Foot Light

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 17 November 2016

Apakah cinta selalu berarti memiliki seseorang itu seutuhnya? Aku mencintainya namun dengan cara yang berbeda. Dalam percintaan, kami tidak saling mengisi maupun melengkapi. Kami hanya mengungkapkannya dengan isyarat yang kadang tak kami mengerti. Apa perbedaan yang membuat semua begitu sulit?. Aku selalu berharap kami dapat berbagi. Aku juga berharap suatu hari nanti entah kapan itu aku dapat mengerti dia dengan segala hal yang membawaku kepadanya. Karena dia telah mengisi ruang dalam hatiku. Begitu pula aku berharap ia juga berusaha untuk mengerti diriku.

Sering kali ku merasa perbedaan yang harusnya membuat kami tak saling mengenal. Sikapnya yang dingin sering membuat masalah, berbeda dengan anak kebanyakan, itulah yang membuatku mengenal Keenan. Keenan tak sama seperti anak kebanyakan mungkin untuk sebagian orang akan menyebutnya dia sebagai keajaiban namun untuk sebagian lain akan menyebut dia sebagai kutukan. Sudah 2 minggu ini aku tak melihat Keenan dia bahkan tidak masuk kuliah, dia juga sudah tidak datang ke tempat kosku, begitulah Keenan datang dan pergi begitu saja. 20 November 2013 malam ketika sedang bersama dengan melita di kamar, aku merasa udara dingin yang sedikit berbeda.

Aku menyusuri jendela mencoba menyingkap perasaan ingin tahu yang menyelubungiku pencarian pertama aku tidak menangkap apapun. Namun ketika aku hendak berbalik aku kembali merasa dingin. Kali ini kucoba menyusuri penglihatanku dengan seksama aku melihat sosok Keenan disana. Tak perlu waktu lama bagiku untuk menghampirinya. Sama seperti yang kuingat terahir kali aku melihat Keenan duduk di kursi depan, kulit pucat dengan tatapan tajam.

“Hai” sapanya, aku diam tak menjawab menunggu ia akan memberi penjelasan meski aku tau itu mustahil.
“Apakah semuanya baik baik saja?” Tanyanya
“Semuanya selalu baik” jawabku dengan menatap dalam matanya berusaha mencari jawaban dari pertanyaanku sendiri. Selama 15 menit kami saling bertatap mata.
“Tidurlah sepertinya kamu sudah lelah” katanya kemudian pergi.

Esok harinya aku kembali tak melihat Keenan di kampus, tapi aku tidak bisa benar benar memastikan ia tidak ada disana karena aku tidak benar benar mencarinya aku bahkan tidak punya pikiran untuk mencarinya. Hingga siang seorang wanita yang bernampilam anggun menghampiriku.
“Kesha?” Tanyanya, aku membalas dengan anggukan.
“Ikut aku” perintahnya aku pun mengikuti, kami tiba di sebuah perkebunan kosong belakang kampus.
“Seberapa jauh kau mengenal Keenan?” Tanyanya
Aku terdiam mencoba menelisik pertanyaannya
“Pilihlah jauhi Keenan untuk kebaikanmu sendiri atau…” Ia memotong pembicaraanya
“Apa maksudmu?” Tanyaku bingung
Dalam kebingunganku Keenan beserta teman-temannya datang
“Laudia!” Panggil Keenan, aku segera menoleh ke belakang. Aku tidak tau bagaimana tapi kurasa Keenan beserta teman-temannya mengeluarkan ancaman dengan cara yang tidak aku mengerti. Keenan menarik lenganku dan membawaku pergi.

Setelah hari itu aku sering bersama Keenan mungkin hampir tiap hari, sering kali Keenan mengajakku pergi bersama teman-temannya hal yang jarang Keenan lakukan. Dan Keenan mulai melakukan hal-hal yang kembali tak dapat aku mengerti. Aku ingin menanyakan tentang sosok wanita yang yang pernah mendatangiku pada Keenan namun aku bingung harus mulai bicara bagaimana dengan Keenan karena belakangan ini Keenan mulai sangat sensitif dan pemarah.

Sosok wanita itu kembali mendatangiku.
“Keenan telah mengambil jalan yang salah” ucapnya memulai pembicaraan, aku tak mengerti
“Ia telah bersama dengan orang-orang yang salah dan menyesatkan Keenan”
“Bukan kau, tapi teman-teman Keenan yang sekarang” lanjutnya
“Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi?” Tanyaku
“Bersama teman-temanya kini dia telah menjadi seorang yang bukan dirinya”
“Apa yang terjadi pada Keenan?
“Teman-teman Keenan seorang bandar, dan dia…” Ia menghentikan ucapannya
“Harusnya kau lebih tau itu Kesha, perpisahan orangtuanya yang membuatnya salah mengambil jalan hidup”
“Siapa sebenarnya kamu?”
“Aku laudia kakak Keenan”
Ucapan laudia siang itu bagai menjadi mimpi buruk untukku hingga Keenan datang dan membangunkanku.

“Keenan” panggilku terkejut
“Tadi Laudia menemuimu?” Tanyanya dengan wajah pucat pasi, aku mengangguk, ia memalingkan wajahnya aku mendekat padanya dan menyandarkan kepalaku dibahunya.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanyaku
“Apa yang dikatakan Laudia?”
Aku diam dan menggenggam tangannya
“Mereka sudah tidak menganggapku lagi, aku hanya butuh orang yang mengerti aku”
“Aku berharap kamu bisa mengerti Kesha”

Tanggal 1 November Keenan makin tidak terkendali, dia sangat sering bersama teman–teman yang aku dengar dari Niko mereka termasuk kelompok pemasuk nark*ba di kampus kami, ini makin membuatku takut Keenan akan menjadi seperti mereka. Banyak orang yang tahu tentang kelompok itu datang untuk memperingatiku namun ketika Keenan tau ia makin menjadi. Saat ini aku dan Keenan sedang bersama aku belajar untuk ujianku besok sedang Keenan tiduran di kursi.

“Kau sudah jarang datang ke kampus?” Tanyaku
“Kupikir itu sudah tidak perlu” ucapnya ketika aku datang menghampirinya
“Keenan apa kamu yakin kamu akan masuk kelompok teman-temanmu kini?” Mata Keenan berubah
“Apa maksudmu?”
“Tidak bisakah kau tetap menjadi Keenan?”
“Apa kamu akan seperti orang orang yang telah membuangku?”
Aku tak dapat mengungangkapkan apa yang kuinginan dari Keenan, aku hanya membalas pertanyaannya dengan putus asa. Aku tetap berharap Keenan akan mendapat hal yang terbaik.

Tanggal 21 Januari, sudah 1 bulan lebih aku tidak bertemu Keenan. Kini sedikit demi sedikit aku mulai menemukan jawabanku tentang arti sebuah cinta. Terkadang mencintai adalah melakukan hal terbaik untuk orang yang kita cintai meski harus dengan pengorbanan.
“Kamu tau mereka berada dimana sekarang?” Tanyaku pada Niko
“Teman-teman Keenan?”
Aku mengangguk, Niko memberiku sebuah alamat
“Apa yang akan kamu lakukan?” Aku diam karena aku juga tidak yakin akan apa yang akan aku lakukan.
Tepat jam 7 sore aku ketempat teman-teman Keenan, salah satu diantara mereka membuka pintu
“Aku ingin bertemu Keenan”
“Sepertinya bukan waktu yang tepat, aku akan memberitahu Keenan agar ia menemuimu”
Laki-laki itu sepertinya mengenal aku
“Aku akan pergi malam ini jika tidak sekarang kami tidak akan bisa bertemu lagi” paksaku dengan berbohong kali ini aku berharap ia akan mengizinkanku masuk.
Dengan sangat terpaksa ahirnya ia mengizinkaku masuk. Meski baru jam 7 namun aku melihat bekas-bekas pesta yang telah mereka adakan. Aku berjalan meihat setiap wajah-wajah untuk menemukan Keenan, laki-laki itu tak mau memberitahuku dimana Keenan ia hanya mengijinkanku masuk. Hingga ahirnya aku membuka pintu salah satu kamar. Aku melihat Keenan bersama wanita lain, sesaat pikiranku mulai kacau.
“Kesha” panggil Keenan menghampiriku
“Maaf kalau aku menganggu” kataku sebisa mungkin untuk tetap tenang, aku pergi. Keenan membuntutiku dari belakang
“Ayo kita bicara di luar”
Semenjak aku mengenal Keenan, aku tak begitu peduli udara dingin di sekitarku, karena bagiku Keenan sudah cukup dingin namun entah kenapa malam ini aku merasakan udara dingin yang begitu dingin dan menusuk.

Keenan berdiri di depanku seakan menunggu aku bereaksi lebih dulu. Aku diam melihat tanah mencoba mencari ukiran-ukiran yang ada.
“Untuk apa kau kesini?” Tanya Keenan, aku masih diam. Keenan melihat tajam wajahku mencoba menebak. Aku mulai mengangkat wajahku
“Mulanya aku ingin bertanya padamu” aku masih berusaha bersikap tenang
“Tentang apa?” Telisiknya
“Siapa yang akan kamu pilih aku atau teman-temanmu?”
Tak ada jawaban yang aku dengar darinya, aku mendapat jawabanku sendiri.
“Tapi kini aku tau siapa yang akan kamu pilih dan tentunya itu bukan aku” lanjutku kemudian pergi meninggalkan Keenan di malam itu.

Aku ingin melihat sejauh mana aku bisa menahan rasa sakit yang aku rasakan, begitu sakit dan dalam. Aku tak mau menangis aku ingin menyimpan tangis ini beserta rasa sakit ini agar kelak aku dapat menggali perasaan seperti ini untuk tak lagi tersakiti. Bagai sebuah vaksin.

Cerpen Karangan: Sian

Cerpen Foot Light merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Terluka

Oleh:
Aku mulai terbangun dari buaian mimpi indahku. Merelakan musnahnya impian indahku bersamamu. Aku tahu semuanya hanya mimpi walau begitu indah dan aku tak ingin terbangun, tapi aku harus bangun

Hilang

Oleh:
Laut biru itu, langit biru itu, bukit itu. Semuanya mengingatkanku kepada seseorang yang sudah hampir bertahun-tahun mengisi hariku. Tertawa kecil ku mengingatnya, mungkin tak seorang pun tahu, sampai saat

Ujung Penantian

Oleh:
Siang itu dia hanya tidur malas-malasan di dalam kamarnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sehingga dia terlihat begitu gelisah. Padalah

Akhir Musim Gugur

Oleh:
“Tunggu kedatanganku empat tahun kemudian yah” Kalimat itulah yang membuatku tetap disini, entah semuanya nyata atau tidak nantinya tapi aku selalu percaya itu. mungkin memang tak seindah saat janji

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *