Firasat Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 October 2015

Di ujung sebuah cafe terlihat wajah yang sejak tadi penuh dengan penantian. Laras dengan tatapan yang mengarah ke sebuah pintu masuk mendapatkan sebuah jawaban yang tak lama akhirnya wajah tampan, nan gagah berani itu muncul dengan tatapan yang langsung menuju ke arah sang kekasihnya itu.
“Dimas”
“Hai. Udah lama nunggu ya?” dengan kecupan hangat yang mendarat di kening Laras.
“udah biasa,” dengan senyum yang sedikit kesal.

Kata-demi kata menjadi sebuah kalimat, dan kalimat pun membawa senyum dan tawa yang bertubi-tubi di bibir wanita cantik ini. Di tengah canda tawanya dengan penuh rasa bingung tiba-tiba tatapan Dimas tanpa sepatah kata pun berlangsung sedikit lama dalam diamnya seolah penuh tanya dalam hatinya.
“sayaaaang.” goda Laras pada sang kekasihnya yang sejak tadi diam, namun tidak ada respon sedikit pun pada Dimas seolah ada sesuatu yang serius, Laras pun mencoba menanyakan hal tersebut dengan penuh tanya.
“sayang kamu kenapa sih, kok tiba-tiba diem gini?”

Dengan nada lirih kalimat pun ke luar dari bibir Dimas.
“Laras, aku bosan dengan hubungan kita”
Seketika mata Laras terbelalak, dengan wajah yang menggambarkan kebingungan.
“maksud kamu?”
“2 tahun kita pacaran, wajar jika aku mulai bosan. Aku jenuh, dan aku rasa hubungan kita perlu istirahat sejenak”
“Dimas kamu ngelantur ya, kenapa sih, aku ngerasa baik-baik aja kok, kamu kenapa sih?”
“aku mau kita berpikir untuk hubungan kita kedepannya,” dengan sebuah cincin yang seketika berada di depan mata Laras.

Dalam diam, mata Laras pun mulai berkaca-kaca.
“Dimas.” dengan wajah serius Dimas mengutarakan tujuannya.
“Laras, jadilah pendamping hidupku, cerita dari hari-hariku. Dan saksi bahwa aku sangat menyayangimu,”
Air mata bahagia pun kini menetes di pipi Laras. Dengan anggukan kepala pun aras menyandarkan tubuhnya di pelukan Dimas, “I Love You.” bisiknya.

Dua minggu berlalu setelah pertunangan mereka. Sunyi tanpa kehadiran Dimas pun kini harus dirasakannya, mengapa tidak. Dimas adalah seorang tentara, yang mau tidak mau ia harus lebih mementingkan pekerjaannya, karena memang tentara adalah seorang yang mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara. Tias pun sangat mengerti akan keadaan itu.

7 April 2010
Malam yang cerah, bintang bulan seakan ikut menghadiri malam bahagianya. Dari kejauhan terlihatlah pria tampan dengan gagah berjalan menuju ke kediaman Laras bersama keluarga, di balik jendela rumah, tak hentinya Laras menatap wajah tunangannya itu. Kebahagiaan pun terpancar jelas dari keduanya. Cerahnya malam ini menjadi saksi ditentukannya hari dan tanggal pernikahan Laras dengan Dimas.

“Aku yakin, ia akan menjaga cinta yang tulus ini, dan kebahagiaanku ada bersama kebahagiaannya,” ucapnya dalam hati dengan air mata yang menetes haru ia pun beranjak dari duduknya.

Setelam malam itu yang ditentukan hari pernikahannya pada tanggal 1 juni 2010, mereka pun mulai mempersiapkan segala keperluan, dari mulai gaun, foto preweding hingga yang lain-lain, namun berjalannya waktu yang semakin dekat dengan pernikahan pun, membuat perubahan pada Dimas yang seakan tidak perduli dengan ini semua. Namun mungkin karena Dimas tidak ahli dalam hal ini, pikirnya positif. Hari ini, dengan sepeda motor milik Dimas mereka pun melaju menuju butik ternama yang menggarap gaun pernikahannya.

“Hai cantik, gimana udah siap nih buat coba gaun yang cantik ini?” sapa Neli dengan ramah, ia teman dekat Tias yang memang ia adalah pemilik butik ini, dan untuk gaun pernikahan Tias sepesial ia sendiri yang menggarapnya.
“sayang kita coba gaun nya dulu yuk.”
“sayang kamu dulu aja ya nanti aku nyusul oke.”
“tapi sayang.”
“plis,” Dimas pun pergi untuk mengangkat sebuah telpon.

Deng kekesalan di wajahnya. Laras pun mencoba memahami, selang beberapa menit kemudian Laras ke luar dari tempat ganti, dengan gaun yang indah ia pun menunjukan pada Dimas.
“sayang gimana?”
“bagus, kamu cantik sekali. Sayang kayaknya kamu harus pulang sendiri deh, tiba-tiba kantor mangil aku, aku harus buru-buru ke sana. Oke?”
“Dimas, kamu kan belum coba kemeja kamu,”
“aku janji, besok kita coba. Aku pergi ya sayang.” dengan kecupan di kening Tias Dimas pun berlalu meninggalkannya.
“Dimas,”
“yaa!!”
Dengan tatapan kecewa, dan napas panjangnya.
“hati-hati.”
Dimas pun hanya membalas dengan senyuman.

Sebulan telah berlalu. Hari pernikahan semakin dekat, namun hati dan keyakinan pun mulai memudar. Seiring melihat perubahan yang Dimas tunjukan dan berulang-ulang menguji kesabarannya pun kini mulai dipertanyakan.

“Tepat pukul 20:00 aku tunggu kamu di cafe biasa.” melalui pesan singkat Tias pun memberi tahu Dimas.

Di sebuah cafe, seperti biasa, tatapannya pun terarah pada sebuah pintu masuk. Menit demi menit kini berlalu, dia lirik sebuah jam di lengan yang kini menujukan pukul 20:30, dan wajah itu pun tak kunjung datang. Dengan harapan kekasihnya itu akan datang ia terus menunggu, hingga waktu kini menunjukkan pukul 21:30 dengan penuh kekesalan ia meninggalkan sebuah cafe, dan keraguan itu pun kini semakin dalam, seketika ia melangkah menuju sebuah mobil putih, tiba-tiba sebuah motor besar berhenti di sampingnya.

“Sayang maaf aku telat.”
Dengan tatapan tajam, dan penuh kemarahan Tias pun hanya diam dengan waktu cukup lama. Hingga akhirnya masuk ke sebuah mobil yang dibawanya.
“Tias. Sayang aku ngaku salah, aku juga minta maaf kan, Tias buka dong,” dengan mengetuk kaca mobil Tias namun tanpa sepatah kata pun Tias melaju meninggalkan Dimas di tempat.

Kekecewaan malam itu membuat wanita cantik dan periang itu harus meneteskan air mata, ia pun menghela napas seolah mencoba menenangkan hatinya yang hancur karena kekecewaannya akan sifat tunangannya. Sesampai di rumah. Ia langsung menuju kamar untuk melepaskan kekesalannya, namun tuba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
“Tias, gimana pertemuannya?”
Ibu Tias pun terkejut seketika ia melihat seorang Ibu duduk menanti anaknya.
“Tias lelah, besok Tias ceritakan ya, sekarang Tias mau istirahat dulu.” ujarnya sambil meninggalkan Ibunya dan langsung membaringkan tubuhnya ke sebuah kasur, seiring mengingat kejadian itu, air matanya pun berlinang kembali. Hingga ia tertidur menahan rasa lelah itu.

Pagi yang cerah, sebuah mimpi membangunkannya dengan rasa kaget, dimana Dimas pergi meninggalkan dan tak kembal lagi. Ketika ia terbangun pintu kamar telah terbuka, dengan wajah binggung ia melihat serangkaian bungga mawar dengan sepucuk surat, ia pun mengambil serangkaian bungga dan sepucuk surat pengantar ini,
“Pagi sayang. Semoga sang mentari pagi dapat membawa pergi kekesalan di hatimu, dan membawakan kebahagiaan dan keceriaan untukmu hari ini, maaf jika aku telah membuatmu menunggu terlalu lama,
Dari yang menyayangimu
Dimas seto,”

Dan seketika suara handphone pun berdering. “Tepat pukul 16.20 seseorang akan menantimu di sebuah taman dimana aku mengenalmu dulu, I LOVE YOU.”
Selalu ada cara Dimas membuat senyum itu kembali, hari seolah berjalan sangat cepat. Suasana senja pun mulai ia rasakan.

Tepat pada pukul 16.20 Tias telah berada di sebuah taman, ia berjala dan melihat tempat-tempat di mana ia mengenal Dimas dulu, dengan senyum di bibirnya, ia pun dikejutkan oleh suara yang menggelegar.
“Permisi mbak cantik,” seketika Laras melemparkan pandangannya ke sumber suara tersebut, tatapan, senyum, wajah, semua itu tidak asing baginya.
“Dimas.” seketika ia memeluk Dimas dengan erat, dan air mata itu pun berlinang, “aku kira kamu akan datang terlambat, dan menguji kesabaran aku!!!” Dimas pun dengan erat merengkuh Tias dalam pelukannya.
“Kamu gak kerja?” sambil menatap wajah Dimas dengan penuh harapan.
“buat kamu hari ini hingga kamu terlelap,” senyum yang mengembang dari bibir Tias pun seolah lega atas pernyataan Dimas.

Senja telah berganti malam. Di sebuah pantai Tias menatap jauh ke arah matahari yang mulai terbenam. Dimas pun mendaratkan pelukannya dari belakang dan berbisik.
“Apakah kau akan melepaskan aku seperti matahari yang tenggelam?” Tias pun hanya diam.
“Tias, apakah kamu percaya akan kekuatan cinta?”
Tas pun hanya menganggukkan kepala.
“kalau begitu dengarkan aku.” sambil membalikkan tubuh Tias untuk menatapnya.

Dengan tajam Dimas pun membalas tatapan Tias, perlahan ia menyampaikan perkataannya.
“Tias. Dari awal kau mengenalku dengan pekerjaanku, kau mengenalku dengan kesibukanku, bahkan aku sering membagi waktuku untukmu dengan kesibukanku, dan kau memahami itu, jika aku harus meninggalkanmu untuk tugas apakah kau siap?”
“Dimas, kau sering meninggalkanku, jauh dariku, namun akhirnya kau kembali ke pelukanku, bukankah itu hal yang sama?”
“Tias, pernikahan kita hanya tinggal menghitung minggu, namun aku dihadapkan oleh pilihan yang menyulitkanku. Aku berharap kau memahami kondisiku.”
“Aku ditugaskan untuk pergi ke aceh, ada beberapa hal yang harus kami selesaikan di sana. Tapi aku janji. Kita akan menikah dengan waktu yang telah ditentukan.” Lanjutnya.

Dengan tatapan tidak percaya, ia pun melemparkan senyum becil di bibirnya.
“kamu bercanda?”
“aku tahu, ini mustahil, tapi mereka membutuhkan aku,”
“Dimas, kamu tahu pernikahan kita hanya tinggal menghitung minggu, dan itu gak lama lagi, kamu berpikir gak sih.”
“iya aku ngerti.”
“aku bener-bener gak habis pikir tentang kamu tahu gak sih. Kamu tuh. Ya ampun Dimas,”
“aku akan datang tepat di hari pernikahan kita,”
“kamu bisa pastikan gak akan terjadi apapun?”
“iya,”
“Dimas” umpatnya hampir tak terdengar.

“susah untukku jelaskan tapi ini harus,”
“Apa tentara di daerah ini hanya kamu. Apa mereka adalah orang–orang bodoh, sehingga harus kamu yang pergi untuk tugas ini, haa?! jawab Dimas!”
“Atau kamu yang sengaja untuk menghindari pernikahan ini, iya, iya Dimas. Jawab! Jangan cuma diam aku butuh kepastian!” Matanya pun memerah hingga berkaca-kaca. Dimas memeluk wanita yang ada di hadapannya itu. Sambil berbisik.
“Tenang.. tenanglah Tias. Aku di sini untukmu. Kau tahu betapa aku mencintaimu, dan kau tahu betapa aku mencintai negeriku, mengertilah Tias.”
Linangan air mata pun menderas menjadi isak tangis yang mendalam. Dimas pun menghapus air mata di pipi Tias, sambil mengecup keningnya pertanda ia sangat menyayanginya.
“aku janji aku akan kembali.” ujarnya sambil membelai rambut panjang Tias.

Senja kini mulai gelap, samar-samar wajah dimat terlihat, dan ia rasakan air mata yang berkali-kali menetes membasahi kepalanya.
“aku menyayangimu, aku hanya takut sesuatu menimpamu,” ucap Tias sedikit berbisik.
“aku mengerti dengan jelas perasaanmu, aku memahami itu.”
“berjanjilah kau akan kembali tepat di hari pernikahan kita”
Anggukan kepala dan kecupan yang lagi-lagi mendarat di keningnya pun menjadi sebuah jawaban untuk Tias.
“terima kasih Tias. Aku sangat menyayangimu”
Hari ini berlalu bersama senja yang telah berubah gelap, seperti kisah di senja ini yang berujung dengan air mata. Kesabaran yang dimiliki Tias adaah hal yang menambah kekuatan untuk hubungan ini.

1 mei 2010.
Kesendirian kini mulai terasa. Tanpa kehadiran pria yang riang, humoris, dan selalu mengisi harinya dengan kebahagiaan. Rasa sayang senantiasa menjadi doa yang ia panjatkan untuk seorang kekasih yang kini berada di medan perang. Seolah ia ada bersamanya. Ia pun menjalani hari-harinya seperti biasa. Hari ini ia mengunjungi tempat di mana ia akan melangsungkan pestanya kelak, lalu berlanjut mengambil gaun dan kemeja yang ia akan kenakan.

Kenangan pun bergantian muncul di pikiran ketika ia menatap jas dan kemeja yang akan dikenakannya, canda tawanya selalu membuat air mata ini menetes ketika kerinduan ini hadir.
“Dimas. I Love You.” sambil mengecup kemeja dan memeluknya, air mata ini tak henti menghiasi hari-harinya tanpa Dimas.
Rasa tegang menghadapi hari pernikahannya tanpa pendampingnya, kini Tias merasakan ketakutan yang luar biasa. Ia termenung di sebuah kamar yang telah dihiasnya sambil menatap foto Dimas.

“Surat…” sebuah suara membuyarkan renungannya.
“surat dari siapa pak?”
“dari Dimas non..”

Setengah berlari ia menuju surat yang dibawa oleh pak pos, amplop berwarna biru yang diterima bertuliskan nama Dimas. Tias pun masuk dan bergegas membaca surat itu.
“Untuk mu yang tersayang,
Malam-malam yang ku lewati penuh kekhawatiran, tidak mendengar suaramu, tawamu, marahmu. Semua tentangmu membuat aku merasa kehilangan. Aku tak tahu apa jadinya aku tanpa dirimu. Apa yang kau rasakan tanpa aku? tapi percayalah 1 juni aku ada di sampungmu.
Dari yang menyayangimu
Dimaseto,”

Satu minggu menjelang pernikahan, kekhawatiran, sedih, emosi, takut, kini telah bercampur dalam hati Tias yang sejak tadi duduk menatap tajam ke arah keluar kini berlahan air matanya menerobos keluar. Keadaan rumah kini telah berubah, kebahagiaan yang terlihat di seisi rumah, senyum tawa orang-orang terdekat kini ia rasakan, namun ia tetap pada keadaan hatinya. Tidak dipungkiri Tias merasa merindukan kekasihnya, dan perasaan cemas menyayat-nyayat hatinya. Namun hari berlalu dengan keadaan.

Pagi ini, tidak secerah biasanya, langit sedikit mendung, namun wanita cantik yang sejak tadi berada di depan cermin, tetap menebarkan senyumnya hari ini secerah matahari siang. Gaun yang dikenakannya menambah keanggunan yang dimilikinya. Sebuah lagu berdering di handphone, Tias pun dengan cepat meraihnya, -MY LOVE.
“Dimas,” sambil mengangkat panggilan itu.
“sayang. Aku berada di bandara sekarang, beberapa menit aku akan sampai, tunggu aku oke.”
“Dimas,”
“jangan menangis karena itu akan memperlambat langkahku,”
“hmm,” ia pun tersenyum.

Bandara soekarno hatta. Pria, nan gagah dengan setelan jaz yang dikenakannya, berjalan membawa sebuah cinta dan harapan. Langkah demi langkah menggambarkan betapa keyakinannya pada jodohnya yang saat ini menantinya dengan penuh cinta. Tangannya pun melambai pada sebuah taksi yang menghampirinya, namun tiba-tiba sebuah tembakan mengejutkan banyak orang.

Dorrr!!

Bersama sebuaf foto Tias dan Dimas yang terjatuh pecah berkeping-berkeping. Sebuah peluru yang menembus bagian perut pinggir Dimas membuat ia terjatuh, terkapar. Orang-orang di sekelilingnya pun berteriak seksama. Mata yang sedikit terpejam, wajah yang penuh menahan rasa sakit, kini ia pun mencoba bangkit, orang di sekitarnya berlari menghampiri dia.
“kita ke rumah sakit sekarang.” ucap seseorang di tengah kerumunan.
“tidak. Saya harus pulang,”
“tapi pak,”
“taksi bawa saya ke alamat ini.”
“tapi pak.”
“cepat.” menginggat Tias yang menunggunya, dan acara pernikahannya yang menghitung jam, ia pun berangkat dengan sebuah taksi.

Tias terlihat sangat cantik, ia menunggu seorang pangeran yang kelak akan membawanya.
“Tias sayang.” seketika mata orang yang berada di sekeliling melihat ke sumber suara, Tias yang melihat Dimas sangat pucat langsung menghampiri.
“Sayang. Aku khawatir kamu gak datang. Atau seperti biasa kamu selalu terlambat, tapi kali ini, kamu luar biasa.” ucap nya.

Dimas pun hanya tersenyum sambil menatapnya tajam. Seketika Dimas tergeletak dan jatuh di pangkuan Tias.
“Dimas! Kamu kenapa?” Dengan penuh rasa takut Tias pun meneteskan air matanya. Semua orang berhamburan mendekat ke arah mereka.
Dengan suara lirih dan tertatih ia berkata. “aku datang untukmu.”

Tias terkejut, saat tangannya berlumur darah, “darah. Dimasss enggak, kamu kenapa?! Dimas sadar, kita akan menikah, jangan becanda Dimas, Dimas bangunnn!!”
Tangisan itu pun menjadi pengantar Dimas yang telah pergi selamanya.

Cerpen Karangan: Via Lusinia
Facebook: Chipiul

Cerpen Firasat Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Bermata Hazel

Oleh:
Siang yang terik, mentari bersinar di atas kepala para penunggu bus yang berada di halte. Siang ini begitu terik di Bogor, padahal hari biasanya selalu dilanda hujan. Lelaki berjaket

Setahun Bersamamu

Oleh:
Kata kangen udah nggak asing lagi di telinga. Memang udah tiap hari gue ngejalanin hidup, bersama kata kangen yang gak pernah menyingkir dari otak. Sumpah! kenapa gue harus ngalamin

Your Lie

Oleh:
Kebohonganmu. Ini semua tentang bagaimana kau merayuku dengan semua kata kata manismu. Janji palsumu. Janji yang kau akan tetap bersamaku apapun yang terjadi. Sudahlah. Sungguh aku tak bermaksud menjelekkanmu.

Tak Semanis Cupcakes

Oleh:
Minggu pagi sekitar jam sembilan, pesawat telepon di Sweet Cake Shop berdering. Operator menjawab panggilan itu dengan ramah dan sopan. Seorang wanita paruh baya bernama Martha menanyakan pesanan kue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *