Gadis Yang Membenci Hidupnya (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 March 2016

“Kalau nggak kangen Papa, nggak masalah kok. Tapi kalau kangen rumah, pulang ya. Yaudah, kalau kamu dan Ardi baik-baik aja. Papa pulang dulu.”
“Pa, Mutia kangen sama Papa. Tapi Mutia nggak bisa pulang selama Mama masih ada di rumah.” Gadis itu memeluk papanya dengan erat.
“Baik-baik ya.. Papa pasti selalu nunggu kamu.” Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk menyatakan perasaanku pada Bella. Aku rasa, waktunya kurang tepat. Aku takut merusak suasana hati Bella. Akhirnya aku mengajaknya jalan-jalan menyusuri jalan kota. Kami berhenti di sebuah jalan layang. Melihat berbagai kendaraan berlalu-lalang.

“Bell..”
“Yof, maaf ya, gue udah banyak bohongin lo.”
“Nggak apa-apa kok Bell.”
“Bell, gue boleh tahu nggak kenapa lo benci banget sama Mama tiri lo?”
Bella menghelai napas dan menghembuskannya. Kemudian ia kembali menyulut batang rok*k yang masih utuh.

“Sebelas tahun yang lalu Mama gue meninggal. Pas banget setelah ngelahirin Adik gue. Gue sempet benci dan nggak bisa nerima keberadaan Adik gue. Gue pikir, Mama gue meninggal gara-gara Adik gue. Tapi gue salah. Ada kejadian dimana gue sadar bahwa bukan Adik gue yang harus dipersalahkan atas meninggalnya Mama gue. Kejadiannya tiga tahun yang lalu. Adik gue nangis di pelukan gue gara-gara pas itu kita lagi nonton acara talk show. Di acara itu bintang tamunya ngukapin perasaannya ke Mamanya. Tiba-tiba Adik gue meluk gue sambil bilang makasih karena udah jadi sosok pengganti Ibu buat dia. Gue terenyuh. Dia yang gue permasalahin atas meninggalnya Mama gue bilang seperti itu.” Ia berhenti sejenak. Menghisap batang rok*knya. Dan mengembuskannya dengan santai.

“Terus Papa lo langsung nikah?”
“Enggak. Papa gue duda selama sembilan tahun. Papa nggak peduli lagi dengan wanita. Yang dia peduliin cuma gue dan Ardi. Gue rasa memang nggak ada yang bisa gantiin posisi Mama gue di hatinya Papa.” Bella membuang rok*knya yang habis. “Bell, lo doyan alkohol nggak?”
“Gue nggak suka bau alkohol.”
“Lo kenapa suka rok*k?
“Papa gue pernah bilang. Kalau pikirannya lagi panas, biasanya bisa berkurang dengan merok*k.”
“Papa lo tahu kalau lo rok*k?”
“Enggak. Papa gue bukan perok*k berat. Cuma rok*k kalau pikirannya lagi panas.”

“Lo nggak takut ngerusak organ pernapasan lo? Lo kan tahu?”
“Justru itu yang gue pengen. Organ pernapasan gue rusak, gue sakit, dan gue nyusul Mama.”
“Lo gila?” Tak sengaja ku bentak Bella.
“Lo cuma nggak tahu rasanya jadi gue.”
“Kalau lo pengen nyusul Mama lo kenapa lo nggak bunuh diri aja?”
“Gue nggak bego. Gue tahu orang yang mati bunuh diri nggak bakal masuk surga.”
“Emang lo pikir dengan lo rok*k dan organ pernapasan lo rusak sampe lo mati, lo bisa masuk surga? Nggak Bell!”
“Lo cuma nggak tahu kehidupan gue Yof.” Ia memukul dadaku, menarik kausku dan tertunduk. Air matanya membasahi bajuku.

Ku pegang kedua pipinya dengan tanganku. Ku angkat wajahnya sehingga mata kami saling bertemu. Ku hapus air matanya. “Gue emang nggak tahu gimana kehidupan lo. Jadi cerita ke gue biar gue tahu.” Ku peluk tubuh mungilnya. Ku belai rambutnya. Ya Tuhan, aku sangat menyayangi gadis ini.
“Gue benci hidup gue Yof.”
“Gue ngerti Bell.” (Bahkah setelah ada gue di sini yang lagi meluk lo, Bell. Lo masih benci hidup lo?)

“Mama tiri gue selalu bilang kalau gue ini manja, nggak berguna, nggak tahu rasa terima kasih, gue pokoknya jelek banget di mata Mama tiri gue. Gue selalu dibandingin sama anak kandungnya. Di matanya seolah-olah gue ini manusia paling rendah dan nggak layak ada. Gue nyesel gue lahir Yofan.”
“Gue tahu lo jauh lebih dari yang Mama tiri lo tahu.” (Gue tahu lo istimewa dan gue jatuh cinta sama lo, Bell)
“Gue pengen pulang Yof. Tapi gue nggak pengen lihat Mama gue.”
“Gue yakin suatu saat lo bakal pulang, Bell.” (Lo udah pulang, Bell. Gue tempat hati lo pulang)

“Tapi kapan, Yof?”
“Kapan pun kalau lo mau.”
“Lo mau temenin gue pulang?”
“Apa pun yang lo mau.”
“Makasih Yof.”
“Gue sayang lo, Bell. Gue jatuh cinta sama lo, Bell.”
“Yof?”
“Gue sayang lo.”
Aku peluk Bella dengan erat sebelum ia sempat berkata apa pun.
“Jangan dijawab. Jangan nolak kalau gue peluk. Gue nyaman meluk lo kayak gini, Bell.”
“Besok anterin gue pulang ya?”
“Oke.”

Suatu hari Diandra mengajakku ketemuan di sebuah restoran. Katanya ada suatu hal yang mau dia omongkan denganku.
“Din, lo ngapain ngajak gue ke sini? kalau mau ngomong kan bisa di rumah.”
“Ada hal yang pengen aku omongin ke kamu dan Mama kamu jangan sampai tahu.”
“Apa, Din?”
“Kamu cinta sama gadis yang kemarin di ulang tahun Adikku, kan?”
“Bella maksud lo?”
“Iya.”
“Kok lo bisa mikir gitu?”
“Aku tahu dari cara kamu natap dia.”
“Iya, gue cinta sama Bella.”

“Yof, sebenernya aku kurang apa sih buat kamu?”
“Lo udah lebih dari cukup, Din. Tapi gue nggak cinta sama lo. Walaupun di mata orang lain Bella itu gadis yang hidupnya berantakan, tapi dia istimewa. Ada banyak hal yang gue cinta dari dia. Gue pengen selalu lindungin dia, Din.” jelasku.
“Aku cinta sama kamu, Yof.”
“Gue tahu, Din. Tapi gue nggak ada rasa apa-apa sama lo?”
“Yof, tatap mataku. Bilang! Apa istimewanya gadis perok*k itu?”
“Gue cinta sama Bella dan lo nggak bakal ngerti karena lo sama sekali nggak ngerti artinya cinta.”
Aku berlalu meninggalkan Diandra. Ku rasa urusanku dengannya sudah selesai.
“Oke kalau kamu nggak cinta sama aku. Tapi asal kamu tahu aja, cintaku ke kamu nggak kalah besar dengan cintamu ke Bella.” Aku tahu Diandra terluka. Tapi setidaknya seperti kata Bella, aku tak membohongi diriku sendiri, Diandra, mama, orangtua Diandra dan Bella.

Bella akhirnya memintaku untuk mengantarnya pulang ke rumah. Bukan. Bukan pulang. Tapi hanya berkunjung.
“Yof, menurut lo gimana ekspresi Mama tiri gue pas lihat gue pulang?”
“Mama lo mesti kaget lihat anak tirinya makin manis. Pulang-pulang bawa calon mantu lagi.”
“Apalagi mantunya ganteng.”
“Apa? gue nggak denger,” goda.
“Nih, mau gue tonjok?”
“Ampun neng.”

“Yof, gue mau berhenti ngerok*k.”
“Bagus dong.”
“Gue mau hidup lebih lama sama lo.”
“Gue sayang lo Bell. Jangan pernah pergi ya.”
“Kalau lo nyari gue. Gue akan selalu di sini, Yof,” ujarnya seraya menunjuk dadaku.
Akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Namun rumah itu terlihat begitu sepi. Kami melangkah mendekati pintu.

“Lo mau masuk?” tanyaku pada Bella yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
“Ya kenapa? Ini rumah gue, Yof.” Pelan namun pasti terdengar suara ribut dari dalam rumah.
“Bapak sama anak sama aja nggak bisa diatur. Keluarga macam apa? Nyesel aku udah nikah sama kamu.”
“Kamu pikir aku bahagia? Nggak. Aku lebih bahagia hidup bertiga dengan anak-anakku.”
“Ceraikan aku!”
“Itu mau kamu?”
Aku tahu itu suara keributan antara papa dan mama Bella.

“Papaa..” Bella berlari menghampiri papanya dan memeluk papanya.
“Mutia..”
“Urusin anak kamu yang bandel itu. Nggak bisa diatur. Nggak tahu diri.”
“Ma, selama ini Mutia diem aja kalau Mama salahin, Mama bentak-bentak. Itu semua Karena Papa nggak mau Mutia jadi pemberontak. Tapi Mutia cape, Ma. Cape nyabarin Mama.”
“Jadi ini hasil didikan Ibu kandung kamu dan Bapak kamu? Dididik buat jadi pembangkang.”
“Cukup Ma! Mutia bisa diem kalau Mama salahin Mutia. Tapi Mutia nggak terima kalau Mama kandung Muti yang udah tenang di surga Mama jelek-jelekin kayak gini. Mutia nggak terima. Mama mending pergi dari sini!”

“Berani kamu ngusir aku? Dasar pembangkang. Anak yang udah rusak moralnya. Udah berani bawa cowok ke rumah,”
“Ini rumah Mutia. Kamu cuma numpang di sini. Terserah Mutia mau bawa siapa aja ke sini. Lebih baik cepat beresin barang-barang kamu.”
“Ini untuk kelancangan kamu.” Mama tiri Bella, menampar pipi Bella dengan keras. Kemudian mama tiri Bella pergi meninggalkan rumah Bella dengan membawa semua barang-barangnya.
Ku lihat gadis yang ku cinta itu. Pipinya merah karena tamparan mama tirinya. Aku tahu itu menyakitkan. Bukan tamparannya. Tapi kenyataannya. Ku hampiri dia yang masih terisak di lantai.

“Bell, kamu nggak apa-apa.” Belum sempat menjawab napas Bella tiba-tiba sesak. Dan ia pingsan. Aku memandang wajah Bella dengan segala keprihatinan. Ia gadis yang kuat. Aku semakin kagum padanya. Ku genggam erat tangannya yang dingin dan ku belai rambutnya. Berharap dia cepat sadar. Semenit, dua menit sampai hampir setengah jam aku menunggu Bella sadar dengan segala kerisauan yang memenuhi pikiran sehingga tak menyisakan ruang untuk firasat yang lain.

“Yofan..” panggilnya lirih dengan suaranya yang tetap terdengar merdu walaupun kini sedikit serak nyaris tak terdengar. Setidaknya suara serak itu mampu mengusir segala kerisauan yang bersemanyam di pikiranku selama setengah jam terakhir ini. “Papa..” panggilnya lagi. Papa Bella segera mendekat dan aku dengan segala kepekaanku mundur memberi ruang untuk ayah dan anak ini. “Pa, maafin Mutia.”
“Mutia nggak salah. Papa yang salah. Papa udah tergila-gila dengan Mama tirimu. Maafin Papa. Papa udah salah milihin sosok pengganti Mama buat kamu.”
“Papa nggak salah.” Aku melihatnya sedikit terharu. Sekuat-kuatnya aku untuk berpura-pura bahwa aku tak peduli dengan apa yang telah aku hadapi, tapi kerinduan pada Almarhum papaku terkadang datang tiba-tiba. Menyerangku tanpa ampun. Membuatku meringkuh lemah terpojokkan oleh kerinduan itu.

“Yof, gue udah nggak kuat. Berhenti dulu dong,” pinta Bella padaku di suatu pagi yang cerah ketika kami sedang lari pagi. “Ya Bell, lo mesti kuat dong.”
“Dada gue sesek, Yof.”
“Lo nggak apa-apa?” Kami berhenti. Aku mengajak Bella duduk di bangku pinggir jalan yang kami lalui.
“Akhir-akhir ini dada gue sering sakit.”
“Ya udah minum dulu.” Aku memberikan sebotol air mineral untuk Bella. Setelah beristirahat, napasnya kembali normal. Tapi tak senormal biasanya.
“Yof, kapan lo nikahin gue?”
“Nikah?” tanyaku terkejut.
“Gue nggak mau lama-lama pacaran.”
“Ya tapi kita kan masih muda, Bell.”
“Justru itu..”
“Gue nggak bisa.”

“Nggak bisa nikahin gue?”
“Bukan. Gue nggak bisa nikahin lo secepet itu.”
“Kenapa enggak?”
“Kita masih muda, Bell.”
“Terus kalau kita masih muda, apa salahnya nikah muda?”
“Gue belum siap.”
“Gue nggak bisa nunggu lama sampai lo siap, Yof.”
“Apa maksudnya? Lo hamil?”
“Yof!!!”
“Apa?”

Setetes air mata menetes di pipi Bella. Entah karena lelah atau apa hingga akhirnya ego kami saling memuncak dan pertengkaran pun tak terhindarkan. Bella lantas pergi tanpa sepatah kata pun dengan air mata yang mengalir semakin deras. Aku tak mengejarnya. Karena jujur dalam hati aku masih tak mengerti kemauan Bella.

Sudah hampir seminggu tiada kabar dari Bella. Terakhir kami bertemu adalah saat kami lari bersama dan terjadi pertengkaran karena ego kami yang tinggi. Meskipun ku coba untuk menghubunginya berkali-kali tapi tak ada jawaban darinya. Akhirnya ku putuskan untuk mengunjungi rumahnya, rumah papanya. Karena setelah kepergian mama tirinya Bella dan Ardi kembali ke rumah papanya. Sampai di depan pintu, ku ketuk pintu perlahan. Derap langkah kaki mendekati pintu dan pintu pun terbuka.

“Ardi..”
“Mas Yofan..”
“Mutia mana?”
“Emmm, Kakak..”
“Siapa, Di?” Suara laki-laki terdengar dari dalam rumah dan munculah papa Bella.
“Om..” kataku.
“Temannya Mutia? Di, kamu masuk.” Ardi pun meninggalkan aku berdua dengan papanya.

“Om, Mutia ke mana? Kenapa ponselnya tidak aktif?”
“Mutia anak yang baik. Dia manis dan periang. Tak seorang pun bisa menebak isi hatinya. Karena ia begitu handal menyembunyikan perasaannya. Dia memendam apa pun sendiri bahkan penyakitnya.”
“Mutia sakit apa, Om?”
“Dia terkena kanker paru-paru karena kebiasaannya merok*k. Seandainya saya bisa menjadi Papa yang baik. Seandainya saya tak pernah bilang bahwa merok*k itu dapat menenangkan pikiran.”
“Sekarang Mutia di mana, Om?”
“Ayo ikut saya.”

Aku dibawa papa Bella ke sebuah rumah sakit tak jauh dari rumah Bella. Sesampainya di rumah sakit, kami melewati berbagai macam ruangan. Ku lihat wanita-wanita berpakaian putih mendorong seorang jenazah yang ditutup kain putih. Sungguh pun kematian sangat dekat dengan kita. Kami memasuki sebuah ruangan. Seorang gadis terbaring di sana, di sebuah ranjang rumah sakit. Di atas perutnya ada sebuah foto. Ku dekati dengan langkah gontai. Ku genggam tangannya. Ku ambil dan ku lihat foto yang tadi di perutnya. Seorang laki-laki tersenyum di foto itu. Itu adalah fotoku.

“Bella..”

Gadis itu terbangun oleh suaraku. Padahal volume suaraku ku coba untuk seminim mungkin. Bella tersenyum melihatku. Di tangannya melekat selang infus sementara di hidung dan mulutnya melekat pula masker oksigen. Ada sebuah komputer yang menunjukkan aktivitas jantungnya. Aku tak mengerti soal semua itu. Yang ku tahu, gadis yang ku cinta kini terbaring lemah, tersenyum menatapku. Dan setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Ada sebuah surat di tangannya yang sengaja ia siapkan di samping tubuhnya. Ia memberikan surat itu. Sodoran lemah dari tangannya itu membuatku semakin tersiksa hanya dengan melihatnya. Aku tahu dia kesakitan. Ku terima surat itu dan ku baca.

“Yofan yang ku sayang. Maaf lagi karena aku menyembunyikan ini semua dari kamu. Sungguh tak ada yang ingin ku sembunyikan darimu. Aku hanya tak sanggup berkata jujur padamu. Aku takut mengecewakanmu. Aku takut kau meninggalkanku. Tapi ada hal yang lebih ku takutkan. Aku takut kau terlalu mengkhawatirkanku. Sayang.. Aku tahu cepat atau lambat kebenaran akan terungkap. Oleh karena itu, telah ku siapkan surat ini jauh-jauh hari dimana saat itu tanganku masih kuat untuk menulis tulisan yang layak kau baca. Aku hanya tak ingin kau kesusahan membaca suratku karena tulisanku jelek. Aku beruntung karena sehari setelah aku menulis surat ini tanganku lumpuh.”

Yofan.. Jujur aku masih sakit hati di hari terakhir kita bertemu. Kau ingat aku meminta kau menikahiku? Ku bilang bahwa aku tak bisa menunggu sampai kau siap. Dan kau tuduh bahwa aku hamil. Aku tak habis pikir bahwa kau akan setega itu menuduhku. Kau tahu alasanku memintamu untuk cepat-cepat menikahiku? Itu karena mungkin umurku tak mau menunggu lama lagi. Tapi jika permintaanku terlalu berlebihan, tak masalah jika kau menolak. Maafkan aku yang berani memintamu untuk melakukan ini. Sayang.. Aku dulu memang membenci hidupku. Tapi setelah bertemu denganmu, aku jatuh cinta kepadamu. Hal ini juga membuatku jatuh cinta pada hidupku. Namun saat aku mulai mencintai hidupku, agaknya Tuhan tak menginginkan aku banyak merepotkanmu dengan adanya aku di sisimu. Hingga akhirnya aku sadar aku mulai lemah dan sebentar lagi aku akan benar-benar pulang. Akan ku minta pada Tuhan agar senantiasa menjagamu dan orang-orang yang ku sayangi.”

“Maafkan aku terlalu banyak menulis dan membuatmu terlalu lama membaca suratku yang menurutku pendek tapi mungkin orang lain menilainya panjang. Itu semua karena ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Segalanya, mulai dari rahasiaku yang malas mandi hingga rahasia-rahasia kecil dan besar yang aku punya dan belum kau ketahui. Tapi sayang, waktuku tak cukup banyak untuk membagi semua itu padamu. Berjanjilah untuk tetap mengingatku saat aku tiada nanti. Berjanjilah untuk menjauhi hal-hal yang tak kau sukai.”

“Sayang.. Aku pernah bermimpi untuk menjadi istrimu, Ny. Yofan, mendidik anak-anak kita. Tapi sayang, aku sadar mungkin aku terlalu banyak meminta dan aku yakin permintaanku ini tak akan Tuhan penuhi. Mungkin stok permintaanku yang harus Tuhan penuhi telah habis. Hingga apa pun doaku terasa mustahil untuk terwujud. Bukan aku meremehkan kekuatan Tuhan. Tapi mungkin karena aku sudah tak layak lagi untuk meminta lebih. Ketahuilah aku sangat mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu dan tumbuh tua dalam pelukanmu.. you’re my endless love.
A girl who want to be your wife, Mutiabella Putri Renaldi.”

Surat yang ditulis Bella itu semakin membuatku tersiksa. Setelah ku ketahui bahwa gadis yang ku cintai menahan rasa sakit, kini ku ketahui juga bahwa mimpinya hanya akan jadi permintaan yang mustahil kepada Tuhan. Aku tak lagi mempedulikan bagaimana hancurnya hatiku. Tapi yang ku tahu dan yang ku pedulikan hanya perasaan Bella yang mungkin berjuta kali lipat lebih hancur dari pada perasaanku. Aku ingin memeluknya, merengkuhnya dan membawanya ke dunia dimana kami dapat hidup abadi di dalamnya. “Aku berjanji besok akan mendatangkan penghulu. Tak perlu gaun dan make up, kau akan tetap jadi the most beautiful queen I ever seen.”

Semua persiapan pernikahan telah siap. Tak ada yang istimewa. Aku pun tak memakai jas seperti yang biasa dikenakan mempelai pria. Dengan segala kerendahan hati ku minta mamaku untuk merestui pernikahanku ini. Akhirnya mama tak mempunyai pilihan lain selain merestuiku. Di perjalanan tak ada halangan apa pun. Sejauh ini masih baik-baik saja. Aku tak sabar sebentar lagi akan menikahi gadis yang ku cintai. Gadis yang selalu ingin ku lindungi. Aku berjanji akan menjadi yang terkuat untuknya walaupun aku tak cukup kuat. Tiba di depan pintu ruangan tempat Bella dirawat ku dengar suara papa Bella sedang menangis. Tanpa berpikir panjang segera ku hampiri Bella yang terbaring dengan alat-alat medis yang sudah dilepas dari tubuhnya. Ada beberapa suster dan seorang dokter di sana.

“Apa yang terjadi, Om?” tanyaku pada papa Bella. Tapi tak ada jawaban.
“Dok, apa yang terjadi?” tanyaku pada dokter. Aku semakin panik karena doketr menundukkan kepalanya.
“Mutia telah tiada.”

Seketika dadaku sesak. Sama sesaknya saat ku dengar bahwa papaku meninggal dulu. Terasa seperti langit runtuh menimpaku dan tak memberiku kesempatan untuk bernapas. Saat detik dimana seharusnya Bella resmi ku pinang. Tapi dia harus pulang di saat itu juga. Meninggalkan segala kepedihan karena kenyataannya aku harus kehilangan wanita yang ingin selalu ku lindungi. Mata yang indah yang biasanya aku kagumi kini tertutup rapat. Apa yang bisa ku perbuat? Kadang hidup memang seperti tak adil. Sepedih apa pun itu, Tuhan punya rencana yang lebih baik. Aku mencintai gadis yang membenci hidupnya. Kemudian merubahnya menjadi cinta kepada hidupnya. Dia mencintai hidupnya di saat hidupnya tak lama lagi.

Cerpen Karangan: Dita Atma Nila Sari
Blog: missgalaustory.blogspot.com
Lahir: 7 Juni 1998
Sekolah: SMA N 1 Blora
Twitter: @ditatma
Instagram: ditatma
ask.fm: @ditaatmans

Cerpen Gadis Yang Membenci Hidupnya (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


And I Hope

Oleh:
Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil Aku memang terkenal dengan keramahanku,

Secret Of The Box

Oleh:
“Hei sayang.” sapa Flo sambil berjalan menghampiri. “Hai…” sapa Smith. Kenalkan, mereka adalah sahabat terbaikku sejak aku duduk di bangku SMA. Mereka sudah lama pacaran. Sejak kami duduk di

Hanya Sederas Hujan

Oleh:
Musim hujan sudah mulai terasa, setiap sore hujan mulai mengguyur kota kami dan keadaanku tak berubah masih seperti 2 bulan yang lalu. “ifa… minum dulu obatnya.” suara ibuku selalu

Cinta itu Pengorbanan

Oleh:
Aku mungkin sakit saat menulis ini, Aku mungkin terluka. Namun, aku bahagia. Aku bahagia untuk tawanya, untuk senyumnya. Biarkan aku yang menanggung sakitnya, karena ini yang aku mau. Hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *