Four Leaf Clover

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction)
Lolos moderasi pada: 6 June 2017

Saat rasa cinta dan kesetiaan diuji.
Saat separuh hati yang disayang tak lagi mempunyai harapan hidup.
Kita harus tetap tegar menjalani setiap hari
Setiap detik, menit, jam atau bahkan berhari dan berbulan-bulan.
Apakah kalian percaya dengan keajaiban daun semanggi berdaun empat? Yang dipercaya bisa memperpanjang umur seseorang. Ada beberapa orang yang percaya akan hal itu dan ada juga yang tidak. Dan Ily Naomi seorang gadis cantik yang sama sekali tak percaya dengan adanya keajaiban yang ditunjukkan oleh daun semanggi yang biasa juga disebut dengan nama Four Leaf Clover itu
Daun berbentuk kecil yang dipercaya banyak orang untuk memperpanjang usia. Tapi gadis ini tak sedikitpun percaya akan hal itu.
“Daun semanggi itu sama halnya dengan daun-daun pada umumnya. Mana mungkin di dunia ini ada tumbuhan yang bisa memperpanjang umur seseorang. Mustahil.” Sanggahnya tak percaya.

Ily terduduk di samping brankar rumah sakit. Deraian air mata tak kunjung berhenti mengucur di mata hazelnya.
“Sudahlah sampai kapan kamu mau menangis?” Tanya seorang pria yang terduduk di atas brangkar, ia mengusap air mata yang mengalir di pipi chubby kekasihnya Ali.
“Maaf.” Lirihnya menunduk.
Ali tersenyum manis. “Tak apa. Semuanya sudah terjadi. Tak perlu ada yang disesali”
Ily mendongakkan kepalanya supaya bisa melihat wajah kekasihnya itu. Wajahnya pucat pasi dan terlihat seperti menahan sakit tapi Ia tetap tersenyum pada kekasihnya dan bersikap jika Ia baik-baik saja.
“Semuanya salahku.”
Ali menggeleng cepat. “Tidak! Ini takdir. Semua yang terjadi atas kehendak Tuhan kita hanya bisa menerima”
“Tidak! Semua ini tetap salahku. Andaikan saja waktu itu aku tidak memaksamu menjemputku pasti semua ini tak akan terjadi” Sesalnya. Kecelakaan itu telah merenggut kebahagiaan kekasihnya sekarang. Yang hidup dalam perasaan tak tenang. Hidup dalam titik hidup dan mati. Kapan saja Ia akan mati dan keadaan itulah yang membuat Ily menyesali atas keegoisannya dulu.

Ily meracau tak jelas sejak tadi. Ia berdiri di depan lobby mall di daerah Jakarta Pusat. Pandangan dan jarinya tertuju pada ponsel yang dipegangnya. “Kemana sih dia? Sejak tadi di telepon gak diangkat-angkat?. Di WA juga sama sekali gak dibaca” Kesalnya. Ia mencoba untuk menelepon kekasihnya itu lagi. Karena dia berjanji akan menjemputnya setelah selesai shopping di mall.
“Hallo. Kamu dimana sih sayang. Aku udah nunggu kamu nih! Katanya kamu mau jemput” Ucapnya dengan nada kesal setelah sambungan teleponnya diangkat juga oleh Ali kekasihnya.
“Iya maaf aku baru bangun tidur.”
“Apa! Bangun tidur? Kamu kan udah janji mau jemput aku. Aku gak mau tahu kamu harus jemput aku sekarang!”
“Maaf yah sayang kayaknya aku gak bisa jemput kamu deh”
“Hah? Kenapa?”
“Maaf banget aku lagi gak enak badan. Kepala aku pusing. Kamu bisa naik taxi aja kan.”
“Enggak pokoknya aku gak mau. Aku mau kamu yang jemput! Aku gak mau naik taxi. Pokoknya aku tunggu kamu di sini titik gak pake koma. Awas aja kalau gak dateng” Gerutu Ily.
“Iya tap-”
Tutt.. Tutt.. Tutt..
Belum sempat Ali melanjutkan perkataannya tapi Ily sudah terlebih dulu menutup teleponnya. Ia sedikit tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang masih seperti anak kecil. Dengan terpaksa Ali harus menjemput kekasihnya itu walaupun rasanya kepalanya sekarang terasa pusing. Tapi Ia tak menghiraukan itu. Ia mengambil jaket dan kunci motornya lantas pergi untuk menjemput Ily.

Ali melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ditengah perjalanan kepalanya terasa sangat pusing matanya pun berkunang-kunang. Dan ketika Ia mau membelokan motornya di belokan jalan ternyata tanpa disadari ada sebuah mobil pickup melaju berlawanan arah dengannya. Sontak Ali yang kaget langsung banting kemudi untuk menghindari kecelakaan itu terjadi tapi?
Jedaaarrrrr…
Motor Ali menabrak pohon besar di pinggir jalan. Ia terpelanting beberapa meter dari tempat kecelakaan. Supir pickup itu menghentikan mobilnya. Ia melihat ke arah pengemudi motor yang mengalami kecelakaan. Tanpa buang waktu pria paruh baya itu berlari ke arah Ali dan membuka helmnya.
“Ya Allah dadanya berdarah. Ini pasti dia kebentur batu. Tolong. Tolong.” Ucap dan teriak pria itu sampai akhirnya beberapa orang yang berada di daerah sana datang dan langsung melarikan Ali ke rumah sakit.

Di sisi lain Ily mulai merasa sangat kesal karena dia sudah hampir satu jam menunggu kedatangan Ali tapi Ia tak kunjung datang juga. Ily mengambil ponselnya lantas mendial kontak Ali di phonebook.
“Hallo sayang kamu di mana. Kamu gak niat buat bikin aku jadi patung di sini berjam-jam kan?” Tanya Ily kesal.
“Maaf anda pacar mas Ali.”
Ily mengerut dahi. “Iya. Ini siapa yah? Ali mana?”
“Maaf mbak saya Pak Joko mas Ali kecelakaan. Sekarang dia sedang dibawa ke rumah sakit”
Deghh..
Ily membulatkan mata dan mulutnya. Perlahan cairan bening meluncur indah dari mata hazelnya. “Allliii.” Teriaknya lantas langsung berlari menuju rumah sakit. Tak peduli orang-orang yang melihatnya aneh. Mungkin mereka berfikir Ia gila karena berteriak sekencang itu.
Ily berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Sesekali Ia menabrak orang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya ataupun yang sedang berdiam diri. Deraian dan isak tangis tak henti mengucur di mata hazelnya itu.

“Ali.” Lirihnya setelah Ia berada di depan ruang UGD. Ia melihat kearah dalam ruangan itu yang terlihat samar-samar.
Tak lama seorang pria berjas putih dengan stethoscope yang mengalung indah di lehernya keluar. Wajahnya tak terlihat seperti biasa saja. Tergurat wajah kecemasan di sana.
“Dok bagaimana keadaan pacar saya?” Tanya Ily menghampiri dokter yang bernametag Golden itu.
Dokter Golden menggeleng. “Keadaannya kritis. Ia terkena benturan yang sangat keras di dadanya mengakibatkan fungsi jantungnya menurun. Jantungnya bocor akibat benturan keras yang terjadi. Kita hanya bisa menyerahkan semuanya pada Tuhan berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja. Itu saja saya permisi dulu” Dokter Golden berjalan pergi meninggalkan Ily yang masih diam mematung di tempatnya. Kakinya terasa lemas sehingga Sama sekali tak bisa menopang bobot tubuhnya. Ia terduduk di sana dengan derai air mata yang semakin deras mengucur di mata hazelnya. Sesekali Ia sesegukan menahan tangisnya. Dengan sekejap Ily berlari masuk ke dalam ruang UGD.
Tangisnya semakin pecah setelah melihat keadaan kekasihnya yang terbaring lemah diaras brankar. Dengan berbagai alat medis yang menancap di tubuhnya.
Ia terduduk di bangku samping brangkar menggenggam erat tangan kekar kekasihnya yang terlihat sudah lemah tak berdaya. “Maafkan aku sayang. Maaf karena aku kamu jadi seperti ini. Aku sungguh wanita yang egois yang hanya memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkan orang lain apalagi kamu. Maaf sayang. Aku mohon maafkan aku” Isak Ily sambil mengecup lembut tangan kekasihnya itu.

“Sayang kenapa?” Tanya Ali yang mampu membuyarkan lamunan kekasihnya itu. Ily terperanjat Ia menatap cengo Ali yang melihatnya aneh.
“Oh gak papa. Aku hanya eumm aku itu-”
Ali menaruh jari telunjuk di bibir tipis Ily. Ia tersenyum kearah Ily yang memandangnya dengan pandangan yang bersalah. “Sudahlah jangan fikirkan itu lagi” Ily yang tersenyum lantas beberapa detik kemudian mengangguk setuju.
Tak lama seorang dokter dengan suster yang mengikutinya dari belakang memasuki ruang rawat Ali. Ia berjalan mendekati Ali dan mulai memeriksa keadaannya.
“Bagus perkembangan kamu sangat baik Ali. Tapi saya harap kamu jangan terlalu banyak pikiran terlebih dulu dan jangan terlalu cape karena fungsi jantungmu benar-benar sedang kami awasi” Jelas Dokter Golden.
Ali menghembuskan nafas panjang. “Baklah dok. Eumm dok saya boleh minta permintaan satu saja”
“Apa?”
“Bolehkan saya jalan-jalan keluar sebentar. Saya sudah bosen di sini.”
Dokter Golden terlihat mengernyit kening tanda berfikir. “Tapi-”
“Please dok sekali saja. Saya janji gak akan lama.” Ucap Ali mengepalkan kedua tangannya yang Ia taruh di dada.
Dokter golden menghembuskan nafasnya gusar lantas mengangguk menyetujui permintaan Ali. Seketika senyum mengembang di bibir Ali yang mulai putus asa. “Tapi ingat gak boleh lebih dari tiga jam jika itu terjadi fungsi jantungmu akan benar-benar colaps.”
“Baik.”

Sekarang di sinilah mereka berada disebuah pantai yang sungguh indah. Hembusan angin sore yang menerpa wajah ditambah deburan ombak yang menjadi suara indah yang melengking terdengar.
“Sayang ngapain kita ke sini? Angin di sini gak baik untuk kamu. Kamu ingat kan kata dokter tadi.” Kata Ily tak habis fikir kenapa Ali malah mengajaknya kepantai yang justru akan memperburuk keadaannya. Mereka terduduk di bangku panjang yang tersedia di sana.
“Kamu tahu kan dari dulu aku suka banget Sama yang namanya pantai. Pantai itu seperti kehidupan aku. Setiap aku melihat pantai dan mendengar deburan ombaknya aku merasa sangat tenang seakan di dunia ini hanya ada aku yang sedang menikmati semuanya. Aku gak yakin untuk kedepannya nanti apa aku bisa melihat pantai lagi atau tidak yang jelas aku ingin menikmati pantai ini sekarang sebelum Tuhan berkata cukup untuk hidup aku dan meninggalkan semua keindahan ini.”
Ily mengerut dahi mendengar omongan kekasihnya itu. “Kamu apaan sih ngomongnya ngelantur deh. Aku yakin kamu pasti sembuh. Kamu gak akan kenapa-napa toh dokter juga bilang kamu bisa sembuh kan?”
“Tapi jika ada donor jantung untuk aku. Dan kalau tidak ada gimana? Aku tetep gak akan bisa sembuh dan mungkin gak akan tertolong.”
“Enggak kamu pasti sembuh aku yakin itu dan donor jantung itu pasti ada. Kamu harus tetap berjuang untuk hidup. Aku ada disini selalu ada di samping kamu menjadi penyemangat untuk kamu tetap bertahan hidup.”
“Selama beberapa minggu ini aku hidup dalam keadaan yang tidak normal. Selalu dilarang dalam segala hal yang aku suka. Dan jantung ini arghh kenapa yang mesti luka itu jantung sih kenapa gak yang lain coba.”
Ily menatap Ali nanar. Perlahan penglihatannya mulai kabur seiring dengan air mata yang semakin banyak menggenang di mata hazelnya itu. Ali yang mendengar isakan langsung menoleh ke arah Ily yang terlihat menundukan kepalanya. Ia membenarkan duduknya menghadap Ily.
“Kenapa?” Tanyanya lembut.
“Maafkan aku atas semua yang telah terjadi. Kamu menderita seperti ini itu karena aku. Kamu menahan rasa sakit ini itu karena aku. Kamu hidup dalam perasaan yang tak tenang, perasaan yang kapan saja bisa merenggutmu. Aku wanita yang terlalu egois yang hanya mementingkan diri aku sendiri. Maafkan aku atas semuanya sayang. Maaf.”
Ali menangkup kedua pipi chubby kekasihnya lantas menatap manik matanya dalam. “Tak perlu meminta maaf atas bukan kesalahan kamu. Semua yang telah terjadi itu atas kehendak-Nya. Ini musibah dan ujian untuk aku untuk selalu menghargai hidup. Jadi jangan menyesali semuanya dan juga jangan menyalahkan diri kamu sendiri atas apa yang telah terjadi padaku.” Ia menyeka air mata Ily lembut. Dikecupnya kening gadisnya itu dengan sayang. Ily hanya menutup mata merasakan kehangatan kecupan Ali yang mungkin akan menjadi kecupan terakhir untuknya.
Ali tersenyum melihat Ily yang tengah tersenyum manis padanya. Oh sungguh Ia pasti akan merindukan senyuman itu. Senyuman yang mampu meluluhkan hatinya dulu. Hatinya yang sungguh sangat dingin dan acuh dari yang namanya wanita.

“Li lo udah lihat mahasiswi baru jurusan sastra belum?” Tanya Baja sahabatnya sejak kecil. Ia mengaduk-aduk Ice Cappuccino yang dipesannya di kantin kampus.
“Belum! Terus kalau gue lihat apa untungnya buat gue?” Jawab dan tanya Ali yang masih terlihat sangat fokus pada buku-buku tebal di tangannya. Setiap hari pasti harinya diisi dengan membaca buku yang tebalnya lebih dari 5 centi meter.
“Lo harus lihat dia Li. Sumpah dia cute banget. Gue aja sampe melayang lihatnya.” Ujar Baja yang diberi gidikan bahu oleh Ali. Ni anak mungkin udah kesambet setan penunggu cewek itu.
“Lebay.”
“Gue gak lebay tapi ini kenyataan. Gue yakin kalau lo lihat dia pasti mata lo gak akan kedip. Dan senyumnya itu loh oh may got bikin hati berdebar-debar.”
“Tuh kan lebay lo udah masuk tahap yang paling tinggi.”
“Lihat aja nanti kalau lo ketemu sama dia. Gue yakin omongan gue tadi bakal lo rasain.”
“Jangan terlalu PeDe Baja.” Ucap Ali lantas membereskan semua barangnya dan langsung berjalan pergi meninggalkan Baja sendiri dikantin.
“Kapan sih lo sadar kalau cinta itu indah Li. Lo terlalu trauma dengan kisah cinta orang tua lo sampai lo sendiri gak mau rasain yang namanya cinta” Batin Baja mendengus.
Ali berjalan menelusuri koridor-koridor kampus dengan mata yang tak lepas memandang dan membaca buku di tangannya.
Brakkk..
Bukunya berhamburan setelah dia menyadari jika Ia telah menabrak seseorang. “Maaf.” Ucapnya tak melihat ke arah gadis yang Ia tabrak yang sibuk membersihkan bajunya dari debu.
Ali berdiri lantas melihat ke arah orang yang Ia tabrak. Matanya langsung tertuju kewajah gadis mungil di depannya. Wanita itu tersenyum ke arah Ali. “Gak papa.” Ucapnya tersenyum manis lantas pergi dari hadapan Ali. Ali melongo tak mengedipkan matanya sama sekali melihat gadis itu. Oh Tuhan senyumnya itu sungguh indah. Ali terpesona. Ia mematung di tempatnya selama beberapa saat sebelum Ia sadar dan langsung melanjutkan jalannya.

Ali masih memandang Ily sambil tersenyum. Ily yang menyadari pandangan aneh Ali merasa risih. “Iih kamu kenapa sih sayang kok lihatinnya gitu banget?” Tanya Ily merasa malu.
“Gak papa dong. Aku mau lihat kamu lebih lama dari selamanya. Hingga suatu saat nanti aku gak akan bisa lihat kamu lagi”
“Kamu akan puas lihatin aku karena kamu akan selalu ada di samping aku. Kamu gak akan ninggalin aku ataupun gak akan ninggalin kisah kita. Karena kamu gak boleh pergi dari aku”
Ali tersenyum. Seketika tangan kanannya memegang dada kirinya yang terasa sakit. Wajahnya pun terlihat lebih pucat dari tadi. Ily yang melihat keanehan yang terjadi pada Ali seketika panik. Ia tak tahu apa yang harus Ia lakukan. Ia melirik ke arah arloji yang dipakainya. Matanya seketika membulat melihat jika mereka telah lebih dari tiga jam berada di luar rumah sakit.
“Ya ampun sayang kita udah lama banget di luar rumah sakit. Ayo kita ke rumah sakit sekarang.” Ajak Ily yang langsung diberi gelengan oleh Ali. “Kenapa?” Tanyanya mengernyit.
“Aku mau lihat sunset sama kamu di sini”
“Tap-”
“Please.” Lirih Ali menginterupsi.
Ily menghembuskan nafas panjang lantas sedetik kemudian mengangguk memberi jawaban. Ali hanya dapat tersenyum sambil menahan rasa sakitnya. Ily menolehkan pandangannya ke arah kekasihnya itu. “Kalau kamu gak kuat kamu boleh senderin kepala kamu di bahu aku”
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ali langsung menyenderkan kepalanya dibahu Ily. “Sayang.” Lirihnya lemah.
“Iya?”
“Kamu percaya pada daun semanggi berdaun empat tidak? Yang katanya bisa memperpanjang umur manusia. Aku mau cari daun itu dan berharap Tuhan memperpanjang umurku sampai besok sampai hari ulang tahunku tiba. Lusa ulang tahunku kan?”
“Iya.”
“Aku ingin mencari daun itu dan berharap semoga umurku bisa sampai 20 tahun. Walaupun hanya untuk beberapa detik”
“Kamu sungguh percaya sama hal seperti itu?”
“Iya.”
“Justru aku gak percaya. Daun semanggi itu sama halnya dengan daun-daun pada umumnya. Mana mungkin di dunia ini ada tumbuhan yang bisa memperpanjang umur seseorang. Mustahil.” Ucap Ily tak percaya.
Cukup lama mereka terdiam dalam keheningan. Dan hanya suara ombak yang terdengar serta deru nafas yang semakin berat.
“Ali sayang” Ucap Ily menggenggam erat tangan Ali. Tapi sama sekali tak ada jawaban dari mulut kekasihnya itu. Ia pun mencoba menepuk pipi Ali dan sedetik kemudian terjatuh di tangannya. “Sayang kamu kenapa? Buka mata kamu?” Deraian air mata mengucur di mata hazelnya itu.

“Dok bagaimana keadaan Ali?” Tanya Ily setelah melihat Dokter Golden keluar dari ruangan ICU.
“Keadaannya sangat buruk. Kita harus cepat melakukan transplantasi jantung jika kita ingin dia selamat.”
Cairan bening semakin deras meluncur meninggalkan jejak anak sungai di sana. “Dokter bohong kan? Ali gak akan mungkin separah itu. Dia baik-baik saja aku yakin dia baik-baik saja”
“Maafkan saya.” Dokter Golden menepuk pundak Ily lantas berjalan pergi.
Ily terduduk di lantai. “Kamu jahat. Kamu gak boleh tinggalin aku. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Kamu harus selalu ada di samping aku. Aku gak bisa maafin diri aku sendiri jika terjadi hal sesuatu sama kamu Ali”

“Sudah sejak kemarin kamu tidur apa kamu gak mau bangun? Kamu gak mau lihat Aku? Kamu betah sekali tidur sayang? Kamu bilang sama aku kalau kamu ingin ngerasain ulang tahun kamu yang ke-20. Jadi aku mohon kamu bangun sekarang ulang tahun kamu tinggal beberapa jam lagi. Bangun sayang” Lirih Ily menggenggam erat tangan Ali. Seakan Ia tak ingin melepaskan genggaman itu. Seakan Ia bisa menyalurkan sebagian energi miliknya ke tubuh Ali.
Tiiiiittttt.
Layar monitor di samping Ali yang tadinya zig-zag kini menunjukkan garis lurus. Ily yang sangat panik lantas langsung menekan tombol bantuan di atas brankar Ali.

Kini Ia sungguh tak tenang sudah dua jam lebih dokter berada di dalam ruang ICU. Sedang apa dokter di dalam sana? Ini sungguh sudah sangat lama. Sampai akhirnya tak lama dokter keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Bagaimana?”
“Dia sudah tidak mempunyai harapan hidup. kita harus terpaksa melepas alat medisnya. Tapi kita harus meminta persetujuan kamu dulu. Apa kamu bersedia untuk melepas alat medis pasien?”
Ily ternganga. Ia tak tahu apa yang harus Ia katakan. Ia sungguh menyayangi Ali tapi di sisi lain Ia juga tak ingin kehilangan Ali. “Enggak dok. Saya gak ingin kehilangan Ali. Saya gak setuju alat medisnya dicabut. Saya yakin Ali pasti akan sembuh” Lirih Ily yang langsung berlari memasuki ruang ICU.
“Sayang kamu bertahan aku yakin kamu pasti sembuh. Kamu gak akan mungkin tega ninggalin aku kan? Aku mohon kamu bertahan. Kamu bertahan untuk aku. Aku sayang banget sama kamu” Isak Ily mengecup tangan Ali berkali-kali.
Entah apa yang terjadi pada Ily dia dengan segera berlari keluar rumah sakit menuju taman mencari sesuatu di antara semak-semak di sana. Setelah menemukannya lantas Ia berlari memasuki rumah sakit menuju ruang ICU dimana kekasihnya tengah dirawat.
Ily terduduk di samping brangkar Ali. Ia menggenggam tangan Ali dengan sebuah daun yang Ia selipkan di antara tangan mereka.
“Tuhan aku mohon jika keajaiban daun ini benar-benar ada aku mohon berilah kehidupan pada Ali. Biarkan dia menikmati hidup. Dia hanya ingin merasakan ulang tahunnya yang ke-20. Berikan Ia kesempatan untuk merasakannya walaupun hanya untuk beberapa detik. Aku mohon Tuhan” Lirih Ily memohon. Ia mengecup kening Ali.

Satu menit lagi waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB itu artinya tinggal hitungan detik Ali akan berulang tahun. Sampai akhirnya waktu tepat menunjukkan pukul 00.00 WIB. Ily mengecup kening Ali hangat. “Happy Birthday sayang. Selamat kamu udah ngerasain rasanya umur 20 tahun. Jika kamu lelah aku ikhlas. Pergilah aku gak ingin lihat kamu terus hidup dalam kesakitan. Aku sudah mengikhlaskan kamu. Pergilah sayang” Isak Ily. Tak lama layar monitor di samping Ali menunjukkan garis lurus. Ia duduk di bangku, menenggelamkan wajah di antara tangan Ali yang Ia genggam. Kini kekasihnya sudah benar-benar pergi meninggalkannya? untuk selamanya.

Acara pemakaman telah usai. Ily masih setia di samping makan kekasihnya. Di tempat peristirahatan terakhirnya. Air mata seakan tak henti meluncur di matanya. Sekarang mata indah itu telah sembab akibat terus menerus menangis tanpa henti.
“Ly.” Sapa seseorang dari belakang.
Ily beranjak lantas membalikan badannya. Dilihatnya Baja yang tak kalah kehilangan Ali sepertinya. “Apa?”
Baja memberikan sebuah kertas pada Ily. Ily hanya mengernyit bingung. “Ini surat dari Ali buat lo”
Ily mengambil surat itu dari tangan Baja. “Makasih.”
“Ya udah gue pergi dulu yah” Pamit Baja yang hanya diberi anggukan oleh Ily. Perlahan Ily membuka surat itu.

‘Ily sayang! Mungkin disaat kamu baca ini aku udah gak ada.
Maaf aku gak bisa terus jaga kamu. Maaf karena aku harus pergi dan meninggalkan jejak kesakitan di hati kamu.
Maafkan aku atas seluruh air mata yang kamu tumpahkan hanya untuk aku.
Aku seperti cowok lemah yang gak bisa jaga kamu. Yang gak bisa menahan kamu untuk tidak menangis.
Maaf karena aku tak dapat lagi menghapus air mata yang kamu tumpahkan.
Aku hanya bisa membuat kamu menangis dan tak bisa menggantikannya? dengan kebahagiaan.
Jangan menangis lagi hanya untuk aku.
Mulai sekarang berbahagialah sayang.
Lanjutkanlah hidupmu tanpa aku disampingmu.
Aku akan terus menjagamu di sini.
Ily, I Love You’

Ily menutup surat itu lantas menyeka air matanya “I Love You Too Ali.” Ucapnya tersenyum.

Cerpen Karangan: Ineu Desiana
Facebook: Ineu Desiana
Haii saya Ineu.
Saya hanya penulis amatir yang masih perlu banyak belajar lagi bagaimana caranya menulis sebuah cerita dengan baik.
Saya harap kalian bisa suka dengan cerpen-cerpen yang saya buat disini.
Twitter: @Ineuuu12 (OnTwitter)

Cerpen Four Leaf Clover merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi di Malam Hari

Oleh:
Ah, dia muncul lagi di depanku. Ini membuatku semakin tak mampu untuk melupakannya. Berbagai cara telah kulakukan untuk melupakan semua tentangnya, namun hasilnya nihil. Aku tak berhasil. Sudah lebih

True Love (Part 2)

Oleh:
Di taman sekolah terlihat Rere yang masih berdiri mematung di taman. Sara yang melihat sahabatnya itu segera menghampirinya. Seketika itu juga Sara langsung terkejut melihat keadaan Rere. “Ya ampun

Ku Menunggumu

Oleh:
“Honey, kamu mau sarapan apa sayang?” tanya Mami Juliet. “Mmhh.., roti cokelat saja Mi,” jawab Juliet ceria. Juliet memang dikenal sebagai anak yang periang di sekolahnya. “Mi, Pi, Juliet

Dirimu

Oleh:
Kau adalah sosok angkuh, dingin dan sejuta ego. Selalu kau ciptakan batas yang membuat orang ragu untuk mendekatimu. Entah terbuat dari apa dan kenapa batas itu ada? Dalam diam,

Ku Serahkan Semua Hanya Kepada Nya

Oleh:
Kumandang azan subuh telah terdengar jelas di telingaku. Ku bangunkan dan kudirikan tubuh ini lalu mengambil air wudu dan aku pun menunaikan salat. Sehabis salat ku baringkan kembali tubuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *