Gadis Bermata Hazel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 17 October 2017

Siang yang terik, mentari bersinar di atas kepala para penunggu bus yang berada di halte. Siang ini begitu terik di Bogor, padahal hari biasanya selalu dilanda hujan. Lelaki berjaket hitam merah ini mendengus kesal.
“Lama banget sih busnya gak dateng-dateng,” terlihat raut kekesalan di wajahnya, sambil sesekali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Maba (mahasiswa baru) juga ya?” Seru seorang gadis, tentu saja lelaki itu mengangguk cepat tanpa melihat siapa gadis tersebut.
“IPB?”
“Hmm…”
“Semoga di hari pertama ini seniornya nggak jahat ya!”
“Hmm…”
“Eh, btw gimana ceritamu bisa masuk ke IPB?” Seru gadis itu membuat lelaki itu lebih kesal, udah panas, banyak bicara pula -sesalnya, apalagi dalam pertanyaan itu ada nada meremehkan.
“IPB kan susah, gimana bisa masuk?”
“Pake… ini…” lelaki ini menekankan kata yang diucapkan sambil menunjuk dahinya alias otak. Karena kesal, lelaki ini segera naik bus ketika busnya sudah datang dan meninggalkan gadis tadi sendiri.
“Hei, tunggu!” Serunya lagi, sedangkan lelaki itu tetap tidak mempedulikan dan segera duduk di kursi bersama seorang kakek kakek lalu memakai headphone putihnya, berharap tidak mendengar gangguan.
“Tunggu,” serunya ketika lelaki itu keluar dari bus, lelaki itu tetap saja berjalan angkuh, sedangkan gadis tadi akhirnya menyamai langkahnya setelah berlarian.

“Cepet banget sih jalannya, jadi kewalahan.” Katanya lagi, sedangkan lelaki itu tetap tidak menghiraukan, dia masih asyik dengan alunan musik barat favoritnya.
“Ruang 15 gedung B kan?” Tanyanya, namun masih saja tak dihiraukan.
“Okay, nanti bakal ada tugas dari Kak Seto, disuruh nyari lima ensiklopedia, bareng yuk!” Namun, tetap saja lelaki itu tak menghiraukannya.

Setelah sampai depan ruang 15 gedung B, keduanya segera mengisi absen namanya masing-masing, sembari duduk, gadis itu tetap membuntuti lelaki tadi dan duduk di sampingnya.
“Oh namamu Alfa ya? Alfa Rehandra? Ya ampun, nilaimu tertinggi seangkatan waktu tes, kan?” Lelaki yang ternyata bernama Alfa itu mengangkat alisnya sebelah.
“Kenalin aku Elfa, Elfa Diandra, panggil aja Elfa, aku baru sampai di Bogor kemarin pagi jadi aku kurang tau kota ini, kampung halamanku ada di –”
“Bisa diam gak? Ganggu tau,” gertak Alfa membuat Elfa langsung terdiam, tentu saja Alfa kesal karena suara senior yang berbicara lebih halus daripada suara cempreng si Elfa tadi.

Setelah jam pertama dan kedua berakhir, dan katanya sudah tak ada jam lagi, Alfa memutuskan untuk mencari dan mengerjakan tugas dari seniornya yang diluar nalar, Maba harus mencari lima ensiklopedia dan harus menyalin kata kata susahnya di lembaran, dan akan ditanya satu persatu apabila kata kata sulit masih ada yang terlewatkan.

“Alfa ikut ke perpus kota ya!”
“Sibuk,”
“Beneran, aku nggak tau tempatnya,”
“Bodo amat,” Alfa kembali melangkah dengan cepat sedangkan Elfa terlihat bingung, ia belum mengenal siapapun selain Alfa di sini.
“Kalo ikut jangan ganggu!” Kata Alfa akhirnya, habisnya Elfa terus membuntutinya di belakang.
“Yeay, Alfa baik deh,”
“Berisik!” Umpat Alfa lalu kembali memakai headphonenya.

Alfa dan Elfa berjalan di trotoar kota Bogor karena perpustakaan yang mereka tuju dekat dengan kampus. Elfa terus saja melihat lihat kota, ia berusaha mengahafal tempat-tempat dan jalanannya, tak sengaja ia tertinggal jauh dari Alfa, Alfa yang segera sadar kalau tak ada suara apapun dari si Elfa berisik segera menghentikan langkahnya, ia pasti berpikiran bahwa Elfa terdesak di kerumunan orang sana, dekat pasar. Bagaimanapun Alfa juga tidak sejahat itu, hanya saja pertemuan dengan Elfa itu kurang tepat apalagi Elfa cerewet sekali jadi semakin membuatnya terganggu, tapi Alfa pun juga khawatir kalau Elfa hilang, Alfa tau kalau Elfa pendatang di sini, apalagi langkah kecil Elfa tak bisa menyamai langkah jenjang Alfa.

“Cepat!” Setelah menemukan wajah Elfa, Alfa segera memarik tangannya dari kerumunan orang dekat pasar.
“Iya, iya, Alfa, aku gak bakal hilang kok, gak usah khawatir deh!” Kata Elfa tersenyum ketika melihat wajah panik Alfa.
“Kalo lu hilang gimana hah?”
“Sekarang udah ketemu kan jadi masih lama nih dipegangannya?” Sindir Elfa lembut, Alfa segera melihat tangannya yang mencengkeram kuat tangan Elfa dan segera melepaskannya.
“Kok dilepasin?” Ucap Elfa, Alfa sudah melenggang pergi meninggalkan Elfa di belakang, namun Alfa sudah memperkirakan langkahnya tidak secepat tadi, Elfa benar-benar menyebalkan.

Sejak pertemuan itu Alfa dan Elfa semakin akrab, hampir di mana ada Alfa di situ ada Elfa, mereka sering bercanda meskipun sebenarnya Elfa berbicara lalu tertawa sendiri sedangkan Alfa hanya diam namun sesekali melirik gadis itu tanpa diketahuinya. Setiap orang tau Elfa seolah olah sok akrab dengan Alfa, Elfa lebih banyak bercerita mengenai semua hidupnya, Elfa membiarkan Alfa masuk dalam hidupnya, namun Alfa, Alfa hanya menanggapi bila perlu, Alfa datar dan tertawa seperlunya, Alfa tak pernah membiarkan Elfa masuk dalam hidupnya, tidak pernah.

Dua belas bulan kemudian,
“Ngerjain tugas sambil makan es krim enak kali ya, Fa?” Kata Elfa, Elfa melihat banyak pasangan di taman itu sedang tertawa, bercanda, berbicara dan saling menaut cinta, apalagi ia juga melihat dua orang main es krim es kriman, sedangkan Elfa, Elfa bingung, ia pun punya Alfa, baginya Alfa miliknya meskipun hanya sebatas ‘sahabat’ statusnya, tapi tak apakan jika Elfa mencintai Alfa. Lagipula, Alfa juga tidak pernah suka jika Elfa dekat dengan lelaki lain selain dirinya, Alfa benci itu.
“Fa, es krim enak,”
“Berisik deh, diem napa gak bantuin juga.” Kata Alfa tengah sibuk mengotak atik laptopnya, Elfa mengerucutkan bibirnya.
“Alfa jahat…” Elfa mengacak acak rambut Alfa membuat empunya marah.
“Duh, ganggu tau, udah enam puluh dua lembar skripsinya,”
“Gitu aja sewot,”
“Kayak anak kecil.”
“Biarin, emang kamu datar mulu.”
“Kayak anak kecil.”
“Yang penting bahagia.”
“Kayak anak kecil.”
“Alfaaa…” Alfa terbangun lalu berlari meninggalkan laptopnya dan mereka saling berkejaran.
“Argg…” Alfa melihat Elfa memegang kepalanya, Alfa segera mengampiri gadis itu, belum lagi setelah menyentuh hidungnya Alfa melihat tangan gadis itu penuh bercak darah, sebelum akhirnya ia jatuh, Alfa sudah menyiapkan diri untuk menyanggahnya. Alfa segera membawanya ke rumah sakit.
“Elfa, lu baik kan? Plis, jangan kenapa-napa ya!” Mohon Alfa sebelum Elfa masuk ke ruang UGD.

Sudah dua bulan Elfa koma, sedangkan Alfa terlihat selalu badmood dan sendiri, Alfa selalu ingat pertemuan pertamanya dengan gadis menyebalkan seperti itu, Alfa ingat bentuk mata hazel yang menjadi bahan pikirannya bermalam malam.
Alfa ingat ledekan ledekan kecil Elfa yang kadang membuatnya memerah, kadang juga kesal beneran, Alfa selalu ingat kata kata Elfa ketika sedang kesal, Alfa ingat cara makan Elfa, ingat cara Elfa menulis yang membuat sebagian wajahnya tertutupi rambutnya, Alfa ingat gimana Elfa mengacak rambutnya, dan untuk pertama kalinya Alfa mengizinkan, dan Alfa ingat ketika terakhir ia melihat senyumnya Elfa, ketika di taman, mengerucut kan bibirnya dan kesal karena ledekan Alfa, Alfa ingat ketika Elfa tersenyum mengejarnya sampai raut wajahnya berubah ketika ia menemukan bercak darah di hidungnya, Alfa ingat semuanya.

Alfa ingat detail tentang Elfa meskipun ia seolah tak pernah mempedulikan Elfa, untuk yang pertama kalinya Alfa jatuh cinta, kepada gadis yang membuatnya benar-benar kehilangan ketika tak ada lagi dirinya.

Cerpen Karangan: Aulia Taureza
Facebook: Ataureza Aulia
Gak tau ini cerpen seri apa kagak, kritik dan saran 🙂

Cerpen Gadis Bermata Hazel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sorot Pelangi

Oleh:
Pagi yang seperti biasa, murid-murid melangkahkan kaki nya dengan senyuman lebar dipipi nya. Termasuk Rio, kapten basket sekolah yang banyak digandrungi oleh para wanita ini seperti biasa mengawali rutinitas

Mantan Terindah

Oleh:
Liburan pun tiba… “Pagi yang cerah untuk hati yang cerah pula” Teriak Icha menyambut hari pertama liburnya. Hari itu ia akan brangkat ke kampung halamannya di daerah yang jaraknya

Dalam Balutan Tawa

Oleh:
Rasanya, pagiku akan terasa lebih menyenangkan jika selalu mendapatkan senyum terindah itu. Satu senyuman yang selalu saja melebur setiap kegalauan di hatiku. “Reyna, apa kamu tidak lelah untuk selalu

Pantai Cinta

Oleh:
Dia termenung memandangi langit merekah. Dia sedang memikirkan seseorang yang dulu pernah meraja di hatinya. Seperti sedang mengimbas sesuatu yang menyenangkan hatinya, dia tersenyum. Dia membiarkan rambutnya dibelai angin

Diary “Rina”

Oleh:
Present Of True Love “gila, perut gue eneg banget ingga” segala macam jenis aroma manusia menusuk hidung arinda yang enggak pernah naik bis, dia rela naik bis hanya untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *