Gadis Yang Membenci Hidupnya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 March 2016

“Ma, Yofan..”
“Cukup Yofan! Mama nggak mau denger lagi alasan kamu nolak Diandra. Ini amanah dari Papa kamu sebelum meninggal.”
“Tapi Yofan nggak cinta sama Diandra, Ma.”
“Diandra baik sekali, Yofan. Kamu tahu itu. Itu udah alasan yang lebih dari cukup untuk kamu mencintai dia.”
“Ma, Yofan ngerti. Tapi Yofan udah anggap Diandra sebagai adik Yofan sendiri. Dari kecil kami udah sering bareng-bareng.”
“Iya makanya, kalian udah saling mengenal sifat masing-masing kan?”
“Maaa..”

Akhirnya aku menyerah dengan segala argumen mama. Dari dulu aku memang tak pernah menang jika berargumen dengan mama. Apalagi untuk hal Diandra kali ini. Mama lebih ngotot dari biasanya. Sepertinya Mama mengeluarkan segala jurusnya untuk menaklukkan argumenku. Dan aku benci ini. Dari kecil aku memang orang yang tak suka diatur. Tapi semenjak papa meninggal, aku selalu menuruti kehendak mama. Salah satu pesan papa sebelum meninggal adalah untuk nurut sama mama.

“Yofan, kamu tahu? Dari dulu Papa selalu mencintai Mamamu. Kamu tahu, bagi Papa, Mamamu adalah anugerah terindah. Papa selalu berusaha menjaga dia dan menyayangi dia. Tak pernah sedikit pun ada niat di hati Papa untuk menyakiti perasaannya. Karenanya kamu ada. Papa pesan sama kamu, jangan pernah kecewakan wanita yang paling Papa sayangi. Kamu bisa berjanji?” Pesan itu seolah selalu menempel pada ingatanku. Karena janji itu, aku jadi mengesampingkan segala keinginanku yang bertolak-belakang dengan keinginan mama. Tapi kali ini, untuk masalah Diandra, aku nggak bisa nurutin mama.

“Ma, Mama cinta sama Papa, kan?”
“Mama sangat mencintai Papamu, kamu tahu itu.”
“Mama bahagia hidup sama Papa?”
“Mama sangat bahagia, Yofan.”
“Ma, bagaimana aku nanti bisa bahagia bersama Diandra jika aku sama sekali tak mencintai Diandra?” jurus terakhirku pun akhirnya keluar.
“Kamu inget Yofan, kamu pernah janji sama Diandra kalau kamu akan jagain dia?”
“Ma, aku ingat. Tapi bukan berarti aku harus menikah sama Diandra, kan?”
“Yofan, Mama cape.” Ucapan itu seolah jadi kata penutup dari argumen mama yang membuatku tersayat.

Aku merasa bahwa aku tak berbakti. Kata itu.. Itu artinya mama kecewa denganku. Aku berlalu meninggalkan mama. Aku tak tahu kenapa mama begitu terobsesi untuk menjodohkanku dengan Diandra. Aku mengendarai motorku ke luar dari kompleks rumahku menuju jalan raya. Dalam pikiranku berkecamuk berbagai masalah. Janjiku pada Diandra waktu kecil, janjiku pada papa, permintaan mama dan keinginan hatiku sendiri. Sampai di sebuah jalan, aku meminggirkan motorku di sebuah kedai bakso. Aku memang penggemar berat bakso. Seperti mamaku. Sial! Aku jadi teringat permintaan mama.

Setelah memesan satu porsi bakso, aku memilih tempat duduk di bagian yang pojok, jauh dari keramaian pengunjung lainnya. Aku baru saja akan duduk, seseorang telah menabrak motorku yang terparkir di tepi jalan. Nampaknya, dia juga ingin parkir di sini. Aku pun menghampirinya yang dimarahi orang-orang yang sedang nongkrong di kedai kopi sebelah. Aku membantunya yang kelihatan keberatan mengangkat motorku.

“Makasih Mas. Saya bisa sendiri kok.”
“Udah deh, nggak usah gengsi. Gue tahu kok motor ini berat.”
“Iya tapi gue bisa!”
“Udah,” kataku sambil memeriksa motorku.
“Udah gue bilang, gue bisa,” gerutunya.
“Untung nggak ada yang lecet.”
“Ini motor lo?” tanyanya terkejut.
“Menurut lo?”

“Maafin gue ya? Gue nggak sengaja, sumpah. Lagian nggak ada yang lecet kan? Nggak perlu ganti rugi dong.”
“Takut banget lo gue suruh ganti rugi,” ledekku.
“Nggak gitu, tapi di dompet gue cuma ada duit biruan selembar doang. Kan nggak cukup buat ganti rugi.”
“Ya udah kalau gitu gue yang traktir lo?”
“Loh? Kok?”
“Biar duit lo utuh. Jaga-jaga kalau lo nanti nabrak orang lain lagi, kan biar buat ganti rugi.”
“Sialan! Lo doain gue nabrak orang lagi?” Gadis yang tak ku tahu namanya ini memasang muka cemberutnya yang menurutku sangat imut.
“Nggak lah. Bercanda gue.”
“Gue tahu weee,” ejeknya sambil menjulurkan lidahnya.

Akhirnya aku, dengan gadis yang tak ku tahu namanya menuju meja yang tadi sudah ku pilih.
“Kok milih di pojok sih? Suka mojok ya lo?” candanya.
“Nggak lah. Gue nggak suka keramaian.”
“Kok lo ngajakin gue kalau lo nggak suka ramai?”
“Kadang gue bosen kesendirian.”
“Bilang aja lo pengen gue temenin.”
“Ih, enggak. Btw, nama lo siapa?”
“Gue Bella.”
“Cantik banget nama lo. Beda sama orangnya,” ejekku.

Sebenarnya gadis ini sangat manis. Tapi penampilannya sedikit berantakan. Ia memakai celana jeans ketat dengan kaus oblong yang sedikit kebesaran di tubuhnya yang mungil. Rambutnya yang panjangnya sebahu dan tak terlalu lebat berwarna hitam kecokelatan dikuncir seadanya. Tapi ia manis. Kesan pertamaku padanya, aku tertarik dengan gadis ini. “Bokap gue bilang gue manis weee.” Lidahnya kembali terjulur. Sungguh, dia sangat manis dengan penampilannya yang seadanya dan sikapnya yang tak dibuat-buat.
“Kan biar lo seneng. Oh ya, kenalin gue Yofan.”
“Dan lo nggak pengen nyenengin gue gitu?”
“Ogah.” Jujur aku pengen banget bahagiain dia, gadis unik yang baru ku temui tadi.
Aku dan Bella semakin akrab. Kami juga sempat bertukar pin BBM. Kesan pertamaku padanya adalah, aku kagum padanya. Gadis yang penampilannya sedikit berantakan, aku suka celetukannya.

“Lo mau langsung pulang, Bell?” tanyaku setelah kami selesai menghabiskan bakso.
“Gue biasanya jalan-jalan dulu.”
“Emang nggak dicariin orangtua lo? Lo kan cewek.”
“Mereka nggak bakal nyariin gue kok.”
“Lo kan nggak tahu kalau mereka khawatir sama lo.”
“Lo udah mirip tante gue ya. Ngomongnya selalu gitu.”
“Ya gue cuma nggak mau lo bikin oragtua lo khawatir.”

“Mereka nggak bakal nyariin gue sampai mereka denger gue udah mati,” ujarnya santai sambil menyulut rok*k. Seperti ada emosi yang tertahan ketika dia mengatakannya.
“Bell, lo rok*k?” Aku terkejut melihatnya merok*k. Gadis seimut dia, periang. Seperti mimpi saja.
“Mau?” tawarnya.
“Gue nggak pernah rok*k.”
“Maaf.”

Ia menikmati rok*knya, sementara aku hanya melihatnya dengan prihatin. Ku tatap matanya yang seolah-olah menghindari tatapan mataku. Aku menyayangkan, gadis imut yang memberikan kesan pertama yang membuatku tertarik, kini dengan tanpa malu merok*k di depan umum. Tapi setiap aku menilik ke dalam matanya. Ada keresahan, kebencian, dan ketakutan yang aku tangkap. Aku penasaran dengan kehidupan gadis ini. Tapi aku baru saja mengenalnya. Tak mungkin aku bertanya-tanya tentang kehidupannya. Hari demi hari aku dan Bella semakin akrab. Aku semakin penasaran dengan kehidupannya. Kini aku tahu bahwa ia tak tinggal lagi dengan orangtuanya. Katanya orangtuanya tinggal di Semarang. Sementara ia di Jakarta tinggal di tempat kos. Ia juga masih kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Tak bisa ku pungkiri bahwa aku merindukannya. Rindu penampilannya yang berantakan. Rindu wajahnya yang imut. Rindu celetukannya. Dan matanya yang sayu yang tersimpan sejuta kisah yang tak bisa ku bongkar. Hari ini aku ada janji dengan Bella di sebuah kedai es krim. Tak ada yang ku istimewakan dari penampilanku. Aku tahu dia menyukai orang yang berpenampilan sederhana. Sesampainya di tempat yang kami janjikan, aku belum melihat wajahnya di segala sudut kedai es krim itu. Aku pun memilih tempat duduk yang lagi-lagi jauh dari keramaian.
Tak berapa lama, ku lihat juga gadis yang penampilannya tak jauh beda dari yang ku temui sebelumnya. Ia berlari ke arahku dengan wajah yang dipenuhi peluh keringat.

“Maaf, gue telat.” Napasnya masih terburu-buru.
“Lo nggak bawa motor?”
“Lagi dibawa Adik gue.”
“Cie, Kakak yang baik. Duduk dulu,”
“Oke. Udah lama nungguin?”
“Nggak sih.” Napasnya masih terburu-buru. Aku kasihan melihatnya.

“Makanya nggak usah rok*k. Akibatnya napas lo jadi pendek gini kan?” Ia menatapku dengan tatapan yang membuatku takut. “Kalau lo ngajak gue ke sini cuma mau nasihatin gue supaya gue berhenti rok*k, mending gue nggak usah datang ke sini.” Kali ini kata-katanya serius. Ia memang marah.
“Lo jangan salah paham. Kalau lo nggak suka gue bilang gitu, ya udah gue minta maaf.”
“Ini nggak masalah paham atau nggak. Gue nggak suka orang lain nyampurin kehidupan gue dan ngomentarin hidup gue seenaknya.”
“Iya, Bell. Gue minta maaf.”
“Ya udah, jangan kayak gitu lagi.”

Suasana kembali cair. Satu hal lagi yang ku kagumi dari Bella. Ia orang yang mudah memaafkan dan tidak larut dalam amarah. Aku semakin kagum pada gadis yang mengonsumsi barang yang tidak ku suka.

Hari itu Diandra datang ke rumahku. Gadis cantik nan anggun ini, aku menyayanginya sebagai sahabat. Aku tak mungkin bisa menikah dengannya. “Yofan, kamu baru bangun?” tanya Diandra yang sedang mengobrol dengan mama ketika melihatku ke luar dari kamar dengan rambut acak-acakan dan celana kolor dan telanjang dada.
“Iya. Tadi malem habis nongkrong sama temen-temen. Tumben pagi-pagi ke sini, Din?”
“Mau nganterin undangan ulang tahun Adikku. Datang ya, besok malam.”
“Iya, pasti. Gue mandi dulu ya Din.”

Hari ulang tahun adik Diandra pun datang. Malam itu Diandra menjemputku dan Mama karena mobilku sedang di bengkel. Sampai di depan rumah Diandra, nuansa party sudah sangat terasa. Begitu turun dari mobil Diandra, aku melihat Bella sedang mengantar seorang anak laki-laki. Mungkin itu adiknya.

“Hai, Bell!” kataku seraya menghampirinya.
“Hai Yof, kok lo di sini?”
“Jadi orangtua yang lagi ulang tahun itu temennya Mama gue. Jadi gue diundang.”
“Siapa Yof?” tanya Diandra yang tiba-tiba menghampiriku dan Bella kemudian menggandeng tanganku.
“Oh, ini Bella. Temen gue, Din. Bel, kenalin ini Diandra, Kakak dari yang lagi ulang tahun.”
“Bella.” Bella memperkenalkan diri.
“Diandra, tunangannya Yofan,” Diandra memperkenalkan diri.
Aku terkejut Diandra mengaku bahwa ia adalah tunanganku.

“Oh ya Bell, lo ke sini nganterin siapa?”
“Nganterin Adik gue Yof.”
“Ngobrol dulu yuk,” ajakku pada Bella.
“Tapi acaranya..” Diandra menyela.
“Nanti kalau udah mau potong kue gue bakal nyusul kok, Din.”

Akhirnya Diandra meninggalkan aku dan Bella berdua. Bella kembali mengeluarkan sebatang rok*k dan menyulutnya. Ia menghisap rok*k itu dengan nikmatnya. Wajahnya tersenyum memandang langit malam. Senyumnya itu, aku menemukan kedamaian. Tapi setiap aku melihat matanya, yang dapat ku tangkap hanya kesedihan dan ketakutan.

“Jadi lo udah tunangan ya Yof? Lo kok nggak pernah cerita?” tanyanya sambil tersenyum padaku.
“Gue terpaksa Bell.”
“Kalau terpaksa kenapa sampai tunangan?”
“Mama gue yang ngatur.”
“Terus lo nurut aja gitu?”
“Gue udah janji sama Papa gue sebelum beliau meninggal. Gue janji nggak bakal ngecewain Mama gue.”
“Haha.. Pengecut lo.” Aku kembali terkejut. Aku menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Gue nggak mungkin ngecewain Mama gue, Bell.”
“Terus lo bohongin diri lo sendiri, lo bohongin Mama lo, lo bohongin Diandra. Pengecut! Lo nggak mikir gimana kalau kalian udah nikah, kalian punya anak. Dan anak kalian tahu bahwa Papa dan Mamanya nggak pernah saling mencintai. Lo mikir dong gimana rasanya jadi anak lo. Terus lo cerai, lo nyakitin Diandra, anak lo, Mama lo, orangtua Diandra dan lo nyakitin diri lo sendiri. Lo sadar dong.”

“Gue sayang sama Mama gue.”
“Tapi lo bukan boneka Mama lo! Lo punya otak, lo punya nyawa. Ini kehidupan lo, Yofan.”
“Lo nggak pernah sayang sama Mama lo ya? Makanya lo seenaknya ngomong gitu,” kataku dengan emosi.
Bella membuang rok*k dan menginjaknya. Kemudian ia kembali menyulut rok*k yang masih utuh. Menghisap dengan penuh kenikmatan. “Kalau Mama gue nggak pernah suka sama keberadaan gue, ngapain gue mesti sayang sama dia?” tanyanya dengan nada santai. “Nggak ada orangtua yang nggak sayang sama anaknya. Apalagi Ibu yang ngelahirin lo, Bell.” Nadaku kembali pelan. Aku tak tega membentak gadis yang kini ada di hadapanku. “Dia nggak ngelahirin gue. Ibu kandung gue udah meninggal.”

Sesaat dia memandangku. Kemudian ia menghisap lagi rok*knya dan menghembuskannya dengan hembusan putus asa. Matanya memandang ribuan bintang yang berlomba-lomba memancarkan cahayanya. Aku tak menyangka. Gadis yang ku kagumi karena sikapnya yang periang, ternyata mempunyai kehidupan yang pedih. Kini aku tahu, setiap aku menatap matanya, kesedihan yang ku lihat itu kini sudah ku ketahui alasannya. Tapi ketakutan yang ku tangkap itu, aku masih penasaran.

“Yofan, acara potong kuenya udah mau mulai.” Mama tia-tiba muncul di sampingku.
“Iya Ma. Bell, pulangnya hati-hati ya,” ucapku.
“Siapa Yof?” tanya mama.
“Ini Bella Ma, temennya Yofan.”
“Halo Tante, saya Bella.” Bella membuang rok*knya dan mengulurkan tangan pada mama.
“Maaf, saya nggak pengen tangan saya jadi bau rok*k,” jawab mama tanpa menyambut uluran tangan Bella.
“Oh, maaf Tante, saya nggak bermaksud seperti itu,” katanya sambil tersenyum ramah dan menurunkan tangannya.

“Yofan, kalau nyari temen itu yang baik. Cewek baik-baik nggak mungkin rok*k,” ujar mama seraya masuk ke dalam.
“Bell, maafin Mama gue ya. Dia memang nggak suka perok*k.”
“Iya, gue ngerti kok. Gue pulang dulu ya,”
“Hati-hati ya. Maaf buat yang tadi.”
“Nggak masalah kok.”

Semakin hari aku makin yakin bahwa perasaanku ke Bella bukan lagi perasaan kagum ataupun tertarik. Kurasa, aku jatuh cinta padanya. Berhari-hari aku bimbang antara menyatakan perasaanku pada Bella, tak peduli apakah Bella senang atau tidak. Atau membiarkan perasaan ini terpendam dan menyiksa batinku, membohongi Bella, mama, Diandra, dan diriku sendiri. Akhirnya, ku putuskan bahwa aku akan menyatakan perasaanku padanya apa pun hasilnya. Kami pun membuat janji di sebuah restoran. Bella sudah menunggu di sana.

“Hai Bell.”
“Eh, Yof. Aku nggak telat kan?”
“Nggak kok.”
“Lo ngapain ngajakin gue ke sini?”
“Nggak apa-apa. Gue laper, pengen makan di sini.” (Gue gugup Bell)
“Yaelah. Gitu doang?”
“Iya. Weeee.” (Nggak Bell, ada yang mau gue omongin.)

Aku masih dilanda rasa gugup. Aku janji setelah hidangan habis, aku akan mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Bella. “Mutia.” Tiba-tiba datang seorang laki-laki paruh baya menghampiri kami dan menyebut Bella dengan panggilan Mutia. “Papa..” Bella sangat terkejut melihat laki-laki yang di hadapannya.
“Mutia?” tanyaku kebingungan.
“Nanti gue jelasin Yof.”
“Papa kok di sini?”
“Iya, Mamamu minta dibeliin makanan di sini.”
“Kok Mama nggak ikut?”
“Duduk dulu Om,” sahutku.
“Iya makasih, Nak..”

“Saya Yofan, Om.”
“Saya Renaldi, Papanya Mutia.”
“Jadi Bella itu?” tanyaku kebingungan.
“Jadi nama gue Mutiabella Putri Renaldi,” sahut Bella dengan senyum manisnya.
“Rese ya lo Mut,” kataku sambil menarik rambut Bella.
“Gue kan juga Bella. Weeee,” katanya sambil menjulurkan lidahnya. Manisnya..
“Ardi mana?” tanya papa Bella.
“Lagi di rumah kok, Pa. Dia baik-baik aja. Jadi Mama ke mana?”
“Lagi di rumah.”

“Papa kenapa masih mau sih disuruh-suruh kayak gitu?”
“Papa cuma menjalankan kewajiban sebagai seorang suami.”
“Pa, itu bukan tugas suami. Papa itu udah dijadiin bonekanya Mama.”
“Selama Papa baik-baik aja nggak masalah kok Mut.”
“Pa, Mutia nggak mau Mama ngelakuin seenaknya ke Papa.”
“Papa tahu Mut. Tapi Papa bisa tanganin Mama kamu kok. Kamu pulang ya.”
“Mutia nggak mau pulang.”
“Kamu nggak kangen Papa?”
“Pa..”

Setetes air mata menetes dari pipi gadis imut itu. Disusul dengan tetesan berikutnya. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Rasanya aku tak sanggup melihat gadis yang ku cintai menangis.

Bersambung

Cerpen Karangan: Dita Atma Nila Sari
Blog: missgalaustory.blogspot.com
Lahir: 7 Juni 1998
Sekolah: SMA N 1 Blora
Twitter: @ditatma
Instagram: ditatma
ask.fm: @ditaatmans

Cerpen Gadis Yang Membenci Hidupnya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senandung Hujan

Oleh:
Hari itu langit cerah tertutupi awan abu-abu kelam. Tetesan air sedikit demi sedikit jatuh menetes lama kelamaan semakin deras. Mendengar suara tetesan air hujan yang semakin lama semakin deras,

Seluas Danau Toba

Oleh:
Mentari sore akan menyembunyikan keelokannya dibalik gunung nun jauh di sana. Namun aku tak berniat untuk bangkit dari dudukku yang sudah tiga jam lamanya di tepi Danau ini, ya

Annoying Guy for Chubby Girl

Oleh:
Hari ini ulang tahunku ke 14 tahun. Aku menunggunya sejak lama dan akhirnya hari ini datang juga. 14 tahun sejak aku dilahirkan ke dunia. Dulu, aku kecil mungil, namun

Nesha, Memandang Langit

Oleh:
“Kenapa?” Ia terkejut mendengar apa yang baru saja aku sampaikan padanya. Matanya menatapku lebih tajam. Aku bisa menangkap maksud dari guratan wajah yang ditampakkan tepat di mukaku. Kuhentikan sejenak

Mengapa Elo Harus Pergi

Oleh:
Kring… Bel sekolah berbunyi. semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Ada yang ke parkiran ataupun menuju depan pagar. Di depan pagar sekolah, tampak dua cewek feminim dan satu cewek

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *