Gadis Penikmat Sendu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 7 December 2018

Semilir angin mengibaskan rok kembang sebetis milik Linda, kaki tel*njangnya sudah basah hingga ke mata kaki, ia masih menyisiri pantai itu dengan menggenggam jemari yang rasa-rasanya tidak ingin ia lepaskan walau sesaat. Sesekali ia merapikan rambut panjangnya yang menutupi pandangannya, rambut panjang yang sengaja ia biarkan tergerai dimainkan angin.

“Lin, mau sampai kapan kita seperti ini?” ujar pemuda di sisinya menghentikan langkah Linda
Ia tak memberi jawaban, ia memejamkan mata seakan ingin berlalu dari masalah yang selalu membuat dadanya sesak.
“Kita kawin lari aja” Pemuda itu kembali menyatakan tekadnya sekali lagi
Linda kembali menatap pemuda itu, ia menarik nafas dalam-dalam
“Lin, kita ga bisa gini terus. Aku ga mau kehilangan kamu” Pemuda itu kembali meyakinkan kekasihnya
“Aku lelah Nas” akhirnya Linda bersuara

Namanya Nasri, pemuda yang sudah 2 tahun ini mengisi hati dan hari-hari Linda. Pemuda yang merupakan bual-bualan gadis di desa mereka. Nasri, ia tampan, sopan, baik tidak ada minusnya seorang Nasri di mata Linda, ia hampir mencapai angka 99 sebagai pria idaman. Tapi semesta tak mengizinkan mereka bersama. Nasri dan Linda tidak boleh bersama, adat dan agama menentang itu. Karena Nasri adalah sepupunya ayah kandung Linda, yang berarti Nasri adalah paman Linda secara tidak langsung.

“Terus, kamu mau kita berakhir?” Nasri terlihat membentak
“Terus aku harus gimana?” Linda tampak menyerah
“Aku ga mau nikah sama Maya, aku ga cinta sama dia Lin, aku cuma cinta sama kamu”
“Nas, jangan membuat aku seperti kapal yang hilang arah. Aku takut Nas, aku takut tenggelam, aku takut tersesat. Aku ga bisa mikirin apa-apa setelah semuanya harus menjadi seperti ini. Aku ga bisa ngebayangin gimana hidupku setelah semuanya akan benar-benar terjadi. Ya ampun Nas…” seluruh persendian Linda terasa lumpuh, matanya sudah berkaca-kaca membayangkan Nasri dan Maya bersanding di pelaminan.
Nasri berteriak marah, untung saja tidak ada siapa-siapa di sana. Sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan kebisingan yang dibuat Nasri. Dia benar-benar marah, ia merasa menyesal tidak bisa melakukan apa-apa. Sudah beberapa kali ia meminta kepada Linda agar mereka kawin lari saja, tapi Linda tidak bisa mengiyakan keinginan gila kekasihnya itu, walau bagaimanapun ia tetap harus menjaga nama baik keluarga besar mereka.

Air sudah pasang, telapak kaki Linda dan Nasri sudah lenyap disapu ombak yang bermesra dengan pasir pantai. Tidak ada yang tersisa di sana. Perasaan Linda dan Nasri masih sama. Tidak berubah sedikitpun tidak bergeming sedikitpun, sama selamanya akan tetap seperti itu.

Waktu berlalu dengan amat cepatnya, mau tak mau, suka tidak suka Nasri tetap harus menerima perjodohan antara dirinya dengan Maya, gadis anak bungsu pak imam di desanya. Maya, ia gadis yang santun dan penurut pantas saja semua orang tua di desa itu mengharapkan anaknya bisa bersanding dengan Maya.

Semakin mendekati hari H Nasri semakin kacau, ia lebih sering ke pantai tempat ia dan Linda biasa bertemu tentu dengan sebelumnya ia mengirimkan pesan singkat kepada Linda untuk menemuinya di sana. Linda telah di sana ia memandang buih di lautan yang perlahan menyentuh punggung kakinya, ia biarkan saja, ia menikmati itu. Pantai itu, tempat ia dan Nasri melepaskan segala kerinduan karena tidak bertemu semingguan, pantai itu sepi dan tidak luas, ia terletak di belakang desa, jarang sekali ada orang yang kesana kecuali mereka berdua. Bibir Linda tampak sumringah untuk pertama kalinya ia menerima pesan dari pemuda yang baru saja kembali dari kota itu, entah darimana Nasri mendapatkan nomor ponsel Linda, Linda bahkan tidak mau tau. Setelahnya hp tua milik Linda selalu bergetar beberapa kali dalam sehari, Linda menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengar suara si pemuda idaman. Nasri sudah mengutarakan isi hatinya kepada keluarganya bahwa ia jatuh hati kepada Linda, tapi dengan spontan keluarganya melarang keras Nasri mendekati Linda karena alasan yang tepat. Tidak sampai disitu, dalam pesannya Nasri mengatakan pada Linda bahwa dia ingin bertemu, dari situlah mereka kepikiran menjadikan pantai ini sebagai tempat pertemuan mereka. Sudah lebih 2 tahun ini, tidak ada yang curiga kalau mereka sering bertemu secara diam-diam.

“Lin…”
Suara Nasri membuyarkan lamunan Linda
“Nas…”
Linda langsung memburu tubuh Nasri, tak biasanya ia seperti itu. Sepertinya ia memang sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi. Ia sudah tersedu sedan dalam dada kekar milik pemuda itu.

“Nas, bawa aku pergi…” lirihnya kemudian
“Ayo kita lari, aku tidak sanggup kehilanganmu, aku tidak siap bila harus melihatmu bersanding dengan perempuan lain, lebih baik aku mati saja Nas”
“Lindaa, jangan berkata seperti itu, kamu tidak selemah ini aku tau kamu tegar” Ujar Nasri menyadarkan gadis kesayangannya itu
“Aku sudah tidak kuat lagi Nas, aku sudah tidak sanggup lagi…” Tubuh Linda jatuh ke tanah
Nasri meraih tubub Linda, memangkunya berusaha memberi rasa paling nyaman sebisa mungkin. Tubuh gadis itu memang sudah semakin kurus, sepertinya ia begitu menderita mendengar Nasri dan Maya sudah bertunangan dan lusa mereka akan menikah. Nasri menyesali kenapa Linda baru sekarang menyatakan keinginannya untuk kawin lari, padahal Nasri sudah mengatakan itu sejak dulu lagi, tapi ia tak mungkin menyalahkan Linda dalam keadaan Linda seperti ini.

“Nas, tolong ayolah kita pergi bersama, aku mohon…”
“Lin, semuanya sudah terlambat,” Nasri meneteskan airmatanya lagi
Linda menatap nanar wajah Nasri, ia tak percaya akan apa yang keluar dari bibir Nasri. Nasri memeluk tubuh Linda semakin erat, ia tak ingin melepasnya walau sedetik. Tidak ada lagi kata yang keluar, tubuh Linda semakin melemah, hanya air mata yang menganak sungai dari 2 pasang mata kekasih itu.

Nasri bulat, ia akan menghabiskan harinya bersama sang kekasih hari ini, sang surya sudah kembali keperaduannya, airpun telah surut dan tinggalah sepasang kekasih itu dalam gelam gulita sebab rembulan memang belum menampakkan batang hidung.
“Nas, sudah jam berapa?” akhirnya Linda terbangun
“Tidur aja lagi, untuk sehari ini aku akan tetap jadi milik kamu” ujarnya mengusap rambut lembut milih sang kekasih
“Nas, nanti kita dicariin” suara Linda mulai gelisah

Nas menyentuh kening Linda dengan bibirnya, dalam sekali, cukup lama hingga suara memanggil-manggil nama mereka mulai terdengar jelas. Nasri terkesiap, sepertinya kekhawatiran Linda terbukti. Nafas Nasri tidak teratur, otaknya buntu untuk mencari jalan keluar. Ia tau Linda sudah tidak kuat berjalan, dan tidak mungkin ia menggendong tubuh Linda sambil berlarian.

“Nas gimana?” Linda membuyarkan lamunan Nasri
Nasri tak bergeming, ia tetap diam di tempat hingga sekumpulan orang yang mencari mereka melihatnya.

Ayah Nasri yang memimpin kumpulan itu, bergegas lebih cepat, sementara ayah Linda tepat berada di belakangnya.
Plakk
Tamparan mendarat dipipi mulus Nasri. Linda menjerit.
Plakk
Sekali lagi, ayah Nasri seperti musang yang menyerang anaknya sendiri. Nasri tak bergeming, masih di tempatnya.
“Linda kenapa lakuin ini sama ayah?” Ayah Linda mulai menginterogasinya
“Linda cinta Nasri yah” ujarnya jujur

Mendengar pernyataan itu ayah Nasri kembali melayangkan sebuah tamparan lagi.
“Cukup” Linda berteriak histeris
Plakk
Sekali lagi, tampak cairan merah menetes dari sudut bibir Nasri. Orang-orang tidak ada yang berani menenangkan ayah Nasri. Nasri masih diam, karena ia tau berbicarapun tak menghasilkan apa-apa

“Kakek, Lin mohon jangan lakuin ini sama Nasri, ini bukan salah dia, ini salah Linda kek” Linda bangkit dan memegang betis ayah Nasri

Hati Nasri sakit melihat Linda melakukan itu untuknya, tapi ia tak mau memperburuk keadaan. Ayah Nasri memberi kode kepada ayah Linda, untuk segera menyeret Linda. Beberapa orang menarik Linda menjauh dari anak dan bapak yang sedang meluapkan amarahnya. Linda mengamuk, ia berontak diperlakukan seperti itu, dengan sekuat tenaga ia berusaha meloloskan diri namun tangan-tangan yang menariknya lebih banyak, hingga ia benar-benar lelah untuk melawan dan akhirnya tubuhnya melemah dan pingsan. Linda dibopong menuju rumahnya. Melihat itu airmata Nasri meleleh dengan derasnya, tak disangkanya keputusan bodoh yang dibuatnya akan menyiksa sang pelipur hati. Ingin rasanya ia berlari untuk memastikan keadaan gadisnya itu, tapi malaikat maut di depannya sudah pasti tak memberi izin untuk itu. Matanya memelas melihat orangtua itu. Tanpa disangkanya orangtua itu menghulurkan tangannya dan membantu Nasri berdiri, tanpa sepatah katapun ia membopong putra sulungnya itu ke rumah.

“Lin, makan dulu yuk sayang, udah 2 hari Linda belum makan” pujuk perempuan paruh baya itu
“Iya bunda, makanannya taroh aja di atas meja, nanti Linda makan” ujarnya masih menatap keluar jendela

Bundanya keluar dengan linangan air mata. Ia tidak sanggup melihat keadaan Linda sekarang. Sudah hampir 5 bulan, Linda tidak keluar kamar, bahkan ayahnya sudah membuatkan kamar mandi di kamarnya. Makanan selalu diantar kamarnya, kadang disentuhnya kadang tidak, hanya kesenduan yang menemani harinya. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun, terkecuali ibu dan ayahnya. Ia tidak bisa diajak bersenda lagi, tidak lagi terlihat menyapa tetangganya. Luka di hatinya benar-benar sudah menghilangkan segala kesukaannya pada dunia. Ia menghabiskan waktu di kamarnya, lewat jendela yang sedikit terbuka ia membayangkan kembali masa-masa yang pernah ia lalui bersama Nasri. Kadang terukir senyum bila terngiang ucapan manja dari Nasri, lalu airmatanya kembali mengalir. Tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun bagaimana laranya ia, ia juga tidak menyalahkan siapapun, ia menerimanya dengan begitu saja berharap suatu saat kebahagiaannya kembali.

-Tamat-

Cerpen Karangan: HA
Blog / Facebook: HA Amellia

Cerpen Gadis Penikmat Sendu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Nanti, Kita Kembali

Oleh:
Raut wajah Nabila, sesaat tertampak seperti monster imut saat ia terbangun dari mimpinya di atas susunan karakter-karakter yang begitu empuk, saat pagi menyapa “Ah, pagi ini tak berbeda dengan

Gadis Teh Hangat (Part 2)

Oleh:
Hari ini aku sengaja melapangkan semua daftar panjang pekerjaanku yang sangat padat ini demi, Dia! Oh ayo lah email singkat itu benar-benar membuatku terjaga semalam penuh. 5 menit aku

Tentang Kita

Oleh:
Hey! Pagi ini aku akan masuk ke sekolah baruku. Aku Akan memasuki SMA, aku baru saja lulus SMP, dan aku pun melanjutkan sekolahku ke salah satu SMA Favorit. Namaku

Pendekar Cantik

Oleh:
Ujian hidup yang selalu menerpa harus ku jalani apa adanya dengan penuh semangat. Walau kedua orang tuaku telah tiada, aku harus semangat untuk hidup. Namun aku punya seorang nenek

Di Antara Dua Bunga Yang Memabukkan

Oleh:
Beberapa hari telah berlalu, sebelumnya hanya dirimulah seorang wanita yang kucinta, jika aku lebahnya maka dirimulah bunga yang sungguh membuatku terpana. Namun kini, seiring berjalannya waktu, di antara sekian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Gadis Penikmat Sendu”

  1. Silmi says:

    Sedih banget :'(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *