barista
Aku sengaja minta coklat hangat untuk memperingati hari kenangan seorang wanita yang begitu tegar. Dan aku mulai sekarang akan merubah metode cara meneliti atau mengungkapkan firasat sesuatu hal bukan lagi dengan petunjuk-petunjuk yang ada, karena saat aku bertemu fania aku baru belajar sesuatu hal bahwa mengungkapkan firasat harus dari hati nurani.

selesai

Cerpen Karangan: Rezy Refro
Blog: pemikirlain.blogspot.com

Cerita Firasat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesedihan Cinta Pertama Ku

Oleh:
2011. Yah, waktu itu tepatnya aku sedang polos-polosnya, Aku baru memasuki sekolah menengah atas sekolah yang sebagian banyak orang berpendapat bahwa kita akan memulai cerita baru, awal yang indah,

Takdir Cinta

Oleh:
Aku dan Ryan berteman sejak lama. Kami berteman sedari kecil. dari TK, SD dan SMA kami bersekolah di tempat yang sama. Bahkan kuliah pun aku dan Ryan masuk ke

Rain In My Life Philosophy

Oleh:
Namaku Pevita, lebih akrab disapa dengan Vita. Pagi ini adalah pagi pertama dimana aku harus bisa memulai aktivitas tanpa kekasihku, orang yang sangat aku sayangi dan cintai. Jujur, kejadian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Firasat”

  1. Indriyana says:

    memang laki-laki firasatnya kebanyakan salah..menarik ceritanya om..hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *